Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Hampir terbuai


__ADS_3

Warning 18+ yang dibawah umur harap menyingkir dan ngak perlu baca bagian part ini.


*********


"Ayo Amel, katakan sekali lagi semua kata-kata yang sudah kamu katakan tadi!" paksaku.


"Sudah Alex, aku gak mau ... ya ngak mau! Jadi lepaskan tanganku sekarang," pintanya.


Cuuuup, ciuman kububuhkan dipipinya.


"Alex lepaskan ... lepaskan," Permohonannya.


"Masih belum mau berbicara apa yang sudah kamu katakan tadi," paksaku lagi.


Cuuuuup, ciuman lagi-lagi kulayangkan di keningnya.


"Putus katamu? Aku gak mau melakukan itu. Sampai kapanpun aku tak akan pernah membiarkan kita berpisah." ujarku dengan amarah godaan yang sudah menguasai jiwa.


Kini aku sudah terbuai lemah disaat hembusan nafasnya terasa hangat menyapu wajahku. Muka kami kini begitu dekat, sampai kedua matanya mulai terpejam merasakan detik-detik yang telah kulakukan, yaitu saat tak bisa dicegah lagi bibir kami sudah begitu menyatu. Rasa lembut, basah namun aneh, sudah mampu menimbulkan sensasi bergetar pada sekujur tubuhku. Tangannya mulai terlingkar dipunggungku, dan diri ini sudah merasakan cengkraman kuku tangannya begitu tembus ke kulit. Aroma tubuh yang wangi akibat sabun setelah mandi, membuatku terasa candu tak ingin segera lepas untuk menghirupnya lebih lama lagi, sehingga semakin lama semakin menguatkan tautan bibirku padanya.


Aku hanya tersenyum sinis detik-detik saat ciuman kini beralih ke lehernya. Mataku begitu sayu saat wanitaku terlihat malu, dan membuat wajahnya kini panas menora merah seperti tomat. Sorot matanya yang terkejut, tak membuat Amel sedikitpun untuk berpaling dari wajahku, mungkin dia sudah menyadari bahwa aku benar-benar kehilangan kontrol atas diriku. Gigi telah berhasil mengigit kulit leher milik kekasih, akibat godaan nafsu yang merajai jiwa. Perlakuanku sendiri membuat jantung berdebar sangat hebat, membuat rasa gejolak yang ada di tubuhku sudah terasa sampai di ubun-ubun, dan tak bisa lagi untuk menahannya. Dia begitu pasrah tak bisa berbuat apa-apa lagi, saat diri ini mulai mencumbunya dengan liar.


"Heeeeh ... maafkan aku non Amel. Aku benar-benar tak bisa melakukan ini, sebab aku ingin kita dalam ikatan kehalalan dulu," ujarku yang sudah tergolek terlentang sudah menghentikan aksiku.


Aku menghembuskan nafas panjang, kilasan kejadian tak terduga tadi kembali bermain dalam pikiran. Pikiranku begitu melayang-layang seiring deguban jantung yang sudah agak mulai mereda.


"Iya Alex. Maafkan aku juga, sebab telah memancing kamu duluan tadi," jawab majikan mulai mengerti.


Mengenang bayang-bayang kilasan kejadian yang hampir tak terkontrol tadi, membuatku tak bisa berpikir jernih. Bukankah melakukan itu semua harus ada ikatan halal terlebih dahulu, biar cinta bisa terjalin kekal tanpa adanya penyesalan dibelakang nanti.


"Tidurlah Non amel, ini sudah malam! Biarkan aku tidur dilantai saja, agar tak menganggu kamu," Suruhku padanya.


"Eeeh, jangan Alex. Kamu tidur disini saja, sebab dilantai pastinya sangatlah dingin dikarenakan tadi 'kan hujan," suruh majikan menepuk-nepuk kasur menyuruhku.

__ADS_1


"Tapi, non. Aku ngak enak jika kejadian tadi terulang lagi dan aku tak mau syetan mengusaiku lagi nanti," jawabku berusaha menolak.


"Ngak pa-pa Alex. Aku percaya sama kamu, 'kan kamu orangnya baik jadi ngak bakalan aneh dan macam-macam. Aku tak mau kamu nanti sakit hanya gara-gara kecerobohan tidur dilantai, jadi tidurlah disini ya ... ya!" pinta majikan tetap kekuh agar diri ini tidur sekasur dengannya.


"Heeeh, baiklah!" jawabku pasrah.


Hanya jawaban anggukan yang aku berikan, dan sekarang diri ini berusaha untuk menyelimuti tubuhnya.


Jantung jadi berdebar-debar lagi saat dia begitu meringkuk dalam dekapanku. Hanya ucapan selamat malam yang bisa kuungkapkan sekarang. Rasa aman dan nyaman membuatku melupakan jantung yang tadi sempat berdebar-debar tak karuan.


