Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Ketemuan


__ADS_3

Akhirnya kesepakatan untuk ketemuan datang juga, setelah beberapa hari diri ini dilanda akan rasa cemas, takut-takut kalau semua tak jadi sebab bisa-bisa ketahuan majikan.


[Gimana Alex? Kamu sudah siap 'kan untuk ketemuan sama diriku?]


Suara Amel sedang bertanya, saat berkomunikasi menggunakan telephone dari seberang sana.


[Siap dong. Aku pasti akan selalu menepati janjiku padamu]


[Baguslah kalau begitu. Aku akan tunggu kedatangan kamu]


[Iya]


Tut ... tut, gawai tiba-tiba terputus begitu saja dan hatiku rasanya deg-degkan tak enak sekali, seperti ada sesuatu yang bakalan menimpa kami.


"Alex ... Alex?" panggil Iwan saat aku melamun.


"Oh iya, Iwan. Maaf ... maaf, aku tadi sempat melamun akibat terpikirkan oleh sesuatu," jawabku menjelaskan tersadar dari lamunan.


"Kok kamu--, kenapa habis menelpon pacar ada yang dipikirkan? Memang ada apa?" tanya Iwan kepo.


"Ngak ada apa-apa, sih. Cuma lagi aneh saja kenapa tiba-tiba Amel memutuskan telephonenya begitu saja tanpa mengucap salam sekali, padahal ngak biasa-biasanya dia melakukan itu," jelasku.


"Berpikir positif saja. Mungkin Amel sedang ada kerjaan, makanya handphonenya tiba-tiba dia matikan," jawab Iwan mencoba menghilangkan kekhawatiranku.


"Semoga saja, Iwan!" jawabku lemah.


"Ayo, kita berangkat sekarang. Nanti keburu jalanan macet, bisa-bisa Amel akan mengomel-ngomel pulak nanti padaku," suruh Iwan.


"Iya, Iwan. Kita berangkat sekarang!" ucapku menyetujui.


Akhirnya kami berdua telah berangkat menggunakan kendaraan yang Iwan miliki. Benar saja semakin lama jalanan semakin macet. Terik matahari terasa sekali menyengat dibalik jaket, hingga bulir-bulir keringat kecilpun telah hadir menyapa. Asap kendaraanpun telah mengiringi penjalanan kami, hingga debu kotorannya sempat masuk tak sedap tercium dibalik helm yang terpakai.


Klunting, gawaiku tiba-tiba berbunyi.


Pok ... pok, kutepuk-tepuk bahu Iwan pelan dengan maksud untuk menepikan motornya, sebab aku ingin melihat pesan masuk yang ternyata sudah terpampang nama Amel.


"Berhenti dulu, Iwan. Ini ada pesan masuk. Silau matahari membuat layar gawaiku tak nampak jelas apa isi didalamnya," cakapku menjelaskan pada Iwan.

__ADS_1


"Iya ... ya, kita berhenti dipohon rindang tepi jalan itu saja," jawab Iwan menyetujui yang sudah memelankan motornya.


Klik, layar gawai langsung saja kugeser untuk membuka isi pesan.


[Alex, pertemuan kita ditunda 1 jam dulu, sebab mama sedang menjengukku di apartemen. Bisa gawat kalau ketahuan mama nanti. Jadi kalau kamu sudah datang tunggu saja ditaman, nanti aku akan menyusul kamu setelah mama pulang, gimana?]


[Okelah, tak apa. Aku akan menunggu kamu, sampai nyonya nanti pulang]


[Makasih atas pengertiannya]


[Iya, sama-sama]


Mungkin inilah penyebabnya kenapa Amel buru-buru menutup teleponnya tadi, ternyata majikan telah datang disaat waktu yang tak tepat kami ingin bertemu.


"Ayo Iwan, kita berangkat lagi!" suruhku.


"Okelah."


Klunting, untuk yang kedua kalinya pesan masuk di gawaiku, yang tertera masih bernama dari Amel yang mengirimkan pesan.


[Kita ngak jadi ketemuan dibawah apartemenku, sebab mama akan mengajakku jalan-jalan ke mall xxx. Kamu nyusul langsung saja kesini, sekalian nanti kita bisa bermain-main keliling mall dan pastinya setelah mama nanti pergi]


Gawaipun telah berhasil mengirim pesan siap ketemuan ditempat lain.


Klunting, [Siip] Jawab pesan dari Amel.


"Iwan, kita ngak jadi ketemuan di tempat biasanya, karena ada mamanya sedang berkunjung. Mereka sekarang sedang berada di mall xxx, kita langsung meluncur ke sana saja!." terangku pada Iwan.


