Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ingin pulang ke rumah


__ADS_3

Kerjaan terus berlanjut, walau sudah hampir seminggu telah terpisah dengan istri dan anak. Masalah yang terjadi, sudah membuat kepala pusing dan lama untuk pulang. Ada sedikit para pekerja yang melakukan kecurangan diperusahaan teman, sehingga akupun ditunjuk untuk membantu mengatasi masalah itu, dengan imbalan nanti akan melakukan kerjasama. Untung saja bidang pekerjaan perusahaan sama dengan punyaku.


"Akhirnya orang yang melakukan kecurangan telah ditangkap. Semoga saja nanti tidak akan terulang lagi dan sukses selalu untuk perusahaan ini," ucapku pada teman sekaligus bos perusahaan yang kubantu.


"Iya, Alex. Terima kasih atas bantuannya. Kamu memang selalu bisa diandalkan, baik disekolahan maupun sudah berumah tangga sekarang. Aku salut atas kepintaranmu yang bisa menyelesaikan ini semua dengan cepat. Terima kasih, ya!" ujar Bagas kagum.


"Iya, Bagas. Jangan sungkan-sungkan begitu. Kita adalah teman lama diwaktu sekolah dulu, jadi apa yang bisa terbantu pasti aku akan melakukannya."


"Iya, Kawan. Terima kasih. Semoga para penjahat itu akan mendapatkan balasan setimpal, atas apa yang dilakukannya pada perusahaanku. Semua bukti sudah ada, semoga polisi akan menjerat mereka dengan hukuman yang setimpal," Bagas sudah berbicara dengan wajah sumringah bahagia.


"Iya, amin."


"Kamu tenang saja. Bukti terlalu kuat untuk menjerat mereka, yang pastinya nanti akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan ulah mereka."


"Emm. Oh ya, sesuai dengan janjiku. Perusahaan kamu akan tetap bekerjasama dengan punyaku. Semoga setelah kerjasama ini perusahaan kita akan semakin maju pesat."


"Amin ya robbal alamin."


"Tentu saja, kita akan sama-sama berdoa untuk menjadi yang terbaik."


"Iya, kawan.


Akhirnya pancaran kebahagiaan telah nampak diwajah kami. Para penjahat itu ingin menghancurkan perusahaan teman dengan jalan korupsi, memalsukan beberapa berkas, dan pastinya ingin menumbangkan apa yang menjadi kebanggan perusahaan.


"Alhamdulillah, semua sudah beres."


"Emm, akhirnya aku akan pulang juga untuk menemui keluarga," Rasa syukur dalam hati.


"Kita akan bertemu kembali, Amel. Tunggu kedatanganku," imbuh hati berbicara.


Kelelahan dalam seharian bekerja begitu menguras tenaga dan pikiran, sehingga tidak buang-buang waktu aku langsung menghempaskan tubuh ke pembaringan.


Tubuh terasa kaku dan pegal-pegal semua. Baju kerja belum sempat kuganti, yang terpenting sekarang harus mengistirahatkan dulu pikiran, setelah beberapa hari berkerja ekstra full time.


*****


Hembusan AC terasa sudah menusuk seluruh tulang, sehingga selimut yang menyelimuti tubuh semakin kunaikkan ke atas kepala, agar bisa menghangatkan seluruh tubuh segera.


Drzzzt ... derrrrt, suara gawai telah berbunyi.

__ADS_1


Karena malas ingin bangun, terpaksa tangan sudah terjulur sambil mencoba meraba-raba gawai diatas nakas.


Klik, gawai telah kugeser layarnya.


[Hemm]


[Hallo ... hallo, mas]


[Emm, hallo juga]


[Kok, kayak lemes saja suaranya]


Dari suara adalah orang yang kukenal. Tadi antara sadar dan tidak mengangkat telepon, akhirnya gawai kulihat seksama dengan menyudahi tidur.


