Mafia Order System

Mafia Order System
Istirahat Dalam Damai


__ADS_3

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Nathan pergi meninggalkan Elizabeth setelah mengobati kaki wanita cantik itu yang mengalami cedera paska jatuh dari atas treadmil.


Melihat Nathan pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Elizabeth menatap heran kearah pria itu seolah tidak percaya jika akan ditinggalkan saat kakinya masih terasa sakit.


"Apa kau tak malu meninggalkan seorang wanita yang sedang terluka begitu saja. Aku bertanya-tanya apa kau masih layak dipanggil seorang pria?" Tanya Elizabeth sambil berdecak kesal.


Untuk pertama kali dalam hidupnya Elizabeth tidak menyangka akan ada seorang pria yang mengabaikan dirinya. Dia sudah terbiasa mendapatkan perlakuan spesial bahkan tanpa meminta pun, banyak pria yang ingin membantu dirinya meski pada akhirnya dia tolak mentah-mentah.


Menurut Elizabeth perilaku yang ditunjukan oleh Nathan tidak mencerminkan pribadi seorang pria sejati, karena mengabaikan seorang wanita yang terluka seperti dirinya.


Elizabeth sebenarnya tidak berharap banyak saat Nathan mencoba mengobati kakinya. Tetapi dia ingin melihat apakah pria itu memiliki sisi baik atau tidak.


Setelah melihat sikap Nathan yang acuh tampaknya Elizabeth sudah membuat kesimpulan jika pria itu murni terbuat dari kejahatan dan tidak memiliki empati sedikitpun.


Dimata Elizabeth, Nathan hanya memperalat anak buahnya dan memberi doktrin kepada mereka agar setia kepadanya sampai mati dengan sebuah ancaman.


Apa yang ada dipikiran Elizabeth tentang Nathan memang tidak salah namun tidak sepenuhnya benar. Pria itu memang memberi doktrin kepada anak buahnya tetapi hanya sebatas gertakan saja.


Mendengar perkataan Elizabeth yang mempertanyakan apakah dirinya masih layak dipanggil seorang pria atau tidak, membuat Nathan berhenti melangkah dan berbalik melihat kearah wanita cantik itu yang masih terduduk di lantai.


"Nona, aku sudah membantumu tetapi kau malah menuntut lebih?" Nathan menggelengkan kepala dan berjalan melenggang pergi meninggalkan Elizabeth.


Perkataan Nathan sontak membuat Elizabeth berdecak kesal. Tetapi dia seketika terdiam saat merasakan kakinya yang tidak sakit lagi.


Saat mencoba untuk berdiri Elizabeth menemukan jika kakinya sudah terasa lebih baik bahkan jauh lebih ringan dari biasanya. Meski enggan mengakuinya, Elizabeth kali ini harus berterimakasih kepada Nathan.


Tetapi ego membuat Elizabeth semakin kesal kepada Nathan karena dia sekarang harus membalas kebaikan yang sudah dilakukan oleh pria itu.


Elizabeth tentu saja tidak ingin berhutang budi apa lagi kepada musuh utamanya sekarang. Dalam waktu dekat dia ingin segera membalas budi agar pikiran ini tidak mengganggu misinya.


Bingung harus membalas kebaikan Nathan dengan apa. Elizabeth akhirnya memutuskan untuk mengajak pria itu latih tanding, karena memang hanya ini saja yang dia kuasai.

__ADS_1


Dengan memberikan sedikit latihan beladiri kepada Nathan, Elizabeth berharap dirinya tidak perlu lagi memikirkan apa itu hutang budi.


Elizabeth kemudian menghampiri Nathan yang sedang istirahat dan memberikan sepasang sarung tinju yang biasa digunakan oleh petarung MMA.


Nathan yang mendapatkan sarung tangan tinju hanya menatap Elizabeth dengan aneh sebelum mengalihkan pandangan dari wanita cantik itu.


Menurut Nathan sangat aneh bagi Elizabeth mengajaknya latihan setelah mendapatkan cidera beberapa saat lalu di pergelangan kakinya.


Elizabeth yang mendapat penolakan dari Nathan berdecak kesal dan akhirnya memaksa pria itu untuk mengangkat sarung tinju lalu bertarung bersama dengannya di dalam ring tinju.


Pada akhirnya karena tidak ingin berdebat dengan wanita cantik tapi keras kepala itu. Nathan dengan terpaksa menerima ajakan Elizabeth dan masuk kedalam ring tinju.


"Aku hanya akan menggunakan kurang dari setengah kekuatanku." Ucap Nathan sambil mengencangkan sarung tinjunya yang terasa sedikit kendur.


