
Perasaan bersalah atas kematian Austin mulai membebani Nathan. Pria itu tiba-tiba memukul wajahnya sendiri berulang kali karena merasa menjadi penyebab kematian kakaknya.
[ Tolong berhenti menyakiti tubuh anda sendiri Tuan rumah. Karena tidak akan mengubah garis takdir yang sudah ditentukan! ]
System memberikan peringatan kepada Nathan agar berhenti memukul wajahnya sendiri. Tetapi pria itu tentu saja mengabaikan peringatan yang sudah diberikan.
Akhirnya terpaksa System menjalankan protokol darurat dengan mengambil alih kendali tubuh Nathan agar tidak menyakiti dirinya sendiri lebih jauh lagi.
Pukulan seketika berhenti tepat sebelum mengenai wajah Nathan. Darah terlihat mulai menetes dari mulut dan hidung pria itu yang terluka kemudian bercampur dengan air hajun.
Kesadaran Nathan mulai mencoba memberontak untuk mengambil kendali atas tubuhnya yang sekarang digunakan oleh System.
Sayangnya usaha Nathan berakhir dengan kegagalan. System kemudian mengendalikan tubuhnya pergi meninggalkan makam Austin dan masuk kembali ke dalam mobil.
[ Peringatan terakhir System berikan kepada Tuan rumah. Jika anda melukai diri sendiri lagi maka System tidak akan segan-segan menjalankan protokol ke-dua! ]
Protokol ke-dua sendiri merupakan sebuah hukuman yang akan System berikan kepada Nathan jika melukai dirinya lagi. Hukuman ini berupa sengatan listrik selama 100 jam.
Mendengar peringatan dari System membuat Nathan seketika merasa sangat kesal. Ia sekarang tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri meskipun sudah berusaha keras untuk mengambil alih.
"Memangnya apa yang kau tahu tentang diriku!? Kau hanya sebuah alat yang tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang!" Nathan melepaskan semua amarahnya yang sudah lama terpendam dalam kalimat ini.
Pria itu sekarang sudah benar-benar merasa putus asa saat mengetahui penyebab kematian Austin yang berkaitan langsung dengan dirinya.
Nathan berpikir dia hanya seorang adik tidak tahu di untung yang membuat kakaknya menanggung semua penderitaan untuk mencari keberadaan dirinya selama 5 tahun.
[ Memang System hanya sebuah alat yang tidak mempunyai perasaan. Tetapi saya bisa memahami perasaan Tuan rumah saat ini yang sedang tidak stabil! ]
__ADS_1
System kemudian membeberkan sebuah fakta mengejutkan kepada Nathan. Sejak mereka saling terhubung, System bisa mengetahui semua hal yang berkaitan dengan Nathan. Mulai dari pikiran sampai perasaannya.
Tidak ada sedikitpun informasi tentang Nathan yang luput dari pengawasan System. Bahkan semua ketakutan yang dimiliki pria itu sudah diketahui oleh System dengan sangat baik.
Meski terdengar cukup tabu saat sebuah alat bisa memahami perasaan makhluk hidup. Amarah Nathan perlahan mulai berkurang saat mengetahui jika ada seseorang yang memahaminya dengan sangat baik.
Dengan bantuan dari System sekalipun Nathan tidak mungkin bisa menghidupkan kembali Anthony dari kematian sama seperti kasus Joe, El Chapo, dan Harold.
Ada sebuah aturan dimana System hanya bisa menghidupkan kembali seseorang yang sudah mati menggunakan Serum Pengubah Takdir.
Untuk mendapatkan satu serum ini tentu saja dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, mengingat kegunaannya jauh lebih kompleks dari Pill yang pernah Nathan gunakan kepada Joe, El Chapo, dan Harold.
Sayangnya serum ini hanya bisa digunakan dihari yang sama dengan kematian orang yang ingin dihidupkan kembali agar dapat berfungsi dengan baik.
Melihat indikator emosi Nathan yang sudah mulai kembali stabil. System akhirnya mengembalikan kembali kontrol tubuh kepada pria itu seperti sebelumnya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Nathan menyandarkan kepala pada stir mobil, karena merasa sangat kehilangan atas kematian Austin.
Malam itu setelah 5 tahun berlalu, Nathan untuk pertama kalinya melihat pertandingan Austin yang sedang menjadi trending topic saat itu melalui siaran internet.
