
Pagi-pagi sekali Nathan pergi meninggalkan motel tempatnya menginap semalam untuk menghindari pelacakan dari Elizabeth dan timnya yang sedang mengejarnya.
Memasuki sebuah gang, Nathan meraih ponselnya yang sudah retak dari balik jaket akibat kecelakaan kemarin. Terlihat sudah banyak panggilan tidak terjawab dari Sebastian dan yang lain di history telepon.
Tanpa menunggu lama Nathan langsung menghubungi Sebastian sambil menahan rasa sakit dibagian pinggang yang terluka dan sempat dijahit seadanya semalam.
"Halo Tuan Sebastian... Apakah kalian sudah mendapatkan tempat yang aku minta?" Tanya Nathan dengan nada terengah-engah sambil duduk bersandar di sebuah tembok.
Darah segar yang keluar dari luka jahitan mulai menembus pakaian dan membashi tangan Nathan saat pria itu mencoba menahan pendarahan dari jahitan yang tidak sempurna.
"Ya kami mendapatkan sebuah tempat dari pelelangan tiga hari yang lalu di New York. Kau sekarang ada dimana, mengapa nafasmu terdengar tidak teratur?" Balas Sebastian.
Dari balik telepon Sebastian tampak mulai khawatir merasa ada yang tidak beres dengan Nathan. Ia memang selama beberapa hari tidak berada disisi pria itu karena sedang mengerjakan tugasnya bersama Joe, El Chapo, dan Harold.
"Aku baik-baik saja, tenanglah. Kirim lokasi kalian nanti, aku akan segera datang ke sana." Ucap Nathan yang terdengar samar-samar mengingat sekarang sedang turun hujan.
Panggilan telepon segera dimatikan. Nathan kemudian mencari kendaraan umum yaitu Bus dari Philadelphia menuju Kota New York setelah mendapatkan alamat dari Sebastian.
Saat naik ke dalam Bus Nathan berusaha untuk menyembunyikan noda darah dibalik jaket agar tidak membuat kepanikan yang bisa membuatnya terlibat dengan pihak kepolisian.
Nathan tentu tidak mau berurusan dengan polisi untuk saat ini mengingat Elizabeth dan rekan-rekannya bisa santa mudah mengendus keberadaan jika sampai mendapatkan sedikit laporan dari pihak kepolisian.
*****
Disisi lain yang perasaan tidak tenang mencoba menghubungi Nathan kembali untuk memastikan keadaan jika anak muda tersebut baik-baik.
"Ayolah angkat..." Raut wajah Sebastian tampak sangat gelisah dan akan merasa bersalah karena sudah meninggalkan tugas utamanya untuk menjaga Nathan.
Tetapi sebanyak apapun panggilan yang Sebastian buat, Nathan tidak kunjung juga mengangkat dan terkesan mengabaikan panggilannya.
"Apa kau baik-baik, Tuan Sebastian?" Tanya Joe yang terlihat duduk di sofa sambil memakan kacang. Ia merasa penasaran saat melihat raut wajah cemas Sebastian yang tidak biasa.
__ADS_1
Disisi lain El Chapo dan Harold yang berada satu ruangan dengan mereka juga tampak penasaran saat melihat pria dingin tanpa ekspresi itu sekarang kelihatan cemas dan panik.
Sebastian tidak menjawab pertanyaan diberikan kepada dirinya. Ia justru melenggang pergi dari ruangan tersebut yang membuat semua orang merasa heran.
Joe, El Chapo, dan Harold saling menatap satu sama lain untuk mempertanyakan masalah apa yang sedang terjadi sampai membuat Sebastian begitu gelisah.
Tetapi masing-masing dari mereka juga tidak mengerti. Hanya satu hal yang mereka bisa tangkap dari kejadian ini, yaitu pasti berhubungan dengan Nathan mengingat Sebastian tampak cemas setelah menyelesaikan panggilan dengannya.
Mereka bertiga kemudian segera bergegas menyusul Sebastian yang sudah pergi dari ruangan tersebut, untuk mencari tahu masalah apa yang sedang terjadi.
*****
Sementara itu di sebuah ruangan tertutup, kelompok yang dipimpin oleh Elizabeth sedang sibuk mencari identitas asli pelaku penembakan kemarin.
Elizabeth, Jasmine, Teo, Mike, dan Baron sekarang memperhatikan Katarina yang sedang membuat sketsa pelaku sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Elizabeth.
