
"Bagaimana keadaanmu, Alex?" tanya pak Ahmad.
"Aku masih sama yaitu baik, pak!" jawabku.
"Alhamdulillah, semoga kamu tetap betah tinggal disini," ujar beliau lagi mengajak berbasa-basi.
"Iya pak, Alhamdulillah."
Sudah dua bulan lamanya aku menumpang di rumah keluarga pak Ahmad. Keadaanku yang belum pulih sempurna membuat diri masih tetap bertahan tinggal di rumah mereka. Mereka sungguh baik hati sekali, tidak ada rasa keberatan sama sekali aku tinggal. Dan sekarang alhamdulillah sekali, kini keadaan wajahku mulai berangsur-angsur sembuh.
Anak-anak kecil teman Budi selalu ramai berdatangan dirumahnya. Kadang kalau mereka tidak bisa mengerjakan pr, aku telah mengajari mereka. Untung saja aku orangnya pintar, jadi pelajaran SDpun mudah bagiku untuk mengerjakannya. Aku dan anak-anak sering menghabiskan waktu bersama dan bermain bercanda bersama, jadi pertemanan kami kian hari kian menjadi akrab.
"Apa kamu sudah siap untuk membukanya?" tanya pak Ahmad.
"Iya, pak. Saya siap!" jawabku mantap.
Hari ini begitu deg-degkan, karena kain kasa yang membalut mukaku akan dibuka, yang kemungkinan sudah sembuh total, sebab rasanya sudah tidak nyeri lagi. Pak Ahmad dan bu Asih mencoba membantu membukanya. Terlihat sekali muka mereka tegang saat ingin membantuku. Perlahan namun pasti pak Ahmad mulai membuka, diputar-putarnya tangan pak Ahmad mengikuti belitan kain yang ada diwajahku. Aku begitu takut dan was-was akan jadi apa wajahku sekarang ini, sebab mengingat irisan tajam pisau terasa sekali sakitnya, sampai lukanya lama sekali untuk sembuh. Perlahan-lahan namun pasti tangan pak Ahmad masih sibuk melepaskan kain, tinggallah satu belitan siap untuk memperlihatkan wajah baruku. Bu Asih terlihat penasaran sekali, nampak sekali dari caranya yang tak mengedipkan mata hanya fokus melihat ke arah wajahku yang kini sudah mulai sedikit terlihat terbuka.
"Budi, minta minum!" celoteh anak-anak mulai memasuki rumah pak Ahmad.
"Bapak lagi ngapain, kak Alex?" tanya Budi bersama temannya, yang telah berhenti sejenak mencoba menyaksikan yang tengah di lakukan bapaknya.
"Bapak lagi bantuin kak Alex!" jawab santai beliau pada anaknya.
__ADS_1
"Aaa ... aaaa, takut ... takut!" Suara anak-anak berteriak terkejut.
"Hantu ... monster ... aaaa," Teman budi telah berlarian keluar semua dan ada yang langsung memeluk bu Atun.
"Bu Atun, aku takut ... hiks. Ada monster, kakak itu seperti hantu," Suara tangisan teman Budi berterusan, yang kaget melihat wajahku.
"Apa yang mereka barusan katakan? Monster hantu? Benarkah wajahku sudah mengerikan seperti itu? Aah, tidak ... tidak!" guman hati yang bertanya-tanya.
Aku yang syok atas teriakan anak-anak, langsung mengambil selimut untuk menutupi wajahku, sebab mereka takut yang kemungkinan sudah rusak wajah tak berbentuk lagi. Rasa kecewa terhadap kata-kata teman Budi, bahwa aku adalah moster hantu sangat membuatku terpukul. Diri ini tidak kuat dengan panggilan baru yang mengerikan bagiku, airmata begitu luruh seketika dan entah apa yang merasukiku langsung saja bergegas pergi, ingin segera meninggalkan rumah.
"Alex, tunggu ... Alex! Mau kenana kamu?" Panggil pak Ahmad berkali-kali, saat langkah kupercepat agar segera keluar dengan cara aku pura-pura tak mendengarkannya.
"Kak Alex, berhenti kak!" panggil Budi yang sudah memegang tanganku untuk mencegat.
Budi mencoba mencegahku pergi, tapi karena syok dan malu secara perlahan-lahan kini kubuang cekalan tangan anak kecil itu. Dan terpaksa aku terus saja berjalan keluar dan tak mengindahkan panggilan-panggilan mereka.
