Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Pertemuan takdir yang tidak disangka. SEASON 2


__ADS_3

Aktifitas bekerja kembali terlakukan. Majikan hari ini sedang ke luar kota, jadi bisa sedikit bersantai untuk membersihkan segala ruangan rumah yang menjadi tempat bekerja.


Lagi-lagi harus meninggalkan anak dan Ibu dikampung. Demi sesuap nasi harus rela terpisah dari mereka. Lagian siapa lagi yang akan jadi tulang punggung selain diriku, saat suami sudah lepas tangan tidak bisa menghidupi kami lagi, ketika telah hilang bagaikan ditelan bumi tanpa ada kabar sama sekali darinya


Shet ... shet, tangan sudah sibuk mengepel.


Rumah yang besar dan luas, hanya ada tiga pembantu perempuan dan dua pria yang ikutan bekerja yaitu sopir dan tukang kebun. Majikan yang kaya raya tidak tanggung-tanggung untuk mempekerjakan orang. Mungkin kalau nasibku yang tidak jatuh sekarang, mungkin masih bisa merasakan enaknya hidup seperti majikan sekarang, yaitu tinggal duduk manis dirumah tanpa harus bersusah payah bekerja mengeluarkan keringat.


Takdir yang begitu rumit sedang bergelud sama keadaan diriku yang mulai melemah dalam bekerja, namun tetap kuat dan tangguh menghadapi ini semua demi senyuman anak dan Ibu.


Ting ... tong ... ting, suara bel rumah telah dipencet seseorang.


Tangan yang sibuk mengepel sebagian ruang santai, tidak bisa beralih tempat ke depan untuk segera membukakan pintu. Untung saja bibi yang usianya diatasku sekarang sudah sigap membukanya.


Terdengar mereka sedang berbincang-bincang mengenai majikan. Tidak kupedulikan siapa tamu itu, yang terpenting sekarang adalah mengerjakan semua pekerjaan agar beres dengan cepat.


"Amel, kamu buatkan minuman pada tamu tuan. Bibi sedang ada kerjaan didapur. Minta tolong, ya!" pinta Bik Arni.


"Iya, Bik. Sebentar!" jawab yang segera meletakkan sapu pel.


"Terima kasih, ya."


"Iya, Bik. Sama-sama."


Bik Arni yang sudah melangkah duluan sudah kuikuti dari belakang. Tujuan kami sama yaitu ke dapur, tapi bedanya aku ingin melayani tamu sedangkan beliau sibuk sama urusan makanan.


"Memang siapa sih, Bik?" tanyaku penasaran.


Tangan sudah menyiapkan beberapa cangkir untuk wadah teh. Air panas mulai kutuang dicangkir yang sudah ada gulanya.


"Kalau tidak salah itu adalah keponakan, Tuan. Kalau yang pria tidak tahu, tapi ada kemungkinan adalah kekasihnya sebab mereka kelihatan mesra sekali," terang beliau.


Bik Arni adalah pekerja lama, jadi sedikit banyak informasi yang beliau tahu mengenai rumah ini. Banyak sekali pelajaran yang kudapat dari beliau, termasuk cara memasak sesuai keinginan majikan maupun membersihkan dengan baik seluruh rumah ini.


"Ooh, begitu. Yang jelas kalau sudah mesra pasti adalah kekasih, atau mungkin sudah sah menjadi suaminya," simbat perkataan.


"Mungkin saja, sebab kalau tidak salah keponakannya itu tinggal diluar negeri dan datang sesekali ke Indonesia, jadi bibi kurang tahu juga sama status dia. Itupun kalau pulang kesini pasti ada keperluan penting saja," imbuh beliau berkata.

__ADS_1


"Ooh, berarti kebanyakan kerabat majikan kita itu memang orang yang kaya-kaya."


"Yang jelas begitu, sih. Sudah, jangan banyak bicara. Nanti haus juga itu tamu, sebab telah kelamaan menunggu kamu menghidangkannya," keluh beliau.


"Iya ... iya, Bik. Ini sudah selesai, kok."


"Baguslah kalau bagitu."


"Ya sudah, Amel akan ke depan untuk menyuguhkan ini."


"Iya, hati-hati kamu."


"Siip, Bik."


