
Keesokan harinya saat terbangun Elizabeth menemukan dirinya sudah berada di dalam kamarnya lagi. Dirinya ingat jika semalaman bergadang untuk menemani Nathan dan ketiduran.
"Bagaimana aku bisa membuang perasaan ini jika kau selalu bersikap baik kepadaku?" Gumam Elizabeth yang merasa bingung harus berbuat apa.
Elizabeth menghela nafas panjang dan memutuskan untuk menangani perasaan aneh yang dia rasakan nanti. Sekarang hanya satu hal yang dia pikirkan yaitu ingin bertemu dengan Nathan lagi secepatnya.
Setelah mandi dan bersiap-siap. Elizabeth langsung mencari Nathan diruangan kerja karena berpikir pria itu pasti masih tertidur disana.
Ketika sampai disana Elizabeth sama sekali tidak menemukan keberadaan Nathan dan memutuskan untuk mencari pria itu di kamarnya.
Sayangnya Elizabeth juga tidak bisa menemukan keberadaan Nathan. Pikiranya sekarang menjadi kacau dan merasa jika ada bagian dari dirinya yang sudah menghilang.
Dengan panik Elizabeth mencari keberadaan Nathan di setiap ruangan yang ada di dalam Bar King's. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Sebastian.
Elizabeth kemudian bertanya kepada Sebastian dimana Nathan sekarang yang langsung di jawab jika pria itu sudah pergi dari tadi pagi untuk mencari tempat pangkas rambut.
Wanita cantik itu lalu melihat jam tangan dan mendapati sekarang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Dia baru menyadari sudah tidur selama seharian penuh.
"Kalau dia memang pergi untuk mencari tukang pangkas rambut. Bukankah pria itu seharusnya sudah kembali?" Tanya Elizabeth sambil melirik ke arah Sebastian karena merasa curiga.
Bukan karena Elizabeth tidak percaya kepada Sebastian. Dia mengetahui pria itu sangat loyal kepada Nathan sejauh yang dirinya ketahui.
Jadi tidak menutup kemungkinan jika Sebastian bersekongkol dengan Nathan untuk melarikan diri dari tanggung jawab yang diberikan Pemerintah kepadanya.
"Aku juga tak mengetahui keberadaan Tuan muda secara spesifik sekarang. Tetapi satu hal yang pasti dia tidak akan mungkin pergi keluar negeri." Balas Sebastian.
Sebastian menyadari jika Elizabeth sedang mencurigai dirinya dan berpikir sudah bersekongkol dengan Nathan agar pria itu bisa melarikan diri dari semua pekerjaan yang diberikan Pemerintah Amerika Serikat.
Masyarakat biasa bahkan ilmuan sekalipun pasti akan merasa terbebani jika harus membuat sebuah alat hanya untuk memuaskan ego pemerintah agar negaranya terlihat lebih superpower dari negara lain.
__ADS_1
Waktu yang diberikan Pemerintah kepada Nathan untuk menyelesaikan mega proyek ini juga hanya kurang dari 1 tahun. Dengan semua tekanan ini tentu membuat semua orang akan berpikir jika Nathan akan mengalami stress.
Melihat tidak ada keraguan dimata Sebastian. Elizabeth hanya bisa menghela nafas dan memutuskan untuk menemui Katarina dikamar wanita itu.
Setibanya dikamar milik Katarina. Elizabeth melihat anak buahnya itu sedang melakukan siaran live streaming game yang ditonton oleh 50.000 user.
"Katarina bisakah kau matikan dulu live streamingnya?" Tanya Elizabeth sambil menghampiri Katarina yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri.
Penonton yang melihat sosok Elizabeth untuk pertama kalinya mulai menyerbu kolom komentar live streaming Katarina. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mengetahui siapa wanita cantik itu.
Tidak hanya penonton pria saja yang penasaran dengan sosok Elizabeth. Bahkan penonton wanita yang berasal dari kaum pelangi juga tertarik dengan kecantikan serta aura milik wanita cantik itu.
Sayangnya Katarina terlalu fokus bermain game sampai tidak menyadari kehadiran Elizabeth dan tidak melihat kolom komentar live streaming yang sudah membludak.
