
Dalam kurun waktu 5 hari berita mengenai penemuan anggota kepolisian yang sebelumnya sempat dikabarkan menghilang langsung menjadi berita utama dan disiarkan oleh beberapa stasiun televisi besar di Amerika Serikat.
Penemuan ini tentu saja membuat keluarga yang ditinggalkan merasa senang sekaligus sedih pada saat yang bersamaan. Pasalnya setelah menjalani otopsi ditemukan tiga butir peluru yang bersarang didalam kepala korban.
Hal ini jelas saja membuat semua orang mengetahui jika anggota polisi tersebut sudah di incar oleh seseorang dan menduga ada motif balas dendam di baliknya.
Spekulasi mengenai motif pembunuhan ini didasarkan pada banyaknya peluru yang bersarang di tubuh korban. Jika kasus ini hanya perampokan tentu barang milik korban juga akan hilang, tetap ini sama sekali tidak.
Tetapi berita mengenai pembunuhan terhadap satu anggota kepolisian ini bukan satu-satunya berita utama, karena dalam beberapa hari ini juga terdapat laporan penembakan terhadap beberapa anggota kepolisian.
Tim investigasi yang mendalami kasus ini menduga jika pelaku penembakan merupakan orang yang sama. Karena dari 20 korban motif penembakan nya sama, yaitu terdapat tiga butir peluru yang bersarang di kepala masing-masing korban.
Spekulasi ini diperkuat dengan skema pembunuhan yang hampir sama. Dimana pelaku akan mengeksekusi targetnya saat berada di tempat yang jauh dari keramaian, dan tidak mengambil barang milik mereka.
Hingga saat ini pihak berwenang masih belum mengetahui siapa pelaku pembunuhan terhadap 20 anggota kepolisian di daerah Philadelphia.
Sementara itu pasukan yang dipimpin oleh Elizabeth memutuskan untuk melupakan para perampok Bank dan memilih ikut menyelidiki kasus pembunuhan terhadap anggota kepolisian setelah mendengar korban yang terus bertambah.
Elizabeth sebelumnya tidak tertarik dengan kasus ini, tetapi setelah mendapat panggilan dari mentornya yang merupakan salah satu petinggi kepolisian.
Akhirnya Elizabeth memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam kasus ini bersama dengan tim-nya. Motifnya tentu bukan karena uang melainkan dia ingin membalas budi kepada mentor yang sudah mendidiknya sejak masih belia.
"Apa kali ini kita akan berhadapan dengan pembunuh berantai yang baru?" Gumam Elizabeth sambil tersenyum tipis dan memeriksa senjata api miliknya.
Mendengar perkataan Elizabeth, semua orang di dalam mobil juga ikut bersemangat karena mereka akan menjadi terkenal jika berhasil menangkap pelaku pembunuhan ini.
*****
__ADS_1
Sementara itu orang yang saat ini menjadi pusat perhatian pihak berwenang sedang memperhatikan target berikutnya di sebuah tempat pengisian bahan bakar.
"Ada berapa orang yang masih tersisa di dalam daftar, System?" Tanya Nathan sambil memasang peredam suara pada senjata api miliknya yang akan digunakan untuk mengeksekusi target berikutnya.
Mengetahui jika jejaknya mulai dicium oleh pihak berwenang, Nathan memutuskan untuk mengeksekusi targetnya tidak ditempat yang sepi lagi.
Langkah ini sengaja Nathan ambil supaya terget utama dalam aksinya tidak merasa curiga, meski sebenarnya mulai menjadi waspada akhir-akhir ini.
[Tersisa 5 orang lagi Tuan. System mendeteksi ada ancaman yang mulai mendekat dan bisa mengacaukan tindakan Anda. Apakah Tuan rumah membutuhkan bantuan?]
Mendengar jika ada ancaman yang mulai mendekat, Nathan termenung sejenak sebelum memutuskan untuk menolak bantuan yang ditawarkan oleh System meski sangat berisiko.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Apa kau lupa sudah berapa banyak poin tukar yang aku buang hanya untuk menghilangkan jejak?" Balas Nathan sambil menggelengkan kepala.
