
Perlahan namun pasti kami terus mengikuti dari kejauhan, agar para penculik itu tak curiga pada kami. Hampir satu jam kami mencoba mengejar mobil para penculik, mobil mereka mulai memasuki area seperti hutan tapi bukan hutan, melainkan kebun tapi banyak sekali pepohonan yang rimbun dan menjulang tinggi, membuatnya ngeri seakan-akan adalah hutan. Mereka akhirnya tiba di sebuah gudang yang sepi dari pemukiman penduduk, yang kemungkinan sudah terbengkalai akibat ditinggalkan oleh pemiliknya dan para pekerja. Terlihat sekali bahwa gudang itu sudah usang, yang nampak sekali dari tembok-tembok dan atap tertutupi oleh dedaunan yang panjang menjalar ke sana kemari mengelilingi seluruh gudang.
"Kita turun disini saja, Iwan. Sebab kalau dekat-dekat akan ketahuan," pintaku pada Iwan memberitahu.
"Iya, Alex. Bener katamu itu," jawab Iwan setuju.
Creeiit, suara mesin motor telah dimatikan tertinggal jauh dari posisi mereka.
"Cepat keluar ... ayo keluar!" Suara perintah mengelegar para penculik.
Terlihat dari kejauhan mereka menyuruh keluar semuanya dengan paksaan, yaitu saat nampak cara mereka ketika mendorong-dorong. Aku dan Iwan untuk sementara ini hanya bisa mengawasi dari kejauhan, yang tengah bersembunyi di balik semak-semak dengan dedaunannya yang lebat.
"Mereka kasar sekali, rasa-rasanya ingin cepat-cepat menghajar mereka," keluh Iwan saat kami tengah mengawasi dalam bersembunyi.
"Ayo, kita langsung serbu mereka!" ajak Iwan.
"Tunggu, jangan ... jangan?" cegahku.
Iwan terlihat tak sabar sekali ingin segera menolong, yaitu nampak sekali saat dia terburu-buru ingin maju ke depan mencoba untuk menghampiri para penculik.
"Ada apa, Alex?" tanyanya heran.
"Sabar dulu Iwan, apa kamu ngak lihat? Nanti dulu penyelamatannya, kita akan kalah jumlah dengan mereka," ujarku menyadarkan.
"Heem, bener juga sih?" jawab Iwan.
Terlihat penculik yang berbadan kekar banyak sekali jumlahnya, ada lebih lima orang yang tengah menculik.
"Terus gimana sekarang, Alex?" tanya Iwan yang sudah terlihat cemas.
__ADS_1
"Kita hubungi polisi saja?" tawar ideku.
"Bener juga, kenapa kita gak kepikiran sampai ke situ? Bodoh bener kita ini," awab Iwan.
Kami berdua langsung mengambil gawai yang tersimpan di saku celana masing-masing. Tapi apesnya sekarang sinyal begitu lemah, mungkin akibat dari lingkungan seperti hutan jauh dari pemukiman penduduk.
"Gimana ini Alex, ngak ada sinyal sama sekali ini," keluh kesah Iwan tak sabar.
"Gimana kalau kita pergi balik mencari orang saja? Biar enak ada bantuan gitu!" imbuhnya lagi memberi ide.
"Tapi Iwan, ini jauh sekali dari kampung. Nanti seandainya kita pergi, kalau penculik memindahkan Amel ketempat lain, gimana? Bisa gawat kalau kita kehilangan jejak" tanyaku balik.
"Iya ... ya, bener juga katamu."
"Eem ... kalau bisa menyelamatkan mereka dengan tangan kita sendiri, bagaimana? Tapi tunggu mereka sedikit lengah serta gelap dulu baru kita nanti bisa beraksi," ujarku menjelaskan.
"Baiklah, kalau menurut kamu itu baik," jawab Iwan setuju.
Ceplak ... ceplok, suara tangan Iwan mencoba mengusir nyamuk dengan cara memukulnya.
"Pelan-pelan memukulnya, nanti bisa-bisa mereka mendengarnya?" peringatanku pada Iwan yang tak henti-henti memukul nyamuk.