"Oke 'lah."


Perjalanpun telah kami lanjutkan dengan posisi masih sama yaitu dibonceng Iwan. Hanya beberapa menit kami sampai di mall yang diberitahu Amel. Kini kami berdua tepat menunggu ditempat parkiran, agar bisa mengetahui dan melihat bahwa nyonya sudah pergi atau tidaknya nanti, sebab aku dan Amel ingin mampir sebentar untuk bermain di mall.


Waktu demi waktupun telah berjalan, sampai-sampai diri ini garing menunggu. Akhirnya yang ditungu-tunggu telah tiba. Majikanku yang awet muda, kini telah mamakai pakaian modis berwarna merah atasan dan bawahannya, menambahkan kesan suatu keanggunan pada beliau. Terlihat majikan sekarang sudah memasuki mobil, dan ingin melambaikan tangan pada Amel. Aku dan Irfan hanya bisa mengawasi dari kejauhan sebab tak ingin ketahuan.


Sheet ... sheet, suara rem mobil telah datang dari depan, yang mencoba menghadang mobil majikan saat suara mesin mobil beliau ingin dilajukan.


Beberapa orang bertubuh kekar terlihat sudah turun dari mobil, yang kini menghampiri mobil majikan dengan langkah lebar-lebar dan cepat dari mereka.

__ADS_1


"Masuk ... ayo masuk," suara bandit berpakaian preman kini sudah memaksa Amel untuk mengikuti perintah mereka.


Dari tempatku yang tak terlalu jauh, terlihat Amel berusaha meronta tapi kalah oleh tenaga mereka. Nampak beberapa bandit kini ikut serta masuk ke dalam mobil majikanku.


"Hei kalian ... tunggu ... tunggu. Lepaskan dia, hei kalian ... berhenti," teriakku mencoba berlari menghampiri.


Deert, mobil terdengar dengan cekatan telah dihidupkan.


"Tunggu ... hei kalian!" Irfan juga ikut berteriak.


Kami berdua cukup kaget, atas penculikan begitu cepat dan secara tiba-tiba. Begitu kekar dan kuatnya para preman, membuatku sedikit agak merinding ketakutan. Aku dan Irfan tidak bisa menghadang mereka, karena cepat sekali kejadiannya. Jumlah mereka terlihat begitu banyak, ada sekitar tiga orang yang masuk dalam mobil majikanku, dan yang lainnya hanya mengawasi dalam mobil yang menghadang tadi.


Sheet ... sheet, suara rem mobil berdecit berbunyi saat ditikungan, yang telah melewati aku dan Irfan yang masih sedikit bengong, akibat keterkejutan tak menyangka atas kejadian.


"Ayo ... ayo ... cepat ... cepat, Iwan. Kita harus ikuti mereka dan kalau bisa kita harus selamatkan mereka!" suruhku.


"Benar, Alex. Ayo ... ayo, cepat!" jawab Iwan yang kini berlarian denganku ingin segera mendekati motor.


Brem ... brem ... bruuuum, suara motor Iwan melaju dengan cepatnya, untuk segera mengejar mobil yang kini mulai hilang dari pandangan.


Weeees, motor begitu melaju dengan kecepatan tinggi agar tak sampai ketinggalan.


"Cepat ... itu ... itu mereka," tunjukku pada mobil majikan berwarna hitam.


"Iya Alex. Kita akan mengejar mereka," jawab Iwan yang ternyata melihat musuh juga.


Mobil majikanku begitu cepat melaju, seakan-akan tidak takut sama sekali jika nanti terjadi kecelakaan. Mungkin mobil sudah dikendalikan oleh para penculik, terlihat dari cara mereka yang sudah berani menerobos lampu merah dengan laju kecepatan penuh.


"Ayo Iwan, cepat ... cepat. Nanti bisa-bisa kita bakal ketinggalan mengejar," ujarku yang sedang ketakutan dan sedikit tegang jika tak bisa mengejar.


"Heem, baiklah."


"Pegangan yang kuat, Alex. Aku akan tancap gas sekencang-kencanya!" balik ucapan Iwan.


"Hem."


Wheees ... weees, dengan kecepatan penuh Iwan berusaha mengejar mereka, yang mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi melebihi batas maksimal, hingga membuat tubuhpun seperti melayang-layang seakan terasa ingin terbang jatuh.

__ADS_1


Whes ... siiiut ... sleoot ... wheees, suara motor iwan meliuk-liuk, mencoba menyalip kendaraan di depan kami yang tengah menghalangi jalan saat berusaha dalam pengejaran.


__ADS_2