
Semua urusan telah diserahkan kepada pihak kepolisian, kami hanya bisa menunggu menerima informasi lanjutan dari pihak kepolisian, untuk mengetahui keadaan Alex dan pak Jono, yang hilang tidak tahu lagi keadaannya saat ini ketika gudang terbakar.
Tatapanku sudah begitu kosong sebab masih tidak percaya atas kejadian yang menimpa Alex, hingga kini benar-benar membuatku begitu sangat syok.
"Ada apa ini nyonya, tuan?" tanya bik Sari ibu Alex yang datang menghampiri kami, diruang tengah sedang berkumpul dalam kesedihan.
Bik Sari mungkin sedikit binggung, akibat dirumah banyak sekali polisi yang sedang berkumpul, yaitu untuk menginformasi kejadiaan yang sesungguhnya, serta mencari bukti-bukti dengan menginterogasi aku, mama, dan Iwan.
"Itu bik ... iii ... tu!" suara mamaku terbata-bata.
"Sudah ma, biar papa saja yang memberitahu bik Sari. Mama istirahat saja didalam dan bawa Amel ikut serta juga," perintah papa pada kami.
"Baik, pa!" jawab mama lesu.
Mama sudah mengulurkan tangan untuk mengajak pergi, tapi aku tak mau menurut begitu saja, sebab masih tak tega dan ingin melihat kondisi bik Sari jika nanti mendengar penjelasan kami.
"Ada apa ini tuan? Dan kamu Iwan, mana Alex? Bukankah kalian tadi pagi-pagi pergi bersama? Mana ... mana dia?" tanya bik Sari bertubi-tubi, dengan wajahnya clingak-clinguk seperti sedang mencari Alex.
"Maafkan saya, bu!" jawab Iwan tertunduk lesu tak berani menatap wajah bik Sari.
"Biarkan om saja yang menjelaskan, Iwan."
"Maafkan kami, bik. Amel dan istriku tadinya telah diculik. Alex bersama pak Jono telah menolong mereka untuk kabur, tapi naasnya saat sedang meminta bala bantuan kepada pihak kepolisian dan ketika pihak mereka sampai ke tempat kejadian perkara semuanya sudah hangus terbakar. Alex dan pak Jono kini sudah hilang? Dan sampai sekarang belum ada kabar di mana mereka sekarang," Penjelasan panjang lebar papa.
"Apa?" Suara keterkejutan bik Sari.
Bhuuugh, suara tubuh bik Sari secara tiba-tiba pingsan dilantai. Kami semua yang ada di ruangan tengah begitu terkejut dan cemas melihat keadaan bik Sari sudah memejamkan mata akibat pingsan.
"Bik ... bik, ayo bangunlah!" ucap khawatir mama sambil menepuk-nepuk pipi.
"Kita langsung saja angkat tubuh beliau," ucap Iwan memberi ide.
"Iya, Iwan. Ayo!" Simbatan ucap papa.
Tubuh beliau sekarang sudah diangkat dipembaringan. Minyakpun sudah beberapa kali tercium di hidung beliau, dengan tak lupa tangan mama terus ditaruh ditangan Bik Sari untuk mengosok-gosoknya secara lembut supaya sadar. Segala cara dan perangsang sudah dilakukan, namun bik Sari tak kunjung jua untuk segera siuman dari pingsannya.
"Alex ... Alex?" panggil bik Sari sudah siuman diiringi berderaikan air mata.
"Hik ... hik ... hiks," pilunya suara bik Sari menangis.
"Maafkan kami bik, maaf. Sebab tidak bisa menolong, Alex!" ucapku yang langsung memeluk beliau.
Kami semua sudah terhanyut bersedih menangis. Sedih rasanya melihat keadaan bik Sari sekarang, beliau terlihat begitu sendu menangisi anaknya yang dikabarkan telah hilang, dimana yang tak kunjung jua ada kabar dari pihak kepolisian bahwa Alex sudah ditemukan apa belum.
********
__ADS_1
Pagi hari telah cepatnya menyapakan sinarnya yang kian terang. Kami semua tidak bisa tidur nyenyak apalagi ibunya Alex, yaitu saat beliau nampak begitu mondar-mandir ke kiri dan kanan dari semalaman. Walau wajah beliau yang terlihat tenang, tak dapat dipungkiri telah menyembunyikan kesedihan dan rasa kekhawatiran yang tengah menghampiri beliau.
