
Nathan mengerang kesakitan setelah tubuhnya menghantam atap mobil sampai membuat kendaraan itu hampir hancur karena terkena tekanan yang cukup keras.
Pria itu sekarang mulai merasa kesulitan bernafas. Tetapi dia masih cukup beruntung tidak mati karena memiliki tubuh yang sudah ditingkatkan oleh System.
Disisi lain Elizabeth sudah tidak sadarkan diri di atas tubuh Nathan. Wanita cantik itu tampaknya mengalami syok berat setelah jatuh dari ketinggian.
"Apa kau masih ingin melihat saja disana, Sebastian?" Tanya Nathan sambil mengerang mencoba untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kebas setelah mengalami benturan keras.
Dari balik sebuah truk yang terparkir tidak jauh dari lokasi Nathan dan Elizabeth jatuh. Sebastian muncul dari kegelapan dan segera menghampiri mereka berdua.
Sebastian kemudian membantu Elizabeth yang sudah pingsan dari atas tubuh Nathan untuk memudahkan pergerakan pemuda tersebut.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sebastian yang terlihat sangat khawatir saat melihat Nathan mengerang kesakitan dan kesulitan untuk bernafas.
Sebastian sendiri baru saja sampai setelah melihat pelacak yang dia pasang pada ponsel milik Nathan tidak berada di Bar King's sebelumnya.
Akhirnya Sebastian memutuskan untuk segera menyusul Nathan menggunakan sepeda motor karena merasa khawatir jika Tuan mudanya mendapatkan masalah, dan benar saja hal itu sekarang terjadi.
Disisi lain Sebastian merasa penasaran bagaimana Nathan bisa menyadari kedatangannya. Tetapi sekarang bukan waktunya yang tepat untuk memikirkan hal itu, karena yang terpenting saat ini adalah keselamatan Tuan mudanya.
"Ya... Aku baik-baik saja..." Nathan berusaha menggerakkan tubuhnya dan bisa terdengar suara tulang yang sedang diperbaiki sangat jelas.
Posisi keberadaan Sebastian sendiri Nathan ketahui dari fitur navigasi yang sudah disiapkan oleh System untuk mempermudah dirinya jika ingin melacak seseorang.
Melihat Elizabeth yang sekarang tidak sadarkan diri. Nathan merasa geram atas perbuatan Kevin dan langsung meminjam motor yang dibawa oleh Sebastian untuk melakukan pengejaran.
Sementara itu Sebastian tidak bisa berkata-kata saat Nathan memacu motor Kawasaki H2R dengan kecepatan tinggi untuk mengejar pemimpin dari Geng The Brothers.
Khawatir situasi akan menjadi semakin buruk. Sebastian kemudian membawa Elizabeth yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil milik wanita cantik itu dan segera menyusul Nathan.
Disisi lain setelah kejadian ledakan bom. Kevin bersama dengan dua anak buahnya memacu mobil sambil membawa Anthony yang mulai mengalami batuk darah.
"Bisakah kau diam sebentar saja, Pak Tua?!" Kevin tampak kesal dengan Anthony yang terus saja batuk di sebelahnya tanpa henti.
Kevin berdecak kesan lalu mengeluarkan sapu tangan yang dia punya untuk diberikan kepada Anthony, dengan harapan pria itu bisa segera mengatasi batuknya karena merasa terganggu.
Dari kaca spion mobil salah satu anak buah Kevin yang duduk di depan melihat seorang pemotor memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi mengejar mereka.
"Bos! Sepertinya kita kedatangan tamu!" Ucap anggota Geng The Brothers itu memberitahu informasi ini kepada Kevin.
Mendengar peringatan dari salah satu anak buahnya. Kevin kemudian menengok kebelakang dan mendapati jika pemotor yang melaju kencang tersebut merupakan Nathan.
__ADS_1
"Apa yang kalian tunggu?! Cepat lakukan sesuatu!" Kevin mulai merasa panik melihat Nathan baik-baik saja setelah terkena ledakan bom sebelumnya.
Keringat dingin mulai keluar dari kening dan punggung Kevin. Pemimpin Geng The Brothers itu sekarang baru menyadari jika sudah membuat kesalahan besar dengan memancing lebih banyak kemarahan Nathan.
