
Cinta kami terus tumbuh semakin baik, bagaikan bunga yang terus bermekaran indah dan mempesona. Sikap Amel yang kian menawan hati, tak jemu-jemu untuk terus bersamanya. Walau bekerjapun hanya bayangan wajahnya yang terus hadir.
Mungkin orang yang tidak mengenalku, pasti akan menganggap bodoh dan gila, sebab istri baik-baik saja dirumah kenapa harus dipikirkan terus. Bagiku dia adalah wanita terindah yang terus menghiasi langkah hidup, jadi tidak mudah untuk melepas ingatan untuk tidak memikirkan istri. Dia bagaikan dewi cinta yang tidak akan pernah pudar oleh lekang waktu, untuk kami terus bersama mengarungi jalinan rumah tangga ini.
"Aku minggu depan akan pergi ke luar kota, untuk melakukan bisnis kerja sama perusahaan lain," pamitku pada istri.
Tangannya sekarang sedang sibuk menata dasi yang sedikit berantakan. Baju sudah rapi memakai jas untuk segera berangkat kerja.
"Apa lama disana?" Tanya Amel.
"Paling-paling cuma seminggu, itupun kalau cepat menyelesaikan kerjasama dan persoalan disana," jawab santai.
"Ooh. Yang jelas harus hati-hati saja."
Membantu membenahi dasi telah selesai, sekarang tangannya sibuk untuk meraup perut untuk dia peluk segera.
"Pasti aku akan merindukanmu," Kemanjaan suara Amel.
"Yang sabar, 'kan berada disana cuma seminggu. Lagian selama ini memang biasa ditinggal, tapi kenapa sekarang seperti tidak rela," ucapku yang sudah merasa aneh.
"Tidak ada apa-apa, sih. Cuma perasaanku mengatakan, jika kita nanti akan bertemu lama," Suaranya serak terasa ada kegundahan hati.
"Jangan bilang begitu. Walau aku lama disana, pasti akan selalu menghubungi kamu. Jangan berlebihan khawatir begitu, kesetiaan akan tetap ada hanya untukmu," tangan sudah berbalik memeluknya sangat erat.
"Iya, aku percaya sama kamu."
__ADS_1
"Bagus itu."
"Ya sudah, kita segera turun, takutnya ibu sama anak akan menunggu lama kita untuk sarapan," suruhku.
"Baik, Mas."
Kamipun turun dari lantai kamar, yang berada dilantai tiga. Kemesraan tidak pernah habis bahannya, yaitu walaupun berjalan kami tetap melakukan dengan cara berpelukan beriringan.
*****
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Siang malam tidak terhitung sudah berapa lama berjalan, karena kesibukkan kerja jadi lupa semua, yang jelas aktifitas sehari-hari tetap terjalankan dengan lancar.
Koper sudah siap dan rapi, untuk kubawa ke tempat yang akan menjadi perpisahan kami. Kerjasama ini sangat penting dan tidak bisa ditunda, agar perusahaan semakin pesat kemajuannya.
Wajah Amel kelihatan sendu dan tegang. Semua barang sudah tersusun rapi dalam mobil. Ada tiga bawahan yang nanti akan ikut serta ke luar kota.
"Aku tidak apa-apa, hanya tiba-tiba airmataku mengalir begitu saja."
"Rasa-rasanya aku kembali teringat orangtua yang dulu pamitan keluar kota, tapi tidak disangka mereka balik ke rumah dengan posisi sudah tidak bernyawa lagi," terang Amel kian menderaskan airmata.
"Yang lalu biarlah berlalu, jangan diingat-ingat lagi masa sedih itu. Aku berjanji akan menjaga diri dengan baik. Setelah datang kesana akan langsung menghubungi kamu, biar nanti tidak khawatir berlebihan seperti ini," ucapku mencoba menenangkannya.
Tangisannya kian tersedu-sedu. Aku hanya bisa mengelus pelan belakang punggungnya. Mungkin Amel terlalu terkenang oleh masa lalu karena orangtua, jadi dia takut jika kejadian yang sama akan terjadi padaku.
"Sudah, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Do'akan saja yang baik-baik, semoga aku tetap selamat sampai tujuan, maupun akan balik kesini nanti," Pelukan kami sudah terlepaskan dan tangan mencoba menyeka airmatanya.
__ADS_1
"Benar, Amel. Do'akan yang tebaik buat Alex, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh!" saut Ibu menasehati.
"Iya, Bu."
"Maafkan aku, Mas!" ucapnya susah menundukkan kepala.
"Tidak apa, sayang. Itu adalah hal wajar, jika terlalu khawatir atas terkenangnya kejadian masa lalu."
"Iya, Maaf. Aku akan terus mendoakan kamu."
"Terima kasih!" jawabku sudah mencium keningnya dengan mesra.
Tangan sudah dicium takzim oleh Amel. Sekarang giliran menghampiri anak dan Ibu untuk berpamitan dengan mereka juga.
"Jangan nakal-nakal sama Mama dan nenek ya, Nak!" ucapku.
"Iya, Pa!" balasnya sudah mencium takzim tanganku juga.
Kini giliran tangan Ibu kandung kucium, rasanya sudah beberapa kali melakukan perjalanan bisnis, tapi anehnya kenapa sekarang terasa sedih sekali, yang seakan-akan kami bakalan terpisah lama.
"Bye ... bye!" pamitku yang kali ini benar-benar akan pergi.
"Iya, hati-hati, Mas."
"Iya, sayang." Senyuman manis sudah kuberikan pada Amel, sambil bahunya kuelus-elus pelan.
__ADS_1
Tanpa terasa kini giliran diriku menitikkan airmata, sebab tidak ingin diketahui oleh semua keluarga, maka secepatnya kuhapus. Pasti jika ketahuan mereka, akan merasa sedih juga.
Lambaian tangan terus terjadi diantara kami. Rasanya tidak rela dalam perpisahan waktu dan jarak saat ini. Rasa haru terus terjadi didalam diri sendiri, sehingga sesaknya begitu terasa didalam hati.