"Iya ... iya. Habisnya aku ngak tahan, sebab banyak banget nih yang mengigit di sekujur badanku. Oh ya, kok kamu tenang-tenang saja, sepertinya nyamuk tidak mau mengigitmu?" berkeluh kesahnya Iwan.
"Kamu jarang mandi, mungkin!" ucapku mengejek.
"Ah masak gara-gara gak mandi, sampai hatinya nyamuk mengigitku terus," jawab Iwan tak percaya.
"Hanya pada orang gantenglah, nyamuk tak mau gigit. Gak seperti kamu yang jarang mandi, pantesan saja cewek-cewek pada kabur duluan sebelum kamu dekati. Ha ... ha ... ha." gelak tawaku puas sebab berhasil menghina Iwan.
__ADS_1
"Huss ... shuut ... diam! Nanti kedengaran para penculik," balik kata Iwan telah mencopy ucapanku.
"Uupps, maaf!" mulutku kubekap sendiri menggunakan tangan.
Sudah cukup lama kami telah menunggu, dengan sekujur badan sudah diisi oleh bentol-bentol, sebab nyamuk sudah mengigit kami secara brutal. Dengan sabarnya kami masih menunggu, agar para penculik yang sedikit lengah dulu. Akhirnya 4 orang penculik telah berhasil keluar, mereka telah bergegas menaiki mobil dan langsung menjalankannya untuk meningalkan tempat kejadian penculikan. Jadi di dalam tinggal 2 orang lagi, sehingga dengan secepatnya dapat memuluskan aksi kami dalam proses penyelamatan.
"Ayo Iwan, sepertinya sudah aman. Tapi didalam kayaknya masih ada dua orang penjaga disana? Kita harus secepatnya masuk untuk menyelamatkan mereka, sebab takutnya mereka nanti akn terluka," ajakku menjelaskan.
"Siip 'lah Alwx. Ayo kita selamatkan mereka!."
Tidak butuh waktu lama aku dan Iwan mencoba masuk ke gudang. Dengan berbekal kayu di tangan yang kami dapatkan dari sekitar gudang. Kami tetap berusaha maju dan pantang rasanya bagi kami untuk balik mundur. Secepatnya kami segera masuk, dengan tangan balok kayu ditangan untuk kami gunakan berjaga-jaga, jika ada kejadian yang tak diinginkan.
Kami berjalan mengedap-endap secara perlahan-lahan, dengan kepala kami tak lepas clingak-clinguk melihat ke kanan kiri. Rasa takut dan tegang, membuat kami berdua harus exstra hati-hati. Preman yang berbadan besar dan kekar membuat sedikit menciutkan nyali kami untuk menghadapi mereka, tapi tak apalah walau kami sedang ketakutan, yang terpenting majikanku bisa terselamatkan. Aku tidak tahu mengapa para penculik membawa majikanku, padahal setauku mereka baik-baik saja dan tak pernah ada musuh.
"Alex, mana mereka? tanya Iwan sebab gudang kelihatan sepi.
"Tidak tahu? Kita tetap mencari mereka sampai ketemu," ujarku pelan seperti berbisik.
"Tapi aku takut Alex," ujar Iwan lagi.
"Tadi saja waktu banyak penculik, gaya-gayaan ngotot sok berani, sekarang sudah sepi kok malah takut," ucapku menghinanya.
"He ... he, habisnya tadi emosi," cegegesan jawaban Iwan.
Tak begitu lama ketika menuju di sudut ruangan yang pintunya telah tertutup rapat, langkah kami terus berjalan mencoba mendekati tempat itu.
Bruuuk, kutendang pintu yang sedikit rapuh, sehingga memudahkanku untuk segera menendang. Kami secepatnya bergegas ingin menyelamatkan mereka, yaitu saat nampak orang-orang yang sudah tak berdaya terikat sebuah tali dengan mulut tersumpal kain.
"Lepaskan mereka!" ucapku menantang.
__ADS_1
"Apa? Ha ... ha, wah ... .wah. Ternyata cuma bocah-bocah ingusan yang datang, berani juga nyali kalian untuk datang ke tempat ini!" jawab para penculik menghina kami yang masih kelihatan masih muda.
"Dasar bocah ingusan, yang baru tumbuh kemarin. Sini kamh, awas!" ucap para penculik marah yang mencoba menghampiri kami.