Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Masa kelam


__ADS_3

Saat tangan masih ada sisa lumuran darah, kini langkah telah datang kerumah reyotku, untuk meredakan kelelahan setelah membereskan semua orang yang menghalangi.


"Wah ... wah, gimana penculikannya? Sukses apa tidak untuk mendapatkan tanda tangan mantan istri kamu itu?" Cerewetnya mulut istriku bertanya, saat aku baru masuk rumah yang sudah mulai roboh.


"Nih, ambil dan lihatlah!" kutempol sebuah kertas dimukanya.


"Waaah, ckckck ... uhuui. Papi memang the best, cuup!" Sebuah ciuman dipipi diberikan istriku, tentang pujian keberhasilan.


"Hidih, berisik amat sih. Mami ada apaan sih ini? Kok gembira banget kamu!" tanya anak ketampananku yang baru keluar dari kamarnya.


"Kita sekarang akan kaya, nak! Kita akan kaya ... kita akan kaya, sebentar lagi kaya," Antusiasnya istriku berbicara penuh wajah kegembiraan.


"Kaya? Apa maksudnya?" Kebingungan anakku.


"Iya, kaya. Lihat ini, lihat ... lihat! Papimu akan segera mewarisi harta mantan istrinya," Rasa kebuncahan istri yang sedang gembira menunjukkan kertas .


"Benarkah ini? Hahahaha, hore ... hore!" Kegirangan mereka berdua yang kini sudah meloncat-loncat.


"Iya, nak. Kita akan kaya," jawab istri begitu sumringah tersenyum lebar.


Entah mengapa, istri yang super cerewet, diri ini masih saja bertahan dengannya. Dibilang cinta tapi tak terlalu cinta, mungkin karena sifatnya yang kejam dan tak baik hati, membuat diri ini semakin candu atas rasa sayang padanya. Karena aku adalah orang yang suka sekali dengan kekerasan, kekejaman, dan ketidakbelas kasihan pada orang, mungkin itulah yang sebenarnya kucintai tentang diri istri. Sepantasnya diriku menyandang nama sebagai psikopat, yaitu orang-orang yang selalu menyiksa pada korban-korban tanpa ada rasa belas kasihan.


*******


Flasback dulu


Dulu waktu masih beristrikan mama Amel, bila dia melakukan kesalahan sedikit saja, tanpa banyak kata kaki dan tanganku yang mewakili berbicara untuk menghanjarnya.


"Ampun ... ampun, mas. Jangan pukuli aku lagi. Apa kesalahanku hingga kamu telah berani menghajarku babak belur begini?" tanya sang istri binggung saat tangan dan ikat pinggang sudah menyentuh kulitnya.


"Apa yang kamu bilang? Kenapa? Kamu itu sudah ngak punya otak, apa kamu itu terlalu tol*l untuk dijadikan sebagai istri. Sudah tahu aku malas untuk mengerjakan pekerjaan itu masih maksa juga. Lihat ... lihat, wajahku sampai bonyok digebukin orang akibat dikira menipu," jelasku marah akibat orang mengira melakukan penjualan produk palsu.


"Aku cuma ingin kamu kerja saja, mas. Kamu itu adalah tulang punggung keluarga, tapi kenapa tidak mau kerja hanya mengandalkan oleh gajiku saja. Kamu dirumahpun tidak mau mengerjakan perkerjaan rumah dan mengasuh buah hati kita Amel. Kerjaan kamu tiap hari hanya menyia-nyiakan waktu untuk tidur, makan, dan keluyuran untuk judi sajaz" keluh mama Amel mengeluarkan uneg-uneg.

__ADS_1


"Ooh, jadi sekarang kamu sudah berani membantah dan mengeluh atas kerjaanku selama ini. Lalu kenapa, kamu menikahiku kalau aku tahu pengangguran dari dulu? Apa karena ketahuan hamil dulu makanya kamu mau menikah denganku, hah!" jawabku sudah menjambak rambut istri.


"Aaa, sakit mas. Dasar pria yang ngak punya malu. Kalau malam itu kamu tak merayuku dan menjebak, pasti sampai detik ini aku tak mau menikah dengan kamu, yang kasar dan selalu saja berfoya-foyaa tanpa memikirkan keadaanku dan anakmu," keluhnya sudah menangis tersedu-sedu.


