Mafia Order System

Mafia Order System
Kembali Ke rumah


__ADS_3

Api yang berasal dari tumpukan uang palsu sebanyak 100 Juta Dollar mulai merambat membakar seisi gudang terbengkalai beserta dengan pemimpin Geng The Brother di dalamnya.


Nathan segera pergi dari lokasi kejadian sebelum beberapa pekerja di pelabuhan dan pemadam kebakaran setempat datang untuk menjinakkan api yang sudah membesar.


Setelah pergi dari pelabuhan Richmond. Nathan segera menuju tempat pangkas rambut milik mendiang Anthony yang juga merupakan tempat tinggalnya dulu.


Beberapa saat kemudian setelah menempuh perjalanan selama 1 jam menggunakan mobil. Nathan akhirnya tiba di tempat pangkas rambut yang dulu sempat dirinya tinggali selama beberapa tahun.


Tempat pangkas rambut itu terlihat tutup sepeninggalnya Anthony. Nathan kemudian masuk ke dalam toko untuk mengenang kembali masa-masa saat masih bersama Anthony dan Austin.


Langkah Nathan terus berlanjut memasuki bagian terdalam dari tempat pangkas rambut tersebut, menuju tempat dimana keluarga Anthony biasa beristirahat.


Nathan berhenti sejenak di depan pintu sebuah ruangan yang tidak lain merupakan kamar tidurnya dulu. Dia kemudian masuk ke dalam dan melihat kondisi kamarnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu.


Tidak ada yang berubah sedikitpun dari kamar itu. Mendiang Anthony dan Austin memang sengaja rutin membersihkan kamar milik Nathan setiap hari dengan harapan jika pria itu kembali bisa langsung beristirahat.


Nathan seketika merasakan lututnya lemas dan akhirnya hanya bisa terduduk di depan pintu. Mata pria itu mulai berkaca-kaca karena tidak menyangka jika Anthony dan Austin selama ini ternyata masih menunggunya pulang.


Pandangan Nathan kemudian tertuju ke arah setumpuk kado yang berada di dekat pohon natal tua. Sambil menyeka air mata dia menghampiri pohon natal tua itu untuk melihat kado-kado yang ada di sekitarnya.


Total ada 10 kado beserta kartu ucapan yang berisi selamat ulang tahun dan selamat hari natal. Hanya dengan melihatnya Nathan bisa mengetahui jika semua kado itu dibuat oleh Anthony dan Austin selama 5 tahun terakhir.


Dengan nafas sesenggukan karena menangis. Nathan mulai membuka satu-persatu kado yang diberikan oleh mendiang Anthony dan Austin untuk dirinya.


Nathan mendapatkan kacamata, buku catatan, pemutar musik, dompet, sampai sebuah celengan berbentuk boneka salju. Meski terlihat sangat sederhana dan terbilang murah, tetapi semua hadiah itu sangat berarti untuk dirinya.


Terakhir ada sebuah kado yang diberikan oleh Austin, dan terlihat ada sebuah catatan yang ditulis tidak begitu rapih dari mendiang Austin untuk Nathan.


Dalam catatan tersebut, Austin menceritakan seberapa keras dia bekerja untuk menyiapkan hadiah itu dan meminta Nathan agar tidak membuangnya meski tak menyukainya.

__ADS_1


Nathan kemudian membuka kado terakhir pemberian Austin. Sebuah pena berwarna hitam terlihat tersimpan dengan rapih di dalam.


Saat sedang memperhatikan pena itu. Nathan menemukan inisial namanya yaitu N.A pada sudut pena yang ditulis menggunakan tinta emas.


Hanya dalam sekali lihat Nathan bisa mengetahui jika pena tersebut terbilang cukup mahal di kisaran harga 1000 Dollar, mengingat pena itu tidak diproduksi secara masal.


Nathan tentu saja sangat menyukai pena pemberian Austin, dan tidak mungkin dirinya membuang hadiah yang Austin beli dengan susah payah begitu saja.


...****************...


Malam hari, tepatnya di salah satu kamar VIP sebuah rumah sakit. Seorang wanita cantik yang sedang terbaring di atas ranjang mulai menunjukkan pada jari-jarinya.


Perlahan Elizabeth mulai membuka mata dan merasakan pusing di bagian kepala. Dia kemudian duduk di atas kasur sambil memperhatikan tempat dimana dirinya sekarang berada.


Tidak berselang lama Jasmine masuk ke dalam kamar VIP dan terlihat bergegas setelah mengetahui Elizabeth sudah sadarkan diri.


