
Suara ayam berkokok telah berhasil membangunkanku yang terlelap. Akibat kaget, sikap terjingkat deg-degkanpun langsung datang. Akupun langsung segera bangun, sebab telah menyadari sedang menunggu.
"Astagfirullah, kenapa aku bisa keblabsan ketiduran."
"Mas Alex ... mas ... mas. Apa dia sudah pulang, ya?" panggilku tersadar apabila suami belum ada dirumah.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada suamiku? Kenapa sampai sekarang belum pulang-pulang juga?" guman hati merasa gelisah saat melihat pintu depan masih tertutup rapat.
Rasa kekhawatiran yang akut, membuatku segera membuka pintu utama, untuk memastikan kalau suami benar-benar belum pulang. Bagaikan luka yang tersayat kembali, kaki sekarang sudah merasa lemas tak bertulang, saat melihat suami tercinta kali ini benar-benar belum pulang ke rumah.
"Kamu kenapa, Amel? Kenapa pagi-pagi buta begini membuka pintu rumah?" tanya Ibu mertua menyusulku, yang tengah berdiri didepan teras rumah sambil clingak-clinguk melihat keadaan sekitar.
"Amel, merasa khawatir sebab mas Alex belum pulang-pulang juga, Bu!" jawabku yang rasanya ingin menitikkan airmata saja.
"Sudah, tenangkan dirimu dulu. Kita akan cari informasi ditempat bekerja dia kemarin. Apakah dia benar-benar sudah berangkat pulang untuk menemui kita, atau bisa jadi ada kemungkinan besar Alex berbalik arah ke tempat kerja yang belum selesai sepenuhnya pekerjaan itu," ucap Ibu agar aku bisa meredakan kekhawatiran.
"Betul, Bu."
"Baiklah, aku akan tanyakan langsung sama teman mas Alex itu."
"Iya. Lebih cepat lebih baik."
Tanpa membuang waktu, langsung saja nomor-nomor yang bisa menghubungkan dengan panggilan teman suami kini mulai kutekan satu-persatu.
Tulang terasa mulai terlepas dari persendian lagi, saat berita yang harusnya terdengar dengan penuh harapan, tapi harus terpatahkan dan bikin lemas saja, saat berita tentang mas Alex benar adanya kalau dia sudah pulang.
"Gimana, Amel?" tanya kekhawatiran Ibu lagi, yang sedang menunggu kabar baik juga.
"Amel, tidak tahu lagi ini harus bagaimana, Bu."
"Kata teman mas Alex, dia sudah pergi pulang ke kota kita sejak pagi tadi, tapi sampai sekarang kenapa tidak sampai-sampai juga?" Kecemasan yang sudah membuatku mengalirkan airmata, saat beberapa jam yang lalu sekuat tenaga berusaha menahannya.
__ADS_1
"Ya Allah, ada apa lagi ini? Bagaimana keadaan Alex sekarang? Kenapa dia sampai hari ini belum pulang ke rumah juga," Ibu sudah mendekap tubuhku agar kami berdua bisa menghilangkan rasa cemas ini.
"Iya, Bu. Bagaimana ini? Sedangkan kita tidak tahu kabarnya dan dimana dia sekarang?" jawabku yang semakin khawatir.
"Kita berdoa banyak-banyak, Nak. Semoga Alex baik-baik saja dan masih dalam lindungan Allah."
"Semoga nanti ada kabar baik mengenai anak Ibu itu."
"Iya, Bu. Amin."
Rasa khawatir yang akut, membuat kami tidak fokus untuk melayani anak berangkat sekolah, sehingga dengan terpaksa Kayla tidak kami izinkan berangkat sekolah dulu. Takutnya kami pusing memikirkan suami, nanti Kayla malah tidak terurus juga.
