Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ingatan yang masih sama


__ADS_3

Cinta butuh pengorbanan, berkorban untuk merelakan cinta yang sudah tiada.


Harus menerima semua kenyataan, kalau orang yang kita cinta sudah pergi jauh tenang di alam sana.


Ikhlas adalah jalan hati untuk merelakan semua, agar aku bisa menjalani kehidupan ini dengan cara yang mudah.


Kini diri berusaha melepaskan semuanya, menguburkan semua kenangan yang pernah ada.


Walau masih ada bayang-bayangnya yang membuatku masih menderita.


Kesedihan yang teramat dalam membuatku susah untuk melanjutkan hidup, namun biarlah untuk sekarang ini, aku pendam dulu segala prasangka untuk tetap mencintainya, walau dia sudah tiada.


"Hei Amel?" sapa Iwan saat aku tengah melamun.


"Eeh, ada kamu Iwan. Sini ... sini, mari duduk!" jawabku mempersilahkan.


Aku kini bersama Iwan berdiri bersantai didekat tepian kolam renang rumahku. Dan tampak sekali Iwan sekali-kali tengah mencuri pandang padaku, tapi yang jadi anehnya mulutnya hanya diam tak bersuara.


"Ada apa Iwan? Kulihat dari sembari tadi kamu terus melirik mencuri-curi pandang ke arah sini?" tanyaku secara gamblang sebab penasaran.


"Eh ... eeh, gak apa-apa kok, Amel!" jawabnya tersentak kaget.


Tangannya kini mengosok-gosok area tekuk leher, mungkin mencoba menghindari pertanyaanku yang tiba-tiba sedang memergokkinya.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu? Apakah boleh?" ujarnya yang seperti sedang dilanda keraguan.


"Bicaralah, apa yang ingin kamu bicarakan!" jawabku setuju.


"Apakah kamu masih memikirkan, Alex? Dan apakah kamu masih mencintai dan tak ingin lepas darinya?" tanyanya menatapku dengan penuh keseriusan.


"Entahlah, Iwan! Aku ingin sekali melupakannya, tapi--? Ya, begitulah" jawabku serak.


"Apakah hatimu yang sedang kosong, boleh 'kah aku mengisinya?" tanya Iwan malu-malu.


Hanya senyuman manis yang dapat kuberikan pada Iwan saat ini, karena kenyataannya hati masih saja belum bisa melupakan Alex sepenuhnya. Kenangan demi kenangan masih saja terekam jelas dalam ingatan dan pikiran.


"Amel ... hei Amel?" panggil Iwan sebab aku tengah melamun sekejap.

__ADS_1


"Eeh, iya Iwan! Maaf ... maaf," jawabku singkat.


"Gimana masalah pertanyaanku tadi? tanya Iwan yang kelihatan penuh keseriusan.


"Entahlah. Kalau bisa untuk sementara ini aku belum siap dan belum berani menggantikan posisinya. Jadi aku minta padamu untuk bersabar dulu, sampai hatiku benar-benar bisa melupakannya," jelasku pada Iwan.


"Baiklah Amel. Aku akan menunggu dengan sabar sampai hatimu benar-benar terbuka kembali untukku," jawab Iwan santai.


"Terima kasih, Iwan. Atas semua pengertian kamu," tuturku lembut.


"Iya, Amel."


Cuma ada keheningan tanpa ada suara diantara kami, yaitu hanya ada suara hembusan anginlah yang tengah menderu berdesir, untuk mencoba memberikan suasana tenang atas kebersamaan kami, hingga suasananya sekarang terasa begitu nyaman dalam suasana mellow.


Dengan jalan pikiran masing-masing, kami bersama-bersama menatap lurus ke arah kolam, dengan tangan memengangi sebuah teh hangat yang barusan disediakan oleh bik Sari.


******


Bangku yang kosong disampingku selalu saja kutatap sedih saat berada disekolah. Tiada satupun murid yang berani untuk mendudukkinya. Mereka semua mengatakan bahwa mereka menyayangi Alex, sampai-sampai memberikan penghormatan untuk tetap mengosongkan bangku itu.


