Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kebahagiaan ulang tahun


__ADS_3

Keluargaku sangat menyayangiku dan selalu memanjakan, semua apapun keinginanku pasti mereka akan selalu penuhi. Termasuk pesta sweet seventeen yang ingin sekali kuadakan sangat meriah bersama teman-teman sekolah dirumah. Mungkin ini akan menjadi ulang tahun yang membahagiakan dan terindah selama hidupku, karena keinginanku adalah ingin menghabiskan hari-hari penuh warna bersama Alex.


"Ma, nanti ulang tahun Amel yang ketujuh belas di rayakan semeriah mungkin dirumah ini ya, ma!" ucapku manja kepada mamaku yang tengah bersantai duduk di sofa ruang tamu sedang menikmati secangkir kopi.


"Iya sayank, apa sich yang ngak buat kamu anak kesayangan mama dan papa," balasan ucapan mama.


"Makasih ma!" ujarku sambil mencium pipi beliau kiri dan kanan.


"Iya, sama-sama sayang."


*******


Hari demi hari waktupun terus berjalan, dimana hari yang kunanti sebentar lagi akan tiba. Rasanya sungguh sudah tak sabar sekali menanti-nantikannya.


"Jangan lupa datang ya ... ya, dihari ulang tahunku?" ucapku dengan membagi-bagikan undangan kepada semua teman sekelas.


"Oke, Amel."


"Wah ... asyik. Bakal heboh nich Amel nanti? Pasti akan sangat meriah kali ini pestanya," tanya salah seseorang teman sekelasku.


"Iya, dong. Sweet seventeen haruslah sangat meriah acaranya. Jangan lupa dateng ya, ok."


"Siiip, dah."


Mata mencoba clingak-clinguk melihat ke kanan dan kiri, untuk mencari sosok yang selama ini selalu kurindukan yaitu Alex. Tapi entah kemana dia sekarang ini, sebab dari sembari tadi pagi selain tak bertemu dirumah, kini dia juga tak menampakkan batang hidung di hadapanku.


"Pasti dia sedang sibuk," gumanku dalam hati menerka-nerka kesibukkan Alex, yang sedang sibuk mengurusi urusan sekolah sebab dia sekarang sudah diangkat menjadi ketua OSIS.


*******


Hati deg-degkan menanti hari yang telah tiba, dimana hari ini adalah ulang tahunku. Rasa tak karuan sedang membuncah menyelimuti, karena bagiku hari yang special ini aku ingin membicarakan hal yang sangat penting bersama pujaan hatiku Alex yang semoga saja janjinya akan selalu ditepati.


Dengan gaun putih di atas lutut di lapisi oleh make up tipis-tipis, sekarang sudah nampak sekali aura kecantikan diri ini keluar. Tak lupa terselip pita bando di atas kepala, yang berwarna putih senada dengan baju hingga menambah nilai lebih atas keanggunanku. Ternyata benar saja teman-teman yang sudah datang dari sembari tadi di dalam rumahku, menatap benggong dan terpana, karena tengah melihatku yang kini sudah tersulap menjadi cantik bak bidadari.


"Selamat ... selamat ya! Wah kamu benar-benar cantik hari ini Amel," ucap salah satu temanku yang sedang memuji.


"Terima kasih ... terima kasih ya," balasan ucapanku.


Ketika bersalaman netra ini tak lepas mencoba berkeliling mencari Alex, yang ternyata tak ada dalam kerumunan berkumpulnya teman-teman undanganku.


"Eeith, mau ke mana?" ucap Iwan secara tiba-tiba dengan tangannya mencegahku yang berusaha pergi dari kerumunan pesta.


"Lepas dulu Iwan. Ada yang harus aku lakuin sekarang," Permohonanku dengan mencoba melepaskan cekalan tangan Iwan.

__ADS_1


"Amel yang cantiiik. Mau ke mana sih kamu? Bukankah teman-teman sudah berkumpul semua disini. Eemmm, oh ... oh ... aku tahu, kamu pasti sedang mencari Alex," ucapan gamblang Iwan.


Iwan bisa berkata begitu sebab sedang melihatku, yaitu saat wajah ini melihat clingak-clinguk ke sana kemari seperti sedang mencari seseorang.


"Ah ... kamu tahu saja Iwan," balas ucapku.


"Nah ... bener 'kan? Tadi aku melihat dia sedang didapur," tutur Iwan memberitahu dengan nada ketusnya.


"Kamu kenapa sich Iwan? Kok nadanya ketus seperti kesal dan marah," tanyaku merasakan keanehan atas nada bicara Iwan.


"Eeh ... gak kenapa-napa Amel. Aku cuma kesal saja sama kamu, sebab ada aku disini tapi kamu malah mencari-cari Alex," penjelasan Iwan dengan tangannya telah mengusap-usap tekuk, seperti orang yang sedang gusar.


"Oh ... begitu. Nanti saja dech akan kutemani kamu ngobrol, tapi sebentar dulu ya! Aku benar-benar ada perlu penting sama Alex." Pamitku pergi segera melangkah tergesa-gesa meninggalkan Iwan.


Tanpa ada pencegahan dari Iwan lagi, tanpa terasa langkah sudah semakin jauh hilang dari pandangannya. Langsung saja kaki melangkah pergi menuju ke dapur, untuk segera menemui Alex.


"Hallo semua," sapaku.


