Mafia Order System

Mafia Order System
Ada Denganmu Elizabeth?


__ADS_3

Elizabeth dengan kesal berjalan menuju rooftop Bar, sambil sesekali memberi umpatan kepada Nathan yang wajah menyebalkanya selalu membayangi pikirannya.


"Arghh! Dasar pria menyebalkan! Apa dia bisa sekali mengalah kepadaku?!" Elizabeth sangat geram saat mengingat sikap Nathan yang acuh kepada dirinya.


Tidak pernah Elizabeth membayangkan akan bertemu bahkan bekerja untuk seorang pria kaku dan egois seperti Nathan yang sangat introvert.


Jika diingat-ingat kembali Elizabeth merasa dirinya lebih tepat dipanggil seorang pelayan dari pada assisten pribadi Mafia.


Setiap kali dia mencoba memberikan saran kepada Nathan, pria itu dengan sangat menyebalkan selalu menginterupsi setiap kalimat yang dia ucapkan.


Elizabeth juga sangat diberikan tugas untuk mengambilkan barang, membuat sandwich dan jus, sampai mencucikan pakaian kotor milik Nathan.


Mungkin jika bukan karena tugas yang diberikan oleh Margareth. Sudah jauh-jauh hari Elizabeth akan menikam Nathan saat pria itu sedang tertidur.


Jujur saat melihat Nathan ketiduran di laboratorium, tangan Elizabeth sudah sangat gatal ingin mencekik leher pria itu sampai mati kehabisan nafas.


Yang paling membuat Elizabeth kesal adalah saat melihat ekspresi Nathan ketika dirinya mengungkapkan jika sudah memiliki seorang tunangan.


Raut wajah Nathan terlihat biasa saja sedatar ekspresi ikan asin. Pria itu sama sekali tidak menunjukan gestur yang menyiratkan perasaan cemburu.


Elizabeth mengakui baru pertama kali menemui seorang pria yang sama sekali tidak tergoda dengan kecantikannya seperti Nathan.


Awalnya Elizabeth bisa memanfaatkan kecantikan yang dia miliki untuk menaklukan Nathan. Tetapi pada akhirnya dia benar-benar sudah salah perhitungan sejak awal, karena pria itu memiliki hati sekeras batu.


Saat Elizabeth sedang meluapkan semua kekesalannya terhadap Nathan. Dia baru menyadari ada seorang pekerja Bar yang sedang merokok di atas rooftop tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Apa?!" Elizabeth menatap tajam ke arah pekerja itu sambil membetaknya. Yang membuat pekerja tersebut langsung pergi dari rooftop karena ketakutan.


Setelah pekerja Bar itu sudah pergi. Elizabeth menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di pembatas sambil melihat kendaraan, yang sedang berlalu lalang dijalan raya dari atas rooftop.

__ADS_1


Elizabeth termenung mengingat kembali momen saat dirinya bekerja dengan Nathan. Meski hubungan di antara mereka terbilang rumit dan seringkali berdebat.


Mereka berdua sebenarnya juga sering bercanda satu sama lain, apa lagi saat salah satu dari mereka sedang merasa kesal. Entah itu Elizabeth atau Nathan akan membuat candaan ringan untuk menghibur salah satu di antara mereka yang suasana hatinya sedang buruk.


Elizabeth tanpa sadar mulai tersenyum. Namun kali ini berbeda dari biasanya, dimana ia sekarang tersenyum tulus dan sama sekali tidak menunjukan kepalsuan.


Sudah lama sejak terakhir kali Elizabeth tersenyum dengan tulus. Mungkin sekitar 15 tahun lalu dimana ia bisa tertawa lepas saat masih berusia 10 tahun, tidak seperti sekarang yang sudah sangat jarang sekali tersenyum dan lebih sering terlihat ketus.


Masalah ini tidak terlepas kaitannya dengan kedua orang tuanya. Elizabeth memiliki konflik dengan ke-dua orang tuanya dan memutuskan untuk pergi dari rumah sejak masih berusia 15 tahun.


Cerita Elizabeth hampir mirip dengan Nathan yang juga meninggalkan rumah saat berusia 15 tahun. Namun nasib mereka tentu saja sangat berbeda.


Meski sudah melarikan diri dari rumah, Elizabeth masih mendapatkan tunjangan hidup dari keluarganya secara diam-diam.


