
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya nyawa ini telah terselamatkan dari marabahaya penculikan dan jatuhnya disungai. Tiada ucapan lain selain syukur yang terus menerus terucap dalam hatiku. NikmatMu sungguh indah kurasakan, hingga aku bisa menghirup udara segar sampai saat ini. Alhamdulillah ... Alhamdulillah ya Allah," guman hatiku mengucap syukur.
Sekujur tubuh masih saja terasa ngilu, hingga tak terelakkan aku masih numpang makan tidur dirumah pak Ahmad sudah beberapa minggu lamanya. Walau aku sudah bisa mengerakkan kaki dan tangan, namun semuanya belum pulih sepenuhnya. Kaki selalu terpincang-pincang tertatih untuk bisa berjalan, sedangkan wajahku yang terbungkus kain sementara ini belum dapat di buka, karena masih terasa nyeri dan pedih.
Pak Ahmad sudah bercerita bahwa aku tidak bisa berobat ke rumah sakit, karena belum ada kartu tanda penduduk (KTP) dan bukan anggota keluarganya, jadi beliau mengobatiku menggunakan obat herbal dari dedaunan, akar dan tumbuhan-tumbuhan.
Wajah menatap kosong ke arah Budi yang sedang asyik tertawa riang bersama teman sepermainannya. Dia begitu tertawa ceria, ketika menang dalam bermain kelereng didepan rumahnya sendiri. Tapi teman-temannya merasa begitu kesal, karena Bufi selalu saja menang terus, tanpa memberi kesempatan pada temannya untuk menang.
"Alex!" panggil pak Ahmad.
Pak Ahmad kini menghampiriku dan kami berdua tengah duduk santai dikursi, dari anyaman bambu terjejer rapi didepan teras rumah mereka.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya pak Ahmad
"Alhamdulillah baik, Pak. Sekarang sudah agak mendingan juga ini," lirihnya jawabanku.
"Alhamdulillah, kalau sudah agak baikkan." ujar beliau lagi.
"Oh, ya Alex. Maafkan kami yang tidak bisa membawa kamu berobat ke rumah sakit," ungkapan penyesalan pak Ahmad.
"Tidak apa-apa pak, aku malah mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada pak Ahmad telah menyelamatkan nyawaku. Dan sekarang ini telah berbaik hati dan masih sudi menampungku di rumah kalian. Terima kasih, pak!" ungkapku sungkan.
"Sama-sama, Alex. Sesama umat manusia kita harus saling tolong menolong, apalagi pada kaum-kaum yang lemah. Jadi kamu ngak usah sungkan-sungkan untuk tinggal disini. Anggap saja ini rumah sendiri dan kami adalah keluarga barumu. Kami ikhlas dan ridho kamu di sini, justru kami seneng banget kamu disini, Budi anakku jadinya ada teman ngobrol," ujar pak Ahmad sedikit berceramah.
"Iya pak," singkatnya jawabanku.
__ADS_1
"Alex. Pada waktu malam itu, aku tidak sengaja mancing ikan bersama teman-temanku dipinggiran bawah sungai. Kami begitu kaget saat tubuhmu nampak terhuyung-huyung dipinggiran pagar atas sungai dan ternyata tubuhmu tiba-tiba jatuh ke sungai. Ketika aku mengetahui itu, secepatnya diriku langsung saja terjun ke dalam sungai, untuk mencoba menyelamatkanmu segera," penjelasan pak Ahmad diwaktu malam kejadian itu.
"Terima kasih, Pak. Untung ada bapak waktu malam itu. Kalau tidak ditolong sama pak Ahmad pasti kehidupanku sudah tidak tahu lagi bagaimana nasib diri ini sekarang," Balik ucapku.
"Sama-sama, Alex. justru aku senang menolong kamu," tutur ramah beliau lagi.
"Kok, malam-malam mancing sih, Pak?" tanyaku heran.
"Justru malamlah biasanya banyak ikan yang akan nimbul dan akan mudah didapatkan." penjelasan beliau.
"Ooh," jawabku yang baru mengetahui.
"Apakah kamu tidak ingin mengabari keluargamu? Lewat telephone gitu?" tanya beliau lagi.
"Ingin sih pak! Cuma kalau mau telephone, aku sudah lupa nomor-nomor mereka, habisnya gawaiku sudah hilang. Kalau keadaan sudah pulih betulan, insyaallah aku akan segera menyambangi mereka. Jadi aku meminta izin sama pak Ahmad dan keluarga, izinkan aku tinggal sebentar lagi sampai luka-luka ini akan sembuh beneran," ujarku sedikit tak enak hati.
"Oh ... ya, Alex. Kamu sudah tidak sadar selama dua minggu tanpa makan dan minum. Dalam tidur panjangmu setiap menit dan detik, kamu selalu memanggil-manggil nama seorang perempuan yaitu Amel! Siapakah dia? Kekasihmu 'kah?" tanya beliau yang membuatku terkejut.
