
[ Misi tambahan berhasil terpicu! Buatlah suatu inovasi produk dan kembangkan bisnis yang Tuan rumah miliki saat ini untuk menjangkau pasar kecantikan wanita! ]
[ Hadiah: 3 Miliar Dollar, 1× Tiket Bebas Belanja, 1 Juta Poin Tukar ]
Notifikasi pemberitahuan misi dari System langsung mengejutkan Nathan sampai membuatnya menyemburkan anggur merah yang sedang dia minum sekarang.
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan muda?" Harold yang melihat tersedak anggur merah merasa khawatir dan memberikan sapu tangan miliknya.
Nathan mengangguk pelan sambil menyeka noda anggur merah yang ada disekitar mulutnya. Kali ini dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan dari System yang memberikannya misi ganda.
Apa lagi saat melihat hadiah yang ditawarkan sangat banyak sampai membuatnya mungkin bisa hidup mewah sampai menemui ajalnya.
Melihat deskripsi misi yang menyuruhnya membuat sebuah produk kecantikan. Nathan langsung melirik ke arah Harold dan menyeringai yang membuat pria itu menjadi gugup.
"Ah! Aku hampir lupa... Kau sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, Harold." Ucap Nathan dengan nada mengancam yang terkesan mengintimidasi.
Sebagai konsekuensi sudah memanfaatkan darahnya tanpa izin. Nathan meminta kepada Harold untuk membuat sebuah masker wajah sebagai penebusan.
Mendengar hukuman yang diberikan oleh Nathan cukup aneh. Harold terdiam sejenak dan tanpa pikir panjang langsung menyanggupi permintaan pria itu.
Nathan memberikan sedikit arahan kepada Harold tentang masker wajah yang bisa mengguncang pasar kecantikan Dunia.
Dengan memperpadukan formula serum yang saat ini sedang Harold kembangkan. Nathan ingin pria itu membuat masker yang bisa meremajakan wajah dalam waktu singkat.
Nathan juga mengarahkan Harold agar membuat efek masker tersebut hanya bertahan 2 sampai 3 hari saja, supaya barang mereka bisa terjual banyak dan menjadi kebutuhan konsumtif untuk kalangan wanita.
Harold segera mencatat setiap arahan yang diberikan oleh Nathan sambil melanjutkan menjahit luka tembak pria itu. Tampaknya sekarang dia mulai menyadari alasan Nathan menolak serum yang sedang dirinya kembangkan saat ini.
...****************...
Sementara itu dikamar Elizabeth. Wanita cantik itu terbangun dari tidurnya dan menemukan dirinya sudah berada di dalam kamar.
Elizabeth kemudian memeriksa kakinya yang sebelumnya lecet dan mendapati jika lukanya sekarang sudah menghilang. Kemungkinan terbesar Nathan lah yang sudah mengobatinya.
__ADS_1
Pandangan Elizabeth kemudian tertuju ke arah Katarina yang saat ini duduk disamping tempat tidurnya. Melihat kehadiran anak buahnya itu tentu saja langsung membuatnya terkejut karena baru saja bangun.
"Apa yang kau lakukan disini, Katarina?" Elizabeth mengatur nafas sambil memperhatikan Katarina yang tiba-tiba sudah ada disamping tempat tidurnya.
Mendengar pertanyaan dari Elizabeth. Tanpa basa-basi Katarina langsung mengutarakan maksud tujuannya datang untuk menemui wanita cantik itu.
"Ketua... Mulai sekarang aku ingin kau menjaga jarak dengan Nathan." Ucap Katarina tanpa keraguan sedikitpun diwajahnya bahkan dia terlihat sangat percaya diri saat ini.
Katarina kemudian juga mengingatkan status Elizabeth saat ini yang sudah menjadi tunangan pria lain dan maksud tujuan mereka ke sana hanya untuk menyelidiki kelompok milik Nathan.
Secara tidak langsung Katarina sudah mencurigai Elizabeth yang sudah menaruh perasaan kepada targetnya sendiri dan melenceng dari misi utama mereka diutus ke sana.
Elizabeth tertawa canggung mencoba menyangkal tuduhan Katarina jika dirinya sudah menarug perasaan kepada Nathan yang merupakan targetnya sendiri.
Melihat gelagat Elizabeth yang mencurigakan tentu saja Katarina tidak bisa mempercayainya dan hanya memberikan tatapan datar kepada wanita cantik itu.
Senyuman diwajah Elizabeth seketika hancur setelah melihat ekspresi datar yang ditunjukan oleh Katarina. Wanita cantik itu sekarang balik menatap Katarina dengan matanya yang seperti burung elang.
"Jangan membicarakan pertunangan yang diusulkan orang tuaku karena aku tidak perduli. Memangnya kau siapa memintaku menjauh dari Nathan? Apa tertarik kepadanya?"
Mata Elizabeth menatap lurus ke arah bola mata Katarina. Seolah-olah menyelidiki apakah wanita itu sekarang mencoba untuk mendekat Nathan atau tidak.
