Love Stifled By Destiny

Love Stifled By Destiny
Kedatangan tamu tak diundang bagian 2


__ADS_3

Waktu kini terus bergulir, hingga perkelahianpun tiada henti tetap berlangsung, hingga membuat Alex dan Iwan sempat kewalahan menaklukan musuh yang ternyata pada jago ilmu bela diri juga.


"Hentikan! Aku bilang hentikan sekarang, kalau tidak! Maka aku akan membunuh Amel sekarang," ancam papi kandung menyuruh Alex dengan menodongkan sebuah pistol dikepalaku.


Alex yang sudah bagai orang kesetanan habis menghajar anak buah papi kandung, tak memperdulikan lagi atas ancaman papiku, yang mana dia terus saja melangkah maju untuk mulai mendekati papi yang tengah berdiri disampingku.


"Lakukanlah kalau bisa," ucap alex berani.


"Berhenti kamu disitu, atau kamu sendiri yang akan kutembak," ancam papi tiri pada Alex yang kian maju ingin melawan.


"Jangan ... jangan lakukan mendekat kesini, Alex. Nanti kamu bisa celaka dengan hilangnya nyawa akibat peluru panas," guman hati panik akibat alex terus maju tak takut.


Duaaar, pletas ... buuup, tembakan peluru panas sudah terhantam dikaki Alex di sebelah kiri.


"Aaaaah ... tidaaaaak, Alex!" teriakku kaget.


Seketika Alex terlihat terduduk bersimpuh menahan sakit, dengan darah segar mulai mengucur keluar dari betis kaki yang turtutup kain celana.


"Hentikan ... hentikan, papi. Jangan kau sakiti Alex lagi," pintaku memohon.


"Aku tak akan menyerah begitu saja, paham!" bentak ancam papi kandung tak mau kalah.


"Jangan lakukan itu, papi!" pintaku sudah menitikkan airmata akibat khawatir dan takut.


Alex yang tertatih-tatih akibat luka dikakinya, ternyata tak mau menyerah juga melawan papi kandung, hingga dia tanpa rasa takut dan sakit kini mendekati beliau.


"Berhenti kamu ... berhenti. Atau aku akan melukai kamu lagi, duaaaar!" Suara letusan tembakan, terluncur mengarah keatas atap rumah dilakukan papi untuk mengancam.

__ADS_1


"Kubilang berhenti, apa kamu tidak dengar? Berhenti ... berhenti," imbuh ucap papi yang semakin beringsut melangkah mundur-mundur akibat ketakutan sebab melihat kegerian wajah amarah Alex.


"Berhenti Alex ... berhenti," Tangisan kekhawatiran ibu, melihat Alex yang tak kenal takut terus memepet maju melawan.


Sepertinya suara ibu tak didengarkan Alex, yang sudah kelihatan tak ada sedikitpun untuk mundur mengalah.


"Jangan mendekat kesini, jangan .... jangan!" ujar papi kandung yang masih takut.


"Kenapa? Apa kamu takut sekarang? Aku tak akan membiarkan kamu hidup lagi sekarang," ancam Alex dipuncak emosi.


Hiat ... bugh ... cletak, tangan papi yang memegang pistol begitu kesakitan, saat tendangan kaki kanan Alex telah menghantamnya, sehingga pistol yang sempat dipegang tadi terlempar jatuh jauh, yang kini tak tahu kemana arahnya menghilang.


"Amel, cepat ... cepat, kita harus keluar segera," ucap Iwan yang sudah menghampiri dan berusaha melepaskan ikatan tali kami.


"Iya, Iwan. Cepat ... cepat, kita harus pergi dari sini," saut jawab ibu saat keadaan semakin mencekam dan menegangkan.


Dengan tergesa-gesa Iwan melepaskan tali yang membelit tubuh kami. Mata sempat melirik ke arah Alex, yang masih sibuk mengurusi lawan untuk tetap berkelahi.


"Ayo, Iwan. Cepat ... cepat telephone polisi sekarang, takutnya Alex nanti kenapa-napa didalam," ucapku panik dengan mengoyang-goyangkan tangan Iwan.


"Iya, nak Iwan. Telepon pihak polisi sekarang, sebab takutnya Alex tak bisa menghadapi mereka sendirian," cakap ibu yang ikutan khawatir.