"Masak sih, pak? Aku beneran menyebut nama itu terus," tanyaku heran dengan wajah polos.
"Iya, betul."
"Heheh, ngak kok pak! Dia itu hanya sekedar teman biasa bukan kekasih!" jawabku malu-malu.
"Beneran nih cuma teman, pasti itu teman tapi mesra. Takkan, kalau cuma sekedar teman, ngak mungkin kamu selalu saja mengingaunya dan terus menyebut-nyebut namanya?" ucap pak Ahmad mencoba mengodaku.
__ADS_1
"He ... he ... he," jawabku cengegesan tidak tahu apa yang harus kujawab.
"Bapak dan nak Alex. Mari kita masuk dulu untuk makan siang!" panggil bu Asih mengagetkan kami yang tengah asyik mengobrol.
"Budi sini ... sini, sudah mainnya. Cepetan masuk ke rumah, kita akan makan siang segera!" imbuh suara bu Asih memanggil anaknya.
"Iya bu, sebentar!" sahutnya Budi dari kejauhan.
Kami semua duduk berlesehan di bawah dengan dilapisi sebuah tikar, untuk makan bersama-sama. Sayur nangka yang berbumbukan kuah kuning, serta tahu goreng dibarengi oleh sambal tomat, kini tengah mengiringi menyatap makan siang kami. Walau lauk makan hanya sederhana, tapi sekarang sudah cukup membuat Budi untuk melahap makanan dengan enaknya, dan terlihat mantap begitu nikmatnya. Aku begitu bahagia dan beruntung sekali, hidup ini telah dipertemukan dengan keluarga mereka. Tampak sumrigah sekali kehidupan mereka, yang selalu ada rasa keceriaan dan kebahagiaan didalam keluarga mereka. Suami istri di depanku sekarang, sedang bercanda ria saling bercengkrama menceritakan kehidupan mereka sehari-hari, dan hanya ada senyuman manis yang dapat bisa kulakukan saat menanggapi cerita seru mereka.
"Alangkah bahagianya keluarga kecil ini? Sungguh rasanya bikin iri saja, semoga saja suatu saat nanti ketika membina rumah tangga, kehidupanku dan keluarga akan seperti mereka yang selalu sumringah tersenyum bahagia," gumanku dalam hati yang terus memperhatikan keluarga pak Ahmad.
"Ayo Alex, tambah lagi nasinya. Masih banyak nih nasi sama sayurnya!" tawar ucapan bu Asih
"Baik bu, terima kasih!" jawabku malu-malu sudah sungkan.
Aku begitu betah tinggal disini, sampai-sampai hampir melupakan keluargaku sendiri. Rumah pak Ahmad selalu saja ramai, yang tidak pernah sepi oleh pemuda pemudi maupun anak-anak. Mereka semua minta diajari mengaji kitab-kitab dan Al-qur'an.
Boleh dikatakan keluarga mereka selalu dihormati, dan dipandang baik oleh warga sekitar. Banyak ibu-ibu disini memberikan sayur mayur, beras, gula, dan barang-barang yang lainnya, mungkin bentuk rasa terima kasih telah mengajari anaknya mengaji. Sebab keluarga pak Ahmad tidak pernah memunggut biaya apapun untuk anak-anak mereka yang mengaji, beliau mengajari mereka secara percuma dan tulus. Jika ada warga kampung yang memberikan barang-barang kepada keluarga pak Ahmad, beliau hanya bisa mengucap syukur atas semua rezekinya yang didapatkannya, kata pak Ahmad saat bercerita padaku.
Setiap hari minggu pak Ahmad selalu mengajarkan pemuda pemudi dengan ilmu bela diri, dengan berseragam serba berwarna hitam. Aku sekarang hanya bisa duduk menonton dari kejauhan, saat mereka sedang semangat dalam latihan.
"Hiat ... hiat, luruskan tendangan kaki kiri. Hiat ... braas, tendangan kanan luruskan," ucap kompak para pemuda, memperagakan cara menendang.
"Kencang kaki dan kencangkan tangan," ucap pak Ahmad tegas, mencoba mengajari anak didiknya dengan ilmu bela diri.
__ADS_1
Fakta saat mereka berlatih, ingin sekali diri ini membekali ilmu bela diri juga. Namun kenyataannya sangat menciutkan niatku, sebab aku belum sembuh betulan dari luka. Tapi diri ini tak pantang menyerah untuk segera sembuh dari sakit biar bisa mempelajari ilmu bela diri, yaitu agar dapat membekali diri sewaktu-waktu ada kejadian yang tidak diiginkan, sebab rasa trauma akibat tak bisa berkelahi membuat diri ini menjadi penuh terluka, akibat sadisnya para penculik kemarin yang tak gentar terus saja menghajar terhadap lawannya.