Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Menyelidiki ibu


__ADS_3

Walau aku dan ibu sudah kembali ke tanah Jakarta, kami tetap saja menyewa untuk ngekos. Sebelum aku berhasil menang atas hak rumah itu, dan ada tanda tangan resmi bahwa akulah yang berhak atas semua harta, aku tak akan kembali ke rumah asli milikku dulu yang kini masih dikuasai ayah kandung dan keluarga tiri.


Iwan calon suamiku sudah memberi tawaran untuk menempati rumah yang dibelikannya, tapi semua itu kutolak halus, sebab tidak ingin dicap sebagai wanita yang menikah karena cuma menginginkan hartanya atas menjadi calon istri. Biarlah orang tahu bahwa kami menikah karena ingin betul-betul untuk membina rumah tangga bukan semata-mata menginginkan harta.


Walau tetap merasa belum siap menerima kenyataan pahit saat dalam hati ini masih mencintai Alex, rasa ingin menikah dengan Iwan harus tetap terjalani sebab sudah terikat oleh janji untuk dijadikan istrinya.


"Ibu ... ibu?" panggilku, disetiap keliling sudut rumah.


"Ibu? Dimanakah kamu, ibu?" panggilku ulang.


"Kok sepi amat, apa ibu belum pulang juga, ya?" guman hati yang heran.


Aneh sekali rasanya jam segini ibuku belum pulang berjualan. Hari nampak sudah mulai magrib, tapi ibu belum menampakkan diri untuk pulang juga. Kini hati mulai diliputi rasa gelisah, dengan kaki terus saja mondar- mandir ke kiri dan kanan, karena khawatir saat beliau belum pulang-pulang juga.


"Aduh, kemana ibu sekarang, kok belum pulang-pulang juga? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada beliau? Benar-benar aneh? Setauku belum pernah ibu pulang selarut ini?" Kegundahanku bercampur oleh rasa gelisah, yang kini menunggu beliau didepan teras rumah.


Semenit ... dua menit ... hingga beberapa menitpun waktu telah berjalan cepat.


"Assalammualaikum," suara ibuku mengucapkan salam.


"Walaikumsalam," jawabku.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, bu!" guman hati yang lega.


Langsung saja diri ini berlari menghampiri beliau dengan cara memeluk tubuh beliau.


"Ibu gak pa-pa? Kok pulangnya terlambat banget hari ini?" tanyaku sambil memeriksa tubuh beliau disana-sini takut jika ada sesuatu luka.


"Ibu baik-baik saja, Amel! Ayo kita masuk," jawab beliau sambil meletakkan alat bekas jualan didalam rumah.

__ADS_1


"Beneran, ibu baik-baik saja?" Imbuhku bertanya.


"Iya, nak!" jawab ibu dengan menyentuh pipiku perlahan.


"Terus kenapa hari ini begitu terlambat sekali pulang, sampai-sampai datang kerumah selarut ini?" tanyaku penasaran.


"Maafkan ibu yang sudah membuat kamu khawatir. Tadi ibu ada urusan sebentar sama tetangga," jelas beliau


"Ooh," jawabku ber'oh ria.


"Benarkah kamu ada urusan sama tetangga? Aneh bener, ngak biasa-biasanya ibu ada urusan tapi sambil membawa alat-alat dagangannya. Kalau beneran sama tetangga, bukankah alat dagangan ditaruh dirumah dulu, tak payah dibawa segala? Benar-benar mencurigakan sekali gelagat ibu sekarang," guman hati yang tak percaya.


Hari demi hari gelagat ibu semakin mencurigakan. Namanya bukan Amel, kalau tak kepo mencari tahu, sebenarnya apa yang tengah disembunyikan ibu.


"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya yang tengah ibu sembuyikan dariku? Tiap hari kenapa selalu pulang terlambat? Bukankah selama ini diatas jam dua siang sudah pulang berjualan? Tapi kali ini kenapa selalu habis magrib pulang dengan cara membawa barang untuk berjualan? Ya, aku harus cari tahu sendiri kebenarannya, yang sedang ibu tutup-tutupi sekarang ini," guman hati yang heran.


Hari ini aku sudah meminta izin untuk cuti kerja seharian penuh, agar dapat mencari tahu sebenarnya apa yang dilakukan ibu. Kecurigaan ini makin kuat saja, sebab kian hari beliau semakin telat pulang. Perlahan-lahan aku mengikuti langkah beliau dari belakang. Tak ada gelagat aneh selama beliau berkeliling menjajakan dagangannya, sampai akhirnya beliau berhenti disalah satu rumah kos, dengan munculnya seorang laki-laki dengan wajah bertutupkan masker.


"Siapakah pria itu sebenarnya? Kayaknya aku tak pernah mengenal pria itu? Aneh betul gelagat ibu tadi, kayak akrab banget sama laki-laki itu?" rancau hati yang binggung.


"Haaaah, apa yang dilakukan ibu disana, tak mungkin ibu punya gebetan? Huff, masak sih? Aah, aku tak percaya, tidak ... tidak. Aneh juga, masak ibu sudah tua begitu masih mau dengan pria-pria masih muda, yang kira-kira sepantaran denganku. Astagfirullah, apa yang sedang memasuki otakku, sehingga telah berburuk sangka pada ibu," Hati tengah berbicara dengan rasa aneh.


"Aku harus mencari tahu. Biar lebih jelas aku harus mendekati rumah itu, atas apa yang sebenarnya terjadi ini?" guman hati yang mantap.


Karena diri ini diliputi rasa penasaran akut, perlahan-lahan aku mulai mendekati rumah itu dan mencoba menguping disebalik pintu, untuk mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan?.


Lama sekali aku menunggu suara, namun tak terdengar percakapan sama sekali, hingga kini berusaha memutari rumah kos dari sebelah kanan yang kemungkinan terhubung oleh dapur.


"Gimana jualan hari ini?" Suara pria itu bertanya pada ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, hari ini lumayan banyak yang beli," ucap syukur ibu.


"Alhamdulillah, aku juga ikut senang juga," balas ucap pria itu.


"Apa kamu sudah makan? Ibu tadi sempat memasakkan lauk makanan kesukaanmu?" suara ibu didalam yang telah terdengar jelas olehku.


"Ibu? Kenapa ibu membahasakan pria itu untuk memanggil, ibu? Aneh bener?" guman hati yang sudah binggung.


"Belum. Baru saja aku sampai rumah, sebab habis kerja setengah hari saja. Jadi kini belum sempat masak," jelas pria itu.


"Biar ibu tanakkan nasi dulu. Lauknya kamu makan sama yang ibu buat dan bawakan," Ramahnya ibu berkata.


Hampir beberapa detik tak ada lagi percakapan dari mereka.


"Alex, kamu mau ibu bubuhkan banyak atau sedikit saja nasinya?" teriak ibu bertanya.


"Apa ... Alex? Alex?" guman hati ini sedang binggung.


"Apa maksudnya? Alex? Aah, apakah aku salah dengar ibu mengucapkan kata Alex tadi? Tapi aku tadi beneran ngak salah dengar, lagian telingaku masih baik-baik saja alias ngak tuli," Hati yang terus merancau kebinggungan.


Rasa kebingunganku kian menjadi-jadi, sehingga telinga ini kutempelkan lebih dekat lagi disekitaran tembok dengan jendela kecil sudah terbuka, untuk mencoba lagi mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Ini, nak. Makanlah, mumpung nasinya masih hangat," Keramahan tawar ibu.


"Iya bu, terima kasih. Alex selalu saja merepotkan ibu, Maaf bu!" ucap pria itu tak enak hati.


"Iya, ngak pa-pa. Ini adalah kewajibanku juga sebagai ibu kamu," balas ujar beliau.


"Makasih, bu. Alex makin sayang saja sama ibu?" Jawab suara laki-laki didalam.

__ADS_1


"Ibu? Anak? Alex? Apakah benar yang aku pikirkan dan dengarkan sekarang? Tidak ... tidak, ini tidak mungkin. Bukankah Alex sudah meninggal? Apakah ini hanya mimpi belaka bahwa ibu tadi memanggil Alex? Aaah, tapi--? Tapi, beneran ngak salah ibu tadi memanggil pria itu dengan sebutan nak dan Alex. Apakah didalam beneran kamu Alex? Tapi, kenapa rasanya aku masih tak percaya bahwa itu beneran kamu? Aku harus buktikan sekarang siapa pria didalam. Ya aku harus buktikan siapa dia, apakah benar-benar Alex atau bukan?" Hati yang bertanya-tanya binggung lagi.


Aku begitu tertegun melongo, tak percaya yang kudengarkan sekarang, kian lama obrolan mereka mengarah sebagai anak dan ibu. Kaki ini rasanya mulai terkulai lemas, dan langkah semakin mundur-mundur sedikit, agak jauh dari jendela dapur. Tubuh terasa agak melayang-layang berputar, bagai tak bisa menopang tubuh diri sendiri. Rasa tak percaya bahwa Alex kemungkinan masih hidup, seakan-akan membuat jantung begitu syok, dengan sejenak terasa sekali sudah terhenti detakannya. Tak butuh waktu lama aku mencoba menetralkan kesadaran, yang segera ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ini?.


__ADS_2