Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Rasa rindu


__ADS_3

Rasa rindu yang ingin melihat orang-orang yang kucintai, terasa membucah tak tertahan. Dengan bantuan Niko temanku, aku meminta tolong untuk mengajaknya melihat Amel dan ibu segera.


"Makasih, Niko. Atas bantuan kamu yang selama ini selalu menolongku," ucapku tak enak hati.


"Sama-sama. Kita adakah kawan yang sepatutnya harus saling membantu jika ada yang kesusahan," ucap dewasa Niko.


"Emm, betul itu."


Tanpa perlawanan dengan mudahnya Niko menyetujui permintaanku. Dia langsung menghubungi Amel terlebih dahulu, untuk meminta alamat rumahnya dengan alasan dia mau bersilaturahmi. Disaat pertemuan yang tidak sengaja kemarin, untung saja Niko dengan cekatan yang sudah ada ide cemerlangnya dia meminta nomor gawai Amel, sehingga sekarang memudahkan untuk mencari jejak mereka yang sempat hilang tak ada kabarnya bagaikan ditelan bumi.


"Niko, kamu sendirian saja bertamu ke rumah mereka. Aku rasanya belum siap untuk berhadapan dengan mereka," suruhku dengan rasa sedih.


"Tapi Alex, apakah kamu tidak merindukan mereka dan secepatnya ingin bertemu?" tanya Niko kasihan.


"Aku merindukan mereka tapi aku benar-benar belum sanggup untuk bertemu, disaat kondisi wajahku yang sudah seperti ini," Obrolan serius kami sedang menaiki bis.


"Baiklah Alex jika itu kemauanmu. Aku akan tetap setia untuk selalu menemanimu, walau kamu tak ingin bertemu mereka sekarang," ujarnya sambil tersenyum.


"Makasih atas pengertiannya."


Tak begitu lama setelah hampir 30 menit perjalanan menaiki bis, kini kami berjalan untuk oper menaiki angkutan. Tak butuh waktu yang sebentar, dalam berkutat mencari alamat yang dituju. Setelah menaiki angkot, akhirnya kami harus berjalan kaki menyusuri sebuah gang kecil, yang terus saja berjalan lurus kedepan memanjang, sampai kami berhenti mentok berjalan di penghujung gang, yang ada sebuah kos-kosan yang rumahnya saling berdempet-dempetan antara rumah satu dengan rumah yang lainnya.


"Astagfirullah, benarkah ini tempat tinggal mereka?" guman hati yang terkejut.


Betapa nelangsanya mataku melihat rumah kos kecil yang ditempati Amel dan ibuku, hingga tak terasa buliran airmata kini sedang menetes, yang seakan-akan begitu trenyuhnya melihat keadaan mereka ketika bagiku terasa miris sekali sekarang. Kini kami berdua hanya berdiri terpaku melihat keadaan rumah sewa itu.


"Kue ... kue ... gorengan ...gorengan." Suara ibu-ibu sedang berteriak-teriak menjajakan dagangannya.


"Kue atau gorengannya, mas! Tawar ibu itu, saat kami tepat berdiri ditempat halaman rumah seseorang, yang sedang mengawasi kos ibu dan Amel.


"Ibu Alex? Apakah bibik beneran ibu Alex?" ucap Niko kaget.


"Kamu? Bukankah kamu ini---?" tanya tertahan ibu balik, yang binggung seperti kenal Niko tapi lupa.


"Ini Niko, buk. Teman Amel dan Alex waktu sama-sama masih sekolah SMA dulu," ujar Niko menjelaskan.


"Oh, iya ... iya, maaf ibu sudah lupa. Emm, ngomong-ngomong kamu kok tahu alamat, ibu?" beliau bertanya.


"Amel yang ngasih tahu waktu kami sempat tak sengaja bertemu. Aku dan temanku ke sini ingin sekali berkunjung, dengan maksud dan tujuan ingin bersilahturahmi menemui Amel," Alasan Niko.


"Ooh, begitu rupanya."


"Alhamdulillah, ternyata kamu baik-baik saja, bu. Walau nasib hidupmu begitu berubah, engkau masih diberikan kesehatan untuk menjalani kehidupan yang keras ini. Aku merindukanmu, bu. Apakah kamu juga sama sepertiku?" tanya hati saat diri ini menatap sesak wajah ibu kandung yang tersayang.