Tangan yang membawa nampan, mulai berjalan ingin menyuguhkan. Selain teh, nampan telah bertengger beberapa toples berisi camilan.


"Silahkan!" suruhku saat melihat wanita cantik berkulit putih, namun rambutnya hanya sebatas bahu saja.


Katanya bik Arni tadi, ada seorang pria yang datang bersama wanita yang sedang duduk sambil sibuk memainkan gawai didepanku sekarang, tapi pada kenyataannya dia sedang tidak ada ditempat.


Tangan masih sibuk menata hidangan teh dan camilan.


"Sudah!" jawab pria yang seperti suaranya itu sangat aku kenal.


Akibat penasaran, wajah langsung menatap pria yang barusan selesai dari kamar mandi.


"Astagfirullah," Kekagetan hati saat tahu siapakah yang berdiri tersenyum manis sekarang.


Teh dalam cangkir mulai bergetar-getar, ketika tangan sedang memegang ingin menaruh dimeja.


Prank, seketika gelas itu telah jatuh, saat syok melihat siapa pria didepanku sekarang.


Wajah itu seketika melihat kearahku, dengan tatapan penuh keseriusan dan heran.


"Apa yang kamu lakukan? Naruh begitu saja tidak becus," bentak kasar tamu wanita.


Tersadar atas apa yang telah terjadi, seketika kepala tertunduk tidak berani menatap wajah mereka lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nona. Tadi telapak tangan tidak segaja menyentuh air teh yang hangat ini, jadi akibat sakit langsung terlepas begitu saja," alasan sudah berbohong.


"Maaf ... maaf. Enak saja yang kamu ucapkan itu, sementara aku kaget bukan kepalang atas ulahmu itu" ketus jawaban.


"Sudah, Alena. Dia kelihatannya memang tidak sengaja sedang menjatuhkan tadi," ucapan pembelaan dari pria yang wajahnya mirip sekali dengan orang yang selama ini kucari.


"Tapi 'kan, sayang. Pembantu kayak gini kalau tidak kena marah akan ngelunjak nanti," Wanita yang bernama Alena, kelihatan sekali orangnya tidak terlalu bersahabat sama orang lain.


"Iya, tahu."


"Sudah ah, jangan marah-marah melulu, tidak baik sama kesehatanmu," sambut suara merdu pria itu, yang ramah dan santai persis sekali seperti Alex.


"Maafkan saya, Nona. Nanti akan segera saya bereskan pecahan-pecahan ini," cakapku tidak enak hati.


"Ya, sudah. Huust ... huus, pergi sana!" suruh Alena yang melambaikan tangan, agar aku segera menyingkir dari hadapan mereka.


"Iya, Nona. Sekali lagi saya minta maaf."


Tidak ingin membuat kemarahan lebih lama lagi, akupun harus segera mengalah untuk undur diri.


Badan rasanya mulai lemah, dengan tulang-tulang persendian rasanya ingin terlepas, akibat tak kuasa melihat apa yang terpampang didepan mata tadi.


"Ada apa, Amel?" tanya bibi saat aku sudah sampai ke dapur ingin menaruh nampan.


"Amel, tidak sengaja memecahkan gelas teh, Bik! Aku akan kedepan lagi untuk membersihkannya, agar tamu tidak ngomel-ngomel lagi," terangku.


"Ya sudah. Hati-hati kamu."


"Iya, Bik."


Awalnya tidak ingin ketemu lagi dengan mereka, namun demi tuntutan pekerjaan terpaksa balik, dan melihat kedua sejoli itu begitu tertawa riang bahagia.


Bagaikan mimpi dimalam hari, orang yang sekian tahun tidak ditemukan dengan mudah, kini takdir akhirnya mempertemukan kami lagi.


"Ya Allah, semoga dia beneran mas Alex yang selama ini kucari."


"Aku sangat merindukan kamu, Mas. Semoga itu benar-benar kamu yang selama ini telah kucari," embun ingin menyeruak namun kutahan, agar tidak diketahui saat mencuri melirik ke arah mereka.

__ADS_1


Dada rasanya mulai sesak tidak bisa menghirup udara lagi dengan benar. Syok yang terjadi membuatku tidak ingin melakukan pekejaan lagi, yaitu berkurung diri didalam kamar dulu, agar lebih tenang saat orang itu hadir kembali namun kini bersama orang lain.


__ADS_2