Tidak berlangsung lama sketsa seorang pria misterius menggunakan topi hitam mulai terbentuk. Gambar yang Katarina buat selain mengambil referensi dari Elizabeth juga mengambil dari hasil CCTV di stasiun pengisian bahan bakar sebelumnya.
Saat sedang bekerja tiba-tiba Elizabeth mendapatkan panggilan telepon dari mentornya dan tanpa menunggu lama langsung ia angkat sambil sedikit menjauh dari rekan-rekannya.
"Kami sudah mendapatkan sketsa pelaku, nanti aku akan mengirimkannya." Kata Elizabeth sambil memperhatikan rekan-rekannya dari kejauhan.
"Baiklah aku akan menunggunya..." Ucap seorang wanita dari seberang sebelum panggilan telepon langsung segera ditutup.
Setelah menerima panggilan telepon dari mentornya, Elizabeth tampak sangat kesal dan tiba-tiba memukul dinding yang terbuat dari baja dengan sangat kuat.
"Bedebah itu... Aku tak menyangka dia masih bisa selamat..." Elizabeth berdecak kesal saat mengingat salam perpisahan yang diberikan oleh Nathan sebelumnya.
Elizabeth berpikir jika saja waktu dirinya bisa menangkap Nathan, mungkin mentor yang sudah mendidiknya tidak akan merasa gelisah dengan sosok pria itu.
Tidak banyak yang mengetahui bahkan Elizabeth sekalipun jika sosok mentor wanita cantik tersebut merupakan salah satu orang yang terlibat dengan malam penangkapan Nathan.
__ADS_1
Artinya mentor Elizabeth merupakan bagian dari orang-orang yang sudah menyekap Nathan untuk memaksanya membuat keterangan palsu di dalam ruang interogasi.
Katarina, Jasmine, Teo, Mike, dan Baron yang melihat Elizabeth marah hanya bisa mengalihkan pandangan mereka karena takut menjadi samsak tinju untuk pelampiasan.
Benar saja apa yang ditakutkan oleh mereka dimana Elizabeth langsung menunjuk Mike untuk ikut bersamanya menuju tempat latihan.
Dengan wajah pucat Mike mencoba untuk menolak ajakan Elizabeth dan beralasan jika dirinya sedang tidak enak badan akibat sistem pencernaannya yang terganggu.
Tetapi dengan polosnya Jasmine memberitahu kepada Elizabeth jika Mike tidak memiliki masalah pencernaan dan sangat sehat secara fisik serta mental.
Hal ini tentu membuat Mike hanya bisa tertawa canggung dan akhirnya mengikuti Elizabeth menuju ruang latihan sambil menatap kesal ke arah rekan-rekannya yang lain.
*****
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore hari. Di tengah guyuran hujan yang belum juga berhenti dari pagi hari, seorang pria terlihat berjalan sempoyongan dengan kondisi basah kuyup menuju sebuah gedung perkantoran.
Dengan wajah yang sudah menjadi pucat, Nathan menghampiri petugas sekuriti yang berjaga di depan gedung sambil menekan pendarahan.
"Bisakah aku bertemu dengan penanggung jawab tempat ini? Aku sudah membuat janji dengannya." Tanya Nathan sambil menahan rasa sakit.
Petugas sekuriti yang melihat penampilan Nathan mengira jika pria itu adalah gelandang dan mencoba untuk mengusirnya karena hanya akan mengganggu pemandangan.
Apa yang dilakukan oleh petugas sekuriti itu memang tidak salah. Siapa yang akan menanggapi gelandang ketika mengaku sudah memiliki janji dengan pemilik gedung perkantoran mewah.
Tetapi sebelum petugas sekuriti itu mengusir Nathan, tiba-tiba dari lobby seorang pria maskulin berlari keluar gedung untuk menyambut pemuda itu.
Nathan yang hampir jatuh ke tanah karena sudah kehilangan banyak darah langsung dengan sigap di tangkap oleh Sebastian yang sejak pagi sudah menunggunya.
"Sepertinya aku tidak datang ke tempat yang salah..." Ucap Nathan sambil mengatur nafas dan tersenyum tipis saat di tangkap oleh Sebastian.
Sebastian yang menangkap tubuh Nathan tampak terkejut saat mendapati tangannya berlumuran darah dan langsung membawa pemuda itu ke dalam dengan panik.
__ADS_1