Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Satu rumah


__ADS_3

Sepertinya hati Amel kini mulai melunak, atas sikapnya yang kemarin-kemarin sering marah-marah padaku. Kemarahannya terasa kuat sekali, saat keputusanku untuk berpisah tentang cinta kami.


"Akhirnya kamu memaafkan kesalahanku dan mau menerima semua kenyataan ini bahwa kita tak bisa bersatu. Walau engkau sudah menjadi milik orang lain, aku akan terima ini semua dengan ikhlas dan tak akan pernah melupakan kenangan manis kita dulu," ujarku dalam hati gembira.


Walau awalnya dia tak terima, akhirnya kami baik-baik saja dengan semua itu, dan kami sekarang berada tinggal seatap serumah, untuk sama-sama menghemat dalam biaya ngontrak rumah kami. Selain itu aku takut akan keselamatan mereka berdua, yang sewaktu-waktu bisa mengacam jiwa sebab mereka cuma perempuan dirumah.


"Kamu ngak pa-pa 'kan Amel, anak ibu Alex ikut bersama kita tinggal disini?" tanya ibu saat kami sedang makan malam.


"Ngak pa-pa, bu. Amel senang-senang saja Alex tinggal disini, asalkan jangan berbuat yang aneh-aneh saja padaku," Singgung Amel dengan netranya menatap tajam ke arahku, yang tengah sibuk menyendok makanan.


"Maksudnya apa? Aneh-aneh gimana? Dari dulu aku 'tuh pria naik-baik yang tak akan pernah berbuat macam-macam," ketusku menjawab.


"Ciieh, benarkah itu? Kamu memang pria baik, tapi harus juga diwaspadai jika berbuat yang aneh-aneh, ya seperti contohnya bisa merusak hubungan orang gitu," terang Amel memberitahukan maksudnya tadi.


"Jangan asal nuduh saja. Aku tak akan mungkin merusak hubungan kalian, yang sudah kuanggap keluarga dan teman baik," jawabku serius.


"Baiklah, kalau begitu. Semoga saja benar apa yang kamu katakan barusan," Sindir Amel lagi ditujukan padaku.


"Sudah ... sudah, kita bicarakan hal lain saja. Ngak enak bahas masalah itu terus, tetang percintaan kalian itu. Lama-lama kalian nanti benar-bebar akan saling tak suka dan serang oleh rasa dendam. Lebih baik berpikirlah positif untuk masa depan kalian masing-masing, daripada pusing-pusing memikirkan masa lalu, yang sudah kalian usahakan untuk melupakan semuanya," ucap ibu yang berusaha menegahi kami.


"Baik, bu!" jawab Amel lemah.


Aku hanya diam tertunduk, saat kata-kata ibu ada benarnya, bahwa tak boleh berlarut-larut oleh masa lalu pacaran kami, yang sementara ini sudah putus.


Serumah dengan Amel seperti dulu, terasa sangat canggung sekali. Apapun yang ingin dilakukan seakan-akan terasa malu padanya, yaitu untuk melakukan semua hal ini itu didalam rumah.


"Minggir ... minggir, awas!" ujarnya saat aku berjalan menghalangi jalannya ketika dia ingin menuju dapur.


Aku yang tak mau ada masalah dengannya lagi, langsung mencoba mempersilahkan dia jalan duluan. Tapi ketika aku ke kanan, langkah yang tak berjajian dengannya, kaki Amelpun juga ikut sama-sama kekanan. Dan ketika langkah mencoba ke kiri, anehnya diapun ikut ke kiri.

__ADS_1


"Haaah ... minggir bisa ngak sih?" sewot ucapku.


"Seharusnya kamu yang harus minggir! Aku duluan yang datang kesini, jadi minggir sekarang. Sangat-sangat menghalangi jalanku saja," ngegas ucapnya marah.


"Ciiih," decihku tak suka.


"Laki-laki yang seharusnya mengalah, jangan perempuan disuruh mengalah. Dasar laki-laki tak berperasaan," ujarnya marah sambil berjalan membenturkan kuat bahunya ke bahuku.


