Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Teman


__ADS_3

"Kapan aku akan bertemu sama ibu? Apakah ini waktu yang tepat aku akan pergi dari rumah pak Ahmad? Ya, aku harus segera pergi," rancau hati yang ingin pamit.


"Semoga saja ibu dan Amel tak akan lupa sama diriku, walau wajah telah rusak begini," imbuh gumanku.


Rasa rinduku pada ibu dan Amel begitu membuncah ingin sekali bertemu, rencana sudah kubuat matang-matang, ingin sekali rasanya minggu depan menemui mereka. Atas rasa terima kasihku pada pak Ahmad sekeluarga, tak lupa kuucapkan untuk mereka yang telah telaten merawatku sampai sembuh.


"Pak Ahmad?" panggilku.


"Iya, Alex," Timbal balik ucap beliau.


"Saya minggu depan ingin kembali ke rumah, rasanya aku sudah rindu pada ibuku, cepat-cepat ingin sekali menengoknya. Aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikan pak Ahmad sekeluarga, yang telah sudi menampungku disini sampai lukaku telah sembuh," ujarku tak enak hati.


"Sama-sama Alex. Tidak usah merasa sungkan-sungkan begitu, kami sungguh ihklas merawat kamu. Jika seandainya kamu sudah bertemu pada ibumu, jangan pernah lupakan kami!" ujar pak Ahmad dengan cara menepuk-nepuk pundakku halus.


"Baik pak, pasti itu. Jasa budi bapak sekeluarga sungguh besar padaku, mana mungkin aku akan melupakan semuanya begitu saja," imbuh perkataanku.


"Terima kasih, Alex. Kamu memang anak yang baik hati," puji pak Ahmad.


Aku begitu tak enak hati tak dapat memberikan apa-apa kepada keluarga mereka, yaitu selain ucapan terima kasih saja.


Karena wajahku yang rusak, anak-anak yang sering bermain dengan Budi, ketika mereka bertemu denganku sikap sudah mulai agak menjauh mungkin masih ada rasa ketakutan.


Orang kini memberikan nama baru untukku dengan julukan yaitu monster hantu. Biar semua orang yang akan berpapasan dengan diri ini agar tidak takut-takut, wajah kuusahakan selalu untuk memakai penutup masker. Rumah pak Ahmad yang biasanya ramai oleh anak-anak, kini mulai sepi sebab ketakutan mereka padaku, maka dari itu lebih baik aku harus segera pergi agar mereka semua bisa meramaikan rumah pak Ahmad lagi.


Kini keluarga pak Ahmad dan diriku sedang bersantai bercengkrama di depan rumahnya, dengan memandangi sekitar pekarangan beliau yang penuh ditumbuhi rerimbunan oleh pepohonan dan buah yang asri, dengan daunnya yang menghijau segar hingga dapat menambah menyejukkan mata kami.


Bulan ini adalah musim buah, jadi seperti jambu biji, mangga, rambutan, dan lain-lainnya sedang berbuah lebat. Tanaman semua itu telah ditanam oleh tangan pak Ahmad sendiri. Kadang banyak sekali anak-anak bermai-ramai memanjatnya untuk mengambil buahnya dan pak Ahmad hanya membiarkan mereka mengambilnya begitu saja, tanpa ada berpikiran untuk menjualnya, katanya beliau untuk amal sedekah saja yang penting anak-anak dan tetangga pada merasa senang.


Tiin ... tin, suara mobil pick up membunyikan klaksonnya, yang sudah berhenti terparkir didepan halaman rumah pak Ahmad.


"Assalamualaikum," ucap Ibu-ibu yang sudah turun dari mobil.


"Walaikumsalam," jawab kami kompak.


"Bagaimana kabarnya sekarang mbak yu!" ujar bu Asih, yang secepatnya menghampiri beliau mencoba segera menyalami tangannya.


"Alhamdulilah baik," jawab Ibu-ibu tadi.


