
Keesokan harinya pemakaman Anthony segera dilakukan. Beberapa orang terlihat menghadiri acara pemakaman menggunakan pakaian senada berwarna hitam.
Pendeta memimpin jalannya proses pemakaman Anthony yang bersebelahan langsung dengan makam milik mendiang Austin di komplek pemakaman San Maria.
Saat prosesi pemakaman Anthony sedang berlangsung. Sebastian mendapati raut wajah Nathan yang terlihat muram dan tatapan pemuda itu menjadi tidak secerah seperti biasanya.
Dalam situasi seperti ini Sebastian tidak mau mengganggu Nathan. Membiarkan pemuda itu sendiri agar lebih tenang rasanya merupakan pilihan yang baik untuk sekarang.
Saat prosesi pemakaman berlangsung. Di sana Joe terlihat sangat penasaran dengan sikap Nathan yang menjadi lebih pendiam setelah kematian seorang pria asing.
"Hei Chapo... Apa menurutmu ada sesuatu yang kita lewatkan disini?" Joe berbisik lirih di telinga milik El Chapo yang berada tepat di sampingnya.
Joe berpikir Nathan sangat aneh karena menggelar sebuah pemakaman untuk seorang pria yang baru di rekrut menjadi pegawai pangkas rambut.
Melihat bagaimana kepedulian Nathan terhadap Anthony. Joe semakin merasa curiga jika pria yang sekarang di makamkan memiliki hubungan erat dengan bosnya.
"Entahlah aku juga tidak tahu. Dari pada kau memikirkan hal-hal yang tidak perlu, lebih baik sekarang diam atau bos akan marah nanti." El Chapo berdecak kesal dan memperingati Joe untuk tidak banyak bertanya.
El Chapo tentu tidak ingin terlibat dalam masalah karena bergosip dengan Joe di saat pemakaman Anthony berlangsung. Meski sebenarnya dia sendiri cukup penasaran tetapi diam merupakan opsi terbaik untuk saat ini.
Mendapati respon tidak menyenangkan dari El Chapo. Joe hanya bisa berdecak kesal lalu memperhatikan Nathan yang memiliki tatapan kosong di matanya.
Anggota Pasukan Saber juga terlihat menghadiri pemakaman Anthony mewakili Elizabeth yang sampai sekarang masih belum sadarkan diri dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Setelah acara pemakaman Anthony selesai dan sebagian orang sudah pergi. Nathan terlihat masih berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun dan tampak Sebastian yang masih di sana untuk menemaninya.
Nathan kemudian berjalan menghampiri makan Anthony dan Austin. Sebuah kalung rosario yang terlihat hampir patah Nathan keluarkan dari balik jas.
__ADS_1
Kalung rosario itu kemudian Nathan kaitkan pada nisan milik Anthony. Setelah berdoa untuk Anthony dan Austin dia lalu berjalan pergi tanpa memperdulikan kehadiran Sebastian.
"Terimakasih atas jasamu selama ini kepada Keluarga Alexander. Kami tidak akan pernah melupakan semua kontribusi yang sudah kau berikan." Ucap Sebastian sambil meletakan bucket bunga di atas makan Anthony dan Austin.
Setelah memberikan penghormatan terakhir kepada Anthony. Sebastian kemudian melenggang pergi untuk menyusul Nathan yang sudah masuk ke dalam mobil.
Begitu Sebastian masuk ke dalam mobil. Nathan meminta pria itu menuju rumah sakit untuk menjenguk Elizabeth yang masih tidak kunjung sadarkan diri setelah kejadian ledakan semalam.
Tanpa bertanya lebih lanjut kepada Nathan. Sebastian langsung mengikuti instruksi yang sudah diberikan dan memacu mobil menuju rumah sakit tempat dimana Elizabeth saat ini sedang menjalani perawatan.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit. Dari kaca tengah Sebastian melihat Nathan hanya diam membisu sambil menatap kosong ke arah luar jendela seolah sebagian dunianya sudah runtuh.
Kepergian Anthony yang berdekatan dengan kematian Austin jelas membuat pukulan untuk Nathan. Dia berpikir semua ini merupakan kesalahannya karena kabur dari rumah 5 tahun lalu tanpa pamit.