"Aww," kekagetanku.


"Bisa ngak sih! Berjalan itu pakai mata, ngak lihat apa? Ada orang berdiri disini, main berjalan tubruk saja," Nyolot ucapku kesal.


"Mata kamu itu yang buta, masak orang mau berjalan saja main hadang-hadang," marah balik ucapan Amel.


"Haiiist, dasar," Giliraanku tak suka atas ucapannya.


Kadang disaat kami makan dalam satu mejapun selalu saja ada pertengkaran hanya gara-gara masalah sepele, tapi kadang kami juga hanya berdiaman yang mengiringi makan kami. Biasanya hanya ada detingan sendok yang berbunyi, di saat-saat tak ada satu patahpun ucapan yang keluar dari mulut kami.


"Ini bagianku," ujarnya ngotot saat mengambil lauk ayam balado kesukaanku.


"Enak saja. Ibu itu memasaknya untukku. Lagian bukankah kamu tadi sudah makan tiga potong, sedangkan aku baru satu potong" jawabku tak suka, saat dia mengambil lauk ayam, yang tinggal sebiji dalam piring.


"Aku gak mau, pokoknya lauk ini harus menjadi milikku," Amel berucap dengan menatapku melotot tak terima atas keinginanku.


"Pokoknya harus aku yang makan, ibu tadi membelinya memakai uangku, jadi akulah yang berhak untuk memakannya," mataku berbalik melotot tak mau mengalah.


"Ngak bisa, ini tuh bagianku juga," jawab Amel tak mau mengalah.


Mata kami saling beradu melotot marah, ingin sekali mengajaknya berkelahi. Seandainya saja kalau dia bukan perempuan, pasti wajahnya sudah bonyok hancur terhajar oleh tanganku.

__ADS_1


"Sudah ... sudah, kalian ini seperti anak kecil saja, potong bagi dua saja, biar kalian sama-sama bisa menikmatinya," ucap ibu memecah ketegangan diantara kami.


"Tetapi, bu. Gak enak rasanya ayam segini kecilnya dibagi dua," keluh Amel tak setuju.


"Bener tuh, bu. Biar Amel saja yang disuruh mengalah dan aku yang memakannya nanti," jawabku masih menginginkan ayam itu.


"Ngak bisa, aku yang harus dapat itu," kekuh Amel ngak mau mengalah.


"Hedeh kalian ini, ayam saja diperebutkan begini. Nah! sekarang buat ibu saja, biar ngak jadi rebutan, gimana?" ucap ibu memberi ide yang adil.


"Heeh, terserahlah bu!" jawab Amel lemah.


"Beneran ini buat ibu, kalian ngak nyesal 'kan, enak lho ini?" Kata-kata beliau yang langsung comot mengambil dan kini sudah mengigit ayamnya.


"Heeemmm," senyuman kecut kami berdua telah mengihklaskan pada ibu, yaitu daging ayam yang jadi rebutan.


Kini rasanya aneh sekali serumah dengannya, dulunya Amel menjadi pacarku, sekarang kami seperti saudara adik kakak.


Disaat rindu menerpa aku harus menahannya.


Gejolak asmara yang datang harus sekuat tenaga ditahan.


Tak mudah sekali bagiku menahan rasa ini.


Tapi nak berkata apa, saat cinta ingin kembali dia sudah dalam pelukan orang lain.


Kami sering kali membuat ibu jengkel dan marah-marah, sebab diantara kami selalu saja tidak ada yang mau mengalah, seperti anak kecil berebutan mainan harus ada salah satu dari kami untuk menang dari pertengkaran itu.


Walau aku telah berbohong padanya tak mencintainya, dan tak melanjutkan hubungan kami lagi, tiap kali bertemu berhadapan dengannya, mataku tak lepas untuk mencuri-curi melihat wajahnya yang manis, yang selalu membuat hati ini damai dan tentram.

__ADS_1


__ADS_2