Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kedatangan tamu tak diundang bagian 1


__ADS_3

Kini aku dan ibu sedang bersantai mengobrol menikmati secangkir kopi hangat diruang tengah. Rasa bahagia atas segalanya, telah kami rasakan akibat kebebasan hidup mulai membaik.


"Akhirnya kita bisa santai kayak gini ya, bu. Udara kebebasan sangat terasa nikmat sekali dari orang-orang yang kejam kemarin," ucapku santai sambil memegangi cangkir kopi.


"Iya, Amel. Ternyata cukup enak juga tak ada beban pikiran yang sedang menganggu," jawab setuju ibu.


"Alex tadi kemana ya, bu?" tanyaku saat tidak melihat penampakannya.


"Ibu kurang tahu juga dia mau kemana? Soalnya dia tadi buru-buru amat ingin pergi, jadi tak sempat ibu tanyai mau kemana," jelas beliau.


"Ooh, ya sudah tak apa, bu."


Bruuuak, suara pintu kelihatan dibuka kasar dan secara paksa. Kami yang awalnya saling ngobrol bercanda tawa penuh ceria, langsung bangkit dari duduk mencoba melihat siapa gerangan yang datang tak sopan.


Aku dan ibu yang terkejut langsung tergesa-gesa datang ke tempat pintu utama rumah, dan betapa terkejutnya diri ini melihat papi kandung tengah ramai membawa masuk anak buahnya.


"Aah, apa yang dilakukan papi kesini? Kenapa membawa banyak sekali anak buah? Ada apa ini? Bukankah urusan kami sudah selesai," Keheranan hati bertanya-tanya.


Brak ... prang ... brak ... krontang, pukulan demi pukulan balok kayu, kini sedang menghancurkan barang-barang dirumahku.


"Ada apa ini papi? Hentikan? Apa yang kamu lakukan ini?" teriakku marah saat barang-barang sudah pecah berserakan dilantai.


"Diam kamu. Tidak usah banyak tingkah."


"Ini adalah rumahku, jadi berhak untuk mengusir kalian dari sini secepatnya," cakapku emosi.


"Ternyata kamu bisa juga melawan, dasar anak durhaka," hardik beliau sambil mencengkram pipiku.


"Lepaskan aku, pa!" pintaku merasakan kesakitan.


"Dasar anak ingusan, berani sekali kamu sudah membantah dan melawanku sekarang," Papi tiri membuang wajah ini dengan kasar dan kuat, hingga membuatku tersungkur jatuh dilantai.


"Amel?" pekik ibu yang berusaha menolong sambil menghampiri.

__ADS_1


"Kamu ngak pa-pa, nak?" tanya kekhawatiran ibu.


"Ikat mereka berdua, cepat ... cepat!" perintah papi tiri tak sabar pada anak buahnya.


"Baik, bos." jawab kompak anak buahnya.


Aku dan ibu yang sudah merasakan ketakutan, hanya bisa menatap nanar penuh kebingungan atas bagaimana bisa berontak melawan.


"Lepaskan ... lepaskan kami. Mau kau apakan kami, lepaskan!" rontaanku saat tangan-tangan anak buah papi memegang secara paksa, yang ingin segera mengikatku dan ibu.


"Diam kamu," bentak papi kandung.


"Aaah, kemana kamu Alex? Ayo cepatlah datang. Tolonglah kami ... cepatlah datang," gumanku dalam hati ketakutan karena kaki dan tangan sudah mulai terikat.


Kami yang sudah mengoyangkan tubuh bergerak-gerak meronta, tak diendahkan mereka sama sekali atas belas kasihan.


"Geledah rumah ini secepatnya, dan cari surat-surat atas kepemilikan harta!" Imbuh titah papi tiri pada anak buahnya.


"Baik, bos." Jawab mereka semua kompak, sambil bergegas mulai mencari.


"Hahahah, kenapa? Kamu takut bila aku berhasil mendapatkan harta ini lagi," jawab beliau senang.


"Makanya jadi anak kecil, seperti kamu ini gak usah sok-sok'an. Jangan macam-macam dan cari masalah denganku," imbuh ucap beliau dengan menepuk-nepuk pipiku pelan.


Aku hanya mendengus kesal atas papi kandung yang bukannya melindungiku, tapi selalu menegecewakan hati dan membuat masalah karena harta dunia semata.


