
Ruangan demi ruangan yang terletak di lantai tiga mulai disisir oleh Nathan dan Elizabeth. Mereka benar-benar tidak segan untuk membunuh setiap anggota Geng The Brothers yang terlihat.
Sekarang hanya tinggal satu ruangan yang belum mereka periksa, dan masih dijaga sangat ketat oleh anggota Geng The Brothers yang masih tersisa.
Baku tembak di antara mereka sudah tidak bisa terelakan lagi. Ke-dua belah pihak mulai saling menebak demi kepentingan pribadi mereka masing-masing.
Sejumlah anggota Geng The Brothers mulai merasa frustasi saat melihat serangan mereka tidak menimbulkan efek kerusakan sedikitpun pada Elizabeth yang merupakan target empuk untuk dibunuh.
Akibatnya moral beberapa anggota Geng The Brothers mulai terganggu. Mereka mulai memisahkan diri dan berusaha kabur untuk menyelamatkan nyawa masing-masing.
Tidak pernah sekalipun dalam bayangan mereka akan bertemu dengan musuh yang tidak bisa di serang menggunakan senjata api.
Di mata anggota Geng The Brothers Elizabeth seperti wanita bertangan besi. Setiap tembakan yang dilepaskan oleh Elizabeth akan langsung membuat targetnya menjadi abu dalam sekejap.
Elizabeth sama sekali tidak terkalahkan selama baku tembak terjadi. Selain memiliki pertahanan yang tidak bisa di tembus, serangan wanita cantik itu juga sangat mematikan dan tidak ada seorangpun yang bisa selamat setelah terkena tembakannya.
Anggota Geng The Brothers yang tersisa disisi lain juga merasa kesal kepada Nathan. Pria itu hanya berani menyerang dari kejauhan selagi Elizabeth maju sendirian.
Nathan sendiri tidak memikirkan anggota Geng The Brothers yang terus mengatakan jika dirinya tidak memiliki rasa malu karena hanya berani berlindung di balik seorang wanita cantik.
Menurut Nathan percuma saja memikirkan perkataan dari orang yang sebentar lagi akan mati. Lagi pula akurasi tembakannya juga tidak terlalu buruk untuk menembak anggota geng yang mencoba kabur.
Dalam waktu singkat pertahanan terakhir anggota Geng The Brothers berhasil dilumpuhkan. Nathan dan Elizabeth akhirnya bisa sedikit bernafas lega setelah melewati baku tembak yang cukup intens.
"Aku akan menagih bayaranku setelah ini dan jangan pernah menghindar saat aku tagih nanti." Elizabeth melirik ke arah Nathan dengan tatapan mata mengancam.
Selama bekerja untuk Nathan tidak pernah Elizabeth mendapatkan upah sepeserpun darinya. Bahkan wanita cantik itu harus merogoh isi dompetnya sendiri saat kunjungan kerja mewakili Stelar Industri dibeberapa instansi pertahanan.
__ADS_1
Untungnya Elizabeth memiliki banyak uang sampai tidak perlu memikirkan biaya selama kunjungan. Tetapi kekayaan yang dimiliki oleh Elizabeth disisi lain dimanfaatkan Nathan untuk membuat alasan agar tidak membayar gaji wanita cantik itu.
Meski Nathan sekarang sudah sangat kaya. Dia sama sekali tidak mau mengeluarkan uang satu Dollar pun untuk Elizabeth atau istilahnya sangat kikir.
"Baik-baik aku akan membelikan wortel saat kembali untuk kelinci satu ini." Balas Nathan dengan sedikit candaan yang membuat Elizabeth langsung berdecak kesal.
Tanpa bantuan dari Elizabeth sebenarnya Nathan akan mengalami sedikit kesulitan untuk mengalahkan semua anggota Geng The Brothers yang jumlahnya diluar ekspetasi awal.
Walau terdengar jika Nathan hanya memanfaatkan Elizabeth. Sebenarnya pria itu sudah menyiapkan bayaran untuk wanita cantik tersebut sebagai gaji pertamanya.
Meski jika dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki Elizabeth tidak seberapa. Nathan akan memberikan bayaran yang unik agar sedikit berkesan untuk wanita cantik itu.
