Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ketemuan dengan pengacara bagian 1


__ADS_3

"Alhamdulillah, Alex. Akhirnya hari yang kita tunggu-tunggu datang juga," ucap syukur Amel saat kami ingin berangkat.


"Iya, Amel. Semoga saja kita akan berhasil," jawabku yang sudah memakai helm.


"Kami pamit dulu, buk!" ujar Amel yang kini mencium tangan ibu.


"Iya, kalian hati-hati dijalan. Semoga tak terjadi apa-apa dan halangan yang akan menyulitkan kalian nanti," ucap pesan ibu.


"Iya, bu. Amiiiin!" jawabku yang ikut mencium tangan beliau setelah Amel.


Motorpun sudah melaju dengan kecepatan penuh, agar tak terlambat ketempat tujuan kami sekarang.


Dua bulan setelah kesepakatan, kami berdua akhirnya menemui pengacara pribadi papa Amel. Pertemuan yang akan jadi akhir cerita, kini akan jadi awal kami untuk menyelidiki semuanya.


[Gimana, pak?]


Tanya Amel yang sudah menelpon sang pengacara karena belum melihat beliau datang.


[Aku sekarang sudah siap meluncur kesana, sesuai alamat yang aku berikan kemarin]


Jawab pengacara setuju saat suaranya sudah diseberang jalan sana.


[Baiklah, akan kami tunggu disini]


Kami bertiga telah saling ketemuan di tempat yang telah dijanjikan, yaitu sebuah rumah sederhana yang jauh dari tetangga antar rumah satu dengan yang lainnya, yang tak tahu punya siapa rumah itu?.


Aku dan Amel hanya menurut saja atas instruksi dari sang pengacara dimana tempat ketemuannya. Karena ini adalah sebuah rahasia, kami harus hati-hati terhadap orang-orang yang tak diinginkan.


"Kenapa lama banget ya, Alex?" tanya Amel terasa gundah.


"Kamu tenang dulu, Amel. Pasti sebentar lagi sang pengacara itu akan datang, jadi kamu tenangkanlah diri dulu," jawabku mengelus bahunya pelan supaya dia lebih bersabar lagi.


Semenit ... dua menit, kami telah menungg.u beliau, tapi belum ada lagi tanda-tanda bahwa beliau akan datang menemui kami segera.

__ADS_1


"Huuuff, apa ada sesuatu yang terjadi pada pengacara pribadi papa Amel ditengah jalan? Kenapa lama banget datangnya, ya? Apakah tak jadi ketemuannya hari ini? Tapi kenapa beliau tak memberitahu kami?" guman hati yang kini berbalik tak sabar, saat berkali-kali melihat jam tangan sudah menunjukkan beberapa detik lamanya kami menunggu.


Aku dan Amel telah datang duluan, sebab kami sudah tak sabar lagi melihat atas apa yang menjadikan bukti utama. Nampak mobil hitam mewah sudah datang terparkir dirumah yang kami datangi.


"Maaf ya, pasti kalian telah lama menungguku," ucap seorang pria seumuran ayah Amel telah menyapa kami.


"Tidak juga, pak. Kami baru saja juga datang, kok!" jawabku ramah.


"Ayo kita masuk sekarang," ajak beliau.


"Iya, pak!" jawab kompak aku dan Amel.


Klek, suara kunci pintu rumah berhasil diputar dan kini sudah terbukanya pintu. Nampak rumah bersih namun kosong atas barang-barangnya sudah kami masukki bertiga, dan segera mengunci balik rumah itu lagi, biar orang lain tak mengetahui apa yang sedang kami lakukan sekarang.


"Terima kasih, kalian tadi telah sabar, saat menungguku lama sekali datang," cakap basa-basi sang pengacara.


"Tidak apa-apa kok, pak!" jawab Amel.


"Kalian sudah tepat sekali menemuiku, ini suratnya! Semoga saja bisa membantu kalian, dalam memecahkan masalah yang kalian hadapi sekarang.," ucap sang pengacara menyodorkan beberapa lembaran kertas.


"Semoga saja, pak!" jawabku.


Dengan sigap dan tak sabar, Amel langsung mengambil ketas itu dan kini menatap seksama satu-persatu tulisan yang ada didalamnya.


