Mafia Order System

Mafia Order System
Menjinakkan Wanita Bertangan Besi


__ADS_3

"Bagaimana dengan bisnismu di Kensington. Apa kau sudah mulai mengedarkan barang-barang itu atau sedang mengusir para tikus dulu disana?" Llyod Austin bertanya mengenai peredaran obat-obatan terlarang yang dilakukan oleh Nathan.


Mendengar pertanyaan dari Llyod Austin seketika Nathan menghentikan pekerjaannya sejenak dan berbalik kearah pria tersebut.


"Ini tidak semudah yang kau pikirkan. Tetapi baru-baru ini aku membangun sebuah Bar disana." Balas Nathan sambil memberikan sebuah kartu berwarna hitam kepada Llyod Austin.


Llyod Austin memperhatikan kartu yang diberikan oleh Nathan. Ada sebuah logo berbentuk mahkota berwarna emas dan terdapat nama King yang sangat mencolok di bawahnya.


"Baik aku akan berkunjung ke sana saat waktu luang. Jangan lupa siapkan minuman terbaik untuku nanti..." Ucap Llyod Austin sambil menyimpan kartu akses yang diberikan Nathan.


Llyod Austin dan Margareth serta semua ajudan mereka kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaan. Meninggalkan Nathan seorang diri ditempat tersebut.


Setelah semua orang sudah pergi, Sebastian masuk ke dalam ruangan untuk menemui Nathan sambil membawakan nampan yang terdapat sepotong sandwich dan jus lemon.


"Aku tak menyangka kau sekarang menjadi aset negara." Celetuk Sebastian sambil meletakan nampan disamping Nathan.


Nathan hanya mengangkat kedua bahu memberitahu kepada Sebastian jika dirinya sendiri tidak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini.


Dengan cepat Nathan memakan sandwich dan jus lemon yang diberikan oleh Sebastian. Mereka kemudian segera berkemas untuk menyusul El Chapo dan Joe yang saat ini sudah berada di Philadelphia.


Untuk Harold sendiri dia akan tetap berada disana mengingat pria itu saat ini sedang sibuk membuat sebuah serum, yang nantinya akan menjadi pelopor kemajuan teknologi manusia dalam bidang medis.


Begitu Nathan dan Sebastian sampai di Lobby beberapa orang yang melihat kehadiran mereka langsung sedikit membungkukan badan untuk memberi hormat kepada keduanya.


"Ada apa dengan mereka?" Tanya Nathan dengan nada suara rendah sambil memperhatikan orang-orang yang membungkuk kearahnya.


"Hanya prosedur kerja yang baru..." Balas Sebastian dengan santai yang membuat Nathan hanya bisa kebingungan tidak mengerti apa yang sebenarnya dimaksud.


Saat keluar dari Lobby sebuah mobil Rolls Royce Phantom berwarna hitam langsung menyambut mereka seolah sudah mengetahui jika keduanya akan pergi malam itu juga.


Seorang supir kemudian membukakan pintu untuk Nathan. Dengan gugup Nathan menerima pelayanan yang diberikan karena jujur saja ini merupakan pengalaman pertamanya merasakan kehidupan mewah.

__ADS_1


Meski sudah memiliki banyak di dalam rekening Bank miliknya. Jujur saja Nathan tidak terlalu mengerti akan digunakan apa semua uangnya karena saking banyaknya.


Nathan dibuat terkejut saat masuk ke dalam mobil. Dia melihat Elizabeth sudah berada disana dan tidak menyangka jika wanita cantik itu akan ikut bersama dengannya.


"Apa yang kau lakukan disini? Aku pikir kau pergi bersama atasanmu." Tanya Nathan sambil duduk tepat disamping Elizabeth yang terlihat acuh.


Elizabeth melirik kearah Nathan dengan tatapan mata yang datar. Jika diperhatikan lebih teliti lagi sorot mata wanita cantik itu menunjukan kebencian seolah bisa menelan pria di sampingnya.


"Berapa kali aku harus memberitahumu jika sekarang kau adalah atasanku?" Elizabeth berdecak kesal dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Mendengar perkataan Elizabeth seketika membuat kata-kata yang ingin dikeluarkan Nathan langsung tersangkut di tenggorokan.


Menyadari jika Elizabeth sudah membuat pembatas, Nathan akhirnya memilih untuk tidak mengganggu wanita cantik itu dan bermain game menggunakan ponselnya.


Disisi lain Sebastian yang duduk didepan bersama supir hanya bisa menggelengkan kepala melihat Nathan dan Elizabeth yang belum juga akur dari kaca tengah.