Kesal di abaikan oleh Katarina. Elizabeth mengambil tongkat baseball yang berada disudut ruangan dan langsung menghancurkan komputer seharga 40.000 Dollar milik Katarina.
"Tidak-tidak apa yang kau lakukan, Elizabeth?!" Katarina panik saat Elizabeth menghancurkan semua perangkat live streaming miliknya secara brutal.
Sebenarnya Katarina ingin marah dan protes kepada Elizabeth. Tetapi saat melihat raut wajah wanita cantik itu yang terlihat kesal, dia tidak berani untuk melakukan pembelaan.
Dari pada di pecat dan kehilangan pekerjaan hanya karena sebuah komputer. Katarina lebih memilih menahan diri agar tidak membuat Elizabeth semakin marah.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun. Elizabeth langsung meminta kepada Katarina untuk melacak keberadaan Nathan sekarang juga dengan menggunakan program God Eyes.
Katarina dengan terpaksa menuruti perintah yang diberikan Elizabeth. Dia kemudian membuka laptop dan mengaktifkan program God Eyes.
Pencarian Nathan segera dilakukan. Program God Eyes yang Katarina ciptakan langsung meretas sistem satelit dan semua kamera mulai dari kamera ponsel, CCTV, sampai ATM di seluruh penjuru negara Amerika Serikat.
Hanya dalam waktu singkat program God Eyes berhasil menemukan keberadaan Nathan dan menampilkan wajah pria itu dilayar monitor laptop milik Katarina.
__ADS_1
"Dimana dia sekarang berada?" Gumam Elizabeth sambil memperhatikan Nathan yang sedang menikmati sepiring spagetti di sebuah restauran Italia.
Saat melihat kordinat lokasi Nathan. Elizabeth dan Katarina menemukan jika pria itu masih berada di kawasan Philadelphia bukan di luar negeri seperti yang mereka pikirkan.
Layar kemudian menunjukan beberapa wanita yang mendatangi meja makan Nathan. Raut wajah mereka jelas menunjukan ketertarikan kepada pria itu dan tidak segan-segan mendekatinya secara langsung.
"Wah... Ternyata dia cukup populer sampai banyak wanita mendektinya." Celetuk Katarina sambil memperhatikan Nathan yang sedang kesulitan mengatasi para wanita itu.
Krakkk!!!
Tiba-tiba terdengar suara retakan di dalam kamar. Katarina lalu menoleh ke samping dan menemukan Elizabeth sudah meremas tongkat baseball miliknya sampai hancur.
Katarina tanpa sadar menelan saliva melihat tangan Elizabeth yang sekarang berlumuran darah. Dia juga melihat raut wajah wanita cantik itu yang terlihat sangat kesal.
Hanya dalam sekali lihat Katarina langsung menyadari jika Elizabeth merasa cemburu dan merasakan niat membunuh wanita cantik itu.
Secara mengejutkan Elizabeth dan Katarina tiba-tiba melihat Nathan menatap ke arah kamera yang mereka retas. Hanya dalam waktu kurang dari 10 detik program God Eyes mengalami malfungsi dan kehilangan jejak pria itu.
Elizabeth langsung menanyai Katarina apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi anak buahnya itu juga tidak tahu dan sedang berusaha mencari kembali keberadaan Nathan.
Sayangnya saat God Eyes tidak mampu mencari keberadaan Nathan lagi seolah ada sebuah program yang lebih canggih memblokir semua aksesnya.
"Sepertinya pria itu menyadari kalau kita sedang memata-matainya." Ucap Katarina yang sekarang sudah kehilangan akses kepada program God Eyes milik sendiri.
Katarina kemudian menjelaskan kepada Elizabeth jika mereka sudah membuat sebuah kesalahan dengan menyinggung seorang ahli seperti Nathan.
Elizabeth berdecak kesal dan tanpa pikir panjang langsung menuju lokasi terakhir Nathan berada, dan ingin memberi pelajaran kepada para wanita yang secara terang-terangan sudah berani menggoda pria itu.
Sebelum pergi Elizabeth melemparkan sebuah Kartu berwarna hitam kepada Katarina dan meminta maaf tentang kejadian semalam.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai pekerjaanku!" Katarina merasa senang saat Elizabeth memberikan sebuah Kartu Kredit yang membuatnya bisa merakit komputer lebih baru yang lebih mahal.