Guru terus saja menerangkan pelajaran Matematika, namun aku tak terlalu begitu fokus, saat dalam pikiran kini telah dipenuhi oleh bayangan-bayangan sang pemilik bangku yang kini sudah tiada didepan mata lagi.


"Apa?" tanyaku tak ada intonasi suara.


Iwan hanya bisa menunjuk-nunjuk ke arah guru yang kini berusaha menerangkan mata pelajaran. Netra begitu kaget saat guru berusaha memanggilku, tapi diri ini tak sadar atas panggilan beliau.


"Amel ... Amel? Maju kedepan," panggil guru lagi.


"Eeh, iya pak. Maaf ... maaf, aku tadi tak mendengarnya," jelasku.


"Sekarang kamu maju ke depan, untuk mengerjakan soal-soal dipapan tulis yang sudah aku terangkan barusan," suruh pak guru.


"Iya pak," jawabku pasrah dengan rasa ketar ketir takut tak bisa menjawab, sebab tak menyimak penjelasan guru tadi.


Tangan dengan santai kini mengerjakan apa yang disuruh guru. Untung saja rumus-rumusnya masih kuingat saat Alex pernah mengajarkannya.


"Sudah, pak!" ujarku memberitahu

__ADS_1


Wajah beliau tengah fokus memperhatikan apa yang barusan kukerjakan. Terlihat kian lama wajah pak guru kian mengkerut, seperti ada jawaban yang kelihatannya diri ini telah salah menjawab.


"Dari awal cara kamu mengerjakan soal sedikit benar, tapi ditengah-tengah ini jawabannya telah salah. Kamu harus fokus apa yang guru sedang terangkan, jangan melamun saja, paham. Sudah, kamu duduk saja. Belajar yang rajin besok-besok lagi," suruh beliau tegas.


"Iya, pak. Maaf!" jawabku dengan wajah tertunduk malu.


"Iya, gak pa-pa."


Langkah kini mencoba berjalan kebangku sendiri, dengan mata telah melirik ke arah Iwan yang tengah mentertawakanku dengan cara tertahan.


Kring ... kring, bel istirahat telah berbunyi dengan cepatnya.


Semua siswa-siswi tengah berhamburan keluar, yang kelihatannya tengah tak sabar untuk menuju kantin. Aku hanya bisa diam duduk tenang-tenang saja dibangku sekolah, sebab memang sedang tidak lapar.


"Kamu kenapa sih tadi? Melamun saja terus kerjaannya?" tanya Iwan.


"Heeh, biasalah."


"Kamu ini!" ujar Iwan sambil mengacak-acak rambutku.


"Apaan sih kamu, Iwan!" keluhku tak suka yang langsung merapikan rambut yang sempat berantakan.


"Heeeh, aku tahu kamu sedang melamun memperhatikan bangku itu, tapi ngak juga tidak fokus sama pelajaran. Lagian orangnya sudah tidak ada, apa ngak terlalu berlebihan memikirkannya terus?" ledek Iwan sambil bertanya.


"Usil saja sama urusan orang," ketus jawabanku.


"Bukan gitu, Amel. Kamu boleh-boleh saja memikirkan Alex, tapi dia sudah tiada lagi disisi kita. Jadi kamu sekarang harus fokus ke depan demi masa depanmu kelak, jangan terlalu berlarut-larut mengenang dia dan masa lalu itu, sebab nanti akan menggangu fokus masa depanmu untuk mengapai cita-cita," jelas Iwan ada benarnya.


"Iya, Iwan. Benar juga apa yang kamu katakan itu. Aku harus melupakan masa-masa itu demi kehidupan yang lebih baik dimasa depan," jawabku setuju.


"Bagus itu, ternyata kamu sadar juga!" jawab Iwan langsung memberikan dua acungan jempol.


"Terima kasih atas nasehat kamu tadi, Iwan!" imbuhku berkata.


"Iya, Amel. Sama-sama. Kita adalah kawan baik, yang sepatutnya saling mengingatkan jika ada kesalahan," cakap Iwan lagi.


"Hmm, benar itu!" jawabku sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


Teman yang baik seperti Iwan selalu sangat dibutuhkan, disaat diriku yang sudah terpuruk dan tak bisa move on dengan baik, akibat selalu terkenang oleh bayang-bayang orang terkasih


__ADS_2