Mafia Order System

Mafia Order System
Membuang Ego


__ADS_3

Setengah jam mengemudi mobil, Elizabeth beberapa kali memperhatikan kaca spion untuk mengetahui apakah Nathan akan menyusul dirinya atau tidak. Tetapi sampai sekarang dirinya sama sekali belum melihat batang hidung pria itu.


"Yang benar saja dia sama sekali tidak menyusul ku?! Dasar pria menyebalkan itu!" Elizabeth berdecak kesal mengetahui Nathan sama sekali tidak berniat untuk menyusul lalu membujuk dirinya.


Elizabeth sempat berpikiran jika Nathan akan melakukan tindakan seperti pria lain membujuk wanita yang mereka suka lalu meminta maaf agar tidak pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun dan membuat hubungan menjadi semakin rumit.


Seandainya Elizabeth dan Nathan hidup di dunia fantasi, mungkin progres hubungan mereka akan berjalan lancar tanpa harus menghadapi masalah yang rumit seperti sekarang ini.


Kehidupan nyata sekali lagi membuat hubungan mereka menjadi runyam. Tetapi Elizabeth tentu saja tidak ingin menyerah dan merasakan sesak di dalam dadanya seumur hidup karena gagal menyampaikan perasaannya kepada Nathan.


Elizabeth langsung membanting setir mobil dan memutuskan kembali menuju tempat Nathan sekarang berada. Bahkan wanita cantik itu tidak perduli harus menerjang badai salju yang semakin lebat.


Mengingat kembali saat melihat ekspresi Nathan ketika menyangkal perasaan kepada dirinya. Elizabeth menyadari jika pria itu masih belum berani membuka diri lagi setelah menerima kenyataan pahit dijebak oleh mantan kekasihnya dulu.


"Wanita sialan itu! Gara-gara dia sekarang aku yang harus maju!" Elizabeth berdecak kesal dan mengucapkan umpatan kepada sosok Roxy yang sudah membuatnya harus menghilangkan ego sebagai wanita berkelas dan mengungkapkan perasaan kepada seorang pria.


Elizabeth tidak habis pikir bagaimana bisa Nathan menyukai wanita berdada rata dan memiliki paras dibawah standar seperti Roxy. Bahkan dengan bodohnya Nathan mempercayai wanita murahan itu yang sudah bermain dengan pria lain dibelakangnya selama beberapa bulan.


Setibanya di mercusuar tempat Nathan sekarang berada. Elizabeth langsung masuk kedalam dan bergegas mencari pria itu untuk meluruskan semuanya sampai membuat hubungan di antara mereka tidak menjadi berbelit-belit lagi.

__ADS_1


Elizabeth sudah muak menunggu Nathan yang masih belum berani membuka diri untuk wanita lagi. Sekarang dia harus mengabaikan ego yang selama ini dirinya pegang teguh untuk menyelamatkan perasaannya.


Pandangan Elizabeth seketika terkunci kearah Nathan yang duduk di atas sofa. Wanita cantik itu kembali berdecak kesal mengetahui pria tersebut bertingkah seolah-olah mengabaikan dirinya padahal sebenarnya sangat perduli.


"Hei! Apa yang..." Belum sempat Elizabeth menyelesaikan perkataannya. Dia terpaku saat melihat Nathan tidur nyenyak dengan posisi duduk sambil memegang sebuah liontin perak.


Ekspresi wajah Nathan saat tertidur menunjukan jika dirinya benar-benar merasa lelah baik secara fisik maupun mental. Selama beberapa hari terakhir pria itu masih menyalahkan dirinya yang sudah membawa petaka bagi keluarga milik Anthony setelah kedatangannya.


Penasaran melihat liontin perak yang ada di tangan Nathan. Elizabeth memutuskan untuk meminjam dan memperhatikan liontin perak itu yang sepertinya sangat berharga untuk pria tersebut.


Elizabeth mengerutkan kening saat mendapati sebuah foto di dalam liontin. Disana ia melihat seorang wanita dewasa sedang berfoto bersama anak laki-laki yang tampak masih berusia sekitar 7 tahun.


