Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Sikap Aneh Majikan. Season 2


__ADS_3

Rasa-rasanya mulai aneh dengan sikap tuan Arnald. Tiap hari ada saja alasan ingin menemuiku, entah ingin dibuatkan minuman ataupun beberapa camilan gorengan. Yang mengherankan ada beberapa pembantu disini, tapi kenapa harus menyuruhku yang jelas-jelas kadang masih memegang pekerjaan lain sebagai pembantu.


Alena tidak mencurigai sama sekali. Memang tuan Arnald gelagatnya seperti biasa saja, tapi entah mengapa perasaan mengatakan kalau dia gencar ingin mendekatiku.


"Aah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Jadi kamu jangan kege'eran gitu, Amel!" rancau hati.


Memang sikapnya tidak ditujukkan dengan ketara. Secara diam-diam hanya ditujukkan didepanku. Cukup merasa risih dan tidak nyaman, tapi sebisa mungkin berusaha cuek dan pura-pura tidak mengetahuinya.


"Bik. Buatkan aku teh!" suruh tuan Arnald.


"Baik, Tuan."


"Jangan lupa taruh dikamar saja nanti."


"Baik, Tuan."


Hanya nurut saja yang diperintah. Dari pakaian, ketara kalau dia baru saja pulang dari tempat kerja, dimana masih lengkap menggunakan jas dan menenteng tas persegi empat khas orang kantoran.


Wajahnya kelihatan kusam dan lelah. Tidak berani menegur sebab memang tidak ada hak. Cukup melihat dalam diam dan acuh memperhatikan, takut-takut nanti kalau majikan akan kepedean salah sangka.


Segelas teh yang masih mengepul asap, sudah kutenteng ditangan menggunakan nampan kecil.


"Semoga saja nanti majikan tidak macam-macam," rancau hati yang ketakutan.


Hanya segelas cangkir jadi tidak berat membawanya. Tangan sudah memegang nampan dan satunya sibuk mengetuk pintu kamar majikan.

__ADS_1


Tuk ... tuk, beberapa kali pintu terbunyikan, namun tidak ada sautan sama sekali dari orang didalam.


"Tuan, permisi. Tuk ... tuk."


"Tuan, ini tehnya!" cakap ingin meminta izin masuk.


"Hmm, aneh benar. Kemana tuan Arnald? Bukankah tadi barusan masuk kamar, tapi kenapa tidak ada simbatan orang dari dalam? Aneh bener," guman hati merasa heran.


Ganggang pintu berusaha kuputar dan ternyata sangat mengejutkan, kalau sedang tidak dikunci sama sekali.


"Apa aku masuk saja, ya? Tapi--!" Keraguan.


"Aah, masuk saja kali. Kalau tehnya tidak dibawa ke dalam, takutnya nanti malah marah juga sebab terlambat."


Melihat majikan sudah tertidur dengan posisi terlentang tanpa melepas pakaian kerja dan sepatu. Majikan nampak telah memejamkan mata pulas sekali. Kelihatannya memang sedang letih melakukan kerja yang ikut majikan utama.


"Astagfirullah, kenapa Tuan Arnald tidak melepas sepatunya dulu," Hati berguman keheranan.


"Dilepas takut membangunkan, tapi kalau tidak dilepas pasti tempat tidur akan kotor nanti."


Rambut yang kurasa tidak gatal kugaruk dengan jari telunjuk, akibat merasa dalam posisi kebingungan. Wajahnya sudah kulihat seksama. Rasanya ingin kubelai pipinya itu, sama seperti yang dulu kulakukan pada suami ketika tertidur pulas. Andaikan dia adalah mas Alex, pasti hati ini akan merasa bahagia dan begitu nyaman.


"Hfffff, aku rindu kamu, Mas. Kenapa bayanganmu selalu hadir menghantuiku, tanpa bisa melupakan sedikitpun," Kesedihan hati yang terus menatap wajah majikan.


Detik demi detik telah berlalu, akupun tanpa ragu ingih melepas sepatu itu. Tidak peduli kalau majikan marah, yang penting tidur nyenyaknya akan bertambah pulas, tanpa ada risih memakai penutup kaki itu.

__ADS_1


Perlahan-lahan tali simpul yang masih mengikat sudah kutarik. Kuusahakan agar bisa longgar, biar nanti bisa menariknya dengan mudah. Dengan hati-hati juga sepatu mulai kutarik, agar sang empu tidak terganggu bangun.


Sekali tarik, akhirnya sepatu sebelah kiri telah berhasil kutarik. Kemudian yang sebelah kanan tak luput ingin kulepaskan. Masih dengan keadaan yang sama yaitu hati-hati sekali.


Tanpa diduga ada sebuah tangan yang mencekal tiba-tiba, sampai akupun terduduk pasrah dilantai akibat kaget. Netra terbelalak syok, saat melihat tuan Arnald sudah bangun terduduk.


"Kamu lagi ngapain, Bik?"


"Eee, maaf Tuan. Tadi mau melepaskan sepatu saja."


"Kamu tidak apa-apa 'kan sekarang, Bik!" tanyanya yang berusaha membantu berdiri.


"Eeeh iya, Tuan. Terima kasih."


Tangannya yang terulur telah kusambut dengan baik. Tanpa aba-aba, dengan kuat tangan ditarik hingga membuat posisi tubuh tidak seimbang, dan akhirnya akupun terjatuh tak terduga diatas tubuh tuan Arnald.


Detakan jantung kian hebat berpacu tanpa terkendali seperti biasanya. Posisi yang bikin tidak nyaman tapi kurindukan. Lagi-lagi netra telah memanahkan soroton tajam. Tanpa diduga bulatan hitam yang berada ditengah, sama-sama ada bayangan wajah kami.


"Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Kenapa lagi-lagi tidak bisa mengendalikan diri?" Hati terus merancau tak karuan lagi efeknya.


Sedetik kemudian kami masih bertahan dengan posisi yang tak pantas. Entah mengapa kami bertahan dalam keadaan yang tidak pantas dan terlarang.


Klek ... klek, terdengar suara ganggang pintu berusaha diputar agar terbuka.


Secara kilat aku langsung berdiri, sebab sadar apa yang telah kami lakukan barusan. Walau tuan Arnald sempat ingin menahan, tapi aku juga mengerahkan tenaga agar posisi kami berubah tak diatasnya lagi. Bisa bahaya kalau orang yang masuk nanti akan salah sangka.

__ADS_1


__ADS_2