"Eeeh ... ada non Amel," sapa balik ibu Alex yaitu bik Sari.


"Eh ... iya bik. He ... he ... he!" jawabku cegegesan.


"Non, hari ini benar-benar cantik. Sampai-sampai bibi pangkling melihat non," ucap bik Sari memujiku.


"Beneran, non. Sama-sama. Tapi beneran lho, non Amel sangat-sangat cantik hari ini," puji beliau lagi.


"Makasih ya, bik."


Mataku tak lepas menatap Alex, dimana netranya sekarang sedang berusaha mencuri-curi memandang melihatku.


"Beneran itu Alex?" tanyaku padanya sebab kesal dia tak ada respon sama sekali atas polesan riasan di wajahku, padahal banyak orang yang sedang memujiku cantik.


"Eeh, oh ... iya non. Non Amel dari dulu memang cantik, apalagi ada riasannya, tambah super duper sangat ... sangat cantik dech! Aku saja tak letih rasanya ingin selalu memandang wajah, non!" ujar Alex dengan lirih secara malu-malu, yang berbicara padaku tapi tak bertatap muka melihatku.


"Iya 'kah?" tanyaku balik berpura-pura tak mendengar ucapannya.


"Iya, non."


"Makasih kalau begitu."


"Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Alex. Sebentar saja boleh ngak, bik?" ucapku meminta izin pada ibu Alex.


"Oh ... oh ... iya non. Kalau begitu bibi mau menyiapkan minuman di depan saja untuk para tamu," Setujunya ibu Alex atas izinku.

__ADS_1


"Terima kasih, bik."


"Iya non, sama-sama."


Setelah terasa aman yang membiarkan kami berdua di dapur yang sepi tanpa ada orang sama sekali, rasanya ingin sekali cepat-cepat menyampaikan maksud dan tujuan keinginanku pada Alex.


"Ada apaan sih non! Sampai-sampai ibu disuruh pergi dan bela-belain ke dapur segala?" celetuk tanya Alex padaku.


"Ada dech, biasa."


"Maksudnya?" ucap Alex yang sedang tak melihatku, sebab tangannya tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk disuguhkan kepada para tamu nanti.


"Gak ada apa-apa, cuma mau nagih janji kamu saja bisa menepatinya apa tidak."


"Janji?" tanya Alex dengan binggung.


"Iya janji. Bukankah kamu berjanji untuk membawaku kabur jalan-jalan diriku saat ulang tahun."


"Oh itu? Memang non Amel mau jalan-jalan sama aku, yang sebagai pembantu dirumah non sendiri. Ngak malu apa?" tanya Alex.


"Alex, itu lagi ... itu lagi! Kenapa sich kamu selalu ngomongin soal status? Aku gak suka tahu. Kalau gak bisa nepati janji bilang saja ngak bisa, pakai ngomongin status segala. Aku gak mau kita dekat-dekat lagi serta kamu jangan berbicara padaku lagi," ucapku dengan nada kesal, dan langsung melenggang pergi meninggalkan Alex.


"Tunggu!" panggil Alex.


Langsung saja Alex menarik lenganku dengan kuat. Karena sedang memakai higheels membuatku tak dapat menahan tubuh sendiri, sehingga membuat tubuh ini langsung terbentur ke tubuh Alex secara tiba-tiba. Hingga tak terelakkan lagi terbenturlah tubuh kami, hingga terasa sekali tak ada jarak lagi diantara tubuh kami. Mata kamipun kini sama-sama saling menatap netra dengan penuh gelora hasrat di jiwa. Rasa jantungan yang terasa akan copot membuat rasa hawa dingin mulai menyerangku, tapi anehnya rasa dingin itu malah berubah terasa panas berkeringatan.


"Amel ... Amel?" Tiba-tiba suara mamaku mengelegar memanggil, dimana aku dan Alex sedang dalam keadaan diam sama-sama saling bertatapan.


"Eghm ... ehe'emmm," deheman mama.


Suara mama tiba-tiba mengagetkan kami, yang sama-sama sedang melamunkan tatapan penuh hasrat dari dalam wajah lawan jenis.


"Ooh, maaf ... maafkan aku non," suara Alex memecah keheningan dalam tatapan.


"Amel, cepat ... cepat sini kamu. Teman-teman kamu sudah menunggu lama di depan itu!" Tarikkan tangan mama yang secepatnya langsung menarikku keluar dari dapur.


"Aaah, ma. Pelan-pelan, sakit ini!" cakapku berusaha berontak.


"Jangan membantah kamu, ayo cepat!" suruh mama masih menarik tanganku.


"Alex jangan lupa janji kamu," teriakku berkata pada Alex sebelum benar-benar keluar dari dapur.


Mama masih memaksa menarik tanganku, supaya mengikuti langkahnya berjalan menuju tempat acara.

__ADS_1


Setelah beberapa menit lagu ulang tahun dinyanyikan secara beramai-ramai oleh teman- temanku. Sampai tiba waktunya untuk acara memotong kue dan yang pertama kali akan kuberikan kue adalah kedua orang tuaku dan setelahnya ingin sekali kuberikan potongan kedua kepada orang yang spesial yaitu Alex. Tapi mama telah mencegah tanganku supaya tak kuberikan pada Alex, yang tengah berdiri menatap jauh di pinggir pintu dapur bersama ibunya. Dengan terpaksa kue yang sudah dipotong kuberikan pada Iwan temanku.


__ADS_2