"Oh iya, bu. Amelnya adakah dirumah?" tanya Niko berpura-pura.


"Ibu gak tahu. Apa dia sekarang ada dirumah atau tidak, sebab jam segini biasanya dia sedang kuliah. Tapi sepertinya sebentar lagi akan pulang. Kalian mampir masuk dulu saja ke rumah, ayo!" tawar beliau.


"Eh, baik ... baik, buk. Terima kasih," ucap Niko mengangguk setuju.


Aku hanya diam mendengar percakapan mereka, tak ada satu patahpun kata-kata yang ingin keluar dari mulutku segera.


"Bibik, hari-hari jualan kayak beginian 'kah?" imbuh tanya Niko.

__ADS_1


"Iya, inilah hari-harinya pekerjaan ibu, untuk menyambung hidup bersama Amel. Heeh, tapi sayang hari ini bibi sudah mutar-mutar jualan, tapi baru sedikit lakunya. Karena lelah jadi bibi bawa dagangan lagi yang masih banyak ini untuk dibawa pulang ke rumah!" ujar beliau lemah.


"Gimana kalau Niko aja yang borong semua dagangan bibi?" ucap usul Niko.


"Gak usah, Niko. Kalian makan saja, anggap saja ini sedekah untuk bibi kepada kamu," tutur beliau ramah.


"Tapi, bik. Ini adalah dagangan, pasti butuh banyak modal untuk memutar jualan lagi," tolak ucap Niko.


"Alhamdulillah Niko. Hari ini walau dagangan masih banyak, rezeki untuk modal jualan lagi masih ada dan cukup," jelas beliau.


"Alhamdulillah kalau begitu, beneran ya bik ini untuk Niko, habisnya enak banget nih," ujar Niko tersenyum ramah sambil sibuk mengunyah gorengan.


"Iya. Niko."


Niko begitu celotehnya terus menanyai ibuku, yaitu saat kami sedang berjalan beriringan untuk segera menuju ke dalam rumah kos beliau.


"Teman kamu kok diam saja dari tadi, siapa namanya? Pasti teman Alex dan Amel juga ya?" tanya beliau sudah merasa aneh.


"Eeeh ... heeh," Niko binggung menjawab, saat terlihat cara dia yang sedang mengaruk-garuk kepala.


"Iya, bu." jawabku cepat.


"Kamu sedang flu ya? Kok dari tadi memakai masker?" Kekagetanku mati kutu saat beliau bertanya.


"Iya, bik. Uhuk .... uhuk," spontan suaraku yang berpura-pura batuk.


"Ooh, semoga cepat sembuh saja," imbuh ucap beliau.


"Makasih atas do'anya."


"Mungkinkah mereka harus bersesakan untuk tidur saja?" guman hati yang tak percaya atas kondisi mereka.


Wajahku tak lepas menatap kasihan, saat beliau berkali-kali mengelap peluh akibat kepanasan atas rasa kelelahan habis jualan gorengan.


"Ayo masuk," ucap ibu mempersilahkan.


"Iya, makasih," jawab kami kompak.


Kami berdua langsung saja duduk dikursi yang sudah usang namun masih kuat kayunya.


"Bibi tinggal sebentar kebelakang, ya!" Izin beliau.


"Iya, bik!" jawab Niko.


Netraku dan Niko terus saja berselancar melihat keadaan rumah kos yang terlihat mengenaskan ini.


"Assalammualaikum," suara salam seseorang wanita memasuki rumah.


"Walaikumsalam," jawab kami serempak.


Aku begitu tersentak kaget dan langsung saja segera berdiri, saat suara yang datang itu ternyata Amel. Badanku mulai mundur-mundur menjauh seakan ingin jatuh, akibat keterkejutan diri ini. Kini kulangkahkan kaki cepat-cepat ingin segera keluar dari rumah, yaitu supaya bisa menghindarinya.


"Eeh ... eeh, tunggu!" cegah Amel mencoba berbicara padaku.

__ADS_1


Aku yang begitu terkejut, tiba-tiba tak sengaja membanting cekalan tangan Amel yang berusaha mencegahku. Tapi justru dia malah berbalik kaget atas tindakanku, yang reflek telah menyingkirkan tangannya.


