
Braakk, suara depan pintu rumah kubuka dengan kasar. Kaki kini berjalan tergesa-gesa untuk menuju langsung kedapur. Ibu dan laki-laki itu terlihat begitu terkejut atas kedatanganku yang tiba-tiba. Disaat aku ingin menatap seksama, terlihat sekali pria itu memalingkan wajah, dan tangannya langsung menyambar masker yang tersangkut dilehernya untuk segera menutupi wajahnya.
"Siapa dia, bu?" tanyaku ngegas marah.
"Apa maksudnya, Amel?" jawab kepura-pura'an ibu.
"Ngak usah mengelak lagi, bu. Cepat katakan, siapa dia sebenarnya? Apakah aku mengenalnya? Dan kenapa ibu kelihatan begitu akrab padanya?" tanyaku kasar.
"Maafkan ibu, Amel."
"Aah, kenapa ibu ini masih saja tak mau mengungkapkan siapa laki-laki didepanku ini? ada apa ini? Rahasia apa yang sebenarnya mereka sembuyikan," guman hati yang kesal.
"Ayolah, bu. Coba tolong ibu jujur padaku sekarang. Bukankah ibu selalu mengajariku untuk tidak boleh berbohong. Jadi sekarang katakan pada Amel, siapakah laki-laki itu sebenarnya?" ujarku sendu ingin menangis.
Ibu hanya tertegun diam, sedangkan laki-laki itu terlihat mengeleng-gelengkan kepala ke arah ibu, seakan-akan memberi isyarat bahwa ibu tidak boleh mengatakan siapa dirinya.
"Kenapa? Kenapa ibu ngak bisa jawab, hah! Apa yang sedang ibu sembunyikan dariku? Aku sudah lama sekali membuntuti dan mendengarkan percakapan kalian tadi. Apakah benar dia itu, Alex? Jawab, bu? Ayolah jawab siapa dia?" Suruhku melengkingkan suara marah-marah.
"Jangan katakan padanya, bu!" ujar pria itu menyimbat ucapanku.
"Diam kamu. Dia adalah ibuku sekarang, jadi kamu ngak usah ikut campur atas urusan kami," bentakku pada pria itu.
Seketika pria memakai penutup masker diam sejenak, dengan kepala tertunduk tak berani lagi menatap wajahku yang sudah marah berapi-api.
"Maafkan ibu, Amel!" Lagi-lagi kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut ibu.
"Kenapa? Kenapa Amel ngak boleh tahu? Kalau ibu ngak bisa mengatakannya, berarti ibu lebih memilih pria itu dari pada aku, yang artinya ibu sudah tidak sayang lagi padaku!" Kemarahanku membucah.
"Bukan ... bukan, bukan begitu Amel. Laki-laki ini bukan siapa-siapa kita, ayo kita pulang saja. Kamu ngak perlu tahu siapa dia? Ngak penting," ujar beliau yang menarik tanganku kuat, agar ingin menuruti kemauan beliau pergi.
__ADS_1
"Gak mau, bu. Lepaskan aku! Aku tak akan pergi sebelum semuanya ada kejelasan, jadi kupinta jelaskan semuanya dulu" ucapku menepis tangan beliau kuat sedikit ada dorongan.
"Tapi, Amel!" ujar beliau yang kelihatan ingin memaksaku lagi untuk pergi.
"Aku gak akan pulang, sebelum tahu siapa kebenaran tentang laki-laki ini!" tolakku sudah kesal.
"Hentikan Amel, kamu ngak boleh kasar sama ibu!" Suara pria dihadapanku sekarang berbalik marah.
"Apa yang barusan kamu katakan, Ibu? Kenapa kamu tahu betul tentang namaku Amel? Katakan, siapa kamu sebenarnya, hah?" tanyaku lagi pada pria itu.
"Ibu tadi sudah bilang, kamu tak perlu tahu siapa aku, paham!" jelasnya bernada sengau.
"Ciieeh, banyak omong kamu. Kalau kamu ngak terima atas perlakuanku pada ibu, jadi cepat beritahu siapa kamu sebenarnya?" Kata-kataku marah dengan langkah kaki mencoba mendekatinya.