Katarina langsung menyadari jika sudah mengambil langkah yang salah. Melihat tatapan membunuh khas milik Elizabeth saat sedang menatap targetnya, seketika membuat Katarina menjadi gugup.
"Huh! Jika aku tertarik kepada pria itu bukan masalah untukmu bukan?!" Balas Katarina yang mencoba untuk tetap tenang dibawah tekanan seorang Alpha.
Hanya dalam sekejap mata sebilah pisau langsung menempel di leher Katarina dan sedikit membuat luka gores hingga darah mulai mengalir keluar.
"Aku peringatkan kau untuk terakhir kalinya. Sekali lagi kau mencampuri urusan pribadiku dan meletakan tanganmu kepadanya, bersiaplah untuk menerima konsekuensi."
Elizabeth tanpa keraguan sedikitpun memberi ancaman kepada Katarina dan memberi peringatan terakhir kepada anak buahnya sebelum menarik kembali pisau miliknya.
Katarina akhirnya bisa bernafas lega setelah Elizabeth menyingkirkan pisau dari lehernya. Meski mendapat sedikit luka goresan, tetapi dia marasa beruntung karena wanita cantik itu tidak langsung memenggal kepalanya ditempat.
__ADS_1
Dengan suasana hati yang buruk. Katarina memutuskan untuk pergi meninggalkan Elizabeth dan mencari Jasmine agar mendapatkan perawatan.
Katarina diam-diam tersenyum tipis. Sekarang dia benar-benar sudah sangat yakin jika Elizabeth menaruh perasaan kepada Nathan dan sudah dibutakan oleh perasaan itu.
Jika tidak maka mustahil Elizabeth akan sangat sensitif saat pembahasan mulai mengarah kepada Nathan. Ini sudah menjadi bukti yang kuat jika wanita cantik itu sedang mengalami musim seminya.
Katarina sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan keputusan yang sudah dibuat oleh Elizabeth. Dia sendiri memang sengaja memancing emosi wanita cantik itu untuk mengetahui perasaannya kepada Nathan.
Ada alasan lain yang mendasari Katarina melakukan tindakan berisiko ini. Tetapi sifatnya sangat rahasia dan tidak mungkin bisa dijelaskan sekarang.
Untuk saat ini Katarina hanya ingin melihat bagaimana perkembangan Elizabeth yang belum bisa memahami perasaannya sendiri, dan menantikan kelanjutan drama wanita cantik itu dengan Nathan.
Setelah Katarina meninggalkan kamar. Elizabeth menghela nafas panjang dan merasa bingung dengan apa yang baru saja dia lakukan sampai memiliki niat untuk membunuh anak buahnya sendiri.
Raut wajah Elizabeth menjadi muram saat mengingat perkataan Katarina. Memang benar sekarang dia sudah memiliki seorang tunangan yang diajukan oleh orang tuanya sejak lama bahkan sebelum dia lahir.
Elizabeth tentu saja ingin hidup dengan caranya sendiri dan tidak mau diatur-atur apa lagi jika menyangkut pasangan hidupnya.
Keputusan Elizabeth sekarang sudah bulat dan tidak ingin kembali ke rumah sebelum orang tuanya membatalkan perjodohan yang menurutnya sangat kuno.
Elizabeth kemudian menatap foto dirinya dan Nathan saat menghabiskan waktu bersama di taman hiburan. Melihat dirinya yang tertawa bersama pria itu membuatnya sangat senang.
Bahkan tanpa sadar Elizabeth mulai tersenyum sendiri sambil berguling di atas kasur seperti seorang remaja yang baru pertama kali merasa jatuh cinta.
Namun tidak berselang lama logika Elizabeth langsung membuatnya sadar kembali. "Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Kau seharusnya bersikap profesional saat sedang bekerja, Elizabeth!"
Wanita cantik itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika Nathan sebenarnya sangat jahat bahkan sudah berani menjualnya hanya untuk sebuah tiket masuk seharga 150 Dollar.
Elizabeth tentu saja tidak membohongi perasaanya sendiri. Tanpa sadar dia keluar dari kamar untuk mencari Nathan dengan mengatakan alasan kepada dirinya sendiri jika hanya ingin berterimakasih saja tidak lebih.
Perasaan anehlah yang sebenarnya mendorong Elizabeth mencari Nathan. Tanpa sadar dia sudah merindukan kehangatan dan persaan nyaman saat bersama dengan pria itu.
Bahkan sekarang Elizabeth merasa cemas jika harus terpisah dengan Nathan dan khawatir ada wanita lain yang mencoba mendekati pria itu sama seperti Katarina.
__ADS_1
Elizabeth tidak menyadari jika perasaan aneh yang sebelumnya ingin dia hilangkan justru bertambah kuat seiring berjalannya waktu sampai membuat logikanya kalah.
Senyuman indah diwajah Elizabeth bahkan sering muncul saat wanita cantik itu mengingat kenangan ketika dirinya menghabiskan waktu bersama Nathan di taman hiburan.