Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Permintaan yang berat


__ADS_3

Keadaan Alena masih sama, belum bisa membuka matanya agar bisa membuatku tenang. Mungkin akulah orang yang bodoh saat ini, sebab sudah menyia-nyiakan orang yang telah tulus memberikan kasih sayangnya.


"Bangunlah, Alena. Aku cukup merindukan senyuman kamu." Tangan mungilnya kugenggam.


Walau terpasang selang infus, tetap saja telapak tangan itu ingin kusentuh.


"Apakah kau tahu, jika selama ini aku sangat menyayangimu tapi bukan sebagai pasangan melainkan keluarga sendiri. Maaf, telah banyak kebohongan yang kusembunyikan darimu. Hatimu begitu rapuh, maka dari itu tidak ingin menyakitimu. Semoga suatu saat nanti kamu bisa mengerti," Penyesalan yang terus berlanjut.


Berdosa sekali banyak kebohongan yang tertutupi. Masa lalu yang masih samar-samar terus membanyangi. Walau tidak jelas, entah mengapa terasa ketarik untuk kembali ke masa yang tidak kuingat sama sekali.


Permainan hidup terus kujalani dengan sabar, walau kadang hati meronta tak kuat menjalani itu semua. Mungkin benar kata pepatah, jalani hidup ini bagai air mengalir tanpa harus kita terlalu stres memikirkannya.


"Bagaimana keadaannya, Arnald?"


"Eeh, Om, Tante." Tangan Alena seketika kulepas dengan meletakkan secara hati-hati.


"Kamu duduk saja. Tidak usah berdiri akibat terkejut dengan kedatangan kami."


"Iya, Om. Keadaan Alena masih sama, yaitu belum sadar akan tidur panjangnya." Lemah penjelasan.


"Mungkin ini efek dari pengaruh obat habis operasi. Kamu yang sabar, ya! Yakinlah Alena anak kuat dan bisa melalui ini dengan mudah." Sela Ibu Alena berbicara.


"Iya, Tante."


"Bisakah kamu meluangkan waktu sebentar untuk kami? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan sama kamu?"


"Oh, bisa ... bisa, Om. Mari kita keluar saja. Takutnya menganggu Alena yang sedang istirahat."

__ADS_1


"Baiklah."


Orangtuanya menyetujui atas ideku itu. Mereka sudah berjalan duluan didepanku. Dekat pintu kamar ruang inap Alena, ada sebuah bangku memanjang dan kami duduk disitu yang sekalian bisa mengawasi kamar dia.


"Ada apa, Om, Tante? Kelihatannya serius sekali?" Tidak sabar ingin tahu.


"Ini mengenai Alena."


"Iya, Om."


"Kamu jangan berpikiran aneh-aneh tentang apa yang akan kami bicarakan nanti. Ini semua kami lakukan hanya demi kebaikan anak kami Alena, yang kemungkinan nanti akan sulit sembuh." Suara papa Alena sudah lesu.


"Jangan berkata begitu, Om. Segala penyakit pasti ada obatnya. Tapi sayang, kadang tidak ada yang cocok maupun pas atas penyakit itu, makanya bukan malah sembuh tapi tambah parah. Kita cukup berdoa untuk diberikan yang terbaik atas sakit Alena itu."


"Kamu benar, Arnald. Semoga Alena tidak salah memilih orang. Kamu adalah anak baik dan selama ini sudah meluangkan waktu banyak demi membahagiakan anak kami. Terima kasih, Arnald."


"Kami mengajak kamu ngobrol kesini, sebab ada satu permintaan kami padamu."


"Apa itu, Om?"


"Kami hanya ingin Alena bahagia selama dia diberi kesempatan hidup. Mungkin sekarang ini waktu Alena tidak banyak lagi." Suara serak yang menyiratkan betapa sedihnya beliau.


"Jangan berkata begitu, Om. Umur dan hidup seseorang hanya Allah yang tahu, jadi kita tidak boleh memvonis umur seseorang apakah akan lama atau sebentar."


"Iya, Nak Arnald. Kami mengerti."


Sang mama tidak tahan lagi untuk menyeruakkan airmata. Kesedihan yang mendalam begitu terlihat diwajah mereka. Bagaimana tidak! Saat anak yang selama ini selalu ditimang, kini diambang menuju pintu meninggalkan dunia fana.

__ADS_1


"Kami hanya ingin Alena tersenyum lebar, yaitu dengan cara kamu menikahinya. Apakah kamu bisa, Arnald?" Pertanyaan yang mengejutkan.


Deg, petir terasa menyambar hati.


"Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Jawaban apa yang tepat untuk mereka?" Seketika dibuat mati kutu tidak bisa berkata-kata lagi.


"Bagaimana, Nak Arnald? Maafkan kami atas permintaan besar ini. Mungkin ini begitu berat bagi kamu, mengingat ada kehidupan lama yang masih jadi bayangan. Kami tahu sekali jika ini akan sulit, tapi ketahuilah bahwa sebagai orangtua kami juga tertekan saat melihat kondisinya makin hari makin melemah. Hanya ingin melihat senyuman Alena saja itu sudah cukup, sebab hanya dialah yang bisa membahagiakan kami juga."


"Kami tidak ingin memaksa kamu sebenarnya, tapi ini adalah keadaan gawat darurat mengingat sakit Alena kian parah. Hanya itu pinta kami, sebab hanya kamu yang dicintainya."


"Gimana ya, Om. Sebenarnya aku tidak ingin buru-buru atas rencana kami yang akan menikah, sebab masih ada sesuatu yang menganjal dihatiku."


"Kami paham itu. Maaf, jika memaksa."


"Tidak ada memaksa, Om. Aku juga tahu apa yang menjadi keinginan kalian. Mungkin cukup beri aku waktu sebentar saja untuk berpikir, sebab pernikahan itu bukan sebuah permainan. Ikatan janji suci berikrarkan diatas agama harus dijalankan dengan baik, dan aku takut jika tidak bisa menjalankan amanah itu."


"Kami mengerti itu. Baiklah, kami tidak ingin memaksa kehendak sama kamu. Kami akan tunggu jawaban dari kamu. Kalaupun kamu menolak tidak apa-apa. Mungkin itulah takdi Alena disaat detik-detik mengarungi hidup dalam kesendirian." Wajah yang mengekspresikan kekecewaan dan sedih.


"Iya, Om. Maaf ... maaf sekali lagi, sebab aku tidak serta merta memberikan jawaban."


"Iya, Arnald. Kami sangat ... sangat paham sekali."


Bahu sudah ditepuk-tepuk beliau. Rasanya jadi sungkan sekali jika tidak memberi jawaban sekarang. Walau ada kesedihan yang mendalam tapi mereka berusaha tersenyum lebar.


Telapak tangan sudah merangkup wajah. Kebenamkan secara kuat akibat tidak bisa berpikir jernih lagi. Diluar dugaan jika mereka meminta sesuatu yang muastahil.


"Ya Allah, kerumitan apa lagi ini? Aku belum menemukan masa laluku, kenapa sekarang harus dihadapkan dengan kehidupan untjuk menikahi seseoramg. Berikanlah aku petunjuk apa yang harus kulakukan, sebab tifak ingin salah melangkah dalam mengambil keputusan. Bantulah hambamu yang hina ini untuk mencari jalan yang terbaik, amin." Hati terus saja berdoa.

__ADS_1


__ADS_2