Saat Austin menjuarai pertandingan malam itu dan menyampaikan pesan kepada Nathan untuk kembali pulang ke rumah. Nathan akhirnya menyadarkan kesalahannya dan memiliki niatan untuk kembali.
Nathan kemudian segera menghubungi Austin melalui nomor telepon yang saat itu ikut tersorot kamera. Meski pada awalnya ragu untuk menghubungi Austin setelah sekian lama, tetapi Nathan tidak punya pilihan lain jika ingin masalah keluarga mereka bisa segera selesai.
Hanya dalam sekali coba panggilan Nathan saat itu langsung diangkat oleh Austin yang sedang berada di ruang ganti sementara Anthony tengah mengemasi barang mereka untuk kembali pulang.
"Halo Kak... Ini aku Nathan..." Sapa Nathan saat itu dengan ragu-ragu karena merasa tidak enak menghubungi Austin setelah sekian lama.
__ADS_1
Mendengar nada khas dari seorang pria yang ia kenal. Austin langsung mengetahui jika orang itu merupakan Nathan adiknya yang sudah keluar rumah 5 tahun setelah berselisih dengan ayah mereka.
"Apakah itu kau Nathan? Dimana kau sekarang cepat pulang atau aku akan kesana dan memberimu beberapa pelajaran!" Balas Austin yang sangat antusias sambil mengancam Nathan agar segera kembali.
Mendengar ancaman dari Austin seketika membuat Nathan tertawa canggung saat mengingat pria itu pernah melatihnya, dengan sangat keras karena selalu dirundung ketika tidak sedang bersamanya disekolah.
Nathan kemudian memberitahu kepada Austin jika dirinya sekarang berada di Kota New York dan bekerja untuk sebuah Pialang Saham.
Austin yang mendengarnya langsung bernafas lega saat mengetahui Nathan masih hidup di dunia keras seperti ini dengan kondisi tubuhnya yang terbilang sangat lemah.
"Jadi kapan kau akan kembali? Kau tahu bukan masalah ini segera diselesaikan? Jangan seperti pengecut yang hanya bisa melarikan diri saat ada masalah! Kau ini sekarang sudah dewasa!"
Austin menanyakan kepulangan Nathan sambil memberikan nasehat kepada adik angkatnya agar segera pulang mengingat kondisi Anthony dalam beberapa tahun belakangan mulai memburuk setelah kepergiannya.
Merasa bersalah atas memburuknya kondisi kesehatan Anthony. Nathan kemudian memberitahu kepada Austin jika dirinya akan kembali dalam beberapa bulan lagi sambil membawa tunangannya nanti.
Mendengarkan jika Nathan akan melamar seorang wanita. Austin langsung menertawakannya karena merasa lucu jika ada seorang wanita yang mau hidup bersama adiknya.
Nathan berdecak kesal dan menjelaskan kepada Austin jika dia tidak main-main. Sebelum menutup panggilan telepon Nathan meminta kepada Austin untuk merahasiakan berita kepulangannya dari Anthony karena ingin membuat sebuah kejutan.
Austin tentu saja menyetujui permintaan Nathan asalkan adiknya benar-benar pulang. Dia juga mengancam Nathan jika sampai tidak kembali secepatnya maka akan dibuat berbaring selama satu minggu di ranjang rumah sakit.
"Aku mengerti... Bisakah kau berhenti mengancamku?" Nathan berdecak kesal dan menutup panggilan telepon bersama Austin.
Malam itu akhirnya Nathan membuat keputusan untuk mengakhiri masalah dengan Anthony yang selalu mengganggu pikirannya selama 5 tahun terakhir.
Disisi lain Nathan juga merasa senang bisa mengobrol bersama Austin setelah sekian lama. Dia juga dalam waktu dekat ingin bertemu dengan kakaknya untuk membahas cara melamar Roxy saat itu.
__ADS_1
Sayangnya malam itu merupakan terakhir kali bagi Nathan bisa mendengar suara Austin, karena sejak saat itu berita tentang kakaknya sudah tidak terdengar lagi.
Nathan tentu sudah berusaha menghubungi Austin lagi dihari-hari berikutnya. Tetapi setiap panggilannya selalu tidak bisa terhubung.