Mafia Order System

Mafia Order System
Tetaplah Disini


__ADS_3

Ingatan tentang kejadian 15 tahun disaat dirinya sedang menghabiskan hari pekan bersama dengan ke-dua orang tuanya seketika terlintas kembali.


Saat itu Elizabeth yang masih berusia 8 tahun tidak sengaja menjatuhkan es krim miliknya karena terlalu asik berlari sambil membawa balon.


Orang tuanya sudah mengatakan kepada Elizabeth untuk tidak lari-larian karena takut putri mereka terjatuh. Dan benar saja hal itu terjadi dan membuat Elizabeth akhirnya menangis.


Ibunya langsung menenangkan Elizabeth yang sedang menangis, sementara ayahnya saat itu segera memberikan es krim rasa coklat yang baru.


Moment tersebut sangat membekas diingatan Elizabeth sampai saat ini, dan merupakan salah satu momen paling berharga sebelum sikap ke-dua orang tuanya sekarang berubah.


Saat melihat raut wajah Nathan yang tulus mengkhawatirkan dirinya. Elizabeth tersenyum tipis dan memeluk pria itu untuk mempertahankan tubuhnya yang sudah rapuh.


Bersama Nathan sekarang Elizabeth tanpa sadar sudah membuka jati dirinya yang sesungguhnya dimana ia hanya seorang wanita rapuh dan sangat kesepian yang merindukan kasih sayang.


"Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku sendirian setelah ini." Ucap Elizabeth sambil menyembunyikan senyuman indah di dalam pelukan hangat Nathan.


Elizabeth tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini sebelumnya. Ia menyukai segalanya tentang Nathan, mulai dari sikap kepada dirinya, suara, aroma tubuh, wajah, sampai kepribadiannya.


Sementara itu saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Elizabeth. Nathan hanya mengiyakan saja meski sebenarnya dia merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Tetapi menurut pengalaman setelah pernah berkencan dengan seorang wanita selama 5 tahun meski pada akhirnya berakhir gagal.


Nathan menyadari jika Elizabeth sekarang sedang mengingat sebuah moment yang pasti sangat berharga untuk wanita cantik itu.


Sekarang Nathan tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa memeluk balik Elizabeth untuk memenangkan wanita cantik itu mengingat dua buah es krim yang sedang dirinya bawa.


Nathan hanya bisa tersenyum canggung saat beberapa pengunjung memberikan apresiasi kepada dirinya dengan mengacungkan ibu jari karena berpikir berhasil melamar Elizabeth.


Melihat Elizabeth mulai tenang. Nathan segera meminta untuk menjaga jarak dan memberitahu kepada wanita cantik itu jika mereka sedang menjadi tontonan publik.

__ADS_1


Logika Elizabeth seketika tersadar dan dengan cepat menyingkir menjauh dari Nathan. Dia sekarang benar-benar merasa sangat malu sampai tidak berani untuk menatap wajah pria itu.


Saat melihat Elizabeth kembali berdiri membelakangi dirinya. Nathan berpikir jika wanita cantik itu masih marah kepada dirinya dan memutuskan untuk menawarkan es krim yang sebelumnya sudah dia beli.


Elizabeth dengan kecepatan kilat mengambil es krim miliknya dari tangan Nathan dan kembali menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Itu... Maaf sudah membuat pakaianmu menjadi basah." Ucap Elizabeth dengan suara yang sangat lirih sambil diam-diam melirik kearah pakaian milik Nathan yang basah karena terkena air matanya.


Meski nada suara Elizabeth sangat lirih. Nathan masih samar-samar bisa mendengar permintaan maaf dari wanita cantik itu dan tidak mempermasalahkannya.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Lebih baik sekarang kita berkeliling mencari beberapa permainan." Nathan mengusap lembut rambut Elizabeth dan berjalan mendahuluinya.


Ini merupakan kali pertama Nathan mengusap rambut Elizabeth, yang seketika membuat raut wajah wanita cantik itu menjadi merah padam tetapi bukan karena marah melainkan sesuatu yang lain.


Elizabeth diam-diam menatap punggung Nathan dari belakang yang sedang melangkah pergi sambil tersenyum. Entah mengapa dia sekarang merasa sangat senang saat sedang bersama pria itu.