[Eeh, sayang. Maafkan aku, tidak sadar kalau kamu yang telephone]


[Iya, ngak pa-pa, Mas. Amel sangat paham kok, kalau Mas sangat lelah akibat pekerjaan]


[Emm, kamu memang yang terbaik. Oh ya, ada apa kok malam-malam telephone?]


[Mau tanya kabar kamu saja, Mas. Kalau siang tanya-tanya, takutnya nanti akan menganggu pekerjaan kamu]


[Apa pekerjaan disana baik-baik saja?]


[Alhamdulillah, semuanya beres dan kabar baiknya insyaallah besok akan pulang]


[Wah, benarkah itu?]


[Iya, sayang. Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk segera menemui kalian]


[Iya, Mas. Kamu yang sabar, bukankan kita besok akan segera dipertemukan]


[Emm]


[Ya sudah, kamu lanjutkan istirahat. Maafkan jika sudah menganggu tidur nyenyaknya. Semoga kita besok akan bertemu dengan keadaan sebaik-baik saja. Hati-hati dijalan dan jangan lupa beri kabar padaku sebelum berangkat dari situ]


[Tentu itu, Sayang. Baiklah, aku akan lanjutkan istirahatnya]


[Emm, Assalamualaikum]

__ADS_1


[Emm, bye ... bye, waalaikumsalam]


Klik, percakapan dengan orang dari seberang sana akhirnya berakhir juga. Mata yang begitu ngantuk, tetap kulanjutkan untuk segera memejamkannya.


*****


Pagi hari telah menyambut dengan suasana hangat, oleh suara kicauan burung dan hembusan angin yang menyejukkan. Tangan sudah sibuk berkemas-kemas untuk segera memasukkan semua barang ke dalam koper.


[Dari sini berangkat nanti sekitaran jam delapanan]


Sebuah pesan telah kukirim untuk Amel. Mau menelpon rasanya tidak sempat sebab banyak barang yang harus dibereskan.


"Emm, kenapa Amel belum membalas pesanku? Aah, mungkin dia sedang sibuk mengurusi segala persiapan sekolah anak," guman hati yang tidak sabar.


Akhirnya urusan berkemas sudah selesai. Kopi yang dipesan segera kusruput cepat-cepat. Rasa tidak sabar ingin bertemu keluarga tercinta, membuatku harus segera keluar hotel untuk pulang.


Semua karyawan sudah pulang duluan menggunakan mobil sewaan, sementara aku harus mengendarai mobil sendirian. Pandangan terus lurus mengarah ke depan untuk fokus melihat jalan raya.


Dzzzzt, gawai telah bergetar, menandakan sebuah pesan telah masuk.


Klik, gawai sudah kugeser, sebab ada nama Amel yang tertera.


[Apa sekarang sudah berangkat?]


[Maaf tadi masih sibuk sama urusan rumah]


[Iya, ngak pa-pa. Sekarang ini aku sedang didalam mobil untuk segera menemui kalian]


Tiiiiiiiiiin, suara bunyi klakson begitu kuatnya berbunyi ingin menabrak mobilku.


Karena kaget, stang kemudi langsung kubanting.


Ceeiiit, dengan keras suara rem mobil kuinjak mendadak, sehingga tidak dipungkiri mobil sudah berputar-putar dan kehilangan keseimbangan dan kendali.


Shiiit ... braaak, dengan hantaman keras mobil berhasil menabrak pohon dipinggir jalan.


Mata mulai kabur dan kepala terasa berkunang-kunang. Rasanya kening ada rasa perih, lalu tangan segera mencoba meraba saat ada sebuah aliran yang terasa dikulit. Betapa terkejutnya saat mengetahui, bahwa darah sudah mengucur deras dari kening.


Keadaan yang parah membuatku tidak bisa membuka mata lagi. Rasanya kepala begitu berat sakit untuk sekedar menyangganya. Kini hanya ada suara dengungan orang-orang yang mencoba mengedor-gedor kaca mobil.

__ADS_1


__ADS_2