"Aku belum puas menghancurkan kamu, sampai nanti akan menjadi gembel," terang beliau.


"Jangan lakukan itu, papi. Aku tak pernah membuat masalah sama papi, tapi kenapa kamu begitu tega padaku," tanyaku mencoba mencari tahu.


"Kau memang tak salah, tapi kedua orangtua kamu yang si*l*n itu telah membuat ulah padaku, hingga kamu jadi sasaran berikutnya akibat terlalu dalam ikut campur urusanku, paham," jelas beliau.


"Tapi, papi. Sudahlah, hentikan ini semua dan kita usahakan berdamai saja, gimana?" tawarku agar beliau tak ada dendam dan amarah lagi.

__ADS_1


"Cuuuih, tak sudi aku."


Ternyata menaklukkan hati papi kandung sangatlah sulit, yang mana hatinya kini sudah seperti batu tak mau ada celah sedikitpun untuk taubat.


"Apa yang kalian lakukan disini?" ujar Alex tiba-tiba yang sudah datang bersama Iwan.


"Alhamdulillah Alex, akhirnya kamu datang juga, sehingga sekarang bisa menyelamatkan kami," Berucapku dalam hati merasa ada sebuah kelegaan.


"Pok ... plok. Wah ... wah, ternyata sang penolong sudah datang," Papi tiri bertepuk tangan menyambut kedatangan Alex dengan cara menyindir.


"Lepaskan mereka sekarang juga, atau kalian akan merasakan akibatnya," bentak ancam Alex.


"Ha ... ha, apa yang kamu bilang tadi? Merasakan akibatnya? Ngak salah? Ckckck, ternyata kamu masih berani juga seperti dulu," ejek papi kandung tak takut.


"Iya. Aku akan memberi pelajaran pada kalian dan pasti akan menerima akibatnya ulah kalian dengan cepat," balik ucap Alex tak takut ingin melawan.


"Cuuuih, dasar."


Tangan papi kandung sudah terangkat keatas, yang memberi arahan pada anak buah, supaya maju melawan Alex dan Iwan. Para musuh mulai mengelilingi mereka berdua, dengan tangan mengepal dan kaki sudah saling berkuda-kuda, sama-sama siap untuk saling menyerang.


Hiiaat ... hiat ... buhg, suara Alex berkelahi menggunakan tangan kosong, sedangkan Iwan sudah belari mengambil pemukul bisbol yang terletak di sudut ruang tengah rumahku, untuk segera melawan mereka.


Ada sekitar enam orang memakai penutup wajah melawan Alex dan Iwan, yang mana perkelahian sekarang nampak begitu sengit, tanpa ada yang mau mengalah sama sekali, namun karena Alex pintar ilmu bela diri, membuat orang suruhan papi kandung satu-persatu sudah kalah bergelimpungan kesakitan dilantai.


Hiat ... braaas ... bugh ... bras, tendangan demi tendangan kaki musuh dilayangkan kepada Alex, tapi dengan lincah dan sigap pulak Alex dapat menghalau dan menghindari pukulan demi pukulan itu.


Bhugh, sebuah tumbukan terdarat diwajah anak buah berambut cepak, hingga membawa dia untuk kesekian kalinya tak berdaya terjatuh dilantai.


"Ayo maju kalian kesini. Cuma segitu 'kah kekuatan kalian," tantang Alex penuh keberanian.


"Haaisss, dasar sok jagoan kamu. Pasti akan kami buat bonyok itu muka," jawab anak buah berambut cepak tak mau mengalah.


Perasaan aneh menyelimuti diriku, entah mengapa saat menatap Alex, kelihatan sekali dia sekarang telah membabi buta menghajar musuh berambut cepak dan berkepala plontos.

__ADS_1


Wajahnya yang sudah rusak seperti monster hantu akibat luka, kini tatapan buasnya terlihat begitu menakutkan, bagaikan orang yang sudah kerasukan akibat amarahnya yang mengebu-gebu. Berkali-kali tanpa sadar suara Alex begitu mengerang terdengar menakutkan, sebab menahan emosi yang memuncak. Aku yang melihatnya begitu bergindik ngeri ketakutan. Wajahnya kian lama kian mengerikan, karena sudah tak terkontrolnya lagi kemarahan Alex, sehingga menambah keganasannya dalam menghajar secara bertubi-tubi dengan membabi buta.


__ADS_2