Melihat Elizabeth sedang memegang kepala, Jasmine langsung memberikan sebuah kapsul serta segelas air untuk meredakan rasa pusing yang di derita oleh wanita cantik itu.


Meski dirinya baru saja sadarkan diri. Elizabeth masih memiliki kepentingan yang harus segera dia lakukan, sebelum ada seseorang yang sangat penting bagi dirinya melakukan tindakan ceroboh.


"Sekarang jam 9 malam, Ketua. Sebaiknya kau kembali istirahat dan tidak beraktivitas untuk sementara waktu." Balas Jasmine sambil memperhatikan jam tangan miliknya.


Sebagai seorang dokter tentu Jasmine mengetahui kondisi Elizabeth yang belum sepenuhnya pulih dan masih memerlukan istirahat untuk memulihkan kondisinya.


Mengetahui jika sekarang sudah jam 9 malam, Elizabeth langsung mencabut jarum infus dari pergelangan tangan dan beranjak meninggalkan kasur.


Jasmine yang melihat Elizabeth ingin pergi tentu saja langsung menahan wanita cantik itu. Tetapi sayangnya tenaga yang dirinya miliki kalah jauh dari Elizabeth.


Saat Elizabeth ingin meninggalkan kamar rawat VIP. Sebastian tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk dan langsung menahan langkah wanita cantik itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?! Menyingkir lah dari hadapanku!" Ucap Elizabeth dengan ketus kepada Sebastian yang menghalangi jalannya.


Meski sudah dibentak oleh Elizabeth. Sebastian sama sekali tidak bergeming dari tempatnya bahkan ekspresi datar diwajahnya sama sekali tidak berubah.


Elizabeth berdecak kesal dan memberi peringatan terakhir kepada Sebastian untuk menyingkir dari hadapannya sebelum dirinya menggunakan cara kekerasan.


"Tenangkan dirimu terlebih dulu, Nona Elizabeth. Aku mengerti kau pasti mengkhawatirkan Tuan Nathan bukan?" Pinta Sebastian dengan lembut.


Hanya dengan sekali lihat baik itu Sebastian ataupun Jasmine bisa mengetahui jika Elizabeth sekarang sedang mengkhawatirkan Nathan.


Sebastian kemudian menjelaskan kepada Elizabeth semua yang terjadi hari ini mulai dari kematian sosok Anthony sampai Nathan yang pergi sejak acara pemakaman.


Mendengar jika sosok Anthony yang dirinya temui semalam sudah tewas. Elizabeth merasa heran dan bertanya penyebab kematian Anthony kepada Sebastian.


Elizabeth sendiri tidak mengetahui apapun semenjak kehilangan kesadaran setelah semalam jatuh dari lantai tiga akibat ledakan bom milik Kevin.


Di sana Sebastian kembali menjelaskan jika Anthony sebenarnya mengalami kanker paru-paru dan memang oleh dokter usianya diperkirakan sudah tidak lama lagi.


Tentu penjelasan ini Sebastian berikan agar Elizabeth tidak menyalahkan dirinya sendiri karena sudah menjadi penghambat bagi Nathan yang harus menyelamatkan wanita cantik itu terlebih dulu.


"Lalu dimana sekarang pria itu?" Elizabeth merasa tidak enak hati karena sudah membiarkan Nathan pergi seorang diri setelah dirinya kehilangan kesadaran.


Jika memang benar Nathan pergi untuk mengejar Kevin. Elizabeth ingin mengetahui kondisi Nathan sekarang karena mengetahui pria itu pasti akan bertindak seorang diri.


"Entahlah... Kami sudah mencoba mencari keberadaannya sejak tadi siang tetapi belum juga menemukannya. Mungkin Tuan Nathan masih perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri." Balas Sebastian.


Mendengar perkataan Sebastian tentu saja Elizabeth seketika kembali menjadi kesal. Wanita cantik itu berpikir bagaimana bisa Sebastian memintanya untuk tenang disaat keberadaan Nathan saja sama sekarang tidak diketahui.


Untuk ke-tiga kalinya Elizabeth kembali dihentikan saat ingin pergi oleh Sebastian yang memberikan sebuah pesan dari Nathan sebelum pergi tadi siang.

__ADS_1


Dalam catatan itu Nathan meminta Elizabeth untuk istirahat dan tidak memaksakan diri. Nathan juga berpesan jika dirinya akan baik-baik saja dan perlu waktu sendiri.


__ADS_2