
Dalam senjanya pagi hari yang menyinari kaca hotel, akibat tersingkapnya gorden karena tiupan angin. Sekarang aku masih merasakan kehangatan tubuh pelukan Alex, saat dia tetap mendekapku dengan mesranya. Kegembiraan begitu terasa meneduhkan hatiku, saat rasa yang tak ingin kehilangannya membuatku tetap teguh berpendirian untuk mencintai selamanya.
Kutatap lekat-lekat wajahnya yang tampan dengan matanya yang masih terperjam. Terasa sekali seakan-akan mukanya begitu menentramkan jiwaku. Wajahnya yang teduh kuusap-usap perlahan. Pipi putihnya yang halus, serta bersih, memancarkan sinar keindahan yang amat berseri, membuatku tak jemu-jemunya untuk tak melihatnya. Perlahan namun pasti aku terus saja mengusap-usap wajahnya, hingga tak terelakkan matanya kini sudah terbuka, membuat tatapan netra yang tajam tak dapat terhindar lagi yaitu sama-sama saling mengunci, yang mulai mendesirkan perasaan deg-degkan terhadapku.
"Pagi, non Amel!" sapaannya.
"Heeem."
Hanya senyuman manis kuberikan atas sapaannya. Kini kami masih sama-sama terbungkus rapi dalam satu selimut. Rasa tak ingin lepas dari pelukannya, membuatku enggan sekali rasanya untuk bangkit dari tempat tidur untuk segera membersihkan diri di kamar mandi.
"Aku akan mandi duluan," ujarnya pelan seraya ingin bangkit dari pembaringan.
"Tunggu dulu, Alex!" rengekku manja dengan menarik lengannya.
"Ada apa lagi, non?" tutur katanya bertanya dengan penuh nada kelembutan.
"Aku masih ingin lebih berlama-lama bersamamu disini," ucapku menepuk-nepuk kasur untuk menyuruhnya kembali.
"Amelku sayang, kita secepatnya harus pulang. Pasti kedua orangtua kamu sedang gelisah mencarimu. Tadi malam sudah kubuka layar gawaiku dan banyak sekali pesan yang masuk menanyakan non Amel," jelasnya mencoba menerangkan.
"Tapi Alex. Aku tak ingin secepatnya pergi. Aku masih ingin lama-lama bersamamu disini, ya ... ya!" pintaku dengan manjanya.
"Iya non, aku tahu dan paham sekali maksud dari hatimu. 'Kan tiap hari kita bisa bertemu, dirumah maupun sekolah, jadi aku tidak akan pergi kemana-mana ataupun menghilang dari non Amel," imbuhnya berkata meyakinkanku.
"Benarkah itu?" tanyaku polos.
"Iya."
"Kalau begitu, tolong ambilkan handphoneku yang ada di meja didekatmu itu?" ucapku menyuruh Alex.
Wajah Alex terlihat agak kebingunggan, mungkin tak mengerti atas perintah yang akan kulakukan nanti.
"Untuk apaan sih non?" tanyanya dengan tangan sudah memegang gawai untuk segera diberikan padaku.
"Untuk merekam kamu!."
__ADS_1
"Merekam? Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Cepetan mendekat ke sini, ayo sini!" ujarku sambil menarik tangannya.
"Cepat ngomong, apa yang barusan kamu ucapkan. Aku akan merekam dan menyimpannya dalam gawaiku, sebab ini bakal menjadi pengingat dan bukti atas semua janji-janjimu itu," perintahku menyuruhnya.
"Ya ... ampun, pikirku tadi untuk apaan. Benar- benar kekanak-kanakkan." sahutnya mengejek.
"Kamu harus ikut sadar diri, bahwa kita itu memang masih anak-anak sebab masih Abg."
"Ayolah cepat ngomongnya."
"Apa ini harus wajib. Beneran aku harus ngomong sekarang?" tanyanya tak mengerti.
"Iya, Alex."
"Ok ... ok, Ekghemm ... heeem. Beneran sekarang, nih?" tanya Alex lagi
"Masak besok, ya iyalah sekarang juga," jawabku sewot karena alasan Alex yang sudah terbelit-belit.
Klik, bunyi layar gawai kutekan, bertanda telah mengakhiri perekaman suara Alex.
"Puas?" tanyanya.
"Puas ... puas ... sangat-sangat puas, terima kasih sayangku Alex. "Cuuuup," cakapku dengan wajah berbias malu-malu, akibat sebuah ciuman dipipi kuberikan pada Alex sebagai tanda terima kasih.
