
Sementara itu ditempat lain, sebuah mobil berwarna hitam memasuki wilayah pelabuhan Richmond Philadelphia.
Awalnya kendaraan itu terlihat tidak mencurigakan, tetapi setelah mobil berwarna hitam tersebut masuk ke dalam area pelabuhan yang terbengkalai membuatnya terasa ada hal janggal.
Mobil itu kemudian berhenti di depan sebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai. Tiga orang pria lalu keluar dari dalam mobil yang ternyata merupakan Kevin dan dua anak buahnya.
Setelah memastikan situasi di sekitar gudang aman. Kevin dan ke-dua anak buahnya dari Geng The Brother masuk ke dalam sebelum kembali segera menutupnya.
Salah satu anak buah Kevin lalu segera mencari sakelar untuk menyalakan lampu. Begitu lampu dinyalakan terlihat sebuah kontainer besar berada di tengah-tengah ruangan.
Tidak hanya itu saja, beberapa aquarium yang menyimpan banyak ikan peliharaan Kevin dari berbagai jenis dan tampak berjajar rapih di sana.
Adapun satu aquarium yang cukup besar di sana dan dipersiapkan khusus untuk ikan kesayangan Kevin yaitu Hiu Martil sepanjang tiga meter.
"Pagi Jack! Aku membawakan sarapan pagi untukmu pria besar!" Ucap Kevin sambil berjalan menaiki tangga pada sisi aquarium dengan membawa satu ember daging sapi dan satu ekor daging ayam.
Kevin dengan senyuman lebar diwajahnya lalu memberikan sarapan kepada Jack yang tampaknya sudah sangat kelaparan, dan ingin segera memakan daging yang dibawa oleh majikannya.
Begitu Kevin melemparkan daging sapi dan ayam ke dalam aquarium. Jack dengan ganas memakannya sampai membuat air aquarium menjadi sedikit berwarna merah akibat tercampur darah dari daging.
Selesai memberikan makan untuk Jack. Kevin segera menghampiri ke-dua anak buahnya yang terlihat sedang membuka kontainer besar berwarna hitam.
"Datanglah ke pelukan Papa sayang..." Kevin mengusap ke-dua tangannya berulangkali dan terlihat sudah tidak sabar menunggu kontainer di hadapannya terbuka.
Krakkk!!!
Pengait sudah berhasil dilepaskan. Ke-dua anak buah Kevin kemudian membuka pintu kontainer dan seketika sejumlah uang tunai dalam jumlah besar membludak keluar.
__ADS_1
Kevin yang berada di depan pintu kontainer terlihat sangat senang saat melihat semua bayarannya. Total ada 100 Juta Dollar yang Kevin dapatkan setelah bayarannya sempat ditunda beberapa bulan oleh atasannya.
Saat Kevin sedang memeluk semua yang dia miliki. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ketika diperiksa dia mendapati atasannya yang ternyata menelpon dirinya.
"Hallo Bos! Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Kevin dengan nada senang setelah mendapatkan 100 Juta Dollar cash dari atasannya.
Mendengar pertanyaan dari Kevin, wanita misterius yang berada di sisi lain segera menanyakan kepada pria itu apakah bayarannya sudah di ambil atau belum.
Kevin dengan penuh semangat tentu menjawab jika dirinya sudah menerimanya. Tanpa perlu dihitung dia sudah sangat yakin jika bayarannya tidak kurang sepeserpun.
"Baguslah... Bagaimana dengan pria itu? Apakah kau sudah berhasil bernegosiasi dengannya?" Tanya wanita dari balik telepon dengan nada penasaran.
Pria yang dimaksud oleh wanita itu tidak lain merupakan Nathan. Bagaimanapun dia menyadari jika tidak boleh membuat masalah dengan pria tersebut dan berdamai adalah solusi yang terbaik.
"Kau tahu Aku sedikit membuat masalah dan membuatnya mungkin sekarang akan mengincar kepalaku..." Balas Kevin dengan gugup sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Hei! Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak membuat masalah dengannya!" Wanita dari balik telepon membentak Kevin dengan keras dan terlihat sangat panik sekarang.
