
Dalam kesepakatan ini jelas Elizabeth sangat dirugikan dari yang awalnya bisa menyudutkan dan membuat Nathan bertekuk lutut dihadapannya. Sekarang justru dirinya sendiri yang menanggung kerugian setelah bekerja keras melakukan penyelidikan.
Nathan tersenyum tipis saat Elizabeth menganggukan kepala yang berarti wanita cantik itu menyetujui kesepakatan di antara mereka berdua untuk menutup mulut masing-masing.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu jika kau bebas melakukan apapun selama bekerja untuku. Tapi apa kau berpikir aku akan diam saja saat duri di dalam perusahaanku?" Nathan mendekat dan berbisik disamping telinga Elizabeth.
Sejak awal Nathan sudah mengetahui tujuan asli bekerja untuk dirinya hanya agar bisa mendapatkan teknologi dan mencari rekam jejak kejahatannya.
Nathan kemudian mengambil sebuah koper kecil di dekat rak buku. Tidak perlu ditanyakan lagi apa yang terdapat di dalam sana karena semua orang pasti sudah bisa menebak.
"Apa kau yakin dan percaya aku akan benar-benar diam saja? Bagaimana jika aku mengkhianatimu?Elizabeth bertanya sambil memperhatikan jurnal pribadi miliknya yang sudah dikembalikan oleh Nathan.
Pertanyaan dari Elizabeth langsung membuat langkah kaki Nathan tertahan di depan pintu saat akan pergi meninggalkan Bar King's untuk menyelesaikan masalah keluarga.
Nathan menghela nafas sejenak memikirkan kembali pertanyaan dari Elizabeth yang berbicara mengenai sebuah pengkhianatan.
"Mempercayaimu adalah keputusanku sendiri. Membuktikan jika keputusan yang aku buat salah adalah pilihanmu." Balas Nathan tanpa memalingkan badan menatap lawan bicaranya.
Nathan tersenyum tipis setelah membuat keputusan yang sangat beresiko dengan menaruh kepercayaan kepada lawannya sendiri, karena bisa saja sewaktu-waktu Elizabeth berkhianat.
Sudah banyak pengkhianatan yang Nathan dapatkan dan lihat selama 23 tahun ini. Secara tidak langsung dia menaruh kepercayaan terakhirnya kepada Elizabeth untuk mengetahui apa semua manusia itu munafik atau tidak.
Elizabeth hanya bisa terdiam saat mendengar jawaban dari Nathan. Dia sama sekali tidak pernah menyangka pria itu akan mempercayai dirinya yang sudah jelas merupakan musuh.
Selama karirnya Elizabeth tentu sudah sering mengkhianati banyak pemimpin Kartel sebagai asisten kepercayaan mereka saat sedang menyamar selama menjalankan tugas.
Belum pernah Elizabeth bertemu dengan seorang Mafia seperti Nathan yang secara terang-terangan mempercayai dirinya padahal sudah mengetahui tujuannya disana.
__ADS_1
Jika itu pemimpin Kartel lain mungkin saja Elizabeth sudah menjadi pupuk kompos di ladang anggur, karena ketahuan berkhianat setelah diberikan kepercayaan.
"Baiklah kita lihat saja nanti... Tetapi malam ini aku tak akan membiarkanmu keluar dengan luka seperti itu." Ucap Elizabeth sambil memperhatikan tetesan darah disekitar kaki Nathan.
Elizabeth sebenarnya sudah mengetahui Nathan baru saja mengunjungi seseorang dari penjara setelah hampir seharian penuh membuntuti pria itu.
Darah yang menetes disekitar kaki Nathan jelas bukan miliknya meski beberapa menit lalu baru saja membunuh seseorang di dalam penjara.
Elizabeth menyadari betul jika luka jahitan Nathan belum sepenuhnya sembuh karena terlalu banyak bergerak dan sangat jarang istirahat belakangan ini hanya untuk mengerjakan penemuannya.
Menyadari jika Nathan tidak akan menerima nasehat darinya. Elizabeth kemudian mengeluarkan ponsel dan mengancam akan menelpon Margareth untuk membuka kembali kasus pria itu serta para bawahanya.
Bukannya takut dengan ancaman Elizabeth. Nathan justru balik mengancam akan menyebarkan identitas asli wanita cantik itu sebagai bagian dari Keluarga Kerajaan Inggris.