"Itu semua adalah surat-surat yang menunjukkan, bahwa kamu adalah pewaris tunggal dan sah atas harta ayah kamu. Semua rumah dan perusahaan, serta aset-aset lainnya, telah diatas namakan menggunakan namamu," ucap keterangan pengacara.


"Jadi surat keluarga tiriku itu benar-benar palsu?" ucap Amel binggung.


"Surat itu mungkin benar adanya, tapi mungkin mama kamu yang menandatangani. Sedang surat wasiat ini yang membuat adalah papamu, saat sebelum beliau meninggal. Jadi karena keadaan sekarang sepertinya sudah semakin rumit, kita harus membawa ke pengadilan segera untuk mengajukan banding, yaitu atas tuntutan pembagian harta. Harta keluarga kamu awalnya adalah punya mama kamu, tapi yang mengembangkan hingga menjadi pesat maju adalah papamu. Kita akan melawan mereka dengan hati-hati, sebab sepertinya tandingan kita adalah lawan yang kuat tak bisa diremehkan begitu saja," imbuh penjelasan beliau.


"Apakah kemungkinan kuat kita akan menang, om? Dan bisa menghancurkan keluarga tiriku itu? Amel rasa-rasanya jadi agak takut pada mereka," Rasa kekhawatiran Amel.


"Kamu jangan takut, Amel!" ucapku menenangkannya.

__ADS_1


Amel menoleh tersenyum ke arahku, sebab kini sudah kugenggam erat tangannya, agar bisa menghilangkan rasa cemas yang sudah mulai menghampiri.


"Kemungkinan menang, tapi kita jangan berharap terlalu banyak juga, sebab kemungkinan akan tipis sekali juga atas perlawanan mereka nanti. Semuanya tergantung dari besar kecilnya semua aset yang papa kamu miliki, yang telah bertuliskan nama almarhum. Tapi kalau semua aset harta tak bertuliskan nama papa kamu maupun kamu, bisa jadi semuanya sudah tertulis lebih besar juga atas harta yang dimiliki mama kamu, dan bisa-bisa keluarga tirimu 'lah nantinya yang akan menang." ucap penjelasan sang pengacara.


"Hadeh, kok jadi kayak gini ya, om. Kelihatannya akan jadi semakin rumit. Huff, aku benar-benar takut kalau kita kalah, sebab kelihatanya mereka tak akan mengenal menyerah begitu saja," ujar Amel sudah menciutkan keberaniannya.


"Jangan khawatir Amel, ada aku disini. Kamu harus tetap berani melawan mereka demi hak kamu yang sudah terampas, jadi jangan takut sekarang," ujarku memberi semangat.


"Iya, Alex. Terima kasih."


"Iya, Amel. Aku yakin kita pasti menang, sebab kebenaran pasti akan selalu berpihak kepada yang baik dan siapa yang punya," Sela-sela ucap pak Bobi memberikan semangat juga pada Amel.


"Iya, pak. Terima kasih atas bantuannya.


Akhirnya, apa yang menjadi kecemasan kami akhir-akhir ini telah berakhir juga, atas surat bukti kuat sudah ada digenggaman tangan.


Braak ... brak, tiba-tiba pintu rumah pertemuan kami, telah didobrak paksa berkali-kali yang sepertinya telah ditendang.


"Siapa itu, Alex?" Ketakutan Amel yang kini telah bersembunyi dibelakangku dengan mengenggam erat lengan tangan.


"Aku tidak tahu, yang sepertinya kita akan kedatangan tamu yang tak diundang. Bersiap-siap dan hati-hatilah kalian," ucapku memperingatkan.


"Aku takut, Alex. Jika mereka adalah musuh kita," cakap Amel kelihatan sudah bergetar badan akibat rasa kecemasan.


"Ada aku disini."


"Simpan surat itu baik-baik, Amel!" suruhku.


"Emm," jawabnya setuju.


Surat yang penting kini telah dimasukkan Amel dalam tas selempangnya yang memanjang bertengger dibahu.


Brak ..bruuuk, untuk kesekian kalinya pintu telah didobrak, dan akhirnya kini telah menampakkan tiga orang yang tak dikenal, kini mereka telah memaksa masuk main nyelonong saja dengan jalannya yang tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2