Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Menepati janji


__ADS_3

Celana jeans hitam sangat pas sekali di padupadankan dengan kemeja putih bergaris-garis merah, yang sudah berlapiskan jaket levis berwarna hitam yaitu untuk menutupi kemeja, membuatku sekarang sudah terlihat sangat tampan.


Tanpa ada janjian ternyata Amel juga memakai pakaian yang sama warnanya denganku, wajahnya yang imut dan ayu nampak menimbulkan kesan elegan terhadapnya.


Mungkin Amel sudah cukup lama menungguku datang, dia begitu terperangah dan langsung saja berdiri menyambut kedatanganku. Kini wajahnya menari-nari menatap seakan-akan ada kekaguman pada ketampanan diri ini.


"Kenapa? Ganteng?" tanyaku mengodanya.


"He ... he." cuma cengegesan dan acungan jempol yang di berikan Amel.


"Sudah lama menunggunya?" tanyaku.


"Enggak. Baru beberapa jam saja barusan menunggu," jawabnya.


"Baru beberapa jam? berarti lama dong! Kalau beberapa menit itu namanya belum lama menunggu. Kalau jam berarti sudah lama," Penjelasanku padanya.


"Iya ... iya. Tadi sudah lama menunggu, memang kamu ke mana sih? Lama banget datangnya?" tanyanya memancarkan wajah tak senang.


"Maaf ya. Tadi aku repot membantu ibu mengerjakan sesuatu dulu," jawabku.


Tanganku sudah menepuk-nepuk kepalanya, dimana rambut hitamnya dibuat sedikit bergelombang di ujung sedang tergerai indah memanjang tanpa ada pita bando.


Di hari libur sekolah tepat di hari minggu, aku sudah membuat rencana bersama Amel yaitu pergi diam-diam menuju taman hiburan. Amel telah berbohong dengan beralasan pada orang tuanya ingin mengerjakan tugas kelompok di rumah teman, dan tanpa curiga mamanya langsung saja menyetujui. Sedih rasanya bagiku apabila tak menuruti kemauan Amel, entah apa alasan orang tuannya selalu saja mengurungnya di rumah dan tidak mengizinkan pergi sendirian. Jika ingin jalan-jalan mereka selalu mendampinginya. Mungkin ada rasa malu pada Amel yaitu sudah besar tapi masih ditemani orang tua jalan-jalan, sehingga sekarang membuatku untuk tetap menepati janji yaitu untuk mengajaknya jalan-jalan keluar.


"Ayo Alex ... cepat, aku sudah tidak sabar ini," panggilnya.


"Iya non, tunggu. Ini sudah, kok!" jawabku yang sudah selesai membeli tiket bus untuk dua orang agar bisa ke tempat tujuan kami yaitu taman bermain.


Kami berduapun akhirnya masuk segera kedalam bus antar kota.


"Non?" panggilku dengan guratan nada cemas.


"Apa?" tanyanya santai, dimana kami sudah duduk bersebelahan di kursi bus.


"Aku agak takut nih, Non. Gimana kalau orang tua non Amel tahu jika dirikulah yang ternyata telah membawa keluar dan kabur Non Amel?" kejujuranku atas rasa semas yang melanda.


"Tenang saja, Oke! Ngak akan terjadi apa-apa sama kita apalagi atas kemarahan orangtuaku," tutur majikan santai.


Setelah satu jam perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. Karena ini hari adalah hari libur, sudah banyak sekali suara orang-orang yang sudah tertawa riang menikmati wahana demi wahana, yang mana semakin lama semakin ramai dan sesak saja taman bermain ini.


Wajahku begitu mengembang penuh kegembiraan, akibat melihat senyuman manis majikan yang puas, membuat diri inipun ikut merasakan bahagia yang sudah tak terkira lagi rasanya.


Aku hanya mengekorinya dari belakang. Tak banyak kata yang keluar dari mulutku, hanya ada senyuman manis yang indah saat melihatnya tertawa riang yang sudah terlemparkan hanya untukku.


Majikan tak lepasnya terus tersenyum-senyum sumringah ketika menikmati moment terindah, dimana akhirnya dia bisa merasakan lepas secara bebas untuk jalan-jalan atas bantuanku.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, membuat akupun juga ikut berhenti secara mendadak. Matanya sudah begitu terbelalak, seperti terpikat dengan wahana yang ada di depannya sekarang.


"Ayo Alex, kita coba naik itu!" tawarnya.


Tak lama Amel membalikkan badan, lalu berjalan meninggalkanku yang masih terbengong atas tawarannya. Hanya selang beberapa detik, wanita berambut bergelombang hitam tergerai kini berlari ke arahku lagi, mencoba meraih tangan untuk segera mengikutinya, seketika membuatku tersontak terperangah kaget atas tindakannya itu. Tangannya mencoba melingkar memegang tanganku, yang sudah menaruhkan tangannya secara kuat untuk menarikku. Terlihat sekali ada kebahagiaan saat wajahnya sudah berseri-seri penuh kegirangan.


"Ayo Alex, kita naik itu?" Ajaknya lagi.


