
Sambil memperhatikan mobil polisi melalui kaca spion yang mengejarnya dari belakang, Nathan mulai merasa tegang melihat mobilnya yang tidak secepat mobil polisi.
Benar saja tidak lama kemudian Elizabeth berhasil menyusul Nathan dan membuat mobil mereka sejajar hingga membuat pandangan keduanya kembali bertemu.
Elizabeth memberi sinyal kepada Nathan untuk menepi sambil menunjukan senjata api ditangannya sebagai peringatan terakhir.
Tetapi jawaban yang diberikan oleh Nathan lagi-lagi membuat Elizabeth kembali dibuat geram, dimana pria itu mengacungkan jari tengahnya kepada dirinya.
"Dasar keras kepala!!!" Elizabeth berdecak kesal dan langsung memepet mobil milik Nathan untuk menepikannya secara paksa.
Tubrukan antar mobil tidak bisa dihindari lagi. Hal ini membuat Nathan yang belum siap menerima guncangan hampir kehilangan kendali atas mobilnya.
Namun Nathan masih beruntung tidak mengalami kecelakaan setelah tangannya secara reflek kembali menggenggam stir kemudi yang sebelumnya sempat terlepas.
"Wanita ini benar-benar gila..." Nathan berdecak kesal melihat kegigihan Elizabeth yang sangat ingin menangkap dirinya dengan segala cara.
Dalam waktu seperkian detik Nathan menganalisa jalanan di hadapannya dan menemukan sebuah tikungan. Tanpa menunggu lama ia menginjak pedal rem untuk melepaskan diri dari Elizabeth yang terus menempel pada mobilnya.
Elizabeth reflek menginjak pedal rem saat mobil yang dikendarainya akan menabrak pembatas jalan. Beruntung ia masih bisa selamat, jika tidak maka kemungkinan besar mobil yang dikendarainya akan terguling mengingat sedang berada dalam kecepatan tinggi.
"Bedebah itu..." Elizabeth berdecak kesal melihat Nathan berkelok menuju arah lain dan segera kembali mengejarnya sebelum kehilangan jejak.
Disisi lain Nathan yang mengira sudah berhasil melarikan diri harus menelan pil pahit saat Elizabeth berhasil mengejarnya kembali dan mulai melepaskan tembakan.
"Apa masalah wanita itu, sial!" Nathan berdecak kesal sambil merunduk untuk menghindari timah panas yang di tembakan oleh Elizabeth dari belakang.
Kaca mobil bagian belakang milik Nathan seketika pecah setelah diberondong peluru bertubi-tubi oleh Elizabeth yang sudah kehabisan kesabaran setelah dipermainkan beberapa kali.
Saat sedang menembaki mobil penjahat di depannya, tiba-tiba Elizabeth kehabisan peluru yang membuatnya merasa kesal dan melempar pistol.
Mereka berdua kemudian dihadapkan dengan sebuah tikungan tajam yang terdapat jurang berbahaya. Jika tidak berhati-hati nasib mereka tentu saja tidak akan berakhir dengan baik.
__ADS_1
Elizabeth yang sudah terbakar emosinya tidak menghiraukan peringatan bahaya dan justru mempercepat laju mobilnya.
Begitu jarak sudah dekat, Elizabeth tanpa berpikir panjang langsung menabrak bagian belakang mobil milik Nathan hingga membuatnya terguling.
"Fu*k!!!" Nathan berdecak kesal saat mobilnya mulai berguling-guling dan terseret dengan kecepatan tinggi menuju arah tikungan tajam.
Apa yang ditakutkan Nathan akhirnya benar-benar terjadi. Mobil yang ia kendarai keluar melewati pembatas jalan dan terjun bebas dari jurang setinggi 50 meter.
Elizabeth disisi lain menghentikan mobil dipinggir jalan dan memperhatikan mobil milik Nathan yang terguling menuruni jurang yang cukup curam.
Hingga pada akhirnya Elizabeth melihat mobil milik pria itu masuk ke dalam pepohonan dan tidak lama berselang terbakar hingga meledak.
"Kirim bantuan ke lokasiku sekarang." Pinta Elizabeth kepada rekan-rekannya melalui walkie talkie sambil memperhatikan mobil milik Nathan yang terbakar dari atas.
Raut wajah Elizabeth masih tampak datar dan tidak menunjukan perasaan bersalah setelah membuat seseorang mengalami kecelakaan.