Melawan seorang wanita rasanya tidak terlalu menarik menurut Nathan. Jadi dia berbaik hati tidak akan serius menghadapi Elizabeth yang terlihat sangat rapuh.


Dikatakan rapuh sebenarnya Elizabeth tidak terlihat seperti itu. Wanita cantik itu memiliki otot-otot yang kencang terutama dibagian perut.


"Sebaiknya kau simpan rasa khawatir untuk dirimu sendiri." Elizabeth tersenyum tipis sambil memperhatikan Nathan seperti binatang buas.


Melihat Nathan meremehkan dirinya tentu saja membuat Elizabeth tersinggung. Dari yang awalnya hanya ingin sedikit melatih Nathan, dia sekarang berniat memberikan pelajaran kepada pria itu.


Dalam hitungan 3 detik setelah tanda aba-aba berbunyi. Elizabeth langsung mengarahkan tendangan disamping wajah Nathan dengan kekuatan yang tebilang tidak sedikit.


Nathan secara reflek mencoba menahan tendangan Elizabeth menggunakan pergelangan tangan. Namun ia tidak menyangka tendangan wanita cantik itu akan sangat kuat.


Karena tidak mampu menahan tendangan yang dilepaskan Elizabeth. Tubuh Nathan langsung terhempas kesamping sampai membentur ring pembatas.


Nathan meringis merasakan pergelangan tangannya yang terasa kebas seakan tidak bisa di gerakan. Entah mengapa ia menyesal karena lupa dengan tanda bahaya yang dimiliki oleh Elizabeth.


Melihat raut wajah kesakitan yang ditunjukan oleh Nathan. Elizabeth bukannya merasa iba justru semakin bersemangat untuk memberikan rasa sakit kepada pria itu.

__ADS_1


Tidak memberikan kesempatan Nathan untuk istirahat. Elizabeth langsung melepaskan tendangan kedua yang membuat pria itu seketika tersungkur di lantai dengan keras.


"Fu*k!!!" Pekik Nathan sambil memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak setelah mendapat tendangan tanpa ampun dari Elizabeth.


Saat Nathan sedang merintih kesakitan. Elizabeth kembali melakukan serang melompat kearahnya sambil mengepalkan sebuah tinju keras.


Tidak ingin wajah tampan yang sudah diberikan Tuhan hancur begitu saja. Nathan berguling kesamping untuk menghindari tinju pamungkas milik Elizabeth.


Brakkk!!!


Lantai tinju yang terkena pukulan dari Elizabeth seketika hancur dan menimbulkan sebuah lubang. Hanya dengan melihat efeknya semua orang sudah bisa memperkirakan seberapa keras pukulan wanita cantik itu.


"Apa kau sudah gila?!" Nathan tercengang melihat efek pukulan milik Elizabeth yang sebelumnya diarahkan kepada dirinya.


Sudah bisa dipastikan wajah Nathan akan benar-benar hancur jika terkena pukulan Elizabeth yang sengaja ingin membunuh langsung dirinya ditempat.


"Ayolah... Bukannya tadi kau sangat percaya diri dan merasa paling kuat disini?" Elizabeth menyeringai sambil menarik tinjunya dari celah di lantai ring tinju.


Melihat senyuman Elizabeth yang mengerikan. Nathan sudah mendapat firasat jika wanita cantik itu sekarang memiliki suasana hati yang buruk, sama seperti pertamakali mereka bertemu.


Tidak ingin nyawanya melayang sebelum melakukan perlawanan. Nathan mencoba mencari celah agar bisa menghindari serangan Elizabeth berikutnya.


Pukulan dan tendangan mulai Elizabeth lancarkan kearah Nathan. Pria itu tampaknya tidak melakukan perlawanan dan hanya terus mencoba menghindari serangan yang diberikan.


Nathan sebenarnya ingin menyerang balik Elizabeth tetapi dia tidak menemukan metode yang tepat untuk melumpuhkan seorang wanita.


Dia merasa ragu untuk melakukan serangan karena takut mengenai area pribadi milik Elizabeth. Sebagai seorang pria terhormat tentu Nathan tidak ingin melakukan hal tersebut.


Disisi lain Elizabeth yang menyadari pikiran Nathan merasa sedikit tersanjung, tetapi disisi lain dia juga merasa kesal sebab pria itu masih tidak serius saat melawannya.


Karena tidak melakukan perlawanan, puncaknya Elizabeth mengunci pergerakan Nathan di lantai dengan cara mengapit wajah pria itu diantara kedua kakinya.

__ADS_1


Nathan akhirnya pingsan kehabisan nafas, tetapi bukannya terlihat kesakitan. Pria itu justru terlihat seperti orang mati yang tewas dalam damai dan menunjukan sedikit senyuman.


__ADS_2