"Apakah itu beneran Niko temanku? Aah, kurasa beneran dia," ucapku dalam hati merasa gembira.


Bhugh, suara pintu mobil dibanting dengan keras untuk menutupnya. Betapa terkejutnya diri ini, saat orang yang barusan turun adalah teman baikku disekolahan yaitu Niko. Tanpa basa-basi aku langsung berlari menubruk untuk memeluknya, namun begitu aneh dan berbeda dengannya, dia begitu terkejut saat aku memeluknya, yang tak terkecuali semua orang juga. Mereka begitu terperangah dan kaget, atas tindakan yang barusan kulakukan itu.


"Niko ... Niko?" ucapku sendu memeluknya.

__ADS_1


"Eit ... Eitss, lepaskan aku dulu. Siapa kamu? Main peluk sembarangan saja!" ujarnya merasa kesal.


"Oh maaf ... maaf. Ini aku, Alex! Teman kamu waktu sekolah SMA kemarin," jelasku antusias gembira.


"Alex? tidak...tidak, ini tidak mungkin. Kamu pasti berbohong, tidak mungkin kamu Alex. Tapi---? Suara kamu dan tahu kalau Alex adalah temanku darimana? Sebentar ... sebentar, eeem ... apakah kamu beneran, Alex sungguhan?" tanyanya dalam kebinggungan.


Hanya anggukan kecil yang dapat kuberikan, atas pertanyaannya.


"Beneran kamu, Alex?" tanyanya ulang yang masih tak percaya.


"Aah, mana mungkin. Dia itu sudah meninggal dan aku sendiri yang telah mengiringinya sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku benar-benar tidak percaya kalau kamu Alex. Semua ini pasti tidak mungkin, tidak ... tidak!" ujarnya terus saja tidak percaya.


"Pemakaman? Apa maksud kamu?" ucapku yang kini gantian binggung.


"Beneran apa yang kamu katakan, Niko? Pemakaman? Maksudnya apa itu?" tanya pak Ahmad yang juga kaget.


"Benar paman. Aku sendiri yang melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa Alex sudah meninggal dan telah dikebumikan kemarin-kemarin," jawabnya tegas meyakinkan.


"Nanti ... nanti dulu, kita lanjutkan ngobrol sebentar saja. Sekarang kalian masuklah rumah dulu dan duduk. Ngak enak kalau kita bercerita sambil berdiri," ujar pak Ahmad memecah kabingungan kami.


Akhirnya kami menurut saja dan duduk. Pak Ahmad kini menceritakan semua kejadian yang telah menimpaku dan mengapa sampai sekarang masih menumpang dirumah beliau. Nampak sekali ekspresi wajah Niko dan ibunnya begitu terkejut dan masih tak percaya. Begitu pulak denganku begitu tak percaya atas penjelasan Niko. Jadi selama ini semua orang dan keluargaku kini telah menyangka bahwa aku sudah meninggal bukannya sakit. Hatiku begitu syok sedih tak menggenakkan, yang sudah menerima kabar bahwa aku telah dianggap sudah meninggal oleh semua orang. Pantas saja keluarga tak ada desas desus bertanya tentang kabarku terkini.


"Alex?" panggil Niko yang menghampiriku sedang duduk melamun dibawah pohon mangga.


"Terima kasih!" jawabnya jalus saat kami berdua telah bertengger duduk dianyaman bambu.


"Maafkanlah diriku atas ucapan yang tadi, yang mana sudah tak memparcayaimu," ucap Niko bersedih dengan kepala tertunduk.


"Tidak apa-apa, Niko. Aku paham!" ucapku santai.


"Oh ya, bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Niko penasaran.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja sekarang," Ramahnya balik perkataanku.


"Kuamat-amati wajahmu dari tadi memakai masker terus? Apakah kamu sedang flu atau sakit lainnya, sehingga takut akan tertular?" Perasaan aneh Niko bertanya.