"Cuuih, dasar wanita tol*l dan g*bl*k. Ya, itulah sembutan yang pantas untuk kamu dapatkan. Hahahahah, plaaaak!" ucap marah sambil menamparnya.


Akibat rasa kesal dan marah, akhirnya tangan yang ringan ini bertubi-tubi menampar habis-habisan pipi istri. Disudut bibirpun sampai nampak mengeluarkan darah, namun aku tak pedulikan itu, sebab dalam hidupku hanya ingin senang-senang menikmati kehidupan dunia yang bagai syurga ini.


Selama satu tahun pernikahan kami, dia mengugat cerai akibat tak tahannya padaku, yang selalu menyiksanya dengan hantaman dan beberapa pukulan-pukulan.


"Selamat tinggal, mas. Terima kasih kamu sudah menandatangani surat perceraian kita, hingga aku sekarang bisa menghirup udara kebebasan dari penyiksaan kamu," ucap sinis istri berbinar kebahagiaan setelah selesai menjalani persidangan perceraian bersamaku.


"Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Camkan itu! Suatu saat kamu akan mendapatkan rasa sakit hatiku ini berbalik terjadi padamu, tunggu saja!" ancamku padanya.


"Aku tak akan takut oleh ancaman kamu itu, sebab sekarang kamu bukanlah siapa-siapaku lagi, yang kini bagiku sudah menjadi sampah yang patut dibuang selamanya," jawabnya berani menghinaku didepan pengacaranya.


"Kamu, awas!" ancamku lagi.


********


"Ternyata kamu sekarang sudah bahagia bersama orang lain, wahai mantan istriku. Kamu tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu selanjutnya nanti. Pasti hidup keluarga kamu tak akan bahagia lagi, diatas penderitaanku sekarang ini," ucapku dalam hati saat melihat dari kejauhan pesta pernikahan mantan istri.


Awal-awal sekali sudah lama ingin menguasai harta mantan istri, tapi suami barunya selalu saja menjadi penghalang untukku merebutnya. Tak kehabisan akal, diri ini selalu saja merencanakan hal-hal kejam pada mereka, tapi ternyata suami baru mantan istriku telah mengetahui dibalik semua rencanaku, hingga hampir beberapa tahun diri ini vakum dari rasa ingin menguasai harta, sebab tak ingin diriku mati sia-sia sebelum dendam dan sakit hati ini terbalas.


Diam-diam aku selalu mengikuti gerak-gerik kehidupan keluarga istri. Ketika aku kembali lagi melihat kebahagiaan mereka yang selalu riang dalam kemewahan, rasa iri mulai muncul lagi, sehingga rencana gila untuk menghancurkan mereka terus saja terjalani termasuk menculik mereka.


"Awas kalian, akan kubuat perhitungan lebih sakit atas tawa canda kalian yang nampak ceria itu. Akan kubuat hidup kalian sengsara sampai keakar-akarnya. Aku tak peduli lagi dengan rasa belas kasihan pada kalian, sebab rasa dendamku kini sudah tembus dari jantung sampai ke hati, yang ingin sekali membuat kalian menderita seumur hidup," guman hati yang iri lagi, saat bertemu mereka di mall sedang jalan-jalan penuh keceriaan.


Setelah penculikan boleh dibilang antara sukses dan tidak, ada gelagat-gelagat bahwa suami mantan istri, mengetahui semua kekejamanku.


"Aaah, sial ... sial, kenapa si suaminya selalu ikut campur urusanku. Jangan sampai penculikan kemarin terbongkar, hingga membahayakan nyawa. Aku harus bebuat sesuatu untuk melenyapkan mereka. Ya, aku harus menyingkirkan mereka selamanya, agar tak jadi penganggu lagi dalam usahaku mengusai harta. Tunggu saja, akan aku berbuat apa untuk kalian nanti, haahahaha. Pasti kalian akan terkejut mendapatkan rencana gilaku selanjutnya," rancau hati saat kesal, melihat suami mantan istri yang sering bolak balik ke kantor polisi


Tanpa belas kasihan lagi, kusuruh anak buah untuk mencelakai mereka, dengan memotong rem mobil. Tak menunggu lama akan adanya kabar baik tentang mereka.