Setelah menghabiskan malam yang tak terpikirkan bersama Alex pujaan hatiku. Masih didalam kamar hotel untuk bersiap-siap ingin pulang, kini pikiranku sedang berkecamuk tak seperti biasanya. Apakah tindakanku mengambil keputusan benar ataukah justru malah salah besar, dan hatiku yang sudah galau sekarang sedang berpikir bertanya-tanya. Apakah orangtua akan merestui hubungan kami? Apakah cintaku akan tetap abadi bersama Alex? Atau justru akan kandas? Sudah pusing rasanya memikirkannya.
Rasa ini sempat terbesit ada sebuah penyesalan, sebab aku benar-benar sudah gila dan terbutakan oleh yang namanya cinta. Tapi apalah dayaku saat rasa cintaku yang dalam pada Alex ternyata dapat mengalahkan semuanya.
Tanpa sadar tadi malam aku sudah mencengkram bahu Alex dengan kuat, yang tak lupa bibir Alex sudah tergigit oleh gigiku sendiri, hingga membekas ada goresan luka diujung bibir manisnya.
Antara rasa senang dan terharu menyelimuti diriku, bahkan semalam bulir-bulir airmata sempat meleleh, terasa sekali sudah mengalir membasahi pipi. Sucinya cinta telah hadir menyapa, agar bisa kuberikan pada orang yang kucintai.
Kini aku tergungu duduk di tepian kasur, sedang menanti selesainya Alex mandi. Otak terasa sedang mencoba mengikuti alur cerita nasib, apakah kami bisa menyelesaikan rasa pelik cinta dengan mudah. Entah mengapa kubiarkan Alex mendapatkanku. Rasa sayangku padanya telah meluluhkan semua rasa ego, yang mengusai diri. Bulir-bulir airmata kembali menetes tanpa bisa kucegah, sedikit tersedu-sedu mengenang apabila seandainya kami tak dapat restu orang tua.
__ADS_1
Ceklek, suara kamar mandi terbuka tanda Alex telah menyudahi mandinya. Dengan sigap langsung kuhapus airmata, agar Alex tak mengetahuinya.
"Kamu kenapa?" tanya Alex sudah mengusap pelan pipiku.
"Aku ngak kenapa-napa, kok!" jawabku santai.
"Bohong kamu non. Nih! Buktinya ada bekas sisa airmatamu," tunjuk Alex dipipiku.
Sepandai apapun aku menyembunyikan, ternyata Alex bisa melihat semuanya,
"Ah ... apakah ini yang dinamakan kontak bathin di antara hati kami?" hati merancau bertanya-tanya.
"Kenapa lagi, non Amel? Kok kamu kelihatan habis menangis gini?" tanya kekhawatiran atas tindakanku.
"Entahlah Alex. Setelah jadian atas cinta kita, rasa akan kehilanganmu sekarang begitu mengahantuiku," tutur kataku sudah cemas.
"Sini ... sini!" panggilnya yang langsung membentangkan tangan supaya aku mau dipeluknya.
Tanpa malu lagi, diriku langsung saja menuruti perkataan alex untuk masuk dalam pelukan hangatnya.
"Tadi 'kan sudah aku katakan. Bukankah tadi, non Amel sendiri yang sudah merekamkan suaraku atas semua janji," bisik Alex dekat telingaku.
"Aku tahu Alex. Tapi rasanya entah bagaimana aku mengungkapkannya lagi. Rasa cemas dan kekhawatiran kini benar-benar terasa sangat mengelisahkanku," jawabku masih dalam keadaan cemas.
"Kegelisahan non itu pasti gara-gara takut jika orangtua kamu yang tidak akan merestui kita, benar 'kan?" tanyanya.
"Memang sih. Tapi rasanya itu hanya sedikit tentang orangtua yang bakal tak merestui. Sebab entah mengapa perasaanku sekarang rasanya ingin sekali lengket-lengket terus didekatmu. Jiwaku sekarang kok merasa bakal ada jurang perpisahan diantara kita?" ucapku mengkhawatirkan sesuatu yang berlebihan mungkin.
"Sudah jangan dipikirkan lagi. Jika ada masalah kita akan menghadapinya bersama, ok!" tuturnya memberitahu bersamaan dengan tangannya sibuk tengah mencubit pipiku pelan.
Kini kami telah berkemas untuk segera pulang. Tak banyak kata-kata yang terlontar diantara kami saat sedang menaiki bus untuk segera ke rumah, dan hanya senyumanlah yang dapat diberikan saat kami sama-sama sedang mencuri bertatap muka.
Masing-masing dari kami sedang berkecamuk memikirkan masa depan yang tak pasti dan tentu arah, akan jalannya kehidupan cerita cinta asmara kami nantinya.
Aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah lancar atau terhenti jalinan asmara kelak? Hingga membuatku terasa cemas dan cukup gelisah sekali. Tapi sikap kami yang saling support mungkin bisa memperkuat jalinan cinta agar tetap bersama menjalani semuanya, dengan lancar tanpa ada halangan apapun.
__ADS_1