
Semua kesalahan bisa dimaafkan, jika orang yang berbuat menyakiti sudah menyadari atas kesalahan itu. Untung saja mama tak terlalu larut akan kesalahan-kesalahan alex, walau dia sudah tiada baru ada kata sadar dan maaf.
"Alhamdulillah, akhirnya mama sadar juga walau sudah terlambat!" ucapku dalam hati merasa gembira.
Mamaku sudah mengembalikan semua fasilitas yang sempat disitanya. Setelah kepergian Alex, mama baru menyadari satu hal dari kepribadian Alex, yaitu kebaikkan hatinya yang tanpa pamrih dan pilih kasih selalu mengedepankan kepentingan orang lain.
"Amel, kamu baik-baik di rumah bersama bik Sari. Mama dua hari ini akan mengikuti papa kamu, untuk keluar kota menyelesaikan bisnisnya. Kamu jangan nakal-nakal. Dan kamu Iwan, tolong jagain Amel selama tante dan om tidak ada disini!" ujar mamaku berpamitan.
"Baik tante, Iwan akan selalu menjaga Amel dengan baik," jawaban kesanggupan Iwan.
Iwan datang ke rumahku, sebab aku dan dia janjian untuk belajar kelompok bersama.
"Baik-baik di jalan ma, pa!" ucapku tak rela.
"Iya sayang, kamu juga!" ucap mamaku sambil cipika cipiki pipi.
"Jaga Amel baik-baik, kami titipkan dia padamu, bik!" ujar papa mengamanatkan pada bik Sari.
"Baik tuan," jawab bik Sari menganguk.
"Jangan pernah tinggalkan dia, Bik. selama kami tidak ada disisinya, jagalah dia baik-baik dan sayangilah Amel seperti anak kamu sendiri. Suruhlah dia makan banyak-banyak, lihat! Betapa badan dia begitu kurus sekarang," Kini giliran mama berpesan pada bik Susi.
"Iya, nyonya. Pasti saya akan menjga non Amel dengan sebaik-baiknya," saut jawab bik Susi.
"Makasih, bik."
"Sini peluk mama, sayank!" ujar beliau yang langsung memelukku dengan merentangkan tangan lebar-lebar.
Pok ... pok, suara tangan mamaku menepuk-nepuk pelan pundakku.
"Beneran ya Amel, jangan nakal-nakal sama bibi," cakap mama sendu yang tiba-tiba menitikkan airmata tersedu-sedu.
"Ma ... mama kenapa menangis? Bukankah cuma dua hari ke keluar kota, perginya?" ujarku seraya menghapus airmatanya beliau secara perlahan-lahan.
"Iya ... ya Amel? kenapa mama harus cengeng menangis begini, padahal cuma dua hari saja pisah dengan kamu," jawab tak tahunya mama atas ucapan sendiri.
"Entah mengapa ketika memelukmu, mama tak sengaja mengeluarkan airmata, yang sepertinya tak tega sekali untuk meninggalkan dan melihat kamu sendirian sekarang," imbuh ucap beliau, nampak sudah ada kesedihan tersirat dalam wajah mamaku.
"Mama, gak usah khawatir. 'Kan ada bik Sari, yang selalu siap siaga menjaga Amel," ujarku menenangkan beliau.
"Mungkin ini akibat mama jarang memeluk diriku, sebab kerjaannya cuma marah melulu, sih!" Singgungan ucapanku.
"Hemm, iya Amel. Maafkan mama ya sayang, habisnya kamu bandel dan nakal, sih!" balasan ucap mama, dengan tangannya mencubit pipiku sayang.
"Heheeh, ya maaf ma."
"Ya sudah, kalian baik-baik semua dan jaga diri baik-baik," imbuh ucap beliau seblum benar-benar pergi.
"Kami pergi dulu, sayang!" ucap papa pamit saat kucium tangan punggung beliau.
"Iya pa, hati-hati."
__ADS_1
"Bye ... bye ... bye," Laimbaian tangan kedua orangtuaku saat mulai memasuki mobil.