"Saat tanggal merah sepertinya acaranya tidak akan berjalan lancar..." Sebastian menghela nafas panjang mengingat misi tambahan yang diberikan oleh Alexander.


Raut wajah Elizabeth menjadi kusut dan tatapannya semakin menunjukan kekesalan kepada pria yang duduk di sampingnya.


Elizabeth merasa terganggu dengan suara bising yang dibuat Nathan di sepanjang jalan saat bermain game sambil memakan keripik kentang.


Belum lagi Nathan selalu ceroboh karena beberapa kali minuman soda nya tumpah dan mengenai Elizabeth yang jelas-jelas suasana hatinya sedang tidak baik.


"Bisakah kau tidak berisik? Apa kau tak merasa malu jika orang lain mengetahui seorang Mafia memiliki sifat seperti anak kecil?" Tanya Elizabeth sambil sedikit melirik ke arah Nathan.


Yang Elizabeth ketahui saat dirinya melawan Mafia, banyak dari mereka yang selalu bersikap angkuh dan suka menghabiskan malam dengan wanita bayaran yang berbeda-beda.


Sebaliknya Nathan justru seperti pemuda biasa pada umumnya yang kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game.


"Mafia? Tidak-tidak... Aku hanya seorang pedagang biasa dan tidak cocok mendapatkan julukan mengerikan seperti itu." Balas Nathan tanpa melihat kearah Elizabeth dan fokus pada permainannya.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Nathan seketika membuat Elizabeth berdecak kesal bahkan Sebastian sampai terbatuk merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Elizabeth dan Sebastian sekarang memiliki pikiran yang sama tentang Nathan. Mereka tidak menyangka jika pemuda itu menyangkal julukannya sebagai seorang Mafia.


Padahal dari segi manapun Nathan tidak terlihat sebagai pedagang biasa, mengingat barang yang dia jual sama sekali tidak biasa dan bisa dikatakan Ilegal secara hukum.


Nathan bahkan sudah menghabisi 20 anggota kepolisian dan sampai sekarang kasusnya masih terus berjalan tanpa ada titik terang.


Elizabeth tentu sampai sekarang masih terus berusaha mencari bukti yang bisa membuat nama Nathan menjadi buruk dimata pemerintah, dan bisa menjebloskannya ke dalam penjara.


"Hei! Kenapa kenapa kalian tidak membantuku dibawah?!" Nathan berdecak kesal saat karakternya terbunuh dijalur bawah karena berhadapan dengan 5 musuh sekaligus.


Suara teriakan Nathan yang sangat keras langsung mengejutkan semua orang di dalam mobil. Bahkan supir sampai hampir saja kehilangan kendali mobil.


Beberapa saat kemudian Nathan terlihat sudah terikat dikursi dengan mulut terlakban. Orang yang sudah melakukan ini tidak lain adalah Elizabeth yang sudah kehabisan kesabaran.


"Hngghh!!!" Nathan meronta-ronta saat Elizabeth membuka jendela sambil memegang ponsel yang sebelumnya direbut dari tangannya.


Tanpa belas kasih Elizabeth langsung melempar ponsel milik Nathan keluar dari mobil dan berakhir terinjak-injak kendaraan lain sampai akhirnya hancur.


"Apa?" Tanya Elizabeth tanpa rasa bersalah setelah membuang ponsel milik Nathan yang baru-baru ini dibeli.


Nathan menatap kesal kearah Elizabeth yang masih bisa tersenyum manis setelah menghancurkan kebahagiaan sederhananya.


Kini giliran Nathan dengan kesal mengalihkan pandangan keluar jendela setelah sebelumnya Elizabeth yang melakukan hal sama.


"Ayolah itu hanya permainan biasa saja. Tidak ada yang spesial disana." Ucap Elizabeth sambil menggoda Nathan dengan menggelitik area leher pria tersebut.


Tetapi Nathan sama sekali tidak menunjukan raut wajah jika dia merasa geli. Yang langsung membuat Elizabeth semakin menjadi-jadi untuk membuatnya tertawa.


Disisi lain Sebastian tersenyum tipis melihat dari kaca tengah kelakuan Nathan dan Elizabeth. Hanya dalam sekilas melihat, Sebastian bisa tau jika Nathan sebenarnya sengaja membuat sedikit kebisingan di dalam mobil agar Elizabeth tidak murung lagi.

__ADS_1


Dan memang benar jika cara yang dilakukan Nathan terbukti berhasil dengan Elizabeth yang untuk pertama kalinya bisa tertawa lepas, meski harus mengorbankan ponselnya.


__ADS_2