Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Khawatir Melakukan Kesalahan. SEASON 2


__ADS_3

Entah sampai kapan keponakan majikan akan tinggal disini. Yang jelas dari keterangan pembantu lain akan lama tinggal disini, sebab ada bisnis penting yang sedang dilakukan Arnald.


Rasanya ngenes sekali nasib para pembantu kali ini. Pasti kami akan terus kena semprot tiap hari, jika melakukan pekerjaan yang tak disukai Alena.


Bik Murti berkali-kali mengeluh tak tahan, sebab setiap seujung kuku apa yang dilakukan serba salah dimata Alena. Namun kami semua kompak untuk terus memberi dukungan, agar selalu bersabar dan terus bertahan dalam pekerjaan ini demi keluarga dikampung.


Tiap hari harus mengepel, ngelap, masak, bahkan sibuk mencuci pakaian maupun menyertika. Pekerjaan yang tidak akan ada habisnya. Segepok recehan akan hadir, maka dari itu kami tetap semangat walau dalam keadaan lelah sekalipun.


"Apa sudah beres semua pekerjaan kamu yang sedang mengepel ini?" Suara Alena menyapa.


"Eh, Nona. Iya, ini sudah hampir beres."


"Ooh."


"Memang ada apa, Non. Ada yang bisa saya bantu," ucap menawarkan.


"Iya ada."


"Kalau bisa, setelah kamu mengerjakan semuanya, nanti datang ke kamarku untuk ambil gaun yang harus kamu setrika. Harus licin dan benar-benar kamu jaga, sebab malam ini akan aku pakai diacara penting," suruhnya menjelaskan.


"Oh, iya, Non. Akan saya laksanakan nanti, tapi mau lanjutkan pekerjaan yang sebentar lagi akan selesai," jawaban santai.


Tangan yang awalnya bergerak-gerak melakukan pengepelan itu, sekarang terhenti kepegang tegak besinya sambil menjawab ucapan majikan.


"Ok 'lah. Jangan pakai lama."


"Iya, Non." Kepala sudah mengangguk satu kali, tanda setuju atas permintaan Alena.

__ADS_1


"Wajah kamu masih muda. Kayaknya sepantaran dengan diriku dan Arnald." Alena sudah menatap seksama kearahku dari atas sampai bawah.


Kedua tangan Alena bersedekap didepan dada. Gaya yang nampak angkuh namun penuh wibawa.


"Mungkin saja, Non."


"Tapi salut sih. Masih muda mau bekerja jadi babu," cakapnya terdengar kasar.


"Walau babu begini yang penting halal, Non."


"Benar juga, sih. Tapi kalau itu terjadi padaku, pasti ogah banget walau nasib miskin sekalipun. Pekerjaan yang cukup melelahkan dan menguras tenaga, tapi gaji suprit tak sesuai sama yang dilakukan."


"Hehehe, mau gimana lagi, Non. Memang adanya ini. Lagian mencari pekerjaan disini bukan mudah seperti membalikkan tangan, yaitu tidak mudah didapat dengan hanya modal izasah saja. Kami harus menjalani serangkaian tes dan beberapa saingan yang ketat, dari jabatan kami yang hanya lulusan SMA saja."


"Hmm."


"Tau."


"Ya sudah. Pasti kamu nanti berbicara berbusa tidak akan ada habisnya. Cepetan selesaikan pekerjaan kamu itu, sebab apa yang kusuruh segera laksanakan," suruhnya.


"Iya, Non. Maaf jika saya banyak bicara."


Tidak ada balasan balik ucapan dari majikan, dia main nyelonong pergi saja, kelihatan sekali kalau ada sifat sombong. Pekerjaan kuhentikan sejenak untuk segera menjalankan perintah. Alat ngepel sudah kusandarkan menepi beserta air sabunnya.


Tapak kaki sudah menginjak anak tangga yang berada dilantai dua. Diatas hanya terdiri dari dua kamar saja. Arnald dan Alena terpisah kamar, walau kadang mereka sering kali bermesraan dalam satu ruangan. Aksi mereka sudah tak asing lagi dimata para pembantu. Mengumbar kemesraan terus terjadi, sehingga kamipun tidak aneh dan sudah terbiasa melihat itu.


Pintu kamar Alena sudah terbuka. Tahu betul jika aku sudah datang untuk segera mengambil bajunya. Kamar yang elegan bernuansa pink sangat diharuskan untuk Alena. Pada awalnya cat bukan itu tapi kemanjaan Alena terus dituruti saja, sehingga telah merubah semua kondisi dari awal.

__ADS_1


Tangan langsung saja mengambil gaun yang sudah tergeletak diatas kasur. Langsung kubentang mencoba memeriksa dan ternyata panjangnya pas dibawah paha. Warna kontras hitam dipadupadankan dengan merah, sangat cocok sekali dengan kulit Alena.


"Aaah, aku rindu juga ingin memakai gaun seperti ini. Tapi buat apa sekarang memakainya, saat keadaan sudah berubah drastis tak cocok untuk memakainya lagi," guman hati yang teringin.


Tidak ingin mengulur waktu lama-lama, maka secepatnya melenggang pergi keluar kamar. Tempat khusus menyetrika berada dibawah, maka harus membuang tenaga untuk menuruni anak tangga lagi.


Agar memudahkan menyetrika, meja sudah dilapisi kain. Stopkontak sudah tercolok kabel yang menyambungkan dengan setrika. Menunggu beberapa menit lagi agar setrika akan panas.


Tangan perlahan-lahan bergerak maju mundur menjalankan alat setrika. Berkali-kali sudah memegang kain dibaju, namun panasnya belum juga naik dan terasa.


"Aah, Mas. Aku sangat merindukanmu? Kenapa engkau tak muncul-muncul lagi dihadapanku? Apakah takdir kita cukup sampai disini saja, agar kita tak bisa bertemu dan bersama lagi?" Kesedihan hati saat netra menerawang jauh kearah tembok.


Hidung sekarang mengendus kasar saat sudah mencium aroma bau gosong.


Sreet ... sreeet, hidung terus saja menghirup bau itu.


"Astagfirullah!" Kekagetanku saat mengetahui bau itu berasal dari setrika yang aku pegang.


Setrika langsung saja keletakkan dipojokkan meja. Secepat kilat kabel aku cabut supaya cepat mati panasnya.


"Aaah, sial. Kenapa aku bisa seceroboh ini?" Kekesalan hati saat memegang baju Alena dan mencoba membentangkannya.


Mata sudah terbelalak kaget tak percaya, saat melihat gaun telah berlubang sedikit.


"Astagfirullah, apa yang harus kukatakan pada Alena?" Kekacauan hati yang takut.


"Pasti dia akan marah besar akibat kecerobohanku barusan. Huufff, nasib ... nasib. Pasti bakalan akan kena marah habis-habisan nanti," guman hati yang pasrah.

__ADS_1


Semua adalah kesalahanku, maka semua harus dipertanggung jawabkan. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang jelas semua harus diberitahukan secepatnya pada Alena. Resiko kena semprot, tetap menguatkan hati agar tak goyah untuk bertahan berkerja disini.


__ADS_2