"Maaf ... maaf," hanya ucapan itu yang dapat keluar dari mulutku sekarang.


Aku tak serta merta langsung menjawab ucapan Amel itu, sebab keinginanku untuk menghindarinya harus segera kulakukan yaitu untuk keluar dari rumah kos ini.


"Hei kamu? Tunggu ... tunggu kamu, hei!" panggil Amel sekali lagi, saat aku terus saja melenggang berjalan untuk pergi menjauh.


"Teman kamu kok aneh sih, Niko?" ucap Amel binggung yang masih terdengar oleh telingaku.


Rasa takut dan grogi saat berhadapan dengan Amel, membuat perasaan ini kayak orang yang sedang ketakutan akut disaat seperti sedang melihat hantu. Aku yang sudah menghindarinya, kini telah mencoba mengintip disebalik pohon mangga didepan pekarangan rumah tetangga mereka.


"Ah, aku begitu merindukanmu Amel. Rasanya ingin sekali merangkul dan langsung memelukmu tadi," Hati berbicara sedih.


Rasa tak percaya diri atas wajahku yang mengerikan, membuat diri ini semakin trauma ketakutan pada orang-orang terdekatku. Tak begitu yakin apakah tindakan diri ini benar atau salah, hal yang terpenting sekarang adalah jangan bertatap lebih dalam lagi untuk menemui mereka dulu.


Lama sekali aku menunggu Niko, tapi tak muncul-muncul juga batang hidungnya.


"Lama banget, Niko ini. Apaan sih yang sedang dia bicarakan, sampai lama betul keluarnya?" geramku kesal akibat menunggu.


Sudah setengah jam lebih aku berdiri mematung, hanya bisa mengawasi dari kejauhan.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga, saat terlihat didepan sana Amel dan ibu, mengantar Niko untuk berpamitan pulang.


"Apakah jika Niko itu adalah aku, apakah mereka bisa melambaikan tangan dengan senyuman sayang seperti saat ini yang mereka lakukan," tanya hati yang sempat iri.


Kini Niko berlari kecil menghampiriku yang tengah duduk santai dibawah pohon.


"Lama banget sih didalam?" tanyaku menghampiri Niko yang sudah berjalan kearahku.


"Biasa 'lah, lama ngak ketemu jadi banyak yang dibicarain tadi," sahutnya santai.


"Ada ngak mereka nanyain siapa aku?" tanyaku penasaran.


"Ada tadi. Amel begitu penasaran pada kamu, tapi sudah kujawab hanya teman sekolah dalam satu kerjaan," jelas Niko memberikan jawaban.


"Ada yang lain ngak? Maksudnya pertanyaan-pertanyaan lainnya? Sehingga menjadikan dia tambah penasaran?" Imbuh tanyaku.


"Gak ada lagi kayaknya, hanya itu. Tadi aja waktu ketemu langsung main kabur saja. Ngapain ngak nanya sama anaknya sendiri," ketus Niko bernada sewot.


"Hiiih. Sudah dijelaskan berkali-kali, aku 'tuh belum siap menghadapinya," gerutuku kesal.


"Hmmm ... heeem," jawab Niko.


"Oh ya. Kalau kita selesai akan pekerjaan proyek sekarang, nanti kita akan dapat proyek baru lagi, tapi kita harus secepatnya untuk balik jakarta," ujar Niko memberi penjelasan.


"Wah ... wah, belum lama ketemu ibu dan Amel sudah main pisah saja. Aaah, benar-benar menyebalkan situasi ini," gerutuku yang tak senang.


"Sabar, Alex. Aku yakin pasti kamu bisa melewati semua ini. Pasti penderitaanmu akan tergantikan oleh rasa bahagia. Kudoakan suatu saat nanti kamu bisa berkumpul dengan ibumu kembali, yang tak terkecuali kekasih tercintamu yaitu Amel," Bergayanya ucapan Niko menasehati.


"Iiihh, sudah mulai bisa ceramah. Iya ... iya, makasih," Kujitak kepala Niko.


"Awww, sakit Alex!" keluhnya.

__ADS_1


Kami akhirnya pulang dengan tertawa riang diiringi terkekeh-kekeh gembira, dengan menceritakan hal-hal yang lucu disaat-saat masih sekolah dulu.


__ADS_2