Sekian jam terus saja berjalan, sampai-sampai nasi sedikitpun tidak ingin kumakan. Rasa perih dalam perut tidak kuhiraukan, sebab pikiran sedang kacau tidak ingin terpikir perut dulu, yang saat ini begitu melilit minta mengisi tenaga dan asupan.
Berulang kali gawai terus saja kulihat, untuk memastikan ada pesan atau telepon masuk apa tidak, yang berharap-harap suami bisa mengabari keadaannya sekarang. Namun penantian ini hanya sia-sia saja, saat gawai sedikitpun tidak bergerak untuk bergetar tanda ada kabar.
Kaki terus saja melangkah mondar-mandir tidak tenang. Walau berusaha tenang, tapi perasaan tetap tidak bisa dibohongi. Kayla tidak tahu apa-apa tentang rasa kegelisahan kami, sehingga dia sekarang hanya diam bermain ditemani Ibu, yang kelihatannya juga sangat khawatir.
Dengan secepat kilat, langsung saja kaki berlari untuk mendekati gawai yajg terus saja bergetar diatas meja ruang tamu.
Klik, gawai sudah kegesar ke atas.
[Hallo ... hallo, Mas. Gimana kabarmu?]
Antusiasnya diriku gembira, yang akhirnya ada kabar juga dari suami.
[Maaf, Mbak. Saya bukan suami, Mbaknya. Saya hanya penemu handphone punya suami anda]
[Apa?]
[Kok bisa ada sama kamu? Mana suami saya, berikan telephone ini padanya sekarang]
__ADS_1
Suruhku sudah geram dan marah saja, saat orang itu berani-beraninya mengambil gawai suami.
[Maaf ya, Mbak. Saya ini bukan maling atau apa 'lah yang seperti anda pikirkan. Saya tegaskan bahwa saya hanya ingin membantu dan memberitahu saja, bahwa suami mbaknya sekarang telah dibawa kerumah sakit sebab telah mengalami kecelakaan]
[Apa?]
Braghk, gawai tiba-tiba jatuh merosot begitu saja dilantai, saking kagetnya menerima berita buruk yang tidak diiginkan.
[Hallo .... hallo, Mbak?]
Suara pria itu tidak kuhiraukan lagi, saat berulang kali memanggil terus-menerus digawai. Yang penting sekarang harus memulihkan tenaga, yang syok atas apa yang terjadi sekarang. Posisi yang terduduk sekarang, membuatku semakin menangis tersesu-sedu.
"Amel ... amel, kamu kenapa, Nak? Ayo bangun. Kamu kenapa?" tanya Ibu yang sudah menghampiriku.
"Mas Alex, Bu."
"Mas alex, dia---?,"
"Iya, Alex kenapa? Kenapa kamu kelihatan pucat dan lemas begini," Kebingungan beliau melihat wajahku sudah menderaskan airmata.
"Dia mengalami kecelakaan, Bu."
"Astagfirullah."
Ibu yang tadi sempat memperlihatkan wajah tenangnya, sekarang ikut-ikutan mengeluarkan airmata juga.
"Ya sudah, kamu tetap tenang. Kita akan cari informasi dimana Alex dirawat sekarang," ucap beliau mencoba membantu menghilangkan rasa khawatir ini.
"Iya, Bu. Baiklah."
Setelah rasa cemas berakhir, akhirnya aku mencoba menelpon ulang orang yang memegang handphone suami tadi. Alhamdulillahnya dia memberikan alamat terjadi kecelakan itu, tapi tidak tahu dimana rumah sakit yang telah merawat suami. Tanpa membuang waktu aku dan Ibu langsung tancap gas ke lokasi kejadian, untuk segera mendapatkan kabar tentang suami.
__ADS_1
Rasa cemas ini begitu mendera tak karuan lagi bentuknya, sampai-sampai memeluk erat tubuh Ibu, saat berada didalam mobil yang kami sewa. Kayla hanya bisa ikut-ikutan sedih, saat melihat kami berdua dalam keadaan sedang kacau.