
Cuaca hari ini terasa semakin dingin tidak seperti biasanya. Hal ini sesuai dengan berita yang disampaikan oleh stasiun televisi setempat, jika Kota Philadelphia dan sekitarnya akan mengalami badai salju.
Nathan dan Elizabeth sekarang terlihat duduk berdampingan menghadap perapian untuk menghangatkan tubuh mereka masing-masing.
Posisi duduk mereka sedikit berjauhan setelah Nathan memutuskan untuk menjaga jarak dari Elizabeth mengingat wanita cantik itu tidak suka berada di dekat pria sembarangan.
Nathan pernah melihat langsung bagaimana Elizabeth membanting seorang pria yang mengajaknya berkencan secara paksa, saat mereka berdua bertemu untuk ke-dua kalinya di Markas Besar Pentagon.
Membayangkan tulang punggung dan lengannya patah seperti pria itu, Nathan lebih memilih untuk tidak mengganggu Elizabeth yang tampaknya sampai sekarang masih sedikit kesal kepada dirinya.
"Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu aku berada disini?" Nathan memutuskan bertanya untuk memecah suasana canggung di antara mereka berdua sejak makan siang tadi.
Sebenarnya Nathan cukup penasaran tentang Elizabeth yang bisa menemukan dirinya padahal tidak diberikan alamat sebelumnya.
Elizabeth meminum cokelat panas terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dari Nathan yang terlihat merasa penasaran dengan keahliannya dalam melacak seseorang.
"Aku yakin kau pasti tidak melupakan perangko ini saat menulis surat." Balas Elizabeth sambil menunjukan surat yang sebelumnya Nathan titipkan kepada Sebastian untuk dirinya.
Melihat surat yang ditunjukan oleh Elizabeth. Nathan akhirnya baru ingat sudah menulis surat untuk wanita cantik itu agar tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.
Nathan tertawa lirih setelah tidak bisa membantah kecurigaan Elizabeth tentang bagaimana dirinya meninggalkan sebuah petunjuk berupa sebuah perangko sebagai permainan untuk wanita cantik itu.
Pada awalnya Nathan hanya bercanda saja menyelipkan sebuah perangko pada surat yang dia tulis. Ia sama sekali tidak menyangka Elizabeth akan benar-benar mencari dirinya, karena sempat berpikir jika wanita cantik itu pasti tidak akan perduli tetapi semuanya sekarang ternyata salah.
Elizabeth kemudian menunjukan sebuah buku kepada Nathan yang membuat pria itu seketika tampak sangat penasaran dan menjadi antusias.
"Selain menggunakan petunjuk dari perangko yang kau berikan. Aku juga membaca salah satu tempat favoritmu jika sedang merasa tertekan." Ucap Elizabeth sambil memperlihatkan buku jurnal pribadi milik Nathan.
Nathan yang melihat sebuah jurnal di tangan Elizabeth tampak kebingungan karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita cantik itu.
"Buku jurnal milik siapa itu?" Tanya Nathan yang tidak mengenali jurnal di tangan Elizabeth dan baru pertama kali melihatnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Nathan, seketika membuat Elizabeth mengerutkan kening seolah tidak percaya jika pria itu sama sekali tidak mengenali buku jurnalnya sendiri.
"Bukankah ini milikmu?" Tanya Elizabeth untuk memastikan apakah Nathan berbohong atau tidak, sambil memperhatikan ekspresi di wajah pria tersebut.
Untuk ke-dua kalinya Nathan menyangkal kalau buku jurnal yang Elizabeth tunjukan bukan miliknya. Hal ini sontak membuat wanita cantik itu terheran-heran.
Nathan kemudian meminjam buku jurnal itu dari Elizabeth. Begitu membaca, dia terkejut menemukan semua rekam jejaknya sejak berusia 15 tahun tercatat di dalamnya.
Rekam jejak itu ditulis sangat detail sampai membuat Nathan sendiri terheran-heran. Dia tidak menyangka jika selama ini ada seseorang yang menguntit dirinya.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" Nathan bertanya dengan nada serius kepada Elizabeth sebab ini semua menyangkut privasi dirinya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengetahuinya.
Mendapat sebuah jurnal yang mencatat rekam jejaknya secara detail selama 8 tahun terakhir. Nathan sangat ingin mengetahui siapa orang yang sudah menulis itu semua tanpa sepengetahuan dari dirinya.
Elizabeth yang mendapati jika Nathan benar-benar bukan pemilik jurnal tersebut merasa semakin bingung. Apa lagi saat melihat pria itu tiba-tiba menjadi serius setelah membacanya.
"Sebastian memberikan jurnal ini kepadaku seminggu yang lalu. Memangnya ada apa sampai-sampai kau terlihat serius seperti itu?" Balas Elizabeth sambil menatap heran ke arah Nathan.