Nathan dan Elizabeth kemudian segera menghampiri ruangan terakhir. Dalam hitungan ke-tiga mereka berdua langsung mendobrak masuk dan menemukan seorang pria disana.
Pria itu duduk di kursi pemimpin membelakangi Nathan dan Elizabeth. Dari gesturnya pria itu terlihat sudah menunggu mereka berdua sejak awal.
Saat Kevin membalik badan dia langsung ditodong senjata oleh Nathan dan Elizabeth yang sudah mencurigai gelagat aneh dari Ketua Geng The Brothers tersebut.
Melihat orang yang sudah menjadi otak pembunuhan terhadap Austin tentu saja membuat kepala Nathan sekarang mendidih. Emosinya sekarang enar-benar sudah tidak tertahankan.
Nathan segera mengangkat senjata dan menodongkan ke arah Kevin dengan tangan gemeteran, menunjukan bahwa dirinya sekarang sudah kehabisan kesabaran untuk segera mengeksekusi pemimpin Geng The Brothers itu.
"Tenanglah dulu kita masih butuh beberapa informasi darinya." Elizabeth menurunkan ujung senjata api yang Nathan pegang sambil memintanya untuk sedikit bersabar.
Apa yang dikatakan Elizabeth memang ada benarnya. Mereka berdua masih memerlukan informasi dari Kevin mengenai otak sesungguhnya atas kasus penembakan yang sudah membunuh Austin.
Untuk kali ini Nathan akhirnya menuruti saran dari Elizabeth agar tidak membunuh Kevin begitu saja. Dia masih perlu informasi untuk menghabisi semua pelaku penembakan Austin sampai ke akarnya.
__ADS_1
"Katakan siapa orang yang berada di balik penembakan terhadap pria bernama Austin dan orang yang sudah menudukungmu dari belakang?" Nathan menekan sejenak emosinya agar lebih rasional.
Agar membuat Andreas buka suara tentang siapa orang yang menjadi bekingannya. Nathan mengeluarkan sebilah pisau dan mengancam pria tersebut.
Mendapat ancaman dari Nathan bukannya merasa takut, Kevin justru tertawa sambil menuangkan wine ke dalam gelas yang sudah setengah kosong.
"Jika aku tak mau memberitahu memangnya kenapa? Apa kau akan menyanyat kulitku?" Kevin tertawa lepas lalu meminum wine miliknya.
Emosi Nathan seketika kembali memuncak begitu mendengar perkataan Kevin. Dia lalu hendak menusuk pria itu menggunakan sebilah pisau di tangannya.
Tetapi sebelum Nathan sempat menusuk Kevin. Pemimpin Geng The Brothers itu meminta beberapa anggotanya yang bersembunyi untuk mengeluarkan sandera.
Pandangan mata Nathan dan Elizabeth seketika tertuju ke arah sandera yang dimaksud oleh Kevin. Melihat siapa orang yang menjadi sandera yang tidak lain merupakan Anthony.
"Tuan Alexander? Apa yang kau lakukan ditempat ini?!" Anthony terkejut saat melihat Nathan berada di tempat tersebut bersama dengan Elizabeth.
Anthony tentu saja merasa khawatir dengan Nathan dan Elizabeth yang berada di markas Geng The Brothers, apa lagi setelah mendengar suara baku tembak yang terjadi di luar sebelumnya.
Nathan yang melihat Anthony di tahan oleh dua orang anggota Gemb The Brothers sambil di acungkan sepucuk pistol. Segera meminta Kevin untuk melepaskan pria itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" Nathan menarik kerah baju milik Kevin sambil menempelkan bilah tajam pisau pada leher pria tersebut.
Elizabeth disisi lain langsung mengacungkan senjata ke arah dua anak buah Kevin yang sedang menahan Anthony.
Sementara itu Kevin tidak ada hentinya tertawa seperti orang gila karena sudah berhasil mematikan langkah Nathan dan Elizabeth yang memporak-porandakan markas miliknya.
Kini Nathan dan Elizabeth berada pada situasi yang sangat sulit. Sedikit saja mereka bergerak maka salah satu anak buah Kevin akan melepaskan tembakannya kepada Anthony.
__ADS_1