"Bagaimana jika semua orang mengetahui sosok agen yang terkenal kejam dan perfeksionis ternyata hanya seorang wanita yang hanya bisa bersembunyi di balik cangkang tebal... Aku sangat penasaran melihat reaksi semua anggota divisi lain..."
Mata Elizabeth dengan tajam memperhatikan senyuman polos milik Nathan yang membuat dirinya sangat kesal karena mengetahui jika pria itu sedang mengejeknya.
"Hahaha dasar pria berengsek... Kau sudah membuatku tidak memiliki pilihan lain..." Elizabeth merasa kesal karena harus menggunakan benda paling berharga yang sekarang dia miliki.
Dengan terpaksa Elizabeth mengeluarkan sebuah tiket emas dari dalam dompet dan menunjukan kartu As miliknya tepat dihadapan wajah Nathan.
Tiket tersebut tidak lain merupakan tiket yang Elizabeth menangkan dari Nathan setelah mengalahkan pria itu saat membuat taruhan kemarin di taman hiburan.
"Mulai sekarang kau harus mendengarkan semua saranku dan membawaku kemanapun kau pergi." Elizabeth dengan percaya menunjukan otoritas yang dia miliki sebagai pemegang tiket emas.
Walau permintaan yang Elizabeth terdengar sangat berlebihan jika dalam artian lain. Tetapi wanita cantik itu sangat yakin jika Nathan tidak akan pernah mengingkari kata-kata yang sudah pernah dia ucapkan.
__ADS_1
Nathan tertawa tidak percaya saat mendapati Elizabeth akan menggunakan tiket emas untuk menyudutkan dirinya saat dalam situasi sulit seperti sekarang.
Tawa Nathan sekejap langsung menghilang digantikan raut wajah serius, yang membuat suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat tegang.
"Apa kau pikir ini waktu yang tepat untuk main-main? Kau bahkan meminta dua hal sekaligus kepadaku." Nathan menatap erat mata Elizabeth dari jarak dekat.
Melihat mata Nathan yang sangat tenang seperti seorang pemburu. Elizabeth menjadi ragu jika pria itu akan menuruti permintaannya sebagai pemegang tiket emas.
Nathan tiba-tiba mengambil tiket emas dari tangan Elizabeth dan melemparkan koper berisi senjata di atas sofa. Pria itu kemudian pergi ke toilet dan meminta agar Elizabeth memanggilkan Harold keruanganya.
Melihat ini tentu Elizabeth merasa tidak percaya jika Nathan akan benar-benar mengabulkan permintaannya hanya untuk sebuah tiket emas dari hasil taruhan mereka.
Elizabeth langsung menarik kembali pikirannya yang sempat meragukan prinsip Nathan karena tidak akan menepati kata-katanya sendiri.
Dengan Nathan yang sekarang akan mendengarkan saran darinya. Elizabeth mulai berpikir untuk memanfaatkan sebaik mungkin Otoritasnya sebagai seorang asisten asli dan bukan pembantu.
Elizabeth tersenyum tipis setelah mendapatkan ide briliant. Dia kemudian segera pergi untuk menyiapkan peralatan sesuai permintaan Nathan.
Disisi lain Nathan yang sedang ada di dalam toilet saat membuka jas dia hanya bisa menghela nafas panjang saat mendapati semua jahitan kemarin sudah hampir terbuka lagi.
Nathan akhirnya menyadari jika emosinya yang tidak stabil sangat mempengaruhi proses regenerasi sesuai dengan perkataan dari System.
Pria itu kemudian menatap cermin yang ada di hadapannya. "Lihat saja kau dan seluruh keluargamu akan segera menerima balasan setelah berani mengusik keluargaku disini."
Untuk sekarang Nathan akan menunda pembalasan terhadap Geng The Brothers setidaknya selama satu hari agar luka jahitnya bisa segera sembuh.
Jujur saja sebenarnya setiap kali mencoba menggerakan tubuh, Nathan merasakan nyeri seperti disayat menggunakan pisau tajam.
__ADS_1
Kali ini Nathan akan mendengarkan saran dari Elizabeth untuk istirahat selama satu hari. Tetapi setelah waktunya tiba dia akan segera membalaskan dendam atas kematian Austin.