Wanita itu kemudian menyalahkan Kevin karena sudah membunuh Austin dan membuat masalah dengan keluarga Anthony.
Jika dari awal wanita itu mengetahui Nathan memiliki hubungan dengan keluarga Anthony, maka dia akan menghentikan aksi Kevin yang membunuh Austin hanya untuk uang senilai 1 Juta Dollar tanpa berkoordinasi terlebih dulu dengannya.
"Tenanglah aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas masalah ini. Lagi pula hari ini juga aku akan pergi ke Brazil!" Balas Kevin dengan santai.
Kevin tentu saja cukup pintar. Dia sadar tidak akan bisa mengalahkan Nathan secara langsung tanpa adanya sandera. Melarikan diri ke Brazil mungkin merupakan pilihan yang terbaik untuk dilakukan.
Pemimpin Geng The Brother itu juga sudah membuat rencana untuk merekrut anggota kembali dan membuat markas baru di Brazil.
__ADS_1
Hanya perlu memberi sedikit manisan kepada beberapa petinggi di negara tersebut. Kevin yakin bisa mendapatkan akses untuk melakukan peredaran di sana tanpa perlu khawatir dengan hukum yang berlaku.
Belum sempat Kevin membeberkan rencananya saat nanti tiba di Brazil kepada wanita itu. Ponselnya tiba-tiba kehilangan signal dan mati padahal baterainya masih berada di angka 45%.
"Ada apa dengan ponsel ini?!" Kevin berdecak kesal sambil berusaha untuk menghidupkan kembali ponselnya yang tiba-tiba mati tanpa sebab.
Kevin masih perlu berbicara dengan wanita itu untuk membahas keberangkatannya ke Brazil mengingat atasannya memiliki sedikit pengaruh di pemerintahan Amerika Serikat.
Tidak berselang lama tiba-tiba lampu yang ada di seluruh ruangan mati total. Kevin yang kesal kemudian segera memerintahkan ke-dua anak buahnya untuk menyalakan kembali lampu.
Dua anggota Geng The Brother segera mencari kembali sakelar dengan bantuan penerangan dari senter. Lokasi sakelar sendiri berada disisi lain ruangan dan sedikit jauh dari tempat Kevin saat ini berada.
Saat sedang berjalan menuju sakelar lampu. Tiba-tiba salah satu anak buah Kevin ditarik oleh seseorang dari dalam kegelapan tanpa terdengar suara sedikitpun.
"Hah... Penerangan ditempat ini benar-benar buruk, bukankah begitu Tedi?" Tanya salah satu anggota Geng The Brother yang tersisa kepada rekannya.
Menyadari rekannya yang tadi berjalan dibelakangnya tiba-tiba menghilang. Pria itu berdecak kesal dan segera menulusuri tempat yang penuh rak berisi tumpukan kardus untuk mencari rekannya.
Pria itu tiba-tiba terkejut saat menemukan rekannya yang sudah tergeletak tidak bernyawa di lantai dengan kondisi bersimbah darah.
Merasa ada yang tidak beres pria itu langsung mengeluarkan senjata api dan menaruh kewaspadaan tinggi, karena menyadari jika ada seseorang yang membuntuti mereka.
Benar saja tiba-tiba dari belakang seseorang langsung membungkam mulut pria itu dan menyayat tenggorokan hingga membuat anak buah Kevin tewas.
Disisi lain Kevin yang merasa kesal dengan ke-dua anak buahnya karena tidak segera menyalakan lampu, kemudian berteriak memanggil mereka.
Lampu tiba-tiba kembali menyala dan Kevin akhirnya bisa sedikit tenang. Tetapi sesaat kemudian dia merasa ada seseorang yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Saat Kevin berbalik sebuah tongkat baseball langsung menghantam kepalanya. Pria itu kemudian segera tidak sadarkan diri dan tergeletak di lantai.