"Aah ... gak mau non, aku takut ketinggian. Non Amel saja naik sendirian, biar kutunggu di sini," tolakku halus akibat takut melihat wahana kincir angin yang menjulang bulat sangat tingginya.


"Ternyata kamu cemen dan penakut juga, Ayolah ... ayo Alex! masak membiarkan aku naik sendirian, kalau jatuh gimana? Kalau ada apa-apa denganku gimana? 'Kan kamu juga yang repot nanti, serta bakalan akan terkena marah," regekkannya dengan beribu alasan supaya aku ikut bersamanya.


"Heeh, iya ... iya non," jawabku lantang berani tapi hati terasa ciut sebab masih ada rasa takut menaiki wahana.


Wahana baru beberapa detik dijalankan, mata sudah berusaha terpejam dengan tangan mengengam erat yang tak mau melepas begitu saja ganggang besi kursi. Kaki dan tubuh terasa mulai gemetaran dan rasa pusing datang akibat putaran demi putaran wahana, rasanya membuat perut seperti di aduk-aduk mulai mual ingin muntah.

__ADS_1


"Ha ... ha ... ha," suara tertawa terkekeh majikan yang melihatku beringsut ketakutan.


"Non Amel!" bentakku kesal.


Kalau bukan demi suka terhadap dirinya, pasti tak mau aku menuruti kemauannya.


"Ha ... ha, maaf Alex ... maaf. Habisnya lucu sekali melihat kamu ketakutan, cowok kok penakut betul," ucapannya mengejek.


"Non Amel. Awas ya ... kamu," ucapku seraya menghampirinya yang sedang duduk berlawan denganku.


Tanpa ampun aku mengelitiknya di bagian perut secara terus-menerus.


"Ampun ... ha ... ha ... Alex ... ampun, sudah ... sudah," permohonannya supaya aku segera berhenti mengelitikinya.


"Tiada ampun bagimu, Non. Gimana rasanya?" ujarku yang masih tetap mengelitik.


"Aaaa ... aaw," suara tertahannya, sebab rambut tersangkut dikancing bajuku.


"Eeh ... maaf non. Aduh, pasti itu sakit? Diam dulu, biar aku mengurainya untuk melepas biar tak tersangkut," tawarku gelisah.


Secepatnya diri ini melepaskan rambut yang tersangkut, sebab majikan sudah kelihatan meringis merasakan kesakitan.


"Iya, Alex. Cepetan sakit nich!" ucapnya dengan tangan berusaha membantu melepas rambutnya.


"Sabar non, hampir selesai ini. Aku akan pelan-pelan mengurainya," jawabku yang sudah siap melepaskan rambutnya.


"Naah, 'kan sudah. Heeh, akhirnya bisa terlepas juga," ucapku merasa lega.


Saat selesai membantu melepaskan rambut yang tersangkut, tanpa sengaja tangan kami saling bersetuhan saat kami sama-sama sedang mencoba merapikan rambutnya, yang agak sedikit berantakan akibat ulah kancing bajuku tadi. Wajah kami tanpa sengaja ikut berdekatan dan hanya menyisakan jarak beberapa centi saja. Rasa aneh kini mulai menyerangku, tak ingin berlama-lama menatapnya kepala secepatnya kutundukkan.


"Alex?" panggilnya yang masih menatapku secara nanar.


"Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan padaku," ujarnya dengan lemah lembut, mencoba berbicara padaku lagi.


"Non Amel?" ucapku memasang wajah terkejut.


"Maafkan aku Alex, jika selama ini selalu saja membuat kamu kerepotan atas sikapku yang selalu manja padamu. Aku melakukan semua itu, sebab tak ingin kamu jauh dariku, dan ... dan---?" Suaranya tertahan berbicara.


"Dan apa Non?" tanyaku penasaran.


"Dan selama ini aku telah jatuh cinta padamu?" ungkapan perasaan majikan dengan kepala tertunduk, dibarengi oleh lelehan air matanya yang sudah mulai perlahan-lahan mengalir di pipi.


Deeggg, hatiku terasa terkejut atas perkataan majikan sendiri, yang ternyata selama ini sikapnya yang selalu manja dan lengket terus-menerus padaku disebabkan oleh rasa cintanya padaku. Kini hati begitu bersorak ria, yang ternyata wanita dihadapanku sekarang telah membalas cintaku yang mana selama ini juga diam-diam diri ini telah menyukainya.


"Aku juga mencintai non Amel, tapi--?" balikkan ungkapanku dengan nada suara tertahan.


"Tapi apa Alex?" tanyanya.


"Cinta kita tak mungkin akan bersatu, karena sebuah penghalang sudah terbentang di depan mata yaitu atas status kita bagaikan langit dan bumi." penjelasanku.


"Tapi Alex, aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar tak ingin kita berpisah dan kehilanganmu," Suara tangisan Amel tiba-tiba pecah dalam pelukanku.


"Hik ... hiks," suara sendu tangisnya terasa pilu ketika aku mendengarnya.