Pemandangan indah yang sedang bergulung selimut di tempat tidur, terasa sekali tak ingin segera melepasnya dan semakin lama kian kueratkan pelukan terhadap dirinya.


Gadis itu sudah terlelap tidur dengan nyanyaknya. Setelah melewati hari-hari lelah dan bahagia bersamaku, tak sedikitpun keinginanku untuk beranjak dari peraduan yang mana sepreinya sempat tak berbentuk lagi akibat ulah kami. Mata enggan sekali terpejam, pikiran kalut berbaur menjadi satu dengan kegembiraan.


Rasa kekhawatiran sedang merasuki jiwa, tak terbayangkan jika suatu saat nanti akan terpisahkan, membuat pikiranku melayang galau apa yang harus kulakukan selanjutnya.


"Heeeh, apa yang haru kulakukan selanjutnya agar bisa memiliki Amel selamanya? Bukankah orang tuanya sudah jauh-jauh hari memberi peringatan, agar aku tak jatuh cinta majikan? Tapi sekarang aku sudah terperosok jatuh dalam pelukannya. Apa yang harus kulakukan ya, agar kami bisa bersatu?" rancau hati bertanya-tanya.


"Kamu belum tidur Alex?" panggilnya yang mengagetkanku.


"Belum," Jawabku.


"Kenapa?" tanyanya lagi dengan matanya terpejam berpura-pura tidur.


"Gak ada apa-apa non, cuma mata rasanya enggan untuk terpejam," penjelasanku.


"Kamu bohong!" ucapnya, yang segera bangkit melepaskan pelukanku.


"Beneran non," ucapku yang ikut bangkit dari tidur dan kini bersandar dikayu pinggiran kasur.


"Pasti ada yang sedang kamu pikirkan, benar 'kan?" tanyanya lagi yang sudah menghampiriku minta untuk dipeluk lagi.


"Iya non, aku gak bohong. Cuma aku sekarang sedang terpikirkan oleh nasib kita nantinya, dimana sekarang aku sudah memilikimu. Rasa bimbang telah menguasaiku, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk tetap memilikimu." tuturku memberi penjelasan.

__ADS_1


"Kamu menyesal?" tanyanya.


"Sedikit."


"Gak usah menyesal Alex. Aku pasrah untuk memilikimu. Mungkin aku sudah dicap sebagai orang yang tak waras akibat butanya cintaku padamu, tapi semua itu kupertaruhkan atas balasan cintamu dan rasa terima kasihku, yaitu engkau selama ini telah sabar mencintai serta merawatku sejak kita sama-sama masih kecil," tuturnya menjelaskan.


"Tapi non, bagaimana dengan orangtua kita?" tanyaku yang sudah tak tentram dibarengi dengan pikiran kacau.


"Kamu gak usah mengkhawatirkan itu dulu, lebih baik kita menjalani cinta kita terlebih dahulu dengan baik. Seandainya ada masalah kita akan mencoba mencari solusinya bersama-sama," perkataannya yang dewasa.


"Yang terpenting sekarang kamu jangan meninggalkanku untuk selamanya, terkecuali jika ada salah satu yang meninggal di antara kita, dengan terpaksa kita harus merelakan dan mengihklaskannya. Tapi jika maut belum tercerai dari badan dengan sangat-sangat aku mohon kepadamu jangan pernah ada pikiran untuk meninggalkanku, ingat itu!" pintanya dalam berucap.


"Heeeh, iya Amelku sayang," ucapku dengan mencium keningnya.


"Ooh ... ya, ada hadiah untukmu! Sebentar akan kuambilkan," ujarku.


Sekarang diri ini mencoba melepaskan pelukan kami dan aku segera menuju ke kamar mandi, untuk mengambil barang yang tersimpan di kantong celana yang sudah basah akibat siraman air hujan tadi.


"Ini, mari sini!" ucapku menyuruh menunjukkan dua buah kalung.


Sebuah liontin membentuk love tapi terceraikan bentuknya dan pecahan liotin itu terpasang di rantai kalung secara terpisah, tapi jika dipasangkan akan menyatu kembali berbentuk love.


"Ini hadiah atas ulang tahunmu, tadi aku lupa memberikannya," penjelasanku.


"Wah, bagus sekali. Kapan kamu beli ini?" tanyanya terperangah atas keindahan kalung yang kutunjukkan.


"Tadi, ketika kita ditaman bermain. Ketika membeli minuman dan makanan ringan tanpa sengaja aku melihat ini dan langsung saja aku membelinya untuk kita," jelasku.


"Kamu pakailah ini sebagai simbol pengingat cinta kita," ucapku dengan memasangkan kalung di lehernya.


"Iya Alex, terima kasih. Cuuup," cakapnya sambil memberikan ciuman dipipi dengan senyuman sumringahnya.


"Sama-sama, cuup," jawabku sambil kucium keningnya

__ADS_1


__ADS_2