Nathan masih ingat dengan sangat jelas saat dia meminta bantuan kepada System untuk menghapus beberapa rekaman CCTV. Siapa yang menyangka jika itu semua tidak gratis dan harus membayar mahal untuk hal ini.
Jika ditotal Nathan sudah menghabiskan 4000 poin tukar untuk menghilangkan jejak yang membuatnya harus menggigit jari setelah melihat sisa poin tukar di dalam akun nya, dimana hanya tersisa 5000 poin tukar saja.
Masih segar di dalam ingatan Nathan bagaimana pria itu ikut ambil bagian saat memaksanya mengakui 50 paket morfin yang jelas jika bukan miliknya.
Melihat targetnya masuk ke dalam supermarket yang ada di stasiun pengisian bahan bakar, Nathan memutuskan untuk turun dari mobil dan mengikutinya dari belakang.
Saat masuk ke dalam supermarket Nathan bisa melihat petugas itu membeli beberapa donat dan meminta kepada kasir untuk menyimpannya sebentar karena ingin ke toilet terlebih dulu.
Seakan Dewi keberuntungan berpihak padanya, Nathan tersenyum tipis dan mengikuti petugas tersebut masuk ke dalam toilet umum yang ada di supermarket.
Begitu masuk ke dalam Nathan melihat petugas tersebut baru akan buang air kecil. Sebelum melancarkan aksinya ia terlebih dulu memeriksa situasi sekitar.
__ADS_1
Saat merasa situasi sudah aman dan hanya ada dirinya dengan petugas tersebut saja di dalam toilet. Nathan kemudian berjalan mendekat dan menodongkan pucuk senjata api dibelakang kepala petugas itu.
Petugas tersebut yang tiba-tiba ditodong menggunakan senjata api tentu saja sangat terkejut sampai membuat air seninya berhenti mengalir.
"Siapa kau..." Belum sempat petugas tersebut menyelesaikan pertanyaannya, tiga butir peluru panas langsung menghujam kepalanya dan membuatnya tewas seketika.
Tubuh petugas itu seketika ambruk ke lantai dengan kondisi setengah telanjang. Darah perlahan mulai mengalir ke luar dari bagian kepala dan membentuk genangan di sekitar tubuhnya.
Setelah memastikan petugas tersebut sudah tewas, Nathan segera meninggalkan tempat kejadian karena System sudah memberikan peringatan bahaya.
Jika saja tidak ada peringatan dari System mengenai bahaya yang mulai mendekat. Nathan tentu saja ingin memberi sedikit pelajaran kepada petugas tadi sebelum dibunuh.
Sebelum pergi Nathan memutuskan untuk membeli beberapa makanan ringan sebagai bekal perjalanan menuju target selanjutnya.
Tepat saat sedang membayar belanjaan, Nathan melihat sebuah mobil lapis baja menepi untuk mengisi bahan bakar dan terlihat beberapa orang keluar dari sana.
Orang-orang itu sejenak memperhatikan mobil dinas milik petugas yang baru saja eksekusi dan beberapa diantaranya berjalan menuju supermarket.
Nathan yang melihat jika sumber peringatan bahaya berasal dari mereka, kemudian segera membayar tagihan belanja dan ingin pergi dari tempat tersebut.
Saat keluar dari supermarket pandangan mata Nathan tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita cantik berambut pirang yang tidak lain merupakan Elizabeth.
Elizabeth dan rekan-rekannya datang ke daerah tersebut tidak lain untuk menemui wakil kepala penjara Supermax karena merasa pembunuh berantai itu akan mengincar petugas itu.
Kebetulan sekali saat sedang ingin mengisi bahan bakar, mereka menemukan kendaraan dinas milik petugas tersebut dan berpikir jika petugas itu sedang ada di dalam supermarket.
Elizabeth berhenti sejenak di depan pintu supermarket dan menengok ke arah pria berpenampilan mencurigakan yang baru saja berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Ketua, ada apa?" Tanya Katarina yang merasa heran saat Elizabeth memperhatikan seorang pria berpenampilan mencurigakan dan terkesan tertutup.
"Bukan apa-apa..." Balas Elizabeth sambil berjalan melenggang masuk ke dalam supermarket untuk menemui petugas yang dia cari.