"Tidak Niko, aku tidak sedang sakit flu atau penyakit yang lainnya, tapi wajahku kini sedang rusak akibat kejadian penculikan itu," jelasku.


"Rusak? Maksudnya?" Kebinggungannya bertanya.


"Iya, rusak!" jawabku singkat.


"Aku akan tunjukkan dan membukanya, tapi berjanjilah jangan takut padaku saat nanti sudah melihatnya," Peringatanku.

__ADS_1


"Baiklah."


Dengan perasaan berat, aku mencoba membuka wajahku untuk segera kutunjukkan pada Niko.


"Astagfirullah haladzhim," Kekagetan Niko.


Niko langsung memelukku dengan erat, tak lupa kini sudah terselipkan bulir-bulir deraian airmatanya.


"Maafkan aku, Alex temanku! Sungguh, aku tak bermaksud menyinggungmu tadi. Betapa malangnya nasibmu sekarang, wahai kawanku," ujarnya pilu sudah menangis tersedu-sedu.


"Sudah ... sudah, aku gak pa-pa. Semua ini sudah terjadi atas kehendak allah, jadi kamu tak payah bersedih begitu, sebab aku sudah ikhlas menerima semua ini," ucapku menenangkan dengan menepuk-nepuk pundak.


"Iya, yang sabar kamu Alex."


"Oh ... ya, bagaimana kabar ibu dan Amel? Apakah mereka sekarang juga baik-baik saja, setelah sekian lama kutinggal?," tanyaku saat tangisan Niko sudah mulai mereda.


"Mereka ... mereka!" suara Niko kelu tak bisa menjelaskan.


"Jawablah Niko, mereka kenapa? Apakah kabar mereka baik-baik saja sekarang!" Paksaku berbicara.


"Maafkan aku, Alex. Jika kabar ini tak mengenakkan kamu dan bila nanti membuat kamu bersedih. Mereka sekarang sudah tidak ada di kota ini lagi!" Penjelasan jawabannya.


"Apa? Maksud kamu apa?" tanyaku dalam kegundahan.


"Setelah pemakamanmu, tak berselang lama kedua orangtua Amel telah mengalami kecelakaan dan mereka meninggal. Entah mengapa, setelah kedatangan keluarga barunya, ibumu dan Amel telah pindah kekota lain," penjelasannya.


"Meninggal? Keluarga baru?" Perkataanku yang kaget.


"Iya."


"Kenapa mereka bisa begitu? Aneh benar," cakapku bertanya lagi dengan oerasaan heran.


"Aku juga tidak tahu."


"Heeeh, ternyata betapa malangnya juga nasib ibu dan Amel," Keluh kesahku bersedih.


"Sabar Alex! semoga saja suatu saat nanti, kalian akan dipertemukan lagi oleh nasib yang sudah ditetapkan Allah, yaitu tentang keluargamu dan cinta!" pemberian semangat Niko padaku.


"Terima kasih, Niko. Kamu selalu ada untukku sebagai teman."


"Sama-sama, Alex."


"Ya Allah, lindungilah orang-orang yang kusayang yang kini tak tahu keberadaannya dimana? Aku begitu merindukan mereka, jadi pertemukanlah kami segera, agar bisa berkumpul bahagia seperti hari-hari kemarin," Do'aku dalam hati.

__ADS_1


Aku sudah tak bisa berpikir jernih lagi, apa yang akan kulakukan selanjutnya tentang hidupku, saat sudah tidak ada Amel dan ibu yang berada disisiku. Kekasih dan ibuku sudah hilang, yang tak tahu entah dimana keberadaan mereka sekarang. kini hati begitu binggung, sedih, gusar, dan galau harus kemana aku bisa menemukan mereka. Walau mereka sudah menghilang tanpa jejak, diri ini tak akan memyerah begitu saja demi bisa bertemu mereka kembali, karena mereka adalah nafas hidupku yang selalu kucintai dan sayang, tanpa mereka hidupku sungguh takkan ada artinya lagi.


__ADS_2