Nathan kemudian mengingat saat Sebastian secara tidak terduga pernah memanggilnya Tuan Muda dengan penuh penghormatan seperti seorang Kesatria.
Perlahan Nathan mencoba mengingat kembali sikap Sebastian saat mulai bekerja untuk dirinya, yang sebenarnya terasa sangat janggal dan terlalu berlebihan.
Sebastian sangat menghormati Nathan dan tidak pernah bertanya atau menolak saat di berikan perintah. Pria tua itu juga sering memberikan beberapa camilan favorit Nathan secara tidak terduga, padahal belum pernah diberi tahu.
"Bisakah aku meminjam ponselmu sebentar untuk menghubungi Sebastian?" Pinta Nathan dengan raut wajah serius kepada Elizabeth.
Melihat ekspresi serius di wajah Nathan seketika membuat Elizabeth tertegun lalu segera memberikan ponsel miliknya kepada itu.
Nathan tersenyum tipis dan menganggukan kepala sebagai ucapan terimakasih kepada Elizabeth. Pria itu kemudian beranjak pergi menuju ruangan lain untuk berbicara dengan Sebastian secara pribadi.
Mendapat senyuman dari Nathan langsung membuat Elizabeth menjadi salah tingkah. Wanita cantik itu tanpa sadar langsung menundukan kepala untuk menutupi wajahnya yang tersipu.
__ADS_1
Diam-diam Elizabeth memperhatikan Nathan yang sedang menghubungi Sebastian dari kejauhan. Penampilan pria itu seketika membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Elizabeth sebenarnya sudah menahan diri untuk menyembunyikan rasa gugup. Oleh sebab itu dari saat memasak kepiting alaska, wanita cantik itu sengaja membuat ekspresi dingin agar Nathan tidak merasa curiga.
Beberapa menit kemudian setelah selesai menghubungi Sebastian. Nathan kembali duduk di samping Elizabeth dan tidak lupa mengembalikan ponsel milik wanita cantik itu.
"Apa yang kau bicarakan bersama Sebastian?" Tanya Elizabeth penasaran dan terlihat ekspresi di wajahnya sudah kembali datar untuk menyembunyikan rasa gugup saat berdekatan dengan Nathan.
Jujur Elizabeth sudah hampir tidak bisa menahan diri untuk menyembuhkan perasaannya yang sebenarnya kepada Nathan. Jika saja ego yang dimiliki wanita cantik itu sedikit berkurang, mungkin hubungan mereka tidak akan menjadi serumit ini.
"Aku hanya meminta Sebastian untuk menemuiku setelah kembali nanti." Balas Nathan sambil tersenyum tipis yang membuat Elizabeth langsung mengalihkan pandangan.
Elizabeth sendiri sadar jika Nathan pasti tidak akan memberitahu tujuannya ingin bertemu dengan Sebastian dan memutuskan untuk bertanya lebih lanjut.
Yang perlu Elizabeth khawatirkan sekarang adalah detak jantungnya. Saat ini bahkan dia hanya bisa mengalihkan pandangan dari Nathan agar tidak kehilangan akal sehat.
Nathan sendiri hanya bisa terheran-heran saat melihat Elizabeth yang mengalihkan pandangan. Dia berpikir jika wanita cantik itu masih menyimpan perasaan kesal sampai tidak sudi melihat wajahnya.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan selama beberapa hari terakhir. Apa maksudmu mencium keningku sebelum pergi di hari itu?" Tanya Elizabeth sambil menguatkan diri untuk menatap serius kepada Nathan.
Nathan seketika menyemburkan cokelat panas dari mulutnya dan beberapa kali batuk karena tersedak setelah mendengar pertanyaan dari Elizabeth.
"Mana mungkin aku berani mencium keningmu saat kau tidak sadarkan diri. Kau mungkin hanya berhalusinasi saja." Balas Nathan sambil tertawa canggung dan segera mengalihkan pandangan untuk menghindari kontak mata dengan Elizabeth.
Nathan mencoba berkelit menolak mengakui fakta bahwa sudah mengambil keuntungan saat Elizabeth sedang tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Tetapi setelah Elizabeth menunjukan rekaman CCTV di kamar VIP. Nathan sudah tidak bisa berkelit lagi dan mulai berkeringat dingin.
"Apa kau percaya jika saat itu aku hanya meniup debu saja yang ada di keningmu?" Nathan mencoba mengalihkan opini Elizabeth agar tidak percaya jika dirinya sudah mencium kening wanita cantik itu tanpa izin.
Elizabeth tentu saja tidak mudah untuk di tipu oleh Nathan setelah kesekian kalinya. "Mari kita mulai membahas apa yang harus dilakukan untuk kedepannya, Tuan Nathan..."
__ADS_1