"Iya, baik-baiklah. Kita akan telephone polisi," jawab Iwan setuju yang langsung mengambil gawai didalam sakunya.


Tut ... tut, suara gawai Iwan mulai tersambung.


[Hallo, pak tolong datang kerumah di Jln. Cempaka, No. 57 blok C secepatnya. Sebab diisini sedang ada perkelahian penganiayaan, dengan pelaku dipersenjatai sebuah pistol. Kami mohon secepatnya pihak kepolisian datang kesini, karena keadaannya semakin gawat darurat saja]

__ADS_1


[Baik, kami telah menerima laporan anda, dan secepatnya kami akan mendatangi alamat yang anda berikan]


Terdengar beberapa kali erangan demi erangan kesakitan akibat perkelahian begitu membuat bulu kuduk kian ngeri, hingga akupun terus memeluk ibu dengan tangan beliau kegenggam erat. Rasanya sungguh menakutkan sekali suara kesakitan yang entah siapa yang berbunyi itu.


Wiu ... wiu, suara sirine polisi sudah terdengar dari kejauhan, yang kelihatannya tak lama lagi pertolongan akan segera datang. Aku yang tak sabar akan rasa kekhawatir pada Alex langsung masuk tanpa menunggu pihak kepolisian tiba.


"Amel tunggu ... tunggu, mau kemana kamu? Jangan masuk kesana, iru sangat bahaya sekali itu," cegah Iwan.


"Aku ingin melihat Alex," jawabku cepat sudah berlari masuk.


Suara Iwan yang khawatir tak kupedulikan lagi, sebab diri ini sudah diliputi kekhawatiran akut pada Alex seorang, hingga rasa takut yang bersemayam dalam diri hilang seketika.


Aku begitu kaget saat masuk mengetahui apa yang didalam rumah, Alex terus menghajar lawan tanpa kenal ampun lagi


Bugh ... bugh ... bugh, Alex yang telah menduduki tubuh papi kandung, terlihat begitu tak terkontrol lagi telah membogem wajah papi yang tanpa henti dan belas kasihan.


Bugh ... bugh, untuk kesekian kali tanpa rasa ampun, Alex terus saja memukul secara membabi buta, hingga wajah papi sudah tak berbentuk lagi akibat penuh luka dan darah, dan aku yang melihatnya keganasan itu langsung berlari memeluk Alex.


"Ya Allah, hentikan Alex ... hentikan ini," ucapku saat layangan tangan Alex akan terayun mencoba memukul lagi.


"Hentikan Alex, jangan lakukan ini lagi. Aku mohon," tangisanku pecah atas kegilaan Alex tak bisa mengontrol emosi.


"Heuuuugh .... aaaahh," teriak Alex sudah melepaskan kekesalan, bersamaan dengan lelehan airmata yang sudah membanjiri pipi.


Aku yang tak tega melihatnya langsung memeluk begitu saja, tanpa ada keraguan dan malu lagi.


Wajah papi tiri sudah bonyok tak berbentuk lagi, darah sudah mengucur dari sembarang arah wajah, yaitu pelipis, hidung, bibir, dan lebih parahnya mata sudah membengkak kebiru-biruan. Kalau diri ini tak menghentikan tindakan Alex tadi, mungkin sekarang dia sudah menjadi seorang yang benar-benar sebagai monster pembunuh.

__ADS_1


Akhirnya pihak kepolisian menangkap sigap para pelaku, termasuk papi kandungku. Tangan para anak buahnya sudah terborgol, sedang papi tiri diangkat memakai tandu ambulance, karena sudah tak berdaya lemas akibat hajaran-hajaran membabi buta dilakukan oleh Alex.


Alex kini sudah banyak berubah, mungkinkah semua itu akibat dendam yang sudah terpendam lama. Semua orang begitu takut padanya, tak ada yang berani menyentuhnya, bukan karena hanya soal wajah, tapi ketika berkelahi dia begitu ganas menghajar musuh-musuhnya tanpa ampum. Tapi Alex melalukan perlawanan berkelahi, jika ada kebenaran padanya atas apa yang dia lakukan, yaitu tak sembarang orang untuk dipukulnya, jika ada orang salah dia baru akan bertindak menghajar seperti contohnya pencuri.


__ADS_2