Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Serba salah jadi pembantu. SEASON 2


__ADS_3

Sudah dua hari tamu telah menginap. Perkerjaan jadi bertambah repot, saat Alena banyak maunya dengan menyuruh ini itu. Sedangkan Arnald banyak diam sebagai pria, ketika melihat kemanjaan kekasih yang menurutku sangat keterlaluan itu.


Sedikit saja kami semua melakukan kesalahan pasti akan kena semprot. Alena orangnya tidak sabaran, jadi apa yang dia suruh harus dilakukan dengan cepat dan benar.


"Iiiih, benar-benar, dah!" keluh Bik Murti dengan tangan sibuk memegang nampan. Cangkir terdengar bergetar saat beliau menaruh kasar diatas meja dapur.


Aku yang sibuk membersihkan beberapa peralatan kotor bekas makan dan masak, seketika menoleh ke arah beliau untuk mencoba memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa, Bik? Kenapa mulai ngomel-ngomel saja ini?" tanyaku penasaran mendekati posisi beliau, yang tengah berdiri dekat api kompor.


Wajah cemberut dengan bibir begitu monyong, tanda beliau lagi dalam keadaan bad mood.


"Itu Nona Alena, bikin kesal saja. Semua yang kita lakukan serba salah terus," terang Bik Murti.


"Heeh, yang sabar, Bik. Memang sifatnya mungkin kayak gitu. Kita sekarang kerja sama orang, jadi mau tak mau harus mengalah juga," cakap memberitahu agar beliau lebih mengerti dan tenang.


"Iya, Amel. Tapi sikapnya itu sangat keterlaluan menurutku. Beda sekali sama majikan kita yang asli."


"Biar saya saja yang mengerjakan dan menggantikan Bibi. Memang dia minta apa?" tawarku.


"Itu, minta dibuatkan teh tapi tadi tidak panas dan manisnya kurang, alias tidak sesuai dengan keinginannya, jadi Bibi tadi kena marah oleh dia."


"Ya sudah, ngak pa-pa. Yang sabar. Biar saya saja yang mengantikan Bibi."


"Iya, Amel. Terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Tangan mulai menyiapkan segalanya. Takaran sama persis seperti yang kusuguhkan untuk Alex. Teh celup beraroma khas sudah kunaik turunkan, agar warnanya segera berubah jadi merah.


"Numpang saja banyak tingkah!" keluh Bik Murti, masih ngoceh dan dongkol saja sama keponakan majikan itu.


Aku hanya menanggapi dengan senyuman saja, sebab mulai sibuk membuat apa yang diminta wanita manja itu.


Tidak ingin membuat dia menunggu lama. Langkah sudah tergesa-gesa untuk segera mengantar permintaan.


"Ini, Nona!" Tangan sudah meletakkan teh, yang masih mengepulkan asapnya dimeja ruang santai.


"Em." jawaban singkat padat dan jelas dari Alena.

__ADS_1


Netra mencoba melirik sebentar ke arah Arnald. Tak menyangka, ternyata dia sedang melirik juga. Netra telah menyalurkan aliran listrik diantara kami, maka dengan secepatnya kepala tertunduk, takut-takut jika ketahuan oleh wanita manja Alena.


Teh langsung diseruput Alena. Dia minum tanpa ada jeda, bagaikan orang yang sedang kehausan saja.


"Buatkan aku satu cangkir lagi," suruh Alena meletakkan cangkir dimeja.


Nampak cangkir masih ada sisa sedikit air tehnya.


"Wah, tumben kamu minum sampai ingin dua kali," Arnald sudah merasa heran.


"Rasanya tenggorokan haus sekali ini," jawab Alena sudah meraba pelan-pelan leher depan.


"Kok bisa? Kamu tidak lagi sakit 'kan?" cakap Arnald terdengar khawatir.


Posisi yang sempat duduk berjauhan, sekarang Arnald merubahnya untuk mendekati Alena, dengan cara merengkuh bahu secara kasih sayang.


"Tidak tahu, tapi sepertinya aku baik-baik saja."


"Tapi memang kamu kelihatan baik-baik saja. Tapi aneh ingin minum lagi, tidak biasa-biasanya lho ini."


