
Rasa lelah yang mendera harus meregangkan otot segera, untuk ambil cuti tidak berkerja. Pikiran yang selalu terkuras bagaikan mayat hidup, betahan demi anak tercinta yang masih membutuhkan kasih sayangku.
Badan hanya terbaring lemas merasakan seluruh otot mulai kaku. Rasa pusingpun mulai mendera juga. Hanya sekedar mau berobat saja rasanya sayang sekali sama uang, yaitu lebih penting untuk memenuhi kebutuhan kami. Apalagi ditambah Ibu yang terus saja dalan keadaan sakit-sakitan, jadi uang disimpan rapat-rapat agar tidak sembarangan terpakai, jika takut beliau nanti akan datang dropnya.
Tok ... tok, pintu telah diketuk pelan.
"Bolehkah Kayla masuk, Ma!" Izinnya sudah membuka pintu.
"Sini ... sini, Nak. Masuk saja," suruhku sudah menggerakkan tangan menyetujui.
"Maafkan Kayla jika menganggu istirahat, Mama."
"Tidak apa-apa kok, Nak. Ibu hanya istirahat akibat kecapek'an saja."
"Benar Kayla tidak menganggu 'kan?" tanyanya dalam keraguan.
"Iya, sayang."
Tangan yang mulai lemah akibat usia, sudah membelai lembut rambut anak gadis kesayangan yang sedang tergerai memanjang.
"Gimana dengan sekolahnya?" Ingin tahu kemajuan yang terjadi.
"Alhamdulillah baik, Ma."
Sikapnya yang kini bermanja ria, langsung saja memeluk tubuhku yang dalam posisi tengah duduk.
"Syukurlah kalau begitu."
"Iya, Ma. Kayla sangat rindu sekali sama Mama. Rasanya ingin sekali Mama itu hadir selalu bersama Kayla," Suara seraknya masih memeluk.
Rambut yang berantakan mengenai wajah sudah kusibakkan dekat telinga, agar tidak menutupi wajahnya lagi.
__ADS_1
"Iya, Nak. Kamu yang sabar, ya. Semua badai ini pasti akan berlalu. Jangan pernah putus asa untuk berdoa demi kebaikan keluarga kita," jawabku mencoba menenangkan dia.
"Iya, Ma. Kayla tidak lupa juga berdoa untuk papa, agar kita semua secepatnya bisa berkumpul lagi seperti dulu. Kayla, yakin sekali papa hanya menghilang sedang tidak ingat kita saja, bukan berarti dia sudah meninggal menjadi jasad," Keyakinan anak yang percaya.
"Iya, Nak. Mama juga percaya kalau papa sekarang masih hidup. Mungkin dia sekarang lagi melupakan kita saja, sampai-sampai sepuluh tahun sudah berlalu tapi kita masih belum berkumpul," cakapku mulai pilu.
"Mama juga yang sabar dan selalu ikhlas menjalani ini semua. Tuhan itu tidak tidur, pasti doa-doa kita akan segera terkabul.
"Amin, Nak."
"Yang jelas kita jangan pernah menyerah untuk mencari Papa. Walau keadaan nanti sudah berubah sekalipun, kamu harus tetap menyayangi Papa," perintahku terdengar menyayat hati.
"Iya, Ma. Kayla sangat paham."
"Mungkin rasa kehilangan ini belum kuat, dibanding rasa yang ada pada Mama. Pasti sekian hari, bulan, bahkan tahun Mama sudah menahan segalanya dengan kepedihan."
"Memang itu, Nak. Tapi semua terjalani dengan sabar. Semoga ketabahan ini akan membuahkan hasil suatu saat nanti."
Lagi-lagi anak tersayang sudah mendekap tubuhku dengan erat. Kami berdua sudah hanyut dalam mengenang, hingga tanpa terbendung lagi sama-sama saling mengeluarkan airmata.