"Semoga mereka selamat sampai tujuan, amin!" gumanku dalam hati.
Mobil orangtuapun sudah melesat jauh tak nampak lagi bodynya. Tanpa terasa air mataku yang kini gantian tiba-tiba sudah menetes, seakan-akan tak rela mama pergi meninggalkanku. Entah mengapa hati begitu bergetar sedih sekali, saat ucapan demi ucapan orangtua tadi akan pamit. Firasat hati begitu tak enak sekali, seperti akan terjadi sesuatu terhadap kedua orang tuaku.
"Amel ... Amel sini! Ajarin aku menyelesaikan soal-soal matematika ini dong!" ucap Iwan meminta tolong, saat diriku juga sibuk mengerjakannya.
"Ngerjain sendiri, kenapa? Aku juga pusing nih, mencari jawaban soal-soalnya." jawabku menolak.
"Ayolah Amel! Bantuin kenapa," pintanya.
"Aah tahu, Iwan. Kamu pasti bisa kok mengerjakannya sendiri, cobalah dulu sedikit-sedikit kenapa!" bantahan tolakku.
"Beneran nih Amel. Ini tuh susah sekali soal-soalnya bagiku untuk menyelesaikannya. Heeh, andai saja Alex masih disini, pasti kita akan cepat mengerjakannya tanpa harus berpikir pusing-pusing ria begini," ucapnya mengeluh.
"Iya mungkin," jawabku serak.
"Eeh, maaf ... maaf Amel. Sungguh, aku tidak bermaksud dan ada niatan untuk menyinggung membicarakan, Alex!" Tak enak hati Iwan, yang melihat wajahku mulai sendu.
"Tidak mengapa, Iwan. Hatiku sekarang sudah mulai terobati dan perlahan-lahan sedikit melupakan kenangan-kenangan saat bersamanya dulu," jelasku lemah.
"Baguslah itu, sebab kamu sekarang sudah mulai bangkit akan masa lalu yang menyedihkan," tutur Iwan senang.
"Benar itu."
Dengan segenap yang aku bisa, otak berusaha membantu Iwan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kami berdua berusaha bersama-sama untuk saling mengerjakan soal-soal yang sulit terpecahkan. Benar kata Iwan seandainya Alex disini untuk membantu, pasti kami akan mudah untuk menyelesaikannya.
Gelak tawaku bersama Iwan begitu mengelegar di rumahku kami, yang saling bercanda bersama. Ucapannya yang selalu lucu, membuat diri ini melupakan sejenak semua kesedihan yang sedang terjadi.
Kring ... kring, suara telepon rumah sudah berdering.
[Hallo, pada siapa ini?]
[Hallo. Maaf, apakah ini dengan kediaman mbak Amel?]
[Iya mas, maaf ini dengan siapa? Dan perlu apa denganku?]
[Sebelumnya maaf mbak, kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan, bahwa kedua orang tua mbak Amel sekarang telah mengalami kecelakaan akibat menabrak pembatas jalan ]
[Apa?]
Deg ... jediiar, aku langsung terkulai lemas luruh ke lantai, telephone yang tadi terpakai, kini tiba-tiba sudah jatuh akibat terlepasnya dari tangan.
"Ada apa Amel?" tanya Iwan kaget, karena melihatku sudah pucat lemas.
"Orang tuaku iwan ... orang tuaku!" jawabku pilu sudah mengeluarkan airmatan
[Hallo, ada apa ini?]
[Ini kami dari pihak kepolisian, untuk memberitahu bahwa keluarga mbak Amel sedang mengalami kecelakaan. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Di mohon untuk pihak keluarganya, segera datang menjenguk dan datang ke rumah sakit segera, karena keadaan para korban sudah begitu parah]
__ADS_1
[Baa ... ba ... baik, pak]
Tut ... tut, suara sambungan telah terputus.
"Ayo Amel ... ayo kita harus segera kerumah sakit!" ajak Iwan yanyg sudah dilanda panik dan khawatir.