Saat melihat foto anak kecil yang ada di dalam foto. Elizabeth mengetahui jika itu adalah Nathan yang dirinya kenal. "Aku belum pernah melihat pria itu tertawa lepas seperti ini..."


Foto Nathan saat masih kecil menunjukan perbedaan yang signifikan. Pria itu dulu terlihat sangat bahagia dari pada sekarang yang terlihat suram dan sangat jarang tersenyum lagi.


Ada hal yang membuat Elizabeth bertanya-tanya saat melihat foto Nathan dan Ibunya. Dia sama sekali tidak mendapati ayah Nathan, dan melihat goresan yang menunjukan jika pria itu dengan sengaja menyobek bagian foto yang menunjukan ayahnya sendiri.


Elizabeth seketika menyadari jika Nathan memiliki kebencian yang begitu mendalam kepada ayahnya sendiri. Sebenarnya dia juga membenci kedua orang tuanya yang mengontraknya dengan sebuah pernikahan sejak masih sangat muda.

__ADS_1


Tetapi sebenci apapun Elizabeth kepada orang tuanya. Dia tidak mungkin merobek foto bersama mereka seperti yang Nathan lakukan kepada ayahnya sendiri seolah-olah tidak mengakuinya.


Elizabeth menghela nafas panjang saat mengingat Nathan meminta dirinya mengambil cuti lalu pulang ke Inggris menemui ke-dua orang tuanya setidaknya sekali saja sejak 10 tahun tidak pernah bertemu.


Masih segar diingatan Elizabeth saat Nathan menasehati dirinya saat sedang menemani pria itu bekerja di ruang laboratorium. "Jika memang kau tidak menyukai pertunangan itu lebih baik segera membicarakannya langsung dengan orang tuamu. Memangnya mau sampai kapan kau mengindar? Aku yakin mereka merindukanmu dan pasti akan mendengarkan semua keluhanmu."


Tetapi sayangnya setelah Nathan memberikan nasihat. Elizabeth justru marah besar dan memaki-maki Nathan yang seolah-olah mengerti perasaannya padahal mereka baru saja kenal belum lama ini.


Sejak kejadian itu mereka mulai berjauhan sampai tiga hari sebelum akhirnya Nathan meminta maaf kepada Elizabeth karena terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya. Ketika Nathan sudah meminta maaf Elizabeth baru mau berbicara lagi meski tidak terlalu banyak dan mulai membantu kembali pekerjaan pria itu.


Jika mengingat kejadian itu lagi Elizabeth merasa malu. Sekarang dia menyadari alasan mengapa Nathan selalu bersikap dingin dan seolah-olah tidak perduli kepada dirinya, karena tidak ingin orang lain mengetahui seberapa rusak bagian dalam pria itu setelah menghadapi banyak ketidak adilan di dunia ini.


Sikap Nathan yang dingin dan terkesan seolah dirinya tidak perduli dengan kondisi sekitar, seakan-akan mengatakan kepada semua orang jika dia bisa hidup seorang diri dan tidak ingin mempercayai orang lain.


"Padahal masalahmu lebih berat dariku, tetapi mengapa kau selalu mengkhawatirkan ku. Bagaimana bisa aku membuang perasaan ini jika kau selalu memberikan perhatian kepadaku?" Gumam Elizabeth sambil memperhatikan Nathan yang tertidur pulas.


Elizabeth kemudian duduk dan perlahan menidurkan Nathan di atas pahanya agar tidak terbangun. Dengan lembut Elizabeth mengusap rambut milik Nathan sambil memperhatikan wajah lelahnya.


Sekarang Elizabeth sudah menemukan sosok pria yang selama ini dia cari. Pria yang selalu memperhatikannya dalam diam, membuatnya tersenyum dan tertawa lepas, bahkan tidak menuntut sesuatu yang bisa membuat dirinya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Dengan semua ini Elizabeth tentu tidak akan membiarkan Nathan tenggelam lebih dalam lagi ke dalam kegelapan. Dia ingin memberikan perhatian yang sama kepada Nathan dan membuat pria itu percaya jika dirinya tidak seperti orang lain yang mengkhianati kepercayaan.


__ADS_2