Orang tua Elizabeth membayar seseorang untuk merawat putri mereka, dan orang itu tidak lain adalah Margareth yang membimbing serta melatih Elizabeth dari masih sangat muda agar kelak bisa menjadi wanita yang tangguh seperti sekarang.


Tidak jarang Nathan akan berkelahi dengan gelandang lain hanya untuk sepotong roti dan kain dari tempat sampah, yang bisa dikatakan sangat tidak higienis.


Meski sebenarnya keluarga terutama kakeknya berasal dari keluarga yang terbilang sangat berada bahkan memiliki pengaruh besar di Amerika Serikat.


Nathan seperti domba kecil yang dibiarkan untuk menjalani kehidupan keras sejak masih sangat muda sampai hampir benar-benar mati jika saat itu tidak bertemu dengan Edric secara kebetulan.


Yang dimana Edric memberikan penemuan terbesarnya kepada Nathan berupa System, hingga membuat dirinya masih bisa hidup sampai sekarang.


Sebagai seorang Kakek, Alexander memang terdengar kejam dan tidak memiliki perasaan kepada cucu sekaligus keturunan yang akan menjadi penerus selanjutnya.


Tetapi sekali lagi semua ini tidak murni merupakan kesalahan Alexander. Bagaimanapun dia sangat menyayangi Nathan dan sudah sejak lama ingin bertemu dengan cucunya itu.


Aturan keluarga yang membuat Alexander terpaksa membiarkan Nathan hidup di jalanan untuk mengetes pewaris bisnis keluarga selanjutnya.

__ADS_1


Insiden dimana Nathan dijebak oleh kekasihnya sampai hampir mati sendiri, merupakan kesalahan perhitungan Alexander yang tidak mengira masalahnya akan menjadi serumit itu.


Dalam waktu dekat Alexander tentunya akan segera meminta Sebastian membawa pulang Nathan dan membiarkan cucunya bermain-main terlebih dulu.


Lagi pula ada hal lain yang membuat Alexander membiarkan Nathan dan tidak memanggilnya untuk pulang sesegera mungkin. Tentu hal ini berkaitan dengan pendamping cucunya kelak.


Kembali kepada Elizabeth. Senyuman indah diwajah cantiknya tiba-tiba menghilang dan menjadi muram seperti bunga mawar yang layu.


"Apa dia tidak cemburu saat aku mengatakan sudah memiliki tunangan... Maksudku bukan karena aku suka dengannya. Hanya saja aku ingin melihat ekspresi keputusasaan diwajahnya karena patah hati. Benar hanya itu saja!"


Elizabeth menepik segala pikirannya yang berkaitan dengan Nathan dan menyakinkan dirinya sendiri kalu dia tidak tertarik kepada pria menyebalkan itu.


Berulang kali Elizabeth terus mencoba mengingatkan dirinya jika Nathan bukanlah pria baik-baik dan merupakan target yang harus dia lenyapkan.


"Huh? Tidak-tidak... Jangan seperti ini Elizabeth. Ada denganmu? Kau harus tetap menyingkirkan penjahat itu..." Elizabeth terkejut saat tanpa sadar mulai menangis dan berusaha untuk menghapus air matanya.


Sayangnya sekeras apapun Elizabeth mencoba untuk menghapus air matanya dan menghentikan tangisannya. Usaha yang dia lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil.


Elizabeth tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba bisa menangis. Hanya saja saat memikirkan momen-momen bersama Nathan, dadanya langsung menjadi sesak.


Perasaan Elizabeth tentang Nathan sekarang menjadi campur aduk. Dia sendiri tidak mengetahui sebenarnya perasaan yang menyakitkan ini karena baru pertama kali merasakannya.


Saat melihat Nathan dikelilingi banyak wanita di Bar. Elizabeth sebenarnya tidak begitu perduli. Tetapi perasaan aneh ini yang membuatnya tiba-tiba menjadi kesal dan langsung membawa pria itu pergi.


Sekuat apapun Elizabeth meyakinkan jika Nathan merupakan seorang penjahat dan berusaha melupakan wajahnya. Perasaan itu justru semakin kuat dan membuat dadanya menjadi terasa lebih sesak.


Elizabeth kemudian mencoba mengalihkan perhatiannya dari Nathan dan mencari hal lain yang bisa membuat dirinya sejenak melupakan pria menyebalkan tersebut.


Wanita cantik itu lalu ingat tentang anak buahnya. Dia kemudian mengambil ponsel dari saku dan langsung menghubungi salah satu anak buahnya sambil menyeka air mata.

__ADS_1


__ADS_2