__ADS_1


Pucuk dicinta ulampun tiba, akhirnya keinginanku agar orangtua Amel mati ternyata terjadi juga. Mereka telah mengalami kecelakaan dengan luka parah akibat menabrak pembatas tol, sehingga mereka secepatnya meninggal dalam bencana itu.


"Hahahahhha, mampus kalian. Rasakan itu. Makanya jangan berulah padaku, hingga inilah akibat yang kalian terima, yaitu membayar dengan nyawa kalian, hahahah. Semoga kalian berdua akan tenang dialam sana," gelak tawaku puas saat ada berita mengenai sauami istri itu kecelakaan.


Setelah genap tujuh hari, mantan istri dan suaminya meninggal. Kuboyong segera, keluarga baruku ke rumah anak tiri. Amel awal-awalnya binggung atas kedatangan kami, dia begitu tak terima atas penjelasan yang kami berikan. Dengan cara paksaan dan menunjukkan sebuah kertas tentang bukti sahnya diriku mewarisi harta, akhirnya Amel mau menerima dan mengalah begitu saja.


"Sini ... sini, kamu. Dasar anak tak berguna kayak ibunya, terlalu dimanja hingga lelet sekali dalam melakukan pekerjaan. Ayo cepat siapkan makanan segera, kami lapar. Dasar kalian ini, pembantu sama anak tiri sama-sama tak becus melakukan pekerjaan kecil itu saja. Praang!" Kemarahan istri pada Amel dan pembantu sambil melempar piring ke arah mereka.


"Kami tadi ada pekerjaan lain, nyonya. Jadi maafkan kami, jika makan siangnya belum sempat kami masak," jawab pembantu menundukkan kepala sebab takut.


"Diam kamu, banyak omong sekali. Praang," Lagi-lagi istri marah melemparkan piring.


Mereka yang kena marah diam seketika, tanpa ada lagi ucapan bantahan akibat istriku kini benar-benar murka atas amarahnya.


"Cepat kalian siapkan makanan, sekarang. Cepat ... cepat, tak pakai lama, paham!" suruh istri melengkingkan suara.


"I-iii-iya, mami. Kami akan siapkan," Kegrogian Amel dalam ketakutan.


Istriku begitu kejamnya menyiksa Amel, dengan mengerjakan ini itu yaitu semua tugas pembantu. Dengan bodohnya juga, Amel menjalankan semua perintah tanpa ada rasa penolakan. Kalaupun dia menolak pasti istriku akan lebih kejam menyiksa, dengan memberi tamparan, pukulan, dan bahkan cubitan kuat. Karena tiap hari mendapatkan penyiksaan, akhirnya dia tidak betah dan keluar rumah, bersama pembantu pribadinya.


"Gimana ini, pa? Kenapa Amel harus pergi dari rumah ini? Gimana kalau dia melaporkan kepada orang lain maupun pihak berwajib yang enggak-enggak tentang kita? Aku takut jika kita akan dapat masalah sekarang," ucap istri yang khawatir.


"Tenang saja, ma. Mereka itu wanita lemah dan penakut, jadi tak akan berani melaporkan kita. Kalau mereka berulah pada kita, ya apa boleh buat. Kita akan melenyapkan mereka seperti orang tuanya," jawabku santai


"Iya, mami. Ngak usah takut akibat mereka kabur, malah justru kita harus bahagia, sebab bisa happy-happy mengusai rumah ini sendirian," saut jawab anak laki-laki kami.


"Nah, benar apa yang dikatakan sama anak kamu. Kita seharusnya bahagia menikmati rumah ini, yang sampai tujuh turunanpun tak akan habis," imbuh ucapku menenangkan istri.


"Ok, baiklah kalau begitu. Kita akan menikmati kekayaan ini sepuas-puasnya, hahahahah," gelak tawa istri yang kini gembira.


Selama dua tahun lebih, Amel ternyata tak mengunjungi kami lagi, tapi ketika dia muncul kembali, sudah berani-beraninya membawa seorang pengacara, dengan membawa barang bukti-bukti surat warisan diatas namakan Amel yang sesungguhnya. Sehingga kini munculah musuh-musuh baruku, yang ingin rasanya kukalahkan mereka semua.


Jangan panggil aku psikopat yang kejam, kalau tak bisa mengalahkan dan menumbangkan musuh-musuh itu, yang sudah ada dalam daftar nama incaran

__ADS_1


__ADS_2