Salah satu anak buah Kevin lalu mulai menembaki Nathan yang terus mendekat sementara seorang lagi segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
Tetapi sampai peluru habis tidak ada satupun tembakan dari anak buah Kevin yang mengenai Nathan. Hal ini jelas membuat pemimpin dari Geng The Brothers itu tambah kesal.
Pandangan Kevin tidak sengaja menangkap sebuah truk yang membawa muatan besar pipa baja. Tanpa pikir panjang dia mengeluarkan senjata api dan menembaki supir truk yang ada tidak jauh dari mobilnya.
Supir truk yang panik karena tiba-tiba ditembaki segera membanting stir dan membuat truk kehilangan kendali sampai akhirnya terguling.
Muatan pipa-pipa baja besar langsung terlepas dari pengait dan berjatuhan membuat arus lalu lintas di jalan layang menjadi kacau tidak beraturan.
Kevin yang melihat ini akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Tetapi sedetik kemudian dia kembali tegang saat mendapati Nathan bisa keluar dari kekacauan di jalan yang terjadi.
Mata Kevin lalu tertuju ke arah Anthony. Karena tidak punya pilihan lain akhirnya dia mendorong keluar pria itu dari mobil untuk menghentikan pengejaran yang dilakukan Nathan.
Disisi lain Nathan yang melihat Anthony di dorong keluar dari dalam mobil oleh Kevin. Memutuskan untuk menghampiri Anthony yang sudah tergeletak dipinggir jalan dan terpaksa melepaskan pemimpin Geng The Brothers.
Setelah menepikan motor Nathan melepas helm yang dia pakai, dan langsung bergegas menghampiri Anthony yang sudah sudah tergeletak di pinggir jalan.
Betapa terkejutnya Nathan saat menemukan Anthony yang terluka setelah di dorong oleh Kevin. Tanpa pikir panjang dia langsung memangku kepala ayah angkatnya itu.
Mendengar suara khas yang dimiliki Nathan. Perlahan Anthony membuka mata dan mendapati pemuda itu yang tampak sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Ternyata itu memang benar kau, Nathan..." Anthony tertawa lirih saat melihat mata Nathan yang sudah berkaca-kaca dan terlihat panik.
Anthony sendiri sebenarnya sudah menyadari jika Alexander adalah Nathan itu sendiri. Hal ini dia ketahui saat mendapati wajah, mata, dan suara khas yang dimiliki oleh putra angkatnya.
"Maafkan aku karena baru bisa menemui dalam situasi ini, ayah..." Nathan tersenyum tipis lalu melepaskan jaketnya untuk dipakaikan kepada Anthony karena suhu disana mulai semakin dingin.
Moment pertemuan mereka kembali harus terganggu saat Anthony tiba-tiba batuk darah yang seketika membuat Nathan menjadi sangat panik.
"System apa yang sebenarnya terjadi kepada ayahku?! Tolong lakukan sesuatu!" Nathan tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Anthony mulai batuk darah.
[ Hasil pemindaian menunjukan jika Tuan Anthony terkena kanker paru-paru stadium akhir. Usianya diperkirakan sudah tidak akan lama lagi setelah melihat penyebaran kanker yang sudah sangat masif! ]
Mendengar penjelasan dari System, Nathan langsung meminta kepada System untuk memberinya sebuah serum yang bisa menyembuhkan penyakit Anthony.
Dengan pertimbangan berat System akhirnya memberikan sebuah serum kepada Nathan. Tentu pria itu harus membayar mahal mengingat saat ini tidak memiliki sepeserpun Poin Tukar.
__ADS_1
"Tenanglah ayah aku akan segera membuatmu merasa jauh lebih baik." Nathan tersenyum tipis dan segera menyiapkan alat injeksi untuk menyuntikan serum di lengan Anthony.
Namun sebelum Nathan sempat menyuntikan serum itu. Anthony segera menghentikan tindakan pengobatan yang ingin dilakukan Nathan kepada dirinya.
"Tidak perlu... Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang..." Anthony tertawa lirih dan berusaha meyakinkan Nathan jika dirinya akan baik-baik.