Dibandingkan semua pria yang pernah ia temui sebelumnya. Mereka hanya memberikan perasaan tidak nyaman. Sementara saat bersama Nathan, Elizabeth nyaman dan seolah dilindungi meski pria itu tidak menunjukannya secara langsung.


"Kau sebaiknya mulai memperbaiki cara makanmu jika tidak ingin dianggap anak kecil." Elizabeth tertawa ringan sambil menyeka noda es krim diwajah Nathan menggunakan sapu tangan miliknya.


Nathan hanya diam saja saat Elizabeth menyeka noda es krim di wajahnya seperti seorang anak kecil yang sedang diasuh oleh ibunya sendiri.


Pandangan Elizabeth tidak sengaja menangkap sebuah tempat permainan memanah. Dia kemudian mengajak Nathan ke sana dan menantangnya untuk membuat taruhan.


Aturannya cukup sederhana. Setiap orang yang paling banyak mendapatkan poin tertinggi akan menjadi pemenang dan bebas meminta apa saja kepada orang yang kalah dalam pertandingan.


Merasa tertantang, Nathan tentu saja langsung menerima tantangan dari Elizabeth dan mereka segera menuju tempat permainan memanah.


Untuk sekali permainan memanah dikenakan biaya 5 dollar setiap orang, dan masing-masing akan menerima tiga buah anak panah untuk mencetak poin tertinggi.

__ADS_1


Sebagai seorang pria sejati Nathan mempersilahkan Elizabeth untuk membuat langkah pertama. Dia berpikir wanita cantik itu pasti akan gagal mengenai titik tengah karena tidak memiliki fokus tinggi mengingat sifatnya yang sangat pemarah.


Elizabeth tersenyum tipis dan dengan senang hati menerima tawaran dari Nathan untuk melakukan langkah pertama. Tentu permainan ini sangat mudah bagi Elizabeth mengingat dirinya sudah sering berlatih memanah dan menembak.


Jadi mana mungkin Elizabeth berani membuat tantangan dengan Nathan jika dirinya sama sekali tidak menguasai permainannya.


Elizabeth mulai menarik busur panah sambil memfokuskan pandangan ke arah papan. Dia kemudian menghembuskan nafas ringan dan menembak dengan sangat anggun.


Anak panah seketika melesat dengan kecepatan tinggi membelah udara dan secara tepat mengenai titik pada bagian tengah papan sesuai target.


"Semoga beruntung." Elizabeth berdecak sambil tersenyum memprovokasi Nathan yang terlihat sedang terpaku ditempat.


Nathan berdecak kesal melihat Elizabeth berhasil mengenai titik tengah. Dia sekarang baru ingat jika wanita cantik itu merupakan seorang Ketua Pasukan Khusus.


Pengalaman selama bermain di game center membuat Nathan tidak ragu-ragu melepaskan tembakan dan dengan tepat juga mengenai titik tengah bahkan sampai membelah anak panah milik Elizabeth.


Nathan menyeringai melihat Elizabeth yang terlihat kesal karena sama sekali tidak ingin mengalah kepada seorang wanita seperti kebanyakan para pria.


Tembakan demi tembakan kemudian mereka lesatkan sampai berakhir. Baik Nathan maupun Elizabeth sama-sama tidak ingin mengalah dan pada akhirnya permainan memanah berakhir dengan nilai seri.


Karena belum ada pemenang dari taruhan sebelumnya. Nathan dan Elizabeth kemudian bermain permainan lain yang ada di taman hiburan untuk menentukan siapa pemenangnya.


Banyak permainan yang sudah mereka mainkan. Sampai pada akhirnya saat bermain melempar bola tenis. Elizabeth berhasil menjadi pemenang setelah menjatuhkan banyak kaleng.


Sementara Nathan sendiri harus kalah pada detik-detik terakhir akibat seekor serangga yang membuat fokus pandangannya terganggu.


Dengan kesal Nathan kemudian meminta Elizabeth segera meminta permohonannya. Tetapi wanita cantik itu memilih untuk menyimpannya untuk saat ini dan ingin menggunakannya dikemudian hari.


Nathan tentu saja menghargai keputusan Elizabeth meski sekarang dia memiliki hutang kepadanya. Mereka kemudian melanjutkan hari pekan dengan menghabiskan waktu bersama di taman bermain.

__ADS_1


__ADS_2