Tapi anehnya ketika mendekati pria itu, dia malah mundur-mundur untuk menghindar. Tak kehabisan akal, tanganku langsung ingin mencoba menyambar agar bisa membuka maskernya, tapi tangan pria itu tak mau kalah begitu saja, untuk mencoba menghalangi tindakanku yang brutal ingin mencopot maskernya.
"Sudah ... sudah, hentikan ulah kalian ini. Jangan bertengkar lagi!" ucap ibu mencoba menghentikan tingkah kami, yang saling ngeyel untuk membuka dan mencegah demi sebuah masker.
Bhuugh, tubuhku jatuh tersungkur di lantai, karena telah didorong kuat oleh pria itu.
"Sudah ... sudah, hentikan ulah kalian ini!" teriak ibu yang menghampiriku sudah terjatuh.
"Maafkan aku, Amel. Aku tadi tak sengaja mendorong, akibat kaget atas tindakanmu tadi," ucap pria itu yang ingin membantuku berdiri.
"Tak payah sok baik," ketusku menjawab.
Kutepis kuat-kuat tangannya saat ingin menyentuhku. Dia terlihat iba sekali, saat melihat keadaanku yang sedikit kesakitan karena didorongnya tadi.
"Maaf ... maafkan aku, Amel!" Suara sendu pria itu.
__ADS_1
"Aaaa ... aaah, Kenapa kalian semua bohong padaku," Tangisanku pecah, akibat marah pada ibu dan laki-laki itu.
"Sudah Amel ... sudah, ibu gak mau melihat kamu menangis, sudah ... sudah jangan begini," ujar ibu tengah memelukku.
"Katakan bu ... katakan, siapa dia itu? Aku sangat butuh penjelasan," tanyaku dalam tangisan.
"Iya Amel, iya. Dia itu adalah Alex anak ibu!" penjelasan ibu keceplosan.
"Apa, bu?" Mengangalah mulut ini sebab kaget.
"Benarkah dia Alex kekasihku dulu?" tanyaku yang masih dalam keadaan tak percaya.
Hanya anggukan berkali-kali yang ibu lakukan, saat masih tetap memelukku erat yang masih menangis.
"Astagfirullah, benarkah dia alex kekasihku itu. Aaah, benar-benarkah dia adalah pujaan hatiku dulu yang sudah meninggal?" tanyaku dalam hati atas kebingungan yang masih tak percaya.
Tersadar akan ucapan ibu barusan, langsung saja kulepas pelukan beliau dan mencoba berjalan menghampiri pria itu yang kini hanya mematung menyaksikanku. Seketika mengetahui dirinya adalah Alex, tubuhku langsung saja kutubrukkan ke badannya dengan memeluknya erat, hingga tak terbendung lagi air mata yang sembari tadi tertahan akibat tergejolak amarah didalam dada, kini telah tumpah semua dengan derasnya..
"Kamu begitu tega ... tega sekali," ucapku saat tangisan kian pecah.
Kutumpahkan segala tangisan ini, hingga sesegukan dalam pelukan dada bidangnya.
Bhugh ... bhugh, Aku mengaduh dan memukul lengannya dengan kasar. Airmata tak henti-hentinya menangis, saat betapa dia telah tega sekali tak memberitahu bahwa dia kini masih hidup.
"Kamu kejam sekali, Alex. Bhuug ... bhuugh, kamu kejam sekali, aaahhh!" ucapku sendu sambil memukul sayang ke lengannya.
"Maaf ... maafkan aku, Amel!" Suaranya sengau masih memakai masker ditambah terasa ada getaran dia begitu sedih juga.
Ingatan sekarang hanyut bersama airmata, ketika mengenang kenangan kami saat masih sama-sama menjalin cinta waktu sekolah.
__ADS_1
"Sungguh aku tak percaya jika kamu masih hidup, Alex. Aku sangat bahagia saat kamu masih hidup, tapi sedih saat engkau tak memberitahuku segera, hingga hatiku kini sudah diambil orang lain," guman hati diantara sedih dan bahagia.
Laki-laki yang kudekap ini telah tega merubah segala hidupku, dalam tangisan, kesedihan, marah, kesal, galau, sakit, binggung, maupun semangat, semua rasa tercampur baur tak terkira lagi rasanya. Mungkin tanpa semangat yang diberikan ibunya, kini aku telah berada dalam gundukan tanah, untuk menyusulnya di masa-masa terpuruk kemarin.