
Cinta dihati masih tetap terjaga, walau tidak bisa memiliki untuk selamanya.
Semua cintaku padanya akan lebih indah bila dikenang saja.
Segala yang kita alami pasti akan terhapus keseluruhan, karena itu sudah menjadi fitrah pikiran.
Sudah menjadi tugas otak kita untuk menyimpan memori kebahagiaan, maupun hal-hal yang sudah menyiksa dihati.
Tapi setiap orang mempunyai pilihan, untuk tetap membiarkan atau menghapus memory itu, walau hanya sebatas kenangan maupun membuangnya, ketika dia sudah beranjak meninggalkan kita jauh.
Hatiku mencoba tidak mengigat-ingat masa yang indah bersama Alex maupun orang tua, karena bisa menghambat masa depanku kelak, tapi kenangan lama begitu menghantuiku dan selalu mengingatnya. Pikiran mencoba menata bagaimana nasib masa depan kelak yang tak perlu lagi kembali ke masa lalu. Walaupun kehidupan kebahagiaan itu terpancar oleh wajahku tetap saja hati masih bersedih.
Waktu terus saja berlalu dengan merangkak perlahan-lahan, sudah genap tujuh hari orangtuaku telah meninggal. Perasaan hati kehilangan Alex belum pulih sepenuhnya, kini ditambah kehilangan kedua orang tuaku. Hidupku sudah terasa tak berwarna lagi, saat hari-hariku sekarang dipenuhi oleh rasa kesendirian dan kenangan yang terekam jelas dikepala.
"Non Amel?" panggil bik Sari.
"Iya bik, ada apa?" lirihnya jawabanku.
"Heeh, bagaimana kedaanmu?" tanya beliau.
"Aku masih tetap baik-baik saja, bik!" jawabku.
"Sudah non, jangan melamun lagi. Bibi jadi sedih kalau melihat non Amel begini terus Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang, yaitu saat kita sudah sama-sama telah kehilangan orang yang kita sayangi. Jadi bibi minta non Amel ngak boleh terlalu bersedih lagi, ingat ngak pesan terakhir nyonya? Harus-harus banyak makan, serta jaga kondisi kesehatan. Bibi telah kehilangan anak dan non sudah kehilangan orang tua, apapun yang telah menganggu non Amel baik itu sebuah kesulitan maupun kesedihan, jadikanlah bibi sebagai pengganti kedua orang tua kamu," nasehat panjang lebar bik Sari bersuarakan serak-serak ingin menangis.
"Terima kasih, bik. Bibi selalu ada untukku dan tidak pernah meninggalkanku sendirian. Aku benar-benar sangat berterima kasih padamu, bik!" ucapku yang langsung memeluknya.
"Sama-sama, non. Biarlah kita saling menguatkan dan bertahan dalam semua masalah yang kelak akan menimpa kita," ujar bik Sari lagi.
"Iya, bik."
Aku begitu sendirian sekarang, tidak ada sanak saudara yang bisa menemani. Kini aku hanya memiliki kasih sayang dari pembantu yaitu ibunya Alex. Sekarang hatiku sangat senang beliau selalu saja berada disisiku dan tidak pernah meninggalkanku dalam kesendirian.
"Ya udah. Non Amel sekarang makan dulu, biar tubuh pulih sehat dan tenaganya terisi kembali," suruh bik Sari.
"Iya bik, tapi kita makan sama-sama ya ... ya! Mulai sekarang Amel akan terus makan sendirian, rasanya suka sedih bila duduk makan ngak ada yang menemani," keluhku dalam kesedihan.
"Tapi non, bibi cuma seorang pembantu, ngak sepantasnya jika makan sama majikan," tolak bik Sari secara halus.
"Ayolah bik, hanya bibilah yang satu-satunya berada didekatku dan sekarang bik Sari itu sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. jadi makanlah di sini bersamaku, ok!" ujarku sudah menepuk-nepuk kursi makan untuk didudukki pembantu beliau segera.
"Baiklah, kalau non Amel memaksa," Kepasrahan beliau menjawab.