Tiada yang bisa kami lakukan, hanya kepasrahanlah yang terjadi. Entah, dimana lagi mencari? Yang jelas kami semua sudah lelah berkeliling. Biarkan Tuhan yang menjalankan lakon dunia ini, sebagai manusia hanya bisa pasrah dan bersabar.
Lama sekali sudah berbincang-bincang sama anak. Banyak hal yang dia ceritakan mengenai teman dan pelajaran disekolah. Tidak menyangka jika tangan kecilnya dulu yang selalu kugandeng, kini jari-jarinya mulai memanjang tanda dia sudah beranjak semakin dewasa.
*****
Selama tiga hari meminta cuti. Selain mengistirahatkan badan, mencoba meluangkan waktu untuk bersama keluarga. Rasanya rindu sekali merasakan kebersamaan ini, setelah sekian tahun siang malam memeras keringat.
"Hai, Bu. Lagi menanam apa, nih?" tanyaku sudah menghampiri beliau dikebun belakang rumah.
Tanah yang luas kemarin, telah kubeli dengan uang dari sisa penjualan rumah peninggalan orangtua. Walau rumah tidak bagus seperti dulu, yang penting kami bisa berteduh dari panas terik matahari dan hujan.
__ADS_1
"Eeh, kamu Nak. Ibu lagi menanam ubi rambat, nih. Selain daunnya bisa untuk sayuran, 'kan hasilnya nanti bisa dijual kembali," terang beliau.
"Benar itu, Bu." Tangan sudah mencoba membantu untuk menancapkan tangkai pohon ubi rambat.
"Apa Kayla sudah berangkat ke sekolah?" tanya beliau balik.
"Iya, tadi sudah pamit."
Mata menyapu ke seluruh kebun. Banyak sekali sayur mayur yang beliau tanam. Rajin dan telaten sekali beliau. Katanya selain bisa untuk lauk makan sendiri, jika panen bisa untuk dijual dan tambahan keuangan kami.
Ada cabe, terong ungu, tomat, bayam, ubi, pisang, dan lain sebagainya. Kebun hampir penuh beraneka tanaman, yang hasilnya bisa dijual kembali. Tangan yang tua renta itu masih saja telaten mengerjakan segalanya. Mungkin tahu sekali kalau keuangan kami makin hari makin menipis, jadi beliau mencari ide untuk mencoba memanfaatkan kebun.
Peluh yang menetes berulang kali ingin dilap, ketika terik matahari tetus saja menyinari tubuh kami. Tangan beliau yang penuh dengan tanah, sepertinya sudah kesusahan ingin sekedar mengelapnya sebentar.
"Terima kasih, Nak!" ucap beliau terkesima saat aku mengelap peluh beliau menggunakan baju lengan panjang.
"Tidak apa-apa, Bu. Jangan terlalu lelah bekerja, pentingkan kesehatan Ibu agar tetap terjaga dan fit," tegurku.
"Iya, Nak. Terima kasih, kau selalu ada untuk Ibu. Tidak bisa membalas apa-apa selain doa yang terbaik untuk kamu," Suara sendu beliau.
Tes, airmata beliau selalu saja tidak bisa terbendung.
"Sama-sama, Bu. Jangan katakan itu, maupun merasa sungkan begitu. Amel dari dulu adalah anak Ibu dan selamanya akan tetap begitu. Walau aku bukan anak kandung yang lahir dari rahimmu, tapi kasih sayang ini tidak akan pernah putus untuk terus menyayangi engkau sepenuh hati," jawab bersuarakan serak-serak saat mulai hanyut dalam kesedihan.
"Iya, Nak. Terima kasih."
"Iya, Bu. Sudah jangan bersedih lagi. Tidak baik jika kita terus-terusan larut dalam kesedihan."
"Emm."
Akhirnya Ibu mau nurut juga agar tidak menangis lagi. Kesehatan yang terus menurun, selalu membuat hati ini tidak tenang. Hidup selalu dihantui rasa takut dan sedih, akibat semua tenaga telah terkuras habis memikirksn orang yang tak pasti akan muncul kapan.
__ADS_1