Mafia Order System

Mafia Order System
Identitas Asli Wanita Misterius


__ADS_3

Teriakan dan rintihan kesakitan dari seorang pria terdengar keras menggema di dalam sebuah gudang terbengkalai yang terdapat di pelabuhan Richmond Philadelphia.


Beberapa orang yang mendengar suara rintihan dari kejauhan merasa sedikit ketakutan. Tidak ada satupun dari mereka yang berani hanya untuk sekedar mendekat atau memeriksa tempat tersebut.


Sementara itu di dalam gudang terbengkalai tersebut. Kevin sudah berlumuran darah dan merasa kesakitan setelah kehilangan salah satu daun telinga.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!" Tanya Kevin sambil menahan rasa sakit. Pandangan pria itu kini tertuju ke arah Nathan yang sedang memperhatikan noda darah pada bilah pisau.


Kevin hanya bisa merasa waspada kepada Nathan yang terlihat sudah mulai sedikit tidak waras karena bertingkah seperti seorang psychopath.


Mendengar pertanyaan dari pemimpin Geng The Brother tersebut. Nathan tertawa lirih yang membuat Kevin mulai bergidik karena merasa takut.


"Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya? Katakan saja siapa orang yang berada di belakangmu, maka aku akan membuat ini semua menjadi lebih cepat." Balas Nathan.


Nathan sebenarnya sudah sedikit menyadari siapa orang yang berada di balik Kevin. Tetapi dia masih memerlukan sedikit jawaban agar bisa mengkonfirmasi jika memang benar orang itu yang sedang dia cari.


Mendengar perkataan Nathan yang meminta dirinya agar membocorkan identitas mitra kerjanya tentu saja Kevin dengan lantang menolak untuk memberitahu.


Tubuh Kevin terlihat gemetaran dan raut wajahnya menjadi sedikit memucat yang menunjukan bahwa pemimpin Geng The Brother tersebut sedang merasa gugup.


Kevin tentu saja sadar jika penolakan dirinya akan membuat Nathan merasa kesal dan berakhir pada kematiannya. Tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena sebuah alat pemicu bom seukuran benih padi yang tertanam di dalam lehernya.


Alat ini hampir sama dengan yang Nathan tanamkan saat membuat perjanjian bersama Joe, El Chapo, dan Harold sebagai jaminan atas kebebasan mereka dari penjara.


Begitu Kevin mengatakan nama mitra kerjanya maka bom seukuran benih padi akan langsung meledak dan membuat kepalanya seketika terpenggal.


Nathan sekilas tersenyum sebelum raut wajahnya kembali menjadi datar. Pria itu kemudian secara perlahan menusuk paha milik Kevin hingga membuat pemimpin Geng The Brother tersebut merintih kesakitan.


"Bicaralah maka ini semua akan segera berakhir..." Nathan memberi peringatan terakhir kepada Kevin sebelum acara utama akan dimulai.

__ADS_1


Tatapan mata Nathan fokus kepada Kevin yang sedang menahan rasa sakit, seolah menikmati setiap rintihan yang keluar dari mulut pemimpin Geng The Brother tersebut.


Kevin menggelengkan kepala dan masih berpegang teguh kepada keyakinannya untuk tidak memberitahu siapa orang yang sudah memberinya pekerjaan selama ini setelah keluar dari Marinir.


Akibat dari tidak mau membuka suara dan memilih untuk tetap bungkam. Kevin kembali mengeluarkan teriakan saat Nathan mulai menyayat pahanya secara perlahan.


Kevin kembali memberontak berusaha untuk melepaskan diri. Hingga secara tidak sengaja ponselnya jatuh dari dalam saku celana akibat terkena guncangan.


Melihat ponsel milik Kevin terjatuh di lantai. Nathan menghentikan aksinya sejenak dan mengambil ponsel itu untuk mencari tahu langsung informasi mengenai orang yang ada di belakang Kevin.


Begitu ponsel yang sebelumnya tiba-tiba mati tanpa sebab Nathan pegang. Ponsel tersebut seketika kembali menyala seakan mendapatkan daya kembali.


Kevin tertawa lirih saat melihat Nathan mencoba untuk menggeledah isi ponselnya yang memiliki keamanan berlapis dan memerlukan otoritas dirinya sebagai pemilik.


Tetapi ekspektasi Kevin seketika dipatahkan oleh Nathan. Dengan sangat mudah pria itu bisa membuka keamanan ponsel karena dibantu oleh System yang memandunya.


Aktivitas panggilan terakhir di ponsel Kevin lalu Nathan periksa. Pria itu memicingkan mata saat mendapati kontak tanpa nama tetapi seperti mengenali siapa pemilik nomornya.