Akhirnya tanpa sungkan-sungkan lagi, pembantuku duduk berdua dalam satu meja. Terasa aneh sekali saat kursi yang biasa diduduki oleh orang tuaku sekarang terisi oleh orang lain. Ada guratan kebahagian diwajah bik Sari serta tak elaknya denganku yang juga sudah diliputi kebahagiaan, yang sudah tak terkira telah mendapatkan kasih sayang dari pembantuku sendiri.
Semua urusan pekerjaan papa, sudah kuserahkan pada orang-orang kepercayaan perusahaan. Usiaku masih belia sekali untuk meneruskan dan mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan bisnis papa hingga terpaksa semuanya dibereskan dan dikerjakan mereka. Aku berusaha untuk semakin giat belajar supaya kelak bisa menjalankan bisnis yang ditinggalkan untukku.
__ADS_1
Bulan yang separuh diatas langit, menampakkan betapa indahnya ciptaan tuhan dalam kegelapan malam.
Awan putih yang menutupinya telah dikelilingi oleh berjuta bintang-bintang yang berkerlipan.
Sinar rembulan itu mampu membuat semua kegundahan dan rasa kehilangan yang kurasakan perlahan terobati, yaitu sebuah rasa kerinduan yang teramat dalam yang sempat tak bisa hilang.
Meskipun tak seterang cahaya matahari, tapi cukuplah bagiku untuk merasakan kehangatan dalam kesendirian ini.
Ting ... tong ... ting, suara bel rumah berkali-kali berbunyi, hingga mengagetkanku yang tengah bersantai didekat kolam renang melihat pemandangan malam. Rasa kesal datang saat berkali-kali bel dibunyikan tanpa henti, yang sepetinya tamu begitu tak sabarnya untuk memasuki rumahku.
"Siapa sih tamu itu, ngak sabaran amat?" tanyaku dalam hati melihat seksama ke arah pomntu rumah utama.
Ceklek, pintu sudah dibuka bik Sari
"Maaf kalian cari siapa ya?" tanya bik Sari, tapi tak ada jawaban yang ramah dari mulut sang tamu.
"Minggir kamu!" Terdengar suara seorang perempuan menyuruh kasar pada bik Sari.
Dari kejauhan aku telah kedatangan tamu yang tak diundang, seorang laki-laki seumuran ayahku dengan perempuan dan pemuda sekitaran dibawah umurku. Mereka sepertinya kasar main nyelonong masuk saja tanpa menjawab pertanyaan bik Sari.
"Siapa kalian?" tanyaku agak kesal.
"Wah ... wah mami, besar sekali rumah kita?" ucap pemuda yang di bawah umurku menatap kagum rumahku yang memang mewah.
"Maksud kalian apa, ya? Jangan sembarangan kalau ngomong, rumah kita?" tanyaku binggung.
"Kakak? Apa maksudnya?" kebingunganku yang semakin tidak mengerti.
"Kami adalah keluarga kamu!" celetuk jawab perempuan disebelah orang yang bernama Doni.
"Engak ... engak, kalian pasti bohong. Kami tidak mempunyai keluarga yang tidak punya sopan santun seperti kalian ini!" ujarku sinis.
"Kami ini memang betul keluarga kamu!" jawab laki-laki berjenggot yang kelihatannya datang bersama mereka.
"Aah, apa yang kamu bilang tadi? sopan santun? kamu itu yang tidak punya tatakrama terhadap yang lebih tua dari kamu. Seharusnya kamu menyambut keluarga jauhmu ini dengan sopan, dengan mempersilahkan kami duduk dulu. Orang kaya kok gak ada sopan-sopannya?" ujarnya tak terima atas perkataanku.
"Buat apa aku mempersilahkan duduk pada kalian, sedangkan aku tak mengenal kalian! Kalau penganggu kayak kalian ini cukup berdiri saja, sebab bisa ngotor-ngotorin sofaku saja," jawabku sewot tapi santai.
"Kamu?" geram wanita itu seperti ingin memberiku pelajaran.
"Kami adalah keluarga tirimu, jadi mulai sekarang harus nurut sama kami, mengerti?" perkataan pria berjenggot dengan mencengkram kuat pipiku.
"Kalian jangan semena-mena dan kasar pada non Amel," ucap bik Sari marah yang ingin membelaku.
"Heh pembantu, jangan sok tahu dan ikut-ikutan. Ini itu urusan keluarga kami," Wanita itu berbalik marah pada bik Sari.