Perkataan Anthony tentu berbanding terbalik dengan fakta yang sebenarnya terjadi. Nyawa pria itu sebenarnya sudah berada di ujung tanduk dan sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang selama beberapa tahun ini dia alami.
"Baik-baik saja apanya!? Jangan mengatakan hal aneh seperti itu dan biarkan aku menyembuhkanmu ayah!" Nathan merasa kesal saat Anthony mencoba menutupi fakta sebenarnya.
Tetapi sekeras apapun Nathan berusaha mengobati Anthony. Pria berusia 58 tahun itu tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Setelah ini aku akan bertemu dengan kakakmu Austin dan menjaganya disana..." Ucap Anthony sambil terbatuk lirih dan tersenyum kecil.
Perkataan yang diucapkan oleh Anthony tentu saja tidak bisa diterima oleh Nathan. Bagaimanapun mereka baru bertemu kembali kurang dari 24 jam dan sekarang Anthony ingin segera menyusul Austin menuju alam baka.
"Tidak-tidak bagaimana denganku disini jika kau pergi menemani Austin? Aku tak ingin hidup sendirian lagi..." Tangis Nathan untuk pertama kalinya sejak 9 tahun lalu akhirnya pecah.
Pria yang dikenal selalu bersikap tenang itu akhirnya menangis seperti anak kecil dihadapan ayah angkatnya yang sudah berada di ujung tanduk kematian.
"Kau tak akan hidup sendirian setelah aku pergi. Masih ada banyak orang yang mengharapkan keberadaanmu disini." Ucap Anthony sambil menyeka air mata Nathan.
Anthony kemudian mengungkit sosok Elizabeth yang terlihat sangat perduli dengan Nathan. Saat baru pertama kali melihat Elizabeth, Anthony bisa mengetahui jika wanita cantik itu memiliki perasaan kepada Nathan dari sorot mata dan keingintahuan yang dimilikinya.
Di momen-momen terakhirnya. Anthony meminta kepada Nathan untuk tidak mengabaikan sosok wanita yang sangat perduli kepadanya. Dia juga menyinggung Nathan yang sepertinya juga menaruh harapan kepada sosok Elizabeth.
Anthony menyadari jika hubungan Nathan dan Elizabeth sekarang berada dalam fase terakhir saja. Hanya perlu salah satu di antara ke-duanya mengaku maka tidak akan lama lagi mereka bisa hidup bersama.
"Ayah tahu kau pasti memiliki masalah pribadi yang membuatmu ragu untuk menjalani hubungan baru. Tetapi kau harus ingat wanita sepertinya tidak akan dua kali, lagi pula bukankah Nona Elizabeth merupakan tipe idealmu?" Anthony tertawa lirih saat mengungkit tipe wanita ideal yang diimpikan oleh Nathan.
Dulu saat mereka masih tinggal bersama. Pernah sekali Austin bertanya kepada Nathan tentang kriteria wanita yang dia impikan di masa depan nanti.
Anthony saat itu tidak sengaja mendengar jika Nathan menyukai wanita yang memiliki rambut pirang, mata biru safir, dan kepribadian yang sangat ambisius.
Nathan hanya diam dan tidak berkomentar saat Anthony mengungkit kembali bualannya beberapa tahun yang lalu ketika berbicara dengan mendiang Austin.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir. Anthony memberi pesan kepada Nathan untuk hidup lebih baik kedepannya dan terus memperjuangkan hal yang ingin diraihnya selama tidak berlebihan.
Malam itu saat salju mulai turun Anthony akhirnya menghembuskan nafas terakhir dipelukan putra angkatnya. Senyuman tipis diwajah pria itu menunjukan bahwa dia sudah puas bisa melihat wajah Nathan untuk terakhir kalinya.
Dari arah belakang Sebastian yang baru saja tiba, berjalan menghampiri Nathan yang masih duduk sambil memeluk tubuh tidak bernyawa Anthony yang mulai dingin.
__ADS_1
Sebelum Sebastian mengucapkan kata bela sungkawa. Nathan bangkit dan membawa tubuh Anthony menuju mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sebastian yang mengetahui suasana hati Nathan sekarang sangat buruk, tanpa sepatah katapun langsung masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraan kembali.