Iwanpun sampai-sampai terpaksa menginap dirumahku, sebab dia juga ingin menunggu kabar, serta mungkin sedikit trauma kejadian yang sempat membuatnya syok. Dia berkata, tidak bisa meninggalkanku begitu saja dalam kesedihan, jadi dia tetap setia sebagai teman menemani sampai saat ini.
"Apa sudah ada kabar tentang Alex, nyonya?" tanya bik Sari saat kami sedang santai duduk diruang tengah.
"Belum, bik!" Serak jawab mama, yang kini melangkah menghampiri.
"Bibik ngak pa-pa, 'kan? Yang sabar, bik!" ujar mama sambil mengelus pelan bahu beliau.
"Insyaallah, nyonya!" jawab beliau memberikan senyuman manis namun penuh paksa.
******
Kini sudah dua hari berlalu atas kejadian penculikan dan hilangnya pak Jono dan Alex. Belum ada sedikitpun kabar berita dari pihak kepolisian, untuk menemukan dimanakah mereka?.
Tok ... tok, pintu rumah telah diketuk seseorang.
Ceklek, pintu telah kubuka dan kini nampak dua orang dari pihak kepolisian tengah berdiri tegak ingin bertamu.
"Silahkan masuk, Pak!" ucapku mempersilahkan.
"Terima kasih."
Setelah dua petugas kepolisian duduk dikursi ruang tamu, akhirnya aku secepat mungkin memberitahu orangtua untuk menemui mereka, karena siapa tahu ada kabar berita yang ingin disampaikan tentang Alex.
"Siang juga," jawab papa tegang.
Kedua orangtua dan aku sekarang sedang berkumpul duduk di sofa ruang tengah, akibat penasaran kedatangan tamu dari pihak kepolisian. Wajah kami semua mulai diliputi rasa cemas, menunggu apa yang akan di kabarkan pihak kepolisian selanjutnya.
"Ada yang ingin kami sampaikan tentang penculikan itu," ucap terang salah satu pihak kepolisian.
"Iya pak, ada apa?" tanya papaku yang tengah diliputi wajah rasa was-was atas kegundahan dalam kecemasan.
"Kami sudah menemukan dua kerangka mayat, tapi kami belum tahu milik siapakah kerangka-kerangka itu? Kami akan memberitahu kabar selanjutnya, setelah ada kabar visum dari pihak rumah sakit jika sudah keluar semua hasilnya nanti," terang salah satu pihak kepolisian.
"Apa? Braak ... kluntiiing," suara bik Sari kaget.
Bik Sari begitu terkejut, yang tangannya sedang membawa nampan berisikan minuman untuk disuguhkan pada pak polisi, tapi karena kekagetan semuanya menjadi jatuh berserakan.
"Apa? Kerangka?" tanya beliau lagi dengan membulatkan mata.
"Iya, bu. Ada kerangka mayat yang sudah kami temukan," jawab pak polisi santai.
"Tidak ... tidak, pasti semua itu bohong!" cakap bik Sari tak percaya.
__ADS_1
Bhuuugh, suara tubuh bik Sari untuk kesekian kalinya tiba-tiba jatuh tergolek pingsan lagi, ketika mendengar kabar Anaknya Alex. Kami semua secepat kilat menghampiri tubuh beliau yang sudah tergolek lemah dilantai keramik.
"Bik ... bik Sari? Bangun bik ... bangun," panggil mama dalam kebingungan.
"Ayo kita angkat ke atas sofa!" perintah papa.
"Baik!" jawab pak polisi mencoba membantu.
Dengan bantuan pak polisi, kini tubuh bik Sari sudah diangkat dan dibaringkan di atas sofa masih dalam keadaan memejamkan mata.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak, Bu! Kalau ada kabar berikutnya yang menyangkut atas kejadian ini, kami akan secepatnya memberitahu pada pihak kalian," cakap salah satu pihak polisi.
"Iya pak, terima kasih atas bantuannya," jawab papa.
Mama dan aku kini sibuk mencoba menyadarkan bik Sari. Sedangkan papaku, mengantar bapak polisi keluar yang ingin pergi dari rumahku.