__ADS_1
"Aww ... aaa sakit! Keluarga tiri? Pasti kalian semua bohong," jawabku tak percaya.
"Kami bisa buktikan!" cakapnya melepaskan tangan dari pipiku.
Sudah terlepasnya cengkraman pria itu dan sekarang aku merasakan kesakitan pada pipi.
"Ternyata mama kamu belum bilang siapa kami ini yang sebenarnya?" jawab laki-laki itu.
"Beritahu dia pa, sebenarnya kita ini siapa?" celetuk sahut Doni berlagak songong.
"Beneran kami ini adalah keluargamu, sebab aku adalah ayah kamu yang asli. Sebelum mama kamu menikah dengan pria br*ngs*k papa kamu itu, mama kamu telah lebih dulu menikah denganku, tapi kerena tidak ada kecocokkan akhirnya kami bercerai dan terpisah. Mama kamu waktu itu telah membawa kamu pergi, hingga dia menikah dengan orang lain. Dan sekarang papimu ini sudah menikah juga dengan mami tirimu Murni ini, sedangkan dia adalah adik tirimu namanya Doni," Penjelasannya dengan mata melotot tajam ke arahku.
"Ayah? Engak ... enggak, aku tak percaya. Aku tak percaya apa yang kamu ucapkan barusan!" ujarku kesal.
Aku menghela nafas panjang, berusaha meredakan kekesalan yang mulai naik diubun-ubun kepala.
"Aku akan buktikan," ucap pria itu kekuh.
"Ini ada buktinya, plaak!" Sebuah buku nikah yang usang ditunjukkan kepadaku dengan dilempar kuat dimeja ruang tamu.
Ternyata benar saja, sebelum aku lahir tenyata mama telah menikah dengan pria berjenggot yang telah berdiri tepat di depanku sekarang.
"Dan ini bukti bahwa kami akan tinggal seterusnya di sini, sebab aku ada hak juga atas harta mama kamu ini," ujar papi kandung dengan menunjukkan sebuah surat.
"Tidak ... tidak, aku tidak akan percaya dengan semua itu. Akan kubuktikan pada kalian semua, bahwa kalian salah tempat dan alamat telah datang kesini!" ucap kekesalanku.
"Buktikan pakai apa? Kedua orang tuamu sudah meninggal. Surat-surat ini bukti bahwa semua harta telah diwariskan pada keluarga tirimu ini," celetuknya garang.
"Gak bisa. Pokoknya kalian ngak bisa tinggal disini," ujarku dalam kemarahan.
Plak, pipiku tiba-tiba ditampar mami tiri.
"Kamu ngak usah banyak ngomong dan membantah. Turuti saja perintah kami, kalau kamu tidak ingin menyusul kedua orang tuamu untuk ke alam kubur, paham!" ucap mami tiriku dengan menjambak rambutku.
"Aaaa, sakit. Lepaskan!" ucapku meringis.
"Heeh, dasar. Bhuuggh!" Tingkah perempuan itu kasar yang mendorong tubuhku kuat hingga jatuh ke lantai.
"Kalian ini memang kejam dan tak ada akhlak. Dasar! Kamu ngak pa-pa, non!" ucap bik Sari marah, yang berusaha membantuku berdiri.
"Iya, bik. Aku baik-baik saja."
"Ngak usah banyak omong kamu pembantu. Sudah, pergi sana kalian. Bikin sepet mata saja. Kalau ngak pergi dari hadapan kami, maka aku akan berbuat lebih kasar seperti apa yang tadi kulakukan," suruh perempuan itu sambil mengancam.
Bik Sari dan diriku tanpa melawan nurut saja apa yang disuruh perempuan itu, sebab tak ingin ada hal-hal buruk lagi yang menimpa kami. Aku ingin secepatnya akan mengklarifikasi masalah ini dengan menemui pengacara pribadi papaku.
__ADS_1
"Aah, kenapa nasib malang terus saja berdatangan dalam hidupku? Apa masalah ini bisa terselesaikan saat surat bukti kepemilikan harta ada ditangan ayah kandung? Heeh, semoga saja badai masalah baru ini akan selesai secepatnya," guman hati binggung saat melamun didapur membantu bik Sari memasak.