Hal ini sangat cocok dengan julukannya sebagai wanita bertangan besi yang tidak memiliki perasaan kepada target dan musuh-musuhnya.
Butuh waktu sepuluh menit bagi Elizabeth untuk menuruni jurang yang cukup terjal itu. Tetapi sesampainya dilokasi mobil yang terbakar, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Nathan di dalam.
"Mustahil jika dia bisa hilang begitu saja. Apa tubuhnya terlempar keluar dari mobil?" Elizabeth tampak kebingungan dan memperhatikan area pepohonan disekitarnya.
Saat sedang mencari tubuh Nathan yang ia kira terlempar keluar dari mobil. Elizabeth menemukan jejak darah yang mengarah ke dalam pepohonan.
Elizabeth yang merasa penasaran kemudian mulai mengikuti jejak darah tersebut ke dalam pepohonan untuk melihat siapa pemiliknya.
Tiba-tiba Elizabeth mendengar suara gemuruh mesin dan ingat jika dibalik pepohonan ada sebuah jalur kereta api yang dikhususkan untuk membawa hasil tambang.
Mata biru Elizabeth seketika membelalak lebar dan langsung berlari menyusuri pepohonan untuk mengejar kereta barang yang baru saja lewat.
Kecurigaan Elizabeth akhirnya benar-benar terjadi, dimana ia melihat Nathan yang sedang duduk di bagian paling belakang gerbong kereta.
__ADS_1
Nathan melepas topinya dan melambai sebagai ucapan perpisahan kepada Elizabeth meski setengah wajahnya kini berlumuran darah.
Disisi lain Elizabeth berdecak kesal dan hanya dapat melihat kepergian Nathan yang mulai menjauh menggunakan kereta api tanpa bisa mengejarnya.
"Okey mungkin kau bisa lepas kali ini, tapi dalam kesempatan berikutnya aku bersumpah akan mematahkan lehermu!" Elizabeth mendengus dan memutuskan kembali untuk mempersiapkan rencana berikutnya.
*****
Malam hari di dalam kamar motel Nathan terlihat menggigit kain agar suara rintihan tidak keluar dari mulutnya saat sedang mengeluarkan beberapa butir peluru di tubuhnya.
Dengan menggunakan alat seadanya Nathan secara mandiri mengeluarkan hadiah dari Elizabeth berupa peluru yang bersarang dibagian pinggangnya.
Setelah mengeluarkan peluru dari tubuhnya, Nathan kemudian membersihkan lukanya dan membalut menggunakan perban.
Jika diperhatikan lebih cermat masih ada beberapa luka di tubuh Nathan yang masih belum sembuh. Itu merupakan luka baru yang ia dapatkan selama lima hari memburu orang-orang yang terlibat mengkambing hitamkan dirinya.
Nathan lagi-lagi tidak meminta bantuan dari System meski sudah terluka cukup parah. Alasannya selain dirinya masih sangat miskin dalam hal poin tukar, ia sebenarnya sudah mengincar satu barang yang cukup mahal di dalam toko System.
Menu pay later yang pernah ia gunakan sebelumnya untuk membeli beberapa pil, saat ini sudah tersedia lagi. Nathan benar-benar menyesal sudah menggunakan menu pay later yang hanya bisa digunakan satu kali untuk mendapatkan anak buah.
Jika saat itu Nathan tidak menggunakan menu ini secara buru-buru, mungkin saja sekarang ia sudah memiliki alat superpower yang di jual oleh System.
Tetapi semua ini bukan murni kesalahan Nathan, mengingat System miliknya yang sangat kikir dan pelit tidak memberitahu informasi ini karena tidak mau merugi.
"System carikan informasi mengenai wanita yang mengejarku sebelumnya." Ucap Nathan sambil membalut luka di tubuhnya menggunakan perban.
[ 100 poin tukar akan dikurangi dari saldo akun Anda untuk mendapatkan informasi. Apakah Tuan rumah setuju? ]
Nathan sudah menduga jika fitur pencarian milik System pasti berbayar. Tetapi mengingat keakuratan informasi yang diberikan, pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk.
Setelah mendapat konfirmasi dari Nathan, System kemudian mencari segala informasi mengenai Elizabeth dan menampilkannya kepada Nathan.
__ADS_1
"Menarik..." Gumam Nathan sambil tersenyum tipis saat membaca informasi pribadi milik Elizabeth yang tidak diketahui oleh banyak orang.