Kekepoan telah membuatku sebagai nyamuk saja, untuk menyimak semua obrolan mereka.


"Ooh, mungkin saja itu."


Posisi duduk bersimpuh yang sedang sejajar dengan meja, sekarang mencoba berdiri ingin melaksanakan perintah majikan lagi.


"Saya, permisi dulu. Mau membuatkan apa yang Nona minta," pamit ingin undur diri.


"Hadeh. Kalau kamu mau pergi, pergi saja!" Kasar jawaban Alena.


"Jangan gitulah, sayang. 'Kan bibi niatnya baik untuk pamit," Pembelaan Arnald.


"Iya, sayang. Tapi masak mau ke belakang dan mengerjakan ini itu pakai pamit segala. Mendengarnya eneg juga," jelas kemanjaan.


"Sudah ah. Emosi melulu. Tidak baik untuk kesehatan kamu."


"Heeh, iya ... iya."


Sedikit ada perdebatan diantara mereka. Rasanya jadi tidak enak, sebab satu kesalahan yang kulakukan.

__ADS_1


Tidak tahu mengapa semua yang dikerjakan serba salah semua, padahal sudah bersikap sopan tadi.


Nampan yang kosong kubawa ke dapur lagi. Kali ini mencoba menyuguhkan dengan cangkir agak besar, agar mulut wanita itu tidak cerewat lagi. Semoga dia suka dan tidak ada keluhan.


"Gimana? Apa dia masih ngeluh lagi?" tanya Bik Murti yang baru saja datang habis beberes.


Tangan beliau yang memegang sapu pel, langsung meletakkan disudut ruangan dapur sesuai tempatnya.


"Ya begitulah. Tidak ada keluhan tentang rasa, tapi dia sedikit manja untuk dibuatkan kembali teh," jelasku.


"Ooh, baguslah kalau begitu."


"Emm, benar itu."


"Sebenarnya aku sangat muak sama sifatnya itu. Mentang-mentang orang kaya, janganlah manja dan menindas perkataan sama para pembantu. Kita 'kan juga punya hati dan perasaan."


"Iya, Bik. Yang sabar saja. Mungkin ini ujian kita kerja disini, sebab selama ini kita aman-aman saja," cakap berusaha memberi pengertian.


"Iya, juga. Tapi bagiku itu sangat keterlaluan. Lama-lama sebab muak, bisa-bisa aku tidak akan betah lama-lama bekerja disini," Bik Murti sepertinya tidak sabaran juga.


Bik Murni berbicara berbalik posisi badan denganku, yang sedang sibuk menyeduh. Beliau bersandar santai ditembok sebatas pinggang, sambil tangan bersedekap diatas perut.


"Jangan gitu ah, Bik. Ingatlah! Kita kerja disini sangat enak mengenai gaji dan tidak banyak kerjaan yang dilakukan, sebab tahu sendiri majikan kita sering tidak berada dirumah."


"Benar juga, tapi malas menghadapi sifat keponakan majikan kita itu."


"Sudah ... sudah, Bik. Banyak-banyak bersabar mulai sekarang. Kita mencari nafkah disini demi membahagiakan orang dirumah, jadi jangan nyerah dan tetap bertahan berkerja, jangan sampai karena kesal sama ponakan majikan kita kehilangan pekerjaan yang nyaman ini," Memberi peringatan agar Bik Murti tetap bertahan.


"Huufff, iya deh Amel."


"Nah, baguslah kalau begitu. Tetap semangat mencari peruntungan dan sabar menghadapi sifat majikan." Tangan sudah menepuk pelan bahu beliau.


"Iya, Amel. Sipp 'lah kalau begitu."


"Ok."


Senyuman manis akhirnya terpancar dari wajah beliau, yang awalnya sempat cemberut dan kesal itu. Lagi-lagi nampan berisi teh dan beberapa camilan bertengger ditangan.


Kemesra'an yang bikin iri, saat keponakan majikan terus saja dalam dekapan Arnald. Sungguh beruntung sekali Alena mendapatkan pria yang sangat perhatian dan bisa memberikan kasih sayang lebih.

__ADS_1


__ADS_2