"Sudah non, jangan menangis lagi. Jika ada jalan pasti cinta kita tetap akan bersatu dan aku akan tetap mencoba berusaha sebisa mungkin memperjuangkan itu," kata-kata romantisku yang berusaha menenangkannya.


"Benarkah?" tanyanya tak percaya.


Cuup, lagi-lagi sebuah ciuman secara kilat terdarat dipipiku.


"Benar, non Amel sayannkk." gombalan mautku terlontar muncul secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa yang kamu barusan bilang?" tanyanya pura-pura tidak mendengarnya.


"Tahu, ah."


"Ayolah Alex, tadi itu kamu bilang apa? tadi beneran gak kedengaran, ayo ... ayolah Alex," rengeknya dengan penuh kemanjaan.


"Eghm ... emm, AMEL SAYANG," ujarku mengeraskan suara yang diriringi sudah terasa sedikit agak malu.


"Hi ... hi ... hi, ternyata kamu orangnya pendiam tapi bisa romantis juga," pujinya sambil meledek.


"Oh ya, Alex. Memang kamu jatuh cinta sama aku sejak kapan?" Pertanyaan polosnya.


"Aah ... non Amel ini, buat malu aku saja," ucapku sudah tersipu malu-malu atas pertanyaannya.


"Ayo dong Alex. Kasih tahu, ya ... ya. Sedikit saja!" bujuknya dengan mengoyang-goyangkan lenganku dengan karakter manjanya yang sudah datang, supaya pertanyaannya segera kujawab.


"Sudah non, malu ah aku menjawabnya."


"Yaah, Alex. Kamu sekarang ngak asyik orangnya," ujarnya dengan bibir monyong sudah cemberut tanda tak senang.


"Heeeh, iya ... iya akan kujawab, sejak ... sejak ... kapan ya ....?."


"Aaah lupa. Eem, sejak kejadian masuk ke kamar non Amel, Itu lho! Yang tiba-tiba aku nyelonong masuk, tapi ketika itu non Amelnya sedang melepas pakaian," jawabku mencoba mengerjainya.


"Benarkah? Waahhh, kamu pintar-pintar tapi otaknya mesum juga," ucapnya dengan wajah berkerut seperti tidak suka atas jawabanku.


"Ha ... ha ... ha," gelak tawaku puas membuat majikan Amel kini berbalik merasakan malu.


"Tertawa ... tertawa ... puas ... puas," sewot ucapnya tak suka atas perkataanku.


Padahal sebenarnya niat hati aku cuma hanya bercanda dan hanya ingin mengodanya, tapi kelihatan sekali majikan benar-benar marah.


"Ha ... ha ... ha ... aduuuh," keluh saat perutku mulai terasa sakit akibat tertawa puas tak terhenti.


"Dasar, awas kamu alex. Akan kubuat perhitungan sama kamu nanti, kalau kita sudah turun dari sini," ancamnya penuh emosi


"Gak kok non Amelku sayang. Aku mulai jatuh hati sejak ibuku bekerja di rumah kamu, dan pertama kali melihat wajah non Amel itu, yang mana membuatku sudah mulai tertarik dan jatuh cinta," senyum kepuasan terbit sudah tertera di wajahku.


Senyuman terus saja terukir, akibat merasa senang mengungkapkan isi hati yang selama ini sudah terpendam lama.


"Benarkah itu? Berarti sejak kecil, ketika kita sama-sama masih di sekolah dasar(SD) dong? Wah ... wah, ternyata bisa bernyali besar juga, bisa jatuh cinta sejak kecil. Pasti sejak kecil kamu selalu terbayang wajahku dengan pikiran-pikiran kotor nih, pasti itu?" tuduhnya.


Cletuk ... suara tanganku menjitak kening Amel.


"Aauuw ... sakit Alex," nada kesal Amel tak terima.


"Maaf ... maaf," kuelus-elus keningnya dibekas jitakankku.


"Habisnya kamu godaiin terus dari tadi! Sedangkan kamu sudah sejak kapan mulai suka padaku?" tanyaku balik.


"He ... he ... he, mau tahu aja? Atau benar-benar mau tahu?."


"Ayo jawab! Itu namanya gak sportif dan gak adil," ketus ucapku.


"Emmmm, sejak kapan ya?" majikanku kini sedang memasang ekspresi berpikir keras mencari jawaban yang tepat.


"Oh ... iya ... iya. Aku jatuh cinta sama kamu sejak dewasa," jawab majikan santai.


"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.


"Aaah ... Alex nanya terus, kepo banget. Yang terpenting sekarang, kita harus nyari solusi dan jalan bagaimana cara agar kita bisa bersatu, tanpa ada halangan dari orang tuaku."

__ADS_1


Cuuppp... untuk yang ketiga kalinya, dengan sikapnya yang agresif majikan sudah mendaratkan ciuman lagi, tapi yang kali ini cukup berbeda yaitu secara kilat Amel sudah meluncurkan ciuman dibibirku.


Setelah berjam-jam menaiki wahana kincir angin, kami masih saling duduk berdekatan dengan tanganku melingkar di perutnya, yang sudah sama-sama saling mengenggam erat tanga terasa tak ingin melepasnya.


__ADS_2