"Iiii ... iya, Iwan. Kita harus segera kesana untuk melihat keadaan orang tuaku," jawabku tenang yang kini sudah menghapus airmata.
Kami semua akhirnya secepatnya meluncur ke rumah sakit yang dituju, yaitu yang sudah diberitahukan oleh pihak kepolisian. Aku begitu syok, dalam sepanjang perjalanan selalu berderaian air mata karena khawatir dan gelisah. Tapi aku begitu bersyukur ada ibu Alex yang bisa menenangkan, untuk meredakan tangisan ini dengan cara terus memeluk.
"Permisi suster ... permisi. Apakah disini tadi ada korban yang baru saja kecelakaan?" Tak sabarnya aku bertanya.
"Oh iya mbak. Langsung lurus saja, lalu belok ke kanan, disana tadi masih ada pihak polisi, jadi mbak tidak akan susah menemukannya," penjelasan suster.
"Terima kasih ... terima kasih, suster!" terburu-buru balasan ucapku.
Belum sempat suster membalas ucapanku, langsung saja diri ini bergegas berlari menuju tempat yang diberitahu suster tadi.
Ternyata benar saja ada dua petugas polisi yang sedang berbincang-bincang. Kami begitu terkejut dari kejauhan terlihat di pembaringan kasur rumah sakit, sudah tergeletak dua tubuh yang bertutupkan kain putih ada simbahan darah.
"Mama, papa?" teriakku histeris berlari sekencang-kencangnya.
Seketika aku berlari tergesa-gesa dengan cara langsung menubruk untuk segera menghampiri dua jenazah. Tangan dengan beraninya membuka kain penutup untuk memastikan, yang ternyata benar saja orang tua sudah begitu pucat dan tak berdaya penuh luka dengan darah segar masih mengalir dari wajah yang ada luka.
"Tidak ... tidak, mama papa! Tidak ... tidak, kalian ngak boleh ninggalin Amel, tidak!"
ucapku tak percaya.
Sekarang diri ini begitu terkejut dan tak percaya, apa yang dilihat oleh mataku sekarang, bahwa kedua orangtua sekarang telah memejamkan mata untuk selamanya.
"Ya Allah, non. Jangan begini!" ucap bik Sari mencegahku supaya tenang.
"Tidak ... tidak, bik. Lihat ... aaaa!" jawabku
menangis histeris.
Diri ini menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pembantuku yaitu ibu Alex. Sedangkan Iwan kini tengah nampak sibuk berbincang-bincang menanyai polisi.
"Sebenarnya ini ada, pak?" terdengar olehku Iwan bertannya penasaran.
"Sepertinya ini adalah indikasi kesengajaan, karena ditemukannya rem sedang blong, sehingga beliau menabrak pembatas jalan tol. Dari hasil pemeriksaan sementara, sengaja rem kabel mobil dipotong oleh seseorang," ucap keterangan salah satu pak polisi.
"Apa pak?" celetukku bertanya.
"Iya, nona. Kami menduga adanya unsur kesengajaan," imbuh jawab pak polisi.
"Kami belum tahu kejadian yang sebenarnya, cuma masih menduga-duga dan mendalami motif. Jika benar ini ada unsur disengaja, pihak kami akan mencari dalang dibalik semuanya!" penjelasan dari pihak kepolisian lagi.
"Tolong temukan pelakunya, pak! Hukum mereka seberat-beratnya," pintaku memohon masih menangis.
"Baiklah, nona. Kami akan mengatasi ini semua dengan tuntas, kalau begitu kami permisi dulu ada hal yang akan kami urus mengenai kecelakaan ini," ujar pak polisi ingin pamit.
__ADS_1
"Iya pak, terima kasih!" jawab Iwan.
Aku tak henti-hentinya terus menangisi kepergian orangtua yang secara mendadak telah meninggalkanku. Sungguh ini situasi yang tak bisa dipercaya, saat orangtua telah meningalkan diri ini seorang diri selama-lamanya.