Langkah terhuyung-huyung terus berlari, mencoba semakin jauh saja dari rumah pak Ahmad. Dan sampailah diri ini ke tepian sungai, dengan tubuh tiba-tiba jatuh tersungkur akibat batu sudah menyandung kaki sebab terlalu kuat berlari.
"Astagfirullah, begitu apesnya hari ini!" keluhku dalam hati yang kini berusaha bangkit untuk berjalan menuju sungai.
Sungai begitu berisik mengalunkan suara gemericik airnya. Ikan-ikanpun menyambut suara itu dengan berlari ke sana kemari, seperti menikmati nada-nada indah gemericiknya. Tak ayalnya denganku yang sedang membenci suara itu, seolah-olah mereka beramai-ramai menyeruarakan atas perubahan wajahku yang jelek. Tapi suara musik alam itu, lambat laun mengalunkan nada yang bisa meneduhkan hatiku yang kesal dan marah.
Dibawah pohon mangga tepian sungai, aku mencoba berteduh duduk di atas bebatuan yang besar. Tangan tak lepasnya terus saja melempar batu-batu kecil ke dalam air sungai. Kekesalan yang mendera sekarang terluapkan pada batu, yaitu untuk menjadi sasaran amarahku. aku benci sekali anak-anak tadi memanggilku seorang monster hantu, hingga airmata ini tak menyurutkanku untuk mengeluarkannya. Betapa rasa sedihnya begitu kuat sampai tembus kerelung hati yang terdalam.
__ADS_1
"Aah, apalagi cobaanku sekarang, wajah apakah serusak itu? Sampai anak-anak ketakutan menganggapku monster hantu?" hati yang berguman sedang berbicara sendiri.
Perasaan yang campur aduk saat ini sangat terasa sakit sekali, seakan-akan tak pernah luntur cobaan demi cobaan dari beberapa hari kemarin.
Setelah agak tenang, aku mencoba mengatur nafas dengan cara menghirup masuk banyak-banyak udara. Kuberanikan diri melihat wajah, secara perlahan-lahan untuk mengaca dalam air. Betapa terkejutnya diri ini saat melihatnya, langsung saja kubekap mulutku sendiri, bersamaan dengan air mataku yang kembali luruh menetes jatuh ke air.
"Astagfirullah, apakah serusak ini wajahku? Patut anak-anak itu tadi takut sekali padaku, ternyata memang wajahku sekarang sudah rusak seperti monster hantu yang menakutkan," Hati yang bebicara dengan perasaan sedih.
Aku tak membayangkan akan kondisi wajahku yang sekarang. Kini aku sudah tak berdaya, hatiku begitu sakit sekali yang melihat kondisi wajahku sekarang, yaitu sudah benar-benar seperti mosnter. Dada berdegub terasa kencang sekali, sampai terasa akan terlepas dari organnya, tak pernah terbayangkan dan terpikirkan atas nasibku yang akan semalang ini.
Aku meraung menangisi apa yang telah Allah berikan cobaan padaku. Keputusasaan sempat terbesit di dalam diri ini, sungguh rasanya tak ingin begini terus, dan aku tak tahu apakah aku masih mampu bertahan dengan kondisi seperti ini.
Dalam renungan kesendirian sekarang ini, aku cukup berkhayal dan berharap bahwa badai ujian yang ditujukan padaku semoga cepat-cepat berlalu.
"Huuff ... heeeeh," aku menghela nafas panjang mencoba untuk menguatkan diri dan bersabar.
Aku mencoba berpikir dewasa, bahwa hidupku harus tetap berlanjut demi ibu, agar tetap semangat untuk menjalani hidup yang keras nantinya.
Hati sekarang berbicara sendiri, bahwa aku harus tetap lebih gembira lagi, untuk mengarungi jalan hidupku yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa, demi pujaan hatiku Amel.
Kini aku berangsur-angsur menyadari kesalahan, yang telah bodohnya menyalahkan semua ujian kepada yang Maha memberi hidup.
Rasa kesyukuran dalam hati terus saja kuucapkan, ternyata Allah masih menyayangiku yaitu tak memberiku luka yang serius. Walau wajahku telah rusak, ternyata tuhan masih berbaik hati memberikanku umur yang panjang untuk terus menjalani hidup didunia ini.
__ADS_1