Setibanya di rumah sakit, Nathan langsung bergegas menuju kamar tempat Elizabeth dirawat dan mendapati wanita cantik itu yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Nathan kepada Jasmine sambil menggenggam lembut tangan Elizabeth yang sudah dipasang jarum infus.
Melihat Elizabeth yang sedang terbaring lemah di atas ranjang seakan-akan menjadi pukulan telak untuk kesekian kalinya bagi Nathan.
Jasmine lalu segera memberitahu jika Elizabeth tidak mengalami cidera serius dan hanya terkena syok berat saat jatuh dari ketinggian. Kemungkinan besar wanita cantik itu memiliki trauma karena pernah mengalami kejadian serupa di masa lalu.
"Ketua tidak lama lagi akan segera sadar. Kau tak perlu terlalu mengkhawatirkanya..." Imbuh Jasmine menyelesaikan diagnosis terhadap Elizabeth.
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Jasmine, Nathan hanya mengangguk pelan sambil terus memperhatikan Elizabeth.
Sebastian yang melihat ini kemudian memberi kode kepada Jasmine untuk memberikan sedikit ruang kepada Nathan dan Elizabeth agar tidak mengganggu.
__ADS_1
Jasmine mengangguk paham dan langsung pergi keluar bersama Sebastian meniggalkan Nathan sendiri bersama dengan Elizabeth.
Begitu Sebastian dan Jasmine keluar dari ruangan itu. Nathan mendekat ke arah Elizabeth dan menyingkap rambut panjang milik wanita cantik itu dari wajah.
Pesan terakhir yang diberikan oleh Anthony seketika terngiang di kepala Nathan. Semua yang dikatakan oleh mending ayah angkatnya memang benar dan tidak memiliki kesempatan kedua untuk Elizabeth.
"Hari ini kau bisa istirahat... Tenang saja aku akan membuat mereka membayar dua kali lipat atas kejadian ini..." Ucap Nathan sambil mencium kening Elizabeth.
Nathan kemudian segera pergi dari sana meninggalkan Elizabeth. Di balik wajahnya yang tenang dia sekarang memendam amarah besar dan ingin segera membalaskan dendam kepada Kevin.
Tepat setelah Nathan pergi dan pintu tertutup. Air mata mengalir dari sudut pelupuk Elizabeth yang sebelumnya mendengar semua perkataan pria itu.
Elizabeth tentu merasa sangat senang saat Nathan mencium lembut keningnya. Tetapi disisi lain dirinya khawatir dengan keselamatan pria itu yang berniat membalas dendam seorang diri.
Sekuat tenaga Elizabeth mencoba untuk bangun dan menghentikan Nathan. Tetapi untuk membuka mata saja dia sangat kesulitan dan hanya bisa menggerakan sedikit jarinya.
Kini Elizabeth sudah sangat yakin jika Nathan memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Tentu saja sekarang dia tidak ingin perasaan itu menghilang bersama dengan kepergian pria itu.
"Ayolah bangun Elizabeth jangan hanya diam saja!" Elizabeth menguatkan dirinya untuk bangun tetapi sekeras apapun dia mencoba hasilnya masih tetap sama.
Elizabeth sendiri tidak mengerti dengan kondisi yang dia alami saat ini. Dia masih bisa mendengar dan merasakan hal-hal yang ada disekitarnya. Tetapi untuk bangun dan sekedar membuka mata dia sangat kesulitan.
Wanita cantik itu mulai berpikir diagnosis yang diberikan oleh Jasmine salah. Mungkin saja karena kerasnya benturan saat jatuh dari lantai tiga membuat otaknya mengalami cidera.
Jika bicara mengenai trauma dimasa lalu Elizabeth jelas menyangkalnya. Dia merasa tidak pernah memiliki trauma masa kecil dan meragukan kredibilitas Jasmine sebagai seorang dokter.
Elizabeth tidak menyadari jika diagnosis yang sudah diberikan oleh Jasmine memanglah benar. Wanita cantik itu saat ini masih mengalami syok berat terlihat dari tangannya yang gemetaran.
__ADS_1