Melihat panggilan terakhir yang tertera di ponselnya. Tatapan mata Kevin terlihat menunjukan gerak-gerik mencurigakan dan dia masih enggan untuk memberi penjelasan.


Kevin sendiri tidak percaya Nathan bisa membuka sistem keamanan ponsel miliknya dengan sangat mudah, padahal dia sudah memasang keamanan berlapis.


Melihat Kevin kembali tidak mau buka suara. Nathan memutuskan untuk menelpon sendiri nomor terakhir yang ada di catatan panggilan milik pria tersebut.


Sayangnya panggilan Nathan tidak kunjung terhubung dengan wanita misterius yang merupakan pemimpin dari Geng The Brother sesungguhnya.


Kevin tertawa saat melihat Nathan yang berulangkali gagal menghubungi pemimpinnya. Dia seketika berpikir jika wanita itu pasti sudah menyadari ada yang tidak beres.


"Mengapa kau terlihat senang padahal atasanmu sama sekali tidak memperdulikan nasibmu disini?" Nathan merasa heran saat melihat Kevin yang masih bisa tertawa di situasi seperti sekarang.

__ADS_1


Pertanyaan dari Nathan seketika membungkam tawa penuh percaya Kevin. Dia mulai berpikir apa yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya juga.


Jika wanita itu perduli kepadanya, bukankah seharusnya wanita itu mengangkat panggilan darinya dan tidak mengabaikan dirinya.


Tetapi dengan cepat Kevin segera menyangkal pikiran negatifnya. Dia yakin atasannya itu pasti sekarang sedang mengkhawatirkan dirinya dan mengirim sebuah tim untuk menolong dirinya.


Kevin sangat yakin kesetiaannya selama bertahun-tahun pasti akan dibayar mahal oleh atasannya. Dirinya juga tidak mungkin akan di abaikan begitu saja seperti sampah yang sudah tidak diperlukan lagi.


"Dia pasti sekarang sedang mengirim timnya kesini untuk membantuku. Sebaiknya kau segera berdoa karena tim itu sangat terkenal di kalangan militer sepertiku!" Kevin tersenyum sini dan menatap mata Nathan dengan penuh percaya diri.


Nathan seketika memicingkan mata setelah mendengar ancaman dari Kevin. Bukan karena dirinya takut melainkan dia penasaran dan seperti menyadari siapa unit tim yang Kevin maksud.


"Apa maksudmu adalah mereka?" Dari balik jaket Nathan mengeluarkan sebuah foto yang berisi unit Pasukan Saber dan menunjukkan kepada Kevin.


Dalam foto tersebut terdapat Baron, Teo, Mike, Katarina, Jasmine, dan yang terakhir adalah pemimpin mereka yang dikenal sangat kejam yaitu Elizabeth.


Melihat foto unit Pasukan Saber seketika raut wajah Kevin menjadi pucat dan gugup. Beberapa kali dia mencoba mengalihkan pandangan dari foto itu dan tetap enggan untuk memberi jawaban.


Nathan tersenyum tipis menyadari tim yang Kevin maksud adalah Pasukan Saber. Jika memang begitu maka sudah bisa dipastikan siapa pemilik nomor misterius yang ada di ponsel Kevin.


Tetapi Nathan merasa heran saat mengingat kejadian semalam dimana Kevin dengan sengaja melemparkan sebuah bom ke arah Elizabeth pemimpin dari Pasukan Saber.


Nathan menduga jika Kevin hanya ingin menguji seberapa tangguh Elizabeth dan tampaknya mereka belum terlalu saling mengenal. Sepertinya hanya Kevin saja yang mengenali Elizabeth, sementara wanita cantik itu tidak.


"Apa kau tahu siapa orang yang sudah membuatku dan unit Pasukan Saber sekarang berada di Kota ini?" Tanya Nathan sambil tersenyum tipis.


Kevin terlihat penasaran tetapi tidak mau mengakui jika tim yang dia maksud akan segera datang adalah unit Pasukan Saber kepada Nathan.


Nathan kemudian menyebutkan nama Margareth di hadapan Kevin dan memberitahu jika Pasukan Saber tidak akan datang ke tempat mereka, karena pemimpin unit tersebut sekarang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

__ADS_1


Penjelasan yang Nathan berikan langsung bisa di tangkap oleh Kevin dengan sangat mudah. Artinya sosok Margareth yang menjadi atasannya selama ini sengaja mengirim Nathan, dan Pasukan Saber untuk melenyapkan dirinya serta anggota lama Geng The Brother agar bisa membuat sebuah Geng baru.


__ADS_2