"Astagfirullah, ayo bik bangunlah!" ujar mama khawatir, yang terus saja mendekatkan minyak untuk dihirup oleh beliau.
Mata bik Sari akhirnya perlahan-lahan mulai terbuka, namun wajahnya tersirat ada sebuah kesedihan yang mendalam, atas kabar kehilangan Alex anaknya. Aku dan mama langsung saja memeluk bik Sari dengan eratnya, agar mengkuatkan beliau atas mendengar kabar yang tak mengenakkan itu.
"Alhamdulillah, akhirnya bibik sudah sadar!" ucap mama lega melepas pelukan.
"Alex ... alex?" panggil beliau yang sudah meneteskan embun bening dari sudut pelupuk mata.
"Nyonya ... tolong nyonya, katakan bahwa ini semua hanya mimpi, aku mohon nyonya! Hik ... hiks, katakan ... tidak ... tidak, aku mohon katakan bahwa kerangka itu bukan milik Alex, aku mohooon nyonya! Bahwa semua itu tidak benar, hik ... hiks ... aaaah," Tangisan pilu bik Sari dengan suara histerisnya.
"Aku mohon bik Sari jangan begini," jawaban mamaku yang kini ikut menitikkan airmata.
Diriku sekarang dipeluk papa, sebab tak kuasa rasanya melihat bik Sari menangis begitu sedihnya.
"Sabar ... bik Sari harus sabar. Ini semua ujian ... sabar, bik!" ujar mamaku mencoba menenangkan beliau lagi.
"Sabar? Tidak ... tidak, Alex telah berjanji padaku bahwa dia akan selalu menemaniku. Kalian semua pasti bohong, pasti itu bukan Alex, bukan ... bukan, kerangka itu bukan punya Alex," tangis beliau yang kian pecah berbicara dalam kebingungan.
"Bik Sari jangan begini, bik! Aku mohon," ucapku yang kini juga ikut menenangkan beliau, dengan cara mengelus-elus belakang punggung.
"Non ... non Amel, kamu tahu Alex 'kan! Bahwa dia sangat mencintaimu. Bibi juga tahu bahwa Alex telah berjanji tidak akan meninggalkanmu, jadi aku mohon katakan bahwa itu bukanlah Alex. Ayo non, katakan! Hik ... hiks," Kekuhnya bik Sari berkata, yang masih tak percaya atas kerangka yang sudah ditemukan.
"Tidak ... tidak, Alex. Tidak ... aaaa!" Suara bik Sari tersedu-sedu menangis masih tak percaya atas semuanya.
"Lihat ulah kalian. Alex begitu baiknya mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkan kalian, tanpa memikirkan keadaannya sendiri," Kemarahan bik Sari tiba-tiba dalam tangisan.
"Iya bik ... iya, kami tahu. Jadi kami mohon bibik tenang dulu," cakap papaku yang kini ikut mencoba menenangkan bik Sari.
"Tidak tuan ... tidak. Katakan itu bukanlah anakku. Aaaah ... Alex, anakku yang begitu malang. Dulu semua orang membencimu karena miskinnya kita, tapi lihatlah betapa kayanya hatimu sekarang menaruhkan nyawa demi orang lain. Alex ... jangan ... jangan tinggalkan ibumu nak. Alex anak ibu, yang selama ini selalu kusayang, kenapa kamu harus mendahului, ibu? Kenapa kamu meninggalkan, ibu? Ibu kini begitu sendirian. Jalanmu masih panjang Alex anakku, kenapa engkau pergi duluan," Tak henti-hentinya bik Sari merancau tersedu-sedu menangisi kepergian anaknya yang seperti tak rela.
__ADS_1
Rasa sedihku tak bisa diungkapkan lagi. Tenyata perasaanku yang kehilangan cuma terasa kecil sekali dibandingkan ibu kandungnya yaitu bik Sari. Beliau begitu terpukul mendengar kabar bahwa Alex telah meninggal. Kami semua berharap bahwa itu bukan kerangka Alex, tapi pada kenyataanya bahwa ada dua kerangka yang ditemukan, hingga tak dapat dipungkiri lagi bahwa Alex sekarang memang sudah meninggal