
Sesampainya dikota yang menjadi kecelakaan suami, aku dan Ibu langsung saja datang ke markas pihak kepolisian, untuk menanyakan dimanakah mas Alex telah dirawat sekarang.
Akhirnya alamat rumah sakit sudah kami kantongi. Bolak-balik bertukar kendaraan yang kami lakukan, sebab tidak ada sanak saudara maupun orang yang dikenal dikota ini.
Bergegas secepat mungkin yang kami lakukan.
Ingin melihat keadaan suami menjadi kecemasan kami, apakah dia baik-baik saja atau sudah terluka parah, dikarenakan dari keterangan pihak kepolisian mobil bagian depan telah hancur berat.
"Mbak, apakah nama orang ini sedang dirawat disini?" tanyaku tidak sabar.
Sebuah fotocopy ktp telah kutunjukkan pada penerimaan tamu pihak rumah sakit.
"Sebentar, Mbak. Saya akan coba periksa dulu."
"Baiklah."
Secara sabar aku menunggu pegawai itu sedang memeriksa didaftar nama pasien.
"Oh, iya Mbak. Beliau memang dirawat disini," jawab pertugas ramah.
"Alhamdulillah, Amel. Akhirnya perjuangan kita setelah beberapa jam yang lalu telah membuahkan hasil," saut Ibu merasa lega.
"Iya, Bu. Alhamdulillah."
"Kalau boleh tahu, diruang mana suami saya dirawat?" imbuhku lagi.
"Maaf, Mbak. Memang pasien kemarin telah dirawat disini, tapi sekarang sudah tidak ada disini lagi," jawab petugas itu yang sangat mengejutkan.
"Apa?."
"Itu tidak mungkin, Mbak. Sedangkan dia dalam keadaan terluka. Apa dia dipindahkan ke rumah sakit lain, akibat lukanya yang parah?" ucapku tidak percaya.
"Bukan ... bukan, Mbak. Tapi pasien sudah dibawa pulang oleh pihak keluarganya." Keterangan pegawai yang kedengarannya sangat serius.
"Apa?."
"Tidak ... tidak, itu tidak mungkin, Mbak. Kami ini adalah keluarga aslinya, mana mungkin dijemput oleh orang lain yang bukan keluarganya," cakapku tidak percaya.
"Iya, Mbak. Dalam biodata pihak kami, mereka mengatakan adalah keluarga dan sudah membawa pulang pasien."
"Kamu tenang dulu, Amel!" saut Ibu berusaha menenangkan.
"Tapi, Bu--!."
__ADS_1
"Biar Ibu saja yang bicara sebentar. Kamu tenangkan diri dulu."
"Baik, Bu." Sikap mengalah datang.
Mertua kini gantian mendekati pegawai pihak rumah sakit. Kekhawatiranku sangat akut, sehingga tidak bisa berbicara dengan tenang dan penuh emosi akibat tidak sabar.
Rasanya ingin menitikkan airmata saja namun kutahan dengan cara memeluk tubuh anak. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Ibu menghampiri kami yang tengah duduk diruang tunggu.
"Gimana, Bu?" tanya tak sabar.
"Alhamdulillah, Ibu sudah mendapatkan alamat yang mengaku sebagai keluarga Alex. Lebih baik kita langsung ke sana saja, sebab sepertinya Alex benar-benar sudah tidak ada dirumah sakit ini lagi," tutur Ibu yang melegakan.
"Baiklah, Bu. Ayo kita kesana secepatnya. Amel sangat geram rasanya pada mereka, yang sudah seenak jidat mengaku sebagai keluarga mas Alex," ungkap kekesalanku.
"Iya, kamu harus sabar dan jangan emosi menghadapi ini, sebab bisa-bisa akan menimbulkan hal yang tidak diiginkan dari orang lain," ceramah beliau.
"Baik, Bu." Hanya menurut saja pada beliau, sebab apa yang dikatakan ada benarnya.
Kami lagi-lagi harus menyewa kendaraan, untuk mencari alamat yang sudah dituliskan pihak rumah sakit untuk kami. Rasanya sungguh tidak tenang hati ini, saat suami sudah diambil orang tanpa persetujuan dari keluarga aslinya.
Mata sudah menyapu pandangan kesekitar jalanan yang kami tuju. Ternyata banyak sekali rumah-rumah dari kalangan keluarga elit.
"Semoga saja mas Alex ada dan kami bisa berkumpul kembali. Tapi kenapa perasaanku sangat tidak tenang sekarang, apa telah terjadi sesuatu pada mas Alex?."
"Ya Allah, semoga ini hanya perasaanku saja, tidak ada kaitannya dengan kejadian yang kacau ini," rancau hati yang gundah.
"Kok pintu gerbangya digembok ya, Bu?" ucapku memberitahu.
Posisi berdiri sudah didekat pintu gerbang.
"Seperti tidak ada penghuninya," imbuh akan rasa keanehan.
"Coba kamu lihat kertas yang ada alamatnya itu. Takutnya nanti kita salah mendatangi tempat," simbat mertua.
"Kayaknya benar dech ini, Bu!" jawabku saat melihat pagar yang tertera alamat sama persis dengan kertas yang aku pegang sekarang.
"Coba kamu pencet belnya. Siapa tahu mereka sedang berpergian saja dan mungkin ada orang didalam contohnya pembantu," suruh beliau.
"Baik, Bu."
Tet ... tet, berulang kali bel telah kutekan, tapi tidak ada tanda-tanda ada penghuninya.
"Permisi. Ada apa ya ini?" sapa seorang Bapak-bapak.
__ADS_1
"Eeh, maaf Pak. Apakah anda kenal sama keluarga penghuni rumah ini?" tanyaku langsung.
"Iya, saya kenal. Rumah ini saya yang jaga. Memang ada apa, ya?" balik tanya beliau.
"Wah, kebetulan sekali kami sedang mencari orang yang berpenghuni dirumah ini," Kelegaan hati sedikit tenang.
"Kalau boleh tahu, memang ada apa, ya?."
"Ngak ada apa-apa sih, Pak. Kami cuma ingin ketemu sama pemilik rumah ini, apakah boleh?" jelasku.
"Maafkan kami, Nona. Pemilik rumah ini sedang tidak ada disini, lebih tepatnya mereka sekarang pindah keluar negeri," terang beliau.
"Apa? Apakah yang Bapak katakan itu benar?" simbat tak percaya.
"Iya, Nona. Baru beberapa jam yang lalu mereka pindah."
"Astagfirullah, bagaimana ini Amel? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" simbat Ibu mulai panik.
"Tenang dulu, Bu." Tangan beliau sudah kugenggam erat.
"Kalau boleh tahu kenapa mereka pindah, apa ada sesuatu hal yang tidak kami ketahui, sehingga mereka tiba-tiba mendadak pindah begitu?" tanyaku merasa curiga dikarenakan ada sedikit kejanggalan.
"Wah, kalau itu saya kurang tahu. Yang jelas mereka dari dulu memang sering tinggal diluar negeri. Rumah di Indonesia hanya tempat persinggahan saja, jika mereka ingin liburan kesini," jelas beliau.
"Lalu apakah saya boleh tahu mereka tinggal dimana sekarang?" imbuh penasaran.
"Singapura."
"Wah, jauh juga ternyata."
"Oh ya, Pak. Kalau boleh tahu apakah mereka telah berpergian dengan membawa seorang pria yang kira-kira umurnya sepantaran dengan saya?."
"Emm, kayaknya iya, Nona. Bapak juga tidak memperhatikan. Cuma kemarin malam ada tamu pria yang kelihatannya sedang sakit. Mungkin mereka membawa pria itu untuk diajak berobat keluar negeri."
"Sudah ... sudah, Nak!" Ibu telah menepuk pundakku sambil menitikkan airmata.
"Ya sudah, Pak. Terima kasih atas informasinya."
"Iya, sama-sama."
Kami bertiga harus pergi membawa rasa kecewa, sedih, dan tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Wajah Ibu benar-benar layu tidak ada tenaga lagi.
Akibat tidak kuat, ditengah jalan Ibu sudah terduduk lemas memeluk tubuh Kayla sambil tersedu-sedu. Aku yang melihat itu, langsung saja memeluk tubuh mereka berdua dengan erat, sambil ikutan mengeluarkan anak sungai yang dari tadi tertahan.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa kami harus terpisah lagi. Cobaan apa lagi ini? Kenapa rasa bahagia ini berubah menjadi sedih lagi?."
"Lindungilah suamiku dan segera pertemukan kami, agar bisa menjalani rumah tangga dengan bahagia lagi